90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Jack Mengusir Arnold (Bab 37)


__ADS_3

Merry memberikanku ponselnya dengan wallpaper fotonya bersama Hansen yang tengah saling pandang. Aku menjadi fokus melihat foto mereka berdua.


Keduanya bertatapan dengan penuh cinta. Senyuman Merry dan Hansen tampak begitu bahagia. Membuatku turut tersenyum.


"Hei, kamu kesambet ya? Kok malah senyum? Katanya mau nelpon Jack." Ucap Merry membuyarkan lamunanku.


"Oh iya."


Aku tersenyum canggung. Bisa-bisanya aku lupa dengan tujuan utama ku meminjam ponsel Merry. Kemudian aku mencoba menghubungi Jack. Tapi, tak aktif. Aku kembali mencoba untuk yang kedua kalinya. Tetap saja sama, yang menjawab hanya suara wanita yang mengatakan 'nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.'


Kesal sekali rasanya. Aku yakin sekarang Jack pasti sudah ada di pesawat untuk datang kemari.


"Veli, maaf ya kalau aku sudah menyusahkan mu. Aku hanya khawatir dengan kondisimu hingga aku langsung menelepon Jack." Merry menggenggam erat tanganku.


"Sudahlah. Tidak apa-apa kok. Kamu gak salah apa-apa. Hanya saja, aku tak mau membuat Jack khawatir. Itu saja." Balasku.


Jack sudah terlalu banyak membantuku. Aku tak mau lagi merepotkan nya. Dia sudah merawat ku berbulan-bulan. Sekarang ini, dia pasti tengah sibuk mengurus perusahaannya. Dan aku lagi-lagi merepotkan nya.


"Apa kau tidak pulang?" Tanyaku pada Merry. "Ini sudah malam."


"Aku akan nemenin kamu." Balas Merry.


"Terus gimana dengan Hansen?"


"Sudah ada Bi Ratih yang menemani dia di rumah. Lagipula kami berdua kan belum menikah. Apa kamu harus selalu berdua." Ucap Merry seraya melipat tangannya di dada. "Apa kau pikir aku ini wanita yang tidak bermarwah." Lanjutnya.


"Kamu lagi datang bulan ya? Ditanya apa malah jawab apa." Ucapku yang membuat Merry tertawa.


"Oh ya, sampai lupa. Waktunya makan malam. Aku mau carikan kamu makanan yang sehat ya ke kantin." Ucap Merry.


"Oke." Balasku.


Merry berjalan keluar meninggalkan aku sendirian di kamar.


Aku menatap langit-langit kamar dan membayangkan wajah seseorang.


"Andreas, kau dimana?" Ucapku lirih.


Jam dinding di bangsal tempat aku dirawat, menunjukkan pukul delapan malam saat Merry masuk dengan membawa beberapa kantung makanan dan buah-buahan serta air mineral dalam botol berukuran besar.

__ADS_1


"Lihat apa yang aku bawa untukmu." Ucap Merry.


"Apa itu?" Tanyaku.


"Aku membelikan mu pizza." Balas gadis yang mengenakan kaos warna pink itu tersenyum.


"Pizza!" Seruku.


"Apa kau serius memberikan orang yang tengah sakit ini pizza?" Ucapku sambil melipat tangan di dada.


"Yang sakit itu kepalamu, bukan perutmu." Balas Merry tertawa.


Merry mendekat dan mulai membuka kotak pizza. Selain pizza dia juga membawa sup buah dan makanan berat lainnya.


Saat tengah asyik menyantap makanan, pintu bangsal tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok Jack dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.


"Veli!" Teriaknya seraya mendekat.


Aku yang tengah mengunyah makanan hampir saja tersedak karena Jack berlari dan langsung memelukku.


"Ya Tuhan Velicia, apa yang terjadi padamu. Kenapa wajahmu menjadi bengkak begini? Hidungmu juga membiru?" Jack mengusap seluruh wajahku.


Mulutku yang penuh dengan makanan, memang membuat pipiku terlihat membengkak. Perlahan aku mendorong menampik tangan Jack agar tak memegang pipiku. Aku kemudian mengunyah daging yang masih ada di dalam mulut dan menelannya perlahan.


Jack kembali memegang pipiku, mengarahkan ke kanan dan ke kiri berulang kali. Setelah memastikan pipiku tak bengkak, Jack baru melepaskan tangannya dari wajahku.


