
Mobilku melaju pelan membelah jalanan kota. Aku berkendara tanpa tujuan. Tak tahu harus pergi kemana. Tapi satu hal yang pasti, aku harus mendapatkan orang yang mau menjadi pacarku selama tiga bulan saja.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke taman dimana disana pastinya akan ada banyak orang yang lalu lalang. Mungkin saja aku akan menemukan orang yang mau menjadi pacarku.
Hari ini aku sengaja tampil dengan cantik mengenakan gaun panjang berwarna keemasan. Aku memolesi wajahku dengan make up tipis namun terlihat sangat elegan. Berharap akan ada pria yang tertarik dan mau menerima tawaranku. Dengan membawa ATM berisi uang senilai 11 milyar ini, aku mulai berjalan dan mendekati satu persatu setiap pria yang aku temui.
Urat maluku sepertinya sudah putus. Aku tanpa ada rasa malu menanyai mereka, apakah mau berpacaran denganku. Sudah pasti orang yang melihatku menganggap aku orang gila. Karena pada kenyataannya aku memang sudah gila. Gila akan mendapatkan kasih sayang dari seseorang disisa hidupku yang hanya tinggal 3 bulan ini.
Meski banyak yang menolak. Tapi, aku tak mau menyerah. Aku tak perduli dengan apapun yang akan orang katakan terhadapku. Aku akan terus mencari, sampai aku mendapatkan seorang pria yang mau menjadi kekasihku, cuma dalam waktu 3 bulan.
Aku sudah menanyai beberapa pria yang aku temui, tapi mereka tetap saja menolak, bahkan mengatakan aku gila.
"Mas, perkenalkan namaku Velicia. Aku langsung to the point saja, Mas mau tidak menjadi pacarku? Cuma tiga bulan aja kok. Aku bakal kasih Mas imbalan uang 11 milyar kalau Mas mau jadi pacarku." Ucapku pada seorang lelaki berkacamata yang tengah duduk di bangku taman sambil membaca buku.
Sejujurnya pria ini sama sekali tidak masuk dalam kriteriaku. Tapi, tak apa. Yang aku butuhkan hanyalah perhatian dan kasih sayang. Tak peduli bagaimana rupanya.
Pria itu menatapku dari atas kepala hingga ke ujung kakiku. Dia melihatku dengan tatapan yang aneh.
"Mbak ini sebenarnya cantik. Tapi, kok bisa stress ya? Kasihan sekali." Ucapnya seraya berdiri hendak meninggalkan aku.
"Mas aku gak stress atau gila. Aku serius Mas." Aku mencoba untuk membujuknya agar setuju menjadi pacarku.
"Maaf Mbak, saya masih waras." Laki-laki itu beranjak pergi.
Aku sudah putus asa hingga sampai menarik tangannya. Aku pikir pria ini akan mau menolongku, karena dari sorot matanya dia adalah pria yang baik.
"Mas aku bakal kasih Mas uang 11 milyar Mas. Apa Mas tidak tertarik?" Aku mencoba kembali untuk membujuknya.
"Sekali lagi saya katakan, nggak Mbak. Lebih baik Mbak cari pria lain. Saya bukan tipe pria yang seperti itu." Lagi-lagi dia menolak ku dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Aku duduk di bangku taman sambil terisak. Kemana lagi aku harus pergi? Apakah aku benar-benar tidak bisa mendapatkan seorang pria yang bisa memberiku perhatian dalam waktu 90 hari? Lalu apa gunanya uang yang aku punya ini?
Dengan langkah sempoyongan, aku berjalan menyusuri taman dan secara tidak sengaja bertemu dengan Arnold yang sedang berjalan bersama adik perempuannya.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Arnold padaku.
Aku tak menjawab pertanyaannya, aku memilih diam tak mau menggubrisnya. Lebih baik aku menghindar saja.
"Aku kasihan sekali padamu. Kau benar-benar seperti wanita yang kekurangan pria." Arnold kembali berbicara tapi kali ini dia menyindirku.
