90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Wanita Lain (Bab 78)


__ADS_3

Minggu malam tiba, esok pagi aku ingin mengajak Andreas membawa Claudia pergi ke pantai untuk rekreasi. Karena selama ini Andreas semakin jarang memiliki waktu luang, jadi ku putuskan untuk berlibur besok.


"Ma, besok jadi ke pantai kan?" Tanya Claudia.


"Tentu saja sayang." Balasku.


"Papa ikutkan?" Tanya Claudia pada Andreas.


Andreas yang tengah menikmati makan malamnya hanya bisa mengangguk.


"Horeee... Akhirnya bisa main pasir lagi sama Papa." Teriak Claudia girang.


Wajar saja jika dia terlihat sangat senang. Karena terakhir kali kami ke pantai adalah satu bulan yang lalu. Setelah itu, kami tak lagi keluar rumah sekedar untuk bermain di pantai. Aku hanya bisa mengajak Claudia pergi ke mall, taman bermain atau sesekali membawanya ke kantor saat ada rapat mendesak. Claudia memang sudah bersekolah di taman kanak-kanak. Tapi, terkadang aku tak bisa memaksakannya untuk terus ke sekolah. Ada hari dimana dia enggan untuk pergi ke sekolah dan memilih tinggal di rumah denganku.


"Pah, besok buat istana pasir ya?" Ucap Claudia lagi.


Lagi-lagi Andreas hanya mengangguk. Sikap Andreas membuatku semakin curiga. Pertanyaan yang aku ajukan malam itu tak pernah mau ia bahas lagi.


"Pah besok..."


"Sayang. Habiskan dulu makananmu ya. Ingat, kalau lagi makan gak boleh bicara." Ucap Andreas memotong pembicaraan Claudia.


Claudia langsung cemberut dan memasukkan sesendok penuh nasi ke dalam mulutnya. Berulang kali aku menatap wajah Andreas dan Claudia secara bergantian. Dan, aku yakin bahwa keduanya memang terlihat sangat mirip. Aku harus melakukan sesuatu malam ini, untuk membuat Andreas mau bicara.


Setelah selesai makan malam, aku menemani Claudia ke kamarnya. Seperti biasa, sebelum tidur aku selalu mengajarkannya untuk sikat gigi dan membasuh tangan serta kakinya. Setelah itu aku diharuskan untuk membacakan sebuah dongeng tentang Puteri Salju padanya.


Selesai dengan urusan menidurkan Claudia, aku beranjak masuk ke dalam kamar. Ku dapati Andreas tengah sibuk menatap layar laptopnya. Aku berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaianku dengan lingerie berwarna merah yang diberikan Andreas saat malam ulang tahun pernikahan kami.

__ADS_1


Aku keluar dari dalam kamar mandi dan melangkah mendekati Andreas dan langsung duduk di pangkuannya. Tangan Andreas yang tadinya fokus mengetikkan sesuatu lantas beralih meraih daguku dan mencium bibirku.


"Sebentar sayang. Aku matikan laptop dulu." Ucap Andreas.


Setelah itu, dia menggendong tubuhku dengan posisi aku yang memeluknya dan melingkarkan kakiku di pinggangnya.


"Kau sangat cantik malam ini sayang." Ucap Andreas lembut di telingaku.


Perlahan Andreas merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Ia mulai mencium seluruh wajahku dan berpindah ke leher dan seluruh tubuhku. Aku membalas perlakuan manisnya dengan menciumnya juga. Saat kami sama-sama telah dibuai nikmatnya cinta, ponsel Andreas berdering membuatnya menghentikan aksinya.


Aku tak dapat melihat dengan jelas nama siapa yang tertera di layar ponselnya. Namun, raut wajah Andreas seketika berubah saat melihat nama yang memanggil di ponselnya. Sontak ia bangun dan duduk dengan selimut yang menutupi pinggang hingga kakinya.


"Halo. Ada apa?" Tanya Andreas.


Sedikitpun, aku tak dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan si penelepon hingga membuat Andreas langsung berdiri dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi tanpa busana. Yang aku dengar Andreas hanya mengatakan,


Saat keluar dari kamar mandi, Andreas sudah mengenakan baju kaos dan celana pendek. Dia mendekat ke arahku yang terduduk dengan memegang selimut untuk menutupi tubuhku yang polos.