Tatapan mata Jack tertuju pada sendok yang tengah aku pegang. Dengan cepat ia mengambil sendok itu dari tanganku. Jack lalu menyendok tongseng daging yang dibawa Merry tadi lalu menyuapiku.


"Aku bisa sendiri." Ucapku.


"Diam lah. Biarkan aku menyuapi mu." Ucap Jack.


"Yang sakit itu hidungku, bukan tanganku." Protes ku pada Jack sambil menunjuk hidungku yang telah diberi plester oleh Dokter.


Merry tertawa melihat tingkahku dan Jack yang berdebat hanya masalah suap menyuapi.


"Hahaha, kalian itu masih saja seperti dulu. Selalu saja berdebat dengan hal yang tak ada penting-pentingnya." Ucap Merry sambil tertawa.


Sejak dulu, aku dan Jack memang selalu berdebat hanya karena masalah sepele. Teringat saat aku terjatuh karena bersepeda. Aku menangis karena lutut ku terluka, hingga Jack menggendongku membawaku pulang ke rumah.

__ADS_1


Kami berdebat karena satu minggu ia tak mengizinkanku untuk berjalan dan makan sendiri. Jack mengurusku layaknya mengurus adik bayi. Jack memang Kakak terbaik yang pernah ku miliki.


"Oh ya. Sekarang aku mau tanya. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Bagaimana kau bisa sampai terluka begini?" Tanya Jack sambil terus menyuapiku.


"Lebih baik kau tanya padaku saja." Balas Merry yang tengah mengunyah pizza.


"Jelaskan semuanya secara detail." Titah Jack.


Merry mulai menjelaskan semua kronologi yang terjadi hingga aku sampai terluka seperti ini.


"Semuanya karena Arnold. Dia yang bertanggung jawab atas kondisi Velicia." Ucap Merry.


"Laki-laki itu memang kurang ajar. Velicia sampai mengidap kanker juga disebabkan olehnya. Sekarang Velicia sampai terluka seperti ini juga karena dia. Aku tidak akan memaafkan perbuatannya. Lihat saja." Ucap Jack penuh emosi hingga tanpa sadar mematahkan sendok plastik yang ia gunakan untuk menyuapiku.


"Khem... Khemm..." Aku sengaja berdeham sambil memainkan mataku ke arah tangan Jack yang memegang sendok yang sudah patah itu.


Jack lalu menatap sendok yang telah patah, kemudian tersenyum canggung.


"Hehe aku tidak sengaja." Ucap Jack.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Makan malam ku berlanjut dengan mulai mengunyah pizza di temani Jack dan Merry.


"Aku keluar sebentar." Ucap Jack setelah kami selesai makan.


Sepuluh menit kemudian. Di depan pintu bangsal tempat aku dirawat, terdengar suara gaduh. Aku dan Merry saling pandang. Karena penasaran, aku meminta Merry untuk memeriksanya.


Baru saja Merry bangun dan hendak berjalan pergi, pintu terbuka lebar dan menampilkan sosok Arnold yang berdiri menatapku.


Arnold berjalan mendekat, tapi dengan cepat dicegah oleh Jack yang menariknya keluar dari ruangan ku.


"Lepaskan aku. Aku ingin bertemu isteriku." Teriak Arnold.


"Isteri mana yang kau sebut itu. Disini tidak ada istrimu. Kau bukan lagi suaminya." Ucap Jack dengan siara yang lantang.


"Velicia dengarkan aku, aku minta maaf." Ucap Arnold berteriak dengan sorot matanya yang menatap ke arahku.


"Pergi dari sini. Jangan sampai aku memanggil satpam untuk mengusir mu dari sini." Ucap Jack.


"Aku tidak akan pergi sebelum menjelaskan dan meminta maaf pada Velicia." Ucap Arnold.

__ADS_1


"Sekali lagi ku katakan, kau tidak berhak untuk menemui Velicia. Kau bukan suaminya lagi. Dan kau juga tidak berhak menerima pengampunan darinya. Apa kau lupa apa yang sudah kau lakukan padanya? Kau sudah membuatnya menderita hingga ia mengidap penyakit mematikan juga karena mu. Sekarang kau lagi-lagi melukainya. Lelaki macam apa kau ini?" Kali ini suara Jack terdengar begitu marah.


Bersambung....


__ADS_2