"Kak Arnold kenapa sih, sama istri sendiri kok bicara begitu." Protes Angelica, adik perempuan Arnold. "Oh ya kak Velicia mau ikut kami tidak untuk nonton konser." Tawar Angelica padaku.
"Tidak perlu mengajaknya. Dia lebih baik pulang saja.." ucap Arnold. "Dimana mobilmu? Kau pulanglah." Arnold seolah-olah berusaha mengusirku pergi.
"Aku tidak bawa mobil." Ucapku berbohong berharap Arnold akan mengantarku pulang.
Pupus sudah harapanku untuk bisa diantar pulang oleh Arnold.
"Bagaimana kalau Kak Arnold antar Kak Velicia pakai bis saja." Kata Angelica yang membuat aku kegirangan.
Ingin rasanya melompat dan memeluk Angelica karena memberikan ide yang bisa membuatku berduaan bersama Arnold. Tapi, apakah Arnold akan setuju?
Aku memandangi wajah Arnold berharap dia menjawab iya. Tapi, seperti biasa. Wajahnya selalu menampilkan ekspresi yang dingin.
"Sudahlah, kalian berdua pulang saja. Aku bisa menonton konser musik sendiri. Nanti juga disana aku bisa bertemu dengan teman-temanku. Pergilah...." Angelica mendorongku dan Arnold untuk segera pergi.
Akhirnya aku dan Arnold menaiki sebuah bis berdua. Namun, kami tak mendapatkan tempat duduk, hingga kami terpaksa berdiri sambil berpegangan pada sebuah batang besi yang memang diperuntukkan untuk pegangan bagi penumpang bis yang berdiri.
Bahagia sekali rasanya dapat berdiri begitu dekat dengan Arnold tanpa ada jarak yang memisahkan. Rasanya aku ingin waktu berhenti saat ini, agar aku dan Arnold selalu berdua tanpa ada orang lain yang mengganggu.
__ADS_1
Tiba-tiba bis mengerem mendadak, membuatku sampai terjatuh ke badan Arnold. Hangat sekali rasanya dapat menyentuh dada Arnold. Aroma tubuhnya membuatku terbuai. Hingga tanpa sadar aku memeluknya dengan lembut.
Seperti ini saja aku sudah bahagia sekali, bagaimana kalau Arnold mau menerima kesepakatan yang aku buat. Apalagi kalau dia memiliki perasaan yang sama sepertiku.
Ah, aku memang plin-plan. Padahal sebelumnya aku sudah berniat untuk melupakan Arnold dan mencari pria lain untuk menjadi kekasihku.
Aku menyadari satu hal, meskipun kami bercerai, aku akan tetap mencintai Arnold.
Kalaupun aku mempertahankan hubungan pernikahan kami lebih lama, atau hingga aku meninggal nanti, semuanya akan tetap sama. Arnold hanya mencintai Viona. Dan semua itu tidak terbantahkan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Viona akhir-akhir ini?" Aku mencoba menyadarkan diriku dengan menerima kenyataan dan menanyakan Arnold tentang hubungannya dengan Viona.
"Kami akan segera menikah, hari pernikahan sudah ditetapkan pada tanggal 2 Februari."
Deg!
Arnold sudah menentukan pernikahannya dengan Viona bahkan sebelum kami resmi bercerai. Sungguh, hatiku begitu sakit mendengar kenyataan yang diucapkan Arnold.
"Aku berhutang sebuah acara pernikahan pada Viona." Ucap Arnold kembali melanjutkan perkataannya.
Ironis sekali. Tapi, setidaknya aku tidak akan sakit hati melihat pernikahan mereka. Karena pada tanggal 2 Februari, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Apalagi yang bisa aku lakukan, tidak mungkin kan aku akan berusaha untuk menggagalkan pernikahan mereka. Sekarang yang bisa ku lakukan hanyalah mengikhlaskan Arnold agar ia mendapatkan kebahagiannya sendiri.
“Selamat ya.” kataku pada Arnold dengan perasaan yang berkecamuk.
Arnold terlihat mengernyitkan dahinya lalu bertanya padaku,
"Kenapa kau mencari orang ke sana kemari untuk pacaran denganmu?"
__ADS_1