"Aku harus pergi." Ucap Andreas.


"Kemana?" Tanyaku.


Tanpa menjawab pertanyaan ku, Andreas langsung berjalan keluar rumah. Aku jadi bertanya-tanya. Siapa orang yang sudah meneleponnya malam-malam seperti ini. Dan bahkan membuat dia menghentikan aktivitas bercintanya denganku, isterinya. Selama ini, Andreas tak pernah memperlakukan aku seperti ini. Jika seseorang bisa membuatnya meninggalkan aku di ranjang seperti ini. Sudah dipastikan bahwa orang itu sangat istimewa untuknya.


"Aku harus mengikutinya." Ucapku seraya mengenakan kembali lingerie yang berserakan di lantai.


Aku tak mau mengenakan pakaian yang lainnya karena takut kehilangan jejak. Jadi, ku putuskan untuk mengenakan lingerie merah itu lalu mengambil jaket yang tergantung lalu mengenakannya dan segera turun ke lantai bawah. Dengan cepat aku menuju garasi, karena terdengar mobil Andreas sudah keluar rumah.

__ADS_1


Secepat mungkin aku berusaha menyusulnya. Saat tiba di pintu gerbang, aku meminta satpam untuk menghubungi isterinya yang kebetulan juga aku pekerjakan di rumah saat aku terlalu sibuk untuk menemani Claudia.


"Man, tolong hubungi Susi. Minta dia kemari untuk menjaga Claudia. Aku takut Claudia bangun. Aku hanya pergi sebentar." Ucapku saat menurunkan kaca mobil.


"Baik Nyonya. Segera akan saya hubungi Susi untuk kemari menjaga Nona Claudia." Balas pria bernama Arman itu.


Dengan cepat aku menginjak pedal gas mobil dan menyusul Andreas yang sudah jauh meninggalkan rumah. Aku sempat putus asa karena kehilangan jejaknya. Namun, sepertinya Tuhan tengah berpihak kepadaku. Karena aku melihat mobil Andreas tengah berhenti di lampu merah. Aku kembali memacu mobilku agar tak kehilangan jejak. Dengan jarak yang kurasa aman, aku bisa memantau kemana perginya mobil Andreas tanpa ia mengetahui bahwa aku tengah membuntutinya.


Mobil Andreas berbelok ke sebuah jalan setapak yang lumayan sempit. Dengan perlahan aku mengikutinya hingga mobil itu masuk ke pekarangan sebuah rumah yang penuh dengan pepohonan.


'Rumah siapa ini?' pikirku.


Rumah itu berdiri kokoh dan agak berjarak dengan rumah-rumah penduduk lainnya yang tinggal di lingkungan itu. Aku memarkirkan mobil agak jauh dari rumah itu, lalu turun dan berjalan mengendap-endap. Situasi di lingkungan itu sangat sepi. Sepertinya para warga yang tinggal disini sudah tidur karena sekarang sudah pukul 10.00 malam.


Aku berdiri di balik pohon dan mengintai ke arah rumah itu. Ingin sekali aku melihat apa yang tengah dilakukan Andreas. Saat aku hendak berjalan ke arah pintu rumah. Tiba-tiba terlihat bayangan seseorang dari jendela rumah yang mendekat ke arah pintu. Aku kembali mundur dengan cepat dan bersembunyi di balik semak-semak.


Jantungku berdegup begitu kencang melihat dari jauh saat sosok Andreas keluar rumah dengan menggendong seorang wanita berambut panjang.


'Siapa itu? Apa wanita itu simpanan Andreas? Atau jangan-jangan dia adalah Ibu dari Claudia?'


Aku sama sekali tak dapat melihat wajah wanita itu. Wanita itu sepertinya pingsan. Karena tangannya jatuh berayun-ayun, lemah.


'Ya Tuhan, apalagi ini?'


Andreas menggendong wanita itu masuk ke dalam mobil. Dan dengan cepat mengendarai mobilnya pergi keluar halaman rumah. Aku begitu kecewa, aku merasa di khianati oleh Andreas. Aku tak pernah menyangka bahwa Andreas akan memperlakukan aku sekejam itu. Aku ingin tetap kuat, dan berpikir positif bahwa Andreas pasti tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi aku tak bisa menghalangi air mataku yang jatuh berlinang.


'Aku akan menanyakan hal ini di rumah nanti.'

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2