90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Dihina (Bab 57)


__ADS_3

"Lihat. Bukankah dia itu Velicia Arista. Wanita paling berpengaruh di kota ini. Tapi kelakuannya sungguh memalukan." Ucap seseirang yang mulai menunjuk ke arahku.


"Iya, dia benar Velicia si ****** itu." Balas seseorang lagi.


"Memalukan sekali. Kenapa di kota kita yang tenang ini ada wanita yang kelakuannya memalukan seperti dia. Benar-benar tidak tau aturan..."


Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan semua orang ini. Sepertinya sesuatu tengah terjadi. Aku harus mencari tahu. Daripada memilih berjalan terus, aku mendekat ke seorang wanita yang terus menatapku penuh kebencian.


Baru saja aku hendak bertanya, ibu itu langsung menjauh dariku. Seolah aku ini memiliki penyakit yang menular hingga tak mau didekati.


"Pergi kau dari sini..." Kali ini suara seorang pria yang berteriak.


"Iya benar. Usir saja dia..." Balas pria yang lain.


"Dia itu bisa jadi contoh buruk untuk anak-anak kita."


Orang-orang mulai mencaci diriku, menuduhku sebagai wanita murahan. Aku mulai kehilangan kesabaran ku dan berteriak.


"Apa yang sudah aku lakukan hingga kalian sampai mencaci ku?" Teriakku dengan berusaha menahan agar air mataku tak jatuh.


Seorang gadis berusia sekitar 17 tahun berjalan mendekatiku dengan membawa ponselnya. Tampak raut wajahnya merasa kasihan kepadaku. Ia lalu memutar sebuah video dan menunjukkannya padaku.


"Ini kak." Ucap gadis itu.


Gadis itu menunjukkan video yang menampilkan diriku yang tengah berciuman dengan Arnold. Selain itu ada juga gambar diriku dengan Andreas yang tengah prewedding.


"Aku percaya kakak orang baik." Ucap gadis itu.


"Hei bocah, untuk apa kau mendekati wanita itu. Nanti kau bisa ketularan menjadi ******." Teriak seorang ibu-ibu lagi.


Aku menghembuskan nafas kasar dan berusaha membela diriku sendiri.

__ADS_1


"Kalian salah. Aku bukan orang seperti itu. Itu semua hanya fitnah. Kalian..."


"Alaaah, mana ada maling mau ngaku."


"Kau masih saja berani membela dirimu sendiri setelah melakukan perbuatan itu."


"Kau itu sampah masyarakat..."


"Kau menjadi contoh yang buruk bagi anak muda...."


Dan masih banyak kata cacian dan hinaan yang dilontarkan orang-orang padaku.


Aku sudah berusaha membela diriku dengan berteriak menjelaskan pada orang-orang. Namun, tak ada yang mau mendengar. Mereka lebih percaya dengan apa yang terlihat di dalam video tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Padahal pada kenyataannya Arnold memaksaku bahkan mencekik leherku untuk sampai bisa mencium ku. Apa orang-orang tak bisa melihat bahwa di video itu aku dipaksa?


Aku jadi mengingat apa yang dikatakan Andreas di villa waktu itu bahwa, meskipun aku berusaha kembali ke kota. Tak akan ada satu pun orang yang akan menerima diriku karena orang-orang sudah berpikir bahwa aku sudah kabur dari pernikahan ku sendiri. Tidak ada wanita yang kabur begitu saja dihari pernikahannya. Orang-orang sudah tentu akan menggunjing ku. Arnold meminta aku untuk menerima saja takdir ku dengan menikah dengannya.


Tidak, aku tidak bisa diperlakukan seperti ini. Aku harus kuat. Lebih baik aku menghindar saja dari semua orang ini. Bila saatnya nanti aku akan membuktikan kepada mereka, bahwa Velicia Arista akan selalu menjadi wanita baik-baik.


'Siapa orang-orang ini sebenarnya? Kenapa mereka seperti telah menyiapkan semuanya?'


Aku berusaha bangkit. Namun, lagi-lagi karena orang-orang itu sangat banyak. Mereka mulai mengeroyokku dengan melempari tomat busuk ke seluruh tubuhku.


