90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Ancaman Arnold (Bab 28)


__ADS_3

"Aku bisa saja memaafkan mu, asal kau dapat mengatakan padaku alamat dan nomor telepon Andreas." Ucapku berharap Arnold dapat memberikannya padaku.


Arnold terlihat marah dan malah berjalan keluar dari rumahku. Tepat di pintu rumah, dia berbalik menatapku dan mengatakan,


"Lebih baik kau tidak memaafkan aku saat ini, daripada aku harus memberitahukan dimana Andreas berada."


Setelah mengucapkan hal itu, Arnold beranjak pergi meninggalkan rumahku.


-----------------


Semalam tidurku sangat nyenyak, sangat berbeda dari biasanya.


'Apa karena aku puas melihat kondisi Arnold yang seperti itu. Entahlah, yang jelas, aku sedang menata hatiku untuk bisa bahagia.'


Setelah selesai mengawali aktifitas pagi ku dengan mandi dan mengganti pakaian, aku bergegas pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Bu Sumi masih aku pekerjakan, hanya saja pekerjaannya cuma sekedar membersihkan rumah saja.


Aku duduk di meja makan setelah membuat sarapan telur rebus, asparagus, dan juga salad. Tengah asyik menyantap sarapanku, ponsel yang berada di samping piring diatas meja makan berdering.


Nama Jack tertera di layar ponsel. Dengan cepat aku menggeser tombol berwarna hijau.


"Halo." Ucapku.


"Halo Velicia. Bagaimana kabarmu pagi ini?" Tanya Jack.


"Aku baik Jack. Apa yang membuatmu meneleponku sepagi ini?" Aku balik bertanya, karena jarang sekali Jack meneleponku sepagi ini.


"Maafkan aku Velicia. Sejujurnya aku tidak ingin melibatkan mu dengan masalah ini. Aku takut hal ini justru akan mempengaruhi kondisimu. Tapi, aku tidak tahu harus melakukan apalagi untuk menanganinya." Ujar Jack.


"Ayolah Jack, katakan semuanya padaku. Jangan berbelit-belit begini. Kau justru membuatku semakin penasaran."


"Velicia, aku tidak tahu siapa dalang dibalik semuanya. Tapi ini menyangkut tentang hubungan keluarga kita." Balas Jack.


Terdengar jelas bahwa Jack tengah menghela nafasnya panjang.


"Kau satu-satunya keluarga Arista yang tersisa. Namun, seseorang telah memanfaatkan semuanya atas nama keluarga Arista. Aku mendapat informasi dari sekertaris ku bahwa keluarga Arista mulai menyerang keluarga Ardana." Lanjut Jack.


"Apa?" Ucapku tak percaya.


"Sekretaris melaporkan padaku bahwa perusahaan Arista mulai melakukan sesuatu yang akan menyebabkan keretakan antara keluarga kita. Keluargaku sudah tahu jelas bahwa kau tidak mungkin melakukan apapun yang akan menyebabkan keluarga kita berselisih. Tapi jika masalah ini sampai diketahui media dan orang-orang luar, situasinya akan semakin kacau Velicia. Untuk itu aku memintamu untuk menemukan solusinya. Aku tidak ingin melihat keluarga Arista dan keluarga Ardana yang dibangun orang tua kita seumur hidup hancur semuanya."


Setelah mengatakan hal itu, Jack kemudian menutup sambungan telepon. Aku tak tahu kenapa semua ini terjadi. Keluarga Arista dan keluarga Ardana, keluarga Jack, sejak dulu sudah menjalin hubungan yang erat. Selain berhubungan secara kekeluargaan, kami juga berhubungan baik dalam kerjasama di perusahaan.


Siapa dalang dibalik semuanya? Apakah Tuan Besar Setyawan? Atau jangan-jangan Arnold? Tapi untuk apa mereka melakukan semuanya?


Kenapa sepagi ini pikiranku sudah harus dipenuhi dengan hal yang memusingkan?


Aku kembali berjalan ke kamar setelah menyelesaikan sarapanku sambil membawa air putih. Tiba di kamar, aku langsung meminum obat dan vitamin yang diberikan Dokter.


Sungguh, aku bosan harus meminum obat ini setiap hari. Tapi mau bagaimana lagi, setidaknya obat ini dapat memperpanjang usiaku dengan menahan agar sel-sel kanker itu tak kembali tumbuh di tubuhku.


Aku hendak bersiap-siap menuju ke kantor, yang saat ini sudah tentu bukan lagi menjadi milikku. Arnold pasti sudah merubah semua data kepemilikan menjadi namanya.


Sudahlah, aku bukan kembali untuk semua harta itu. Aku hanya ingin menemukan kebahagiaanku. Dan sekarang, aku akan kembali ke kantor untuk menemui Arnold untuk menanyakan semua yang terjadi dengan hubungan keluargaku dan keluarga Ardana. Bagaimanapun, Arnold lah yang memegang semua usaha keluarga Arista.


Baru saja aku hendak berjalan keluar rumah ponselku kembali berdering dan menampilkan nama Merry di layarnya.


"Halo Velicia, kamu dimana? Maaf aku belum sempat mengunjungimu. Aku sedang ada masalah. Apa kamu bisa membantuku?" Tanya Merry beruntun.


'Ah, apalagi ini?' pikirku.


"Aku sedang di rumah Mer. Ada apa sebenarnya? Apa yang bisa aku bantu?" Tanyaku.


"Aku lagi di kantor polisi. Aku...."


Belum sempat Merry melanjutkan kalimatnya, aku sudah memotong ucapannya.


"Apa lagi yang kau lakukan?"


Aku begitu khawatir kalau Merry kembali melakukan sesuatu yang akan membuatnya berada dalam masalah.


