
Di dalam ruangan ini, aku menangis seorang diri. Cukup lama, hingga aku akhirnya berjalan keluar ruang studio musik dengan langkah gontai.
Ku lihat siswa-siswa tengah bermain di halaman sekolah karena masih jam istirahat.
Seorang siswi berusia sekitar 14 tahun datang mendekatiku. Ia tersenyum sangat ramah.
"Kakak, ini buat kakak." Ucap gadis itu.
"Buatku? Dari siapa?" Tanyaku.
"Ini dari Pak Ganteng." Jawab gadis itu sambil menyodorkan dua batang cokelat padaku.
"Pak Ganteng!" Seruku.
Siapa sebenarnya yang dimaksud gadis ini?
"Pak Ganteng bilang, kakak itu jelek kalau lagi sedih. Dengan makan cokelat ini bisa membuat kesedihan kakak berkurang." Balasnya lalu pergi meninggalkan aku yang terdiam penuh tanya.
"Apakah ini dari Andreas?" Aku bertanya pada diriku sendiri.
Aku jadi mengingat di masa lalu. Kala aku tengah bersedih karena mengingat Mama dan Papa, Andreas akan selalu memberikanku dua batang cokelat. Ia mengatakan, dengan makan cokelat bisa membuat mood akan menjadi lebih baik.
Dan, setelah menikah dengan Arnold tak ada lagi orang yang memberiku coklat dikala aku tengah sedih.
'Kenapa aku baru menyadari semuanya sekarang. Semua yang dilakukan Arnold begitu berbeda dengan sosok laki-laki yang aku cintai dulu.'
Aku benar-benar bodoh sampai tak menyadari semuanya.
Ku genggam erat dua batang cokelat yang ada di tanganku dengan senyuman yang tiba-tiba terukir di bibirku.
'Apa ini artinya Andreas menyukaiku?'
Aku berjalan keluar dari area sekolah menuju tempat parkir dan mulai mengendarai mobilku pulang ke rumah dengan senyuman yang menghiasi bibirku.
*************
Mobilku melaju melewati jalanan dengan pepohonan yang rindang disisi kiri dan kanannya. Bibirku tak hentinya menyunggingkan senyuman. Bahagia sekali rasanya. Meski mata terus fokus menatap jalanan, namun sesekali mataku melirik dua batang coklat yang aku yakin adalah pemberian Andreas kepadaku.
Lagi-lagi aku tersenyum. Kembali terbayang rasa malu-malu yang aku rasakan saat pertama kali memiliki perasaan suka pada sosok Andreas yang penuh perhatian.
__ADS_1
"Ayolah Velicia, kau bukan gadis kecil lagi."
Mobilku berhenti di tepi laut yang langsung bersampingan dengan jalan raya. Aku memarkirkan mobil di trotoar yang memang di sediakan untuk parkir mobil atau motor bagi orang-orang yang hendak menikmati semilir angin dan memandangi laut luas atau sekedar beristirahat tanpa harus berjalan jauh dari mobil.
Aku keluar dari dalam mobil membawa dua batang coklat lalu duduk di kap mobil yang langsung berhadapan dengan laut lepas.
Hembusan angin membuat rambutku jadi sedikit berantakan. Panas matahari yang mulai menyengat, seolah tak aku rasakan lagi di kulitku. Ku pejamkan mata dan mulai menghirup udara dengan bau laut yang khas.
Damai sekali rasanya.
Ku tatap dua batang coklat yang aku genggam, kemudian mulai membukanya satu bungkus. Saat potongan coklat pertama masuk ke dalam mulut, entah mengapa perasaanku menjadi semakin lebih baik.
Entah karena cokelat itu memang ajaib, atau karena kau mempercayai sugesti yang diberikan Andreas sejak dulu. Karena memang, setiap kali aku merasa sedih lalu makan coklat, pasti perasaanku jadi lebih baik.
Ponselku yang ada didalam mobil berdering. Dengan cepat aku kembali masuk ke dalam mobil dan mengangkat panggilan masuk yang ternyata adalah dari Merry.
"Halo Mer, ada apa?" Tanyaku.
"Kau dimana? Apa kau bisa datang ke kedai tehku?" Ucap Merry balik bertanya.
"Tentu saja. Tunggulah, 15 menit lagi aku sampai." Balasku seraya langsung memakai sabuk pengaman dan mulai melajukan mobil menuju kedai teh Merry.
