
Sejak pertemuan di rumah Tuan Besar Setyawan itu, Arnold tak pernah lagi menggangguku. Dia biasanya akan mengirimiku pesan mengancam atau berusaha menemui ku. Namun, sudah satu minggu ini dia tak pernah lagi menampakkan keberadaannya.
Mungkin dia sudah bisa menerima keadaan yang terjadi diantara kami.
Aku sangat bahagia melewati hari-hariku bersama Andreas, dan aku berharap Arnold juga akan menemukan kebahagiaannya bersama Viona. Jack juga sudah aku beritahu tentang hubunganku bersama Andreas. Dan, Jack sangat mendukung selama aku bisa bahagia.
"Sudah sering aku katakan sebelumnya. Apapun keputusanmu, selama itu bisa membuatmu bahagia, aku akan selalu mendukungmu." Ucap Jack kala itu aku memberitahukan tentang hubunganku dan Andreas.
Kebahagiaanku semakin bertambah kala Jack memberitahuku tentang kehamilan istrinya.
"Wah sebentar lagi aku akan jadi Tante." Ucapku.
"Tentu saja, aku harap jika dia perempuan akan cantik seperti dirimu." Balas Jack.
"Kenapa harus mirip denganku? Seharusnya dia akan cantik seperti Mama nya. Dan kalau lelaki akan nakal seperti Papa nya." Ucapku.
Jack tertawa mendengar ucapan ku.
Jika mengingat percakapan kami, aku selalu saja tertawa. Jack memang sejak kecil selalu seperti itu. Dia selalu bisa membuatku tertawa. Andai saja aku tinggal bersamanya, mungkin aku tidak akan pernah merasa sedih. Tapi, aku tahu diri. Meski hubungan kami memang seperti saudara kandung, tapi kami berdua tetaplah tidak memiliki hubungan darah dan hal itu yang akan selalu membuat isterinya merasa tak enak hati padaku. Dia selalu cemburu melihat kedekatan ku dengan Jack. Meski Jack selalu menjelaskan padanya bahwa aku ini hanyalah adik perempuannya.
Aku harap setelah mereka memiliki anak nanti, Rara, isteri Jack tak akan lagi cemburu terhadapku. Apalagi jika nanti nya aku sudah menikah dengan Andreas.
********
Hari ini aku ada jadwal untuk menemui Dokter. Andreas sudah berjanji untuk menemaniku. Sebenarnya aku bisa pergi seorang diri, karena sudah terbiasa. Tapi Andreas memaksa untuk menemaniku. Padahal aku tahu dia tengah sibuk mengurus pekerjaannya.
Andreas memberitahuku bahwa dia tengah sibuk membuka sekolah musik baru bagi anak-anak di kota kami ini. Selain itu dia juga membuat studio musik sebagai tempat penyaluran bakat-bakat anak muda yang bisa bermusik ataupun bernyanyi. Awalnya aku bertanya padanya dari mana dia mendapat begitu banyak dana untuk membuat itu semua ditambah lagi dengan membelikan aku sebuah taman bermain.
__ADS_1
Andreas bilang, Papa tirinya, Papa dari Angelica merupakan pengusaha batu bara. Dan setelah ia meninggal, perusahaan batu baranya diwariskan kepada Angelica. Namun, Angelica mempercayakan Andreas untuk menjalankan perusahaan itu.
Dan setelah beberapa tahun, perusahaan itu semakin berkembang atas semua usaha yang dilakukan Andreas hingga ia akhirnya bisa membeli semua hal yang diinginkan. Meski begitu, Mama nya sama sekali tak ingin pindah ke kota dan memilih tinggal di desa bersama keluarganya. Sementara Angelica ikut tinggal di kota bersama Andreas karena dia juga masih menempuh pendidikan.
Setelah selesai sarapan, aku duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Andreas.
Tak butuh waktu lama, Andreas akhirnya datang. Dan seperti biasanya dia selalu membawakan bunga mawar putih dan sebatang coklat untukku. Dengan senang hati aku menerimanya.
"Ayo sayang." Ucap Andreas menggandeng tanganku.
Selama sepekan ini aku mulai terbiasa dengan sikap romantis yang ditunjukkan Andreas padaku. Jika dulu aku merasa senang dengan perhatiannya, untuk saat ini aku jauh lebih bahagia lagi dan semakin mencintai dirinya.
Setelah 1 jam perjalanan, kami akhirnya tiba di rumah sakit. Andreas memarkirkan mobilnya dengan baik lalu menggandeng tanganku masuk ke dalam rumah sakit.
Kami berdua masuk ke ruangan Dokter. Butuh satu jam setelah serangkaian pemeriksaan dan berkonsultasi, akhirnya kami pun keluar dari ruangan Dokter Freddy. Aku lumayan senang dengan apa yang Dokter Freddy katakan. Dia bilang bahwa sel-sel kanker tak lagi terlihat bersarang di tubuhku. Tapi, aku tak boleh lengah dan harus terus mengkonsumsi obat dan selalu hidup sehat dengan mengatur pola makan ku serta jenis makanan yang aku konsumsi.
"Ayo duduk dulu. Minum ini." Ucap Andreas memberikanku air mineral dalam kemasan botol.
Andreas memperlakukan aku seolah aku tengah sakit. Untuk minum air saja dia bahkan memegang botolnya untukku. Dan saat berjalan, dia dengan sigap memegang tangan dan pinggangku seolah aku tak bisa menopang tubuhku sendiri.
Tak lama kemudian, namaku dipanggil untuk menebus obat yang di resep kan oleh Dokter Freddy tadi. Setelah selesai, aku dan Andreas berjalan melewati lorong rumah sakit melewati beberapa poli dan melihat beberapa pasien rumah sakit yang tengah berjalan-jalan pelan.
Perhatianku tertuju pada seorang ibu hamil yang tengah berjalan dengan raut wajah yang meringis.
"Kenapa?" Tanya Andreas.
"Apa kau yakin tak akan menyesal menikah denganku?" Ucapku tiba-tiba.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu. Bukankah sudah aku katakan bahwa aku mencintai kamu dan ingin menikahi kamu. Jadi kenapa aku harus menyesal." Balas Andreas.
"Karena aku tak akan bisa memberimu anak." Ucapku dengan suara yang tercekat.
Andreas langsung menghentikan langkahnya dan menatapku dengan erat. Tiba-tiba dia memelukku dengan erat.
"Aku mencintai segala kekurangan dan kelebihan yang Tuhan berikan padamu. Apapun itu aku akan menerima keadaanmu. Aku ingin menikahi mu karena aku bahagia bersamamu bukan karena aku ingin memiliki anak. Aku ingin membuatmu bahagia bersamaku, karena bahagia mu adalah bahagiaku juga." Ucap Andreas yang membuatku membalas pelukannya dengan erat.
"Terima kasih." Ucapku.
Kami berdua kembali berjalan dan kali ini sesuatu yang tak ku sangka-sangka terjadi. Aku harus bertemu dengan sosok Arnold yang tengah berjalan keluar dari poin kandungan bersama Viona.
Aku dan Andreas berhenti tepat dihadapan mereka berdua. Sorot mata Arnold menampilkan ketegangan.
'Aku tak suka dengan suasana canggung seperti ini.'
"Eh Velicia, kau ngapain ke rumah sakit? Apa mau periksa kandungan juga?" Viona tengah mengejekku. "Upps aku lupa bahwa kau tak akan pernah bisa hamil lagi. Maaf." Lanjut Viona.
Dapat aku lihat dengan jelas bahwa dari sudut bibir wanita itu ia berusaha menahan tawanannya. Aku menghela nafas dan menjawab,
"Terima kasih untuk kalian berdua terutama untuk Arnold yang bahkan rela membunuh anaknya demi wanita yang dicintainya. Karena tanpa kalian melakukan affair dibelakang ku, maka aku tak akan bertemu dengan cinta sejati ku." Ucapku seraya semakin erat menggenggam tangan Andreas.
Aku melihat raut wajah Arnold penuh kemarahan. Dan yang membuatku kaget adalah dia tiba-tiba berusaha meraih tanganku. Namun, dengan cepat dihalangi Andreas.
"Singkirkan tangan kotor mu itu dari wanitaku." Ucap Andreas.
"Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan bahwa aku tidak pernah melakukan apa yang kau tuduhkan Velicia. Aku sama sekali tidak tahu bahwa...."
__ADS_1
"Sstt, Arnold. Jangan pernah lagi mengganggu calon isteriku. Lebih baik kau urus wanita mu sendiri. Segera nikahi dia sebelum perutnya semakin membuncit." Ucap Andreas lalu membawaku berjalan keluar dari rumah sakit.
Bersambung.....