Beberapa orang tampak mulai memvideokan perbuatan mereka terhadapku. Aku benar-benar tak bisa berkutik lagi. Aku berteriak sekencang-kencangnya hingga rasanya suaraku sudah habis.


Orang-orang itu justru semakin menertawakan aku yang hanya bisa duduk sambil memeluk lutut ku karena di dorong orang-orang yang terus melempariku dengan sayur-sayuran busuk.


'Apa kesalahan yang telah aku perbuat hingga Tuhan memberiku cobaan yang begitu berat?'


Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk menjadi wanita yang tangguh dan kuat. Tapi, kali ini aku menyerah. Aku tak bisa membela diriku sendiri. Aku tak mampu melawan orang-orang ini.

__ADS_1


'Mah, Pah, maaf. Aku tak sekuat yang kalian pikirkan. Aku menyerah...'


Entah sudah seperti apa wajahku saat ini. Entah sudah bagaimana baunya tubuhku. Tapi orang-orang ini belum juga mau berhenti melempariku dengan begitu banyak tomat busuk. Aku sudah begitu putus asa dan sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi. Rasanya sudah hampa.


Secara tiba-tiba, sosok seorang pria melindungi diriku dari lemparan sayur busuk dari orang-orang itu. Pria itu ternyata adalah Andreas. Seketika semua orang berhenti melempari tomat busuk ke arahku. Air mataku sudah mengering. Suaraku tak bisa keluar lagi. Untuk menyebut nama Andreas saja aku tidak bisa. Entah apa yang terjadi pada diriku.


"Tak ada satupun dari kalian semua yang akan selamat dari hukuman karena telah memperlakukan wanitaku seperti ini." Ucap Andreas.


"Jangan pikir kalian bisa bersembunyi. Siapapun kalian, kalian akan menerima akibatnya karena sudah menyakitinya." Lanjut Andreas kemudian menggendongku.


Andreas lalu membawaku pergi dari kerumunan orang-orang itu. Aku sempat melirik sekilas ke arah wajah-wajah orang yang sudah memperlakukan aku dengan begitu buruk. Nampak ada ketakutan dari wajah mereka. Tapi, apa peduliku. Biarkan saja. Aku sudah hampa.


Aku sangat malu pada Andreas. Ku benamkan wajahku di dadanya. Tanganku memeluk lehernya dengan erat. Aku takut sekali jika sampai terjatuh. Orang-orang itu bisa saja kembali memperlakukan aku dengan buruk.


"Maafkan aku karena tak bisa melindungi mu. Maafkan aku karena datang terlambat." Ucap Andreas.


Detak jantungnya terdengar begitu cepat di telingaku. Aku ingin sekali mengucapkan terima kasih karena sudah menolongku. Tapi, mulutku rasanya seperti terkunci. Aku tak bisa mengatakan apapun lagi. Aku tiba-tiba menjadi orang yang tak bisa bicara.


Sakit di tubuhku tak lagi ku rasakan. Luka di kakiku rasanya hilang begitu saja. Aku hanya terbayang akan perlakuan orang-orang tadi. Aku takut jika mereka kembali mempermalukan aku seperti tadi.


Hingga sampai di rumah Andreas, beberapa pelayan wanita mulai membersihkan tubuhku.


Angelica bahkan menangis melihat kondisiku saat Andreas menurunkan ku dari dalam mobil. Angelica tak henti-hentinya menangis bahkan hingga aku sudah selesai dibersihkan. Angelica setia duduk di sampingku hingga Andreas masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Andreas.


Aku tak menjawab apa-apa. Aku hanya menatap ke arah luar jendela. Angelica terdengar sesenggukan, sementara Andreas memeluk tubuhku dengan begitu erat. Entah kenapa aku tak merasakan apapun lagi. Aku tidak tahu apakah aku marah, sedih, ataupun senang. Semuanya hampa.


"Kak, apa yang terjadi padanya? Kenapa dia sampai begini? Lihat tatapan matanya begitu kosong? Apa yang sudah dilakukan orang-orang padanya? Aku tadi melihat video tentang...." Suara Angelica terhenti saat Andreas menariknya keluar dari dalam kamar.


Video yang dikatakan Angelica sepertinya video tentang perlakuan orang-orang di pasar tadi.

__ADS_1


'Semua sudah takdir Tuhan....'


Bersambung....


__ADS_2