Aku masuk dan terkejut ketika mendapati bahwa Hansen tengah duduk di pojok ruangan bersama Merry. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan padaku.
"Hansen!" seruku.
Aku berjalan mendekat ke arah keduanya. Kucing-kucing yang ada di kedai Merry mulai mengikuti ku.
"Hai Velicia apa kabarmu?" tanya Hansen.
"Aku baik ." jawab ku seraya duduk di depan keduanya.
"Kau sendiri apa kabar?" Ucapku balik bertanya.
"Seperti yang kau lihat, aku masih sehat hanya saja kekurangan kaki." Balasnya.
Aku tersenyum canggung mendengarkan jawaban Hansen.
Namun, senyuman penuh kebahagiaan justru tampak jelas terukir dari bibir Merry dan Hansen. Keduanya terlihat begitu bahagia dengan saling menggenggam tangan satu sama lainnya.
__ADS_1
Aku merasa begitu bahagia melihat keduanya bahagia.
Merry tiba-tiba berdiri.
"Kalian ngobrol dulu berdua, aku mau membuatkan Veli secangkir teh hijau dulu." Ucap Merry dengan mengusap pundak Hansen lembut.
Saat Merry sudah tak terlihat, Hansen mulai bicara padaku.
"Terima kasih Velicia, karena kau telah membuka mata hatiku untuk bisa menerima semua kenyataan dan takdir yang terjadi padaku. Awalnya aku berfikir bahwa aku tidak akan pernah melihat Merry lagi. Namun, kalian berdua datang menemui aku dan kulihat dari sinar mata Merry bahwa dia masih mencintai aku sama seperti dulu. Hanya saja aku tidak mau membebani dirinya dengan kondisi ku yang seperti ini. Aku tidak mau dia hidup denganku yang tak sempurna ini. Merry bisa menemukan kebahagiaannya bersama laki-laki lain. Namun, kau datang meyakinkan aku bahwa Merry tetap akan menerima aku dengan kondisi ku yang seperti ini. Butuh 2 hari bagiku untuk memikirkan semuanya. Barulah pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali kepada Merry. Sudah lama aku ingin berterima kasih kepadamu. Tapi, Merry mengatakan kepadaku bahwa kau tengah melakukan operasi di sebuah rumah sakit di luar negeri." ujar Hansen panjang lebar. " Bagaimana kondisimu sekarang? Tanya Hansen lagi.
"Aku sudah membaik. Hanya saja masih perlu melakukan beberapa terapi dan meminum obat setiap hari." jawabku.
"Aku mendoakan yang terbaik untuk kesehatanmu. Semoga kau lekas sembuh dan dapat beraktifitas seperti sedia kala." Ucap Hansen lagi.
"Terima kasih." balas ku.
Merry datang membawa nampan dengan 3 cangkir minuman. Merry memberikan kepada ku teh hijau, dan secangkir kopi kepada Hansen. Sedangkan ia sendiri hanya meminum jus jeruk.
"Minumlah!" ucap Merry yang ku balas dengan mengangguk.
Aku menyesap teh hijau yang khusus dibuatkan oleh Merry untukku. Aroma tehnya begitu menenangkan.
Merry dan Hansen kembali berpegangan tangan dan menatapku dengan serius.
"Ada apa?" Tanya ku penasaran. "Sepertinya ada sesuatu yang ingin kalian berdua sampaikan kepadaku." Lanjut ku.
"Veli, kami berdua memutuskan untuk menikah. Dan kau adalah orang pertama yang mengetahui tentang rencana ini." Ucap Merry dengan senyum bahagianya.
Mataku berair, aku begitu terharu dan bahagia. Akhirnya cinta yang selama ini di pertahankan Merry berbuah manis.
"Selamat ya. Aku turut bahagia dengan rencana kalian." Ucapku. "Lalu kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Aku lanjut bertanya.
"Secepatnya." Balas Hansen.
Aku mengangguk, dan tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
Setelah sekian lama, akhirnya sahabatku Merry dapat bersatu dengan pria yang selama ini selalu dicintainya. Tak perduli bagaimana menyedihkannya kondisi Hansen, Merry tetap menerimanya. Aku benar-benar salut dengan cinta yang dimiliki sahabatku ini.
Bersambung....
__ADS_1