"Ini bukan aku, tapi seorang temanku Angelica Jovanka." Jawab Merry.


"Angelica Jovanka? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu." Ucapku berpikir.


"Ya Tuhan Velicia. Apa kau sudah lupa ingatan? Angelica itu mantan adik ipar mu. Dia Angelica adiknya Arnold." Teriak Merry.


"Astaga.... Kenapa aku sampai lupa padanya? Baiklah. Tunggu aku disitu." Ucapku.


Angelica Jovanka merupakan adik dari Arnold dan Andreas. Tapi, aku tidak tahu kenapa dia tidak memakai nama Setyawan dibelakang namanya. Bahkan, yang membuatku bingung adalah kedua orang tua Arnold yang tinggal di tempat yang berbeda. Jika Tuan Setyawan tinggal di kota Ternate, berbeda dengan istrinya yang tinggal di tempat lain.


Aku melajukan mobilku ke kantor polisi sesegera mungkin. Tidak tahu apa yang tengah terjadi hingga Angelica sampai ditangkap polisi. Semoga bukan masalah yang besar.


Aku tiba di kantor polisi dan segera masuk ke dalam ruangan pemeriksaan dimana Merry dan Angelica berada.


"Kak Veli...." Angelica menghambur memelukku


Merry juga ikut memelukku.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Merry.


"Aku baik-baik saja." Balasku.

__ADS_1


"Maaf sudah merepotkan mu sampai datang kemari."


"Angelica sudah seperti keluargaku sendiri. Jadi, aku harus membantunya." Balasku.


"Terima kasih Kak Veli." Ucap Angelica.


Sebenarnya usiaku dan Angelica tidak berbeda jauh. Aku hanya lebih beberapa bulan saja dengannya. Namun, karena aku pernah menikah dengan Kakak nya, jadi dia selalu menyebutku dengan panggilan Kakak.


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, aku menjaminkan diriku agar Angelica dibebaskan. Ternyata Velicia terlibat keributan dengan salah seorang wanita di sebuah tempat belanja karena berebutan barang limited edition.


Wanita yang menjadi rival Angelica keberatan karena ia merasa di aniaya oleh Angelica. Namun, setelah diinterogasi dan mediasi dengan rivalnya, Angelica dapat dibebaskan dengan jaminan diriku dan sejumlah ganti rugi pada pihak yang menjadi seteru Angelica.


"Sekali lagi terima kasih ya Kak Velicia sudah membantuku." Ucap Angelica yang terus memelukku.


"Aku terima ucapan terima kasihmu. Tapi, tolong jangan peluk aku lagi. Atau aku bisa kehabisan nafas." Ucapku.


Angelica dan Merry tertawa. Kami bertiga kemudian keluar dari ruangan interogasi dan menuju parkiran.


"Hey bagaimana kalau kita makan siang bersama. Ini sudah jam makan siang." Ucap Merry.


"Ayo, aku yang traktir." Ucap Angelica.


"Boleh saja." Balasku.


Tepat saat kami hendak masuk ke dalam mobil. Suara seseorang memanggil nama Angelica membuat kami menoleh bersamaan.


'Arnold?'


Ah bukan, sekarang aku baru bisa membedakannya. Dia pasti Andreas. Jika dilihat sekilas Andreas memang sangat mirip seperti Arnold. Tapi nyatanya ada perbedaan diantara keduanya.


Andreas memiliki tubuh yang lebih tinggi dari Arnold. Potongan rambutnya juga berbeda dengan Arnold. Dari bentuk wajah, Andreas ternyata memiliki lesung pipit yang tak dimiliki oleh Arnold. Alisnya lebih tebal, dan yang paling membedakan adalah sorot matanya. Jika Arnold lebih terlihat nakal, maka Andreas memiliki sorot mata yang dapat menenangkan.


'Ya Tuhan, kenapa aku baru menyadari semua itu sekarang.'


"Kak Andreas..." Teriak Angelica. "Aku sudah dibebaskan oleh Kak Velicia. Dia menjaminkan dirinya untukku." Ujar Angelica.


"Kau memang gadis yang nakal. Apa kau sudah mengucapkan terima kasih?" Tanya Andreas.


Suara Andreas terdengar begitu menenangkan. Sama seperti dulu saat pertama kali aku bertemu dengannya.


"Sudah dong." Balas Angelica sambil bergelayut manja di lengan Andreas.


"Anak baik." Andreas mencubit hidung Angelica, tindakannya itu membuat Angelica mengaduh kesakitan yang malah membuatku tersenyum melihat tingkah mereka.


Andreas berjalan mendekat ke arahku. Membuat jantungku berdegup semakin kencang.


"Velicia, aku permisi kesana bentar ya. Mau beli minum." Ucap Merry dan berlari menarik Angelica menjauh meninggalkan aku dan Andreas berduaan.


"Hai gadis kecil. Apa ini benar dirimu? Atau jangan-jangan aku bertemu dengan hantu di siang bolong?" Ucap Andreas menyapaku.


"Jika itu sakit, maka aku bukan hantu." Balasku.


Andreas tersenyum, senyuman yang selama ini selalu ku impikan.


"Aku senang kau baik-baik saja. Dan terima kasih sudah membantu adikku yang nakal itu."


Entah kenapa setiap kata yang terucap dari mulut Andreas terdengar begitu merdu di telingaku.


"Angelica sudah seperti keluargaku sendiri. Jadi aku sudah pasti akan membantunya." Balasku.


Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin aku katakan padanya. Namun, sepertinya situasi saat ini sangat tidak tepat. Aku harus bicara di tempat yang lain.


"Mmmm Andreas,...."


"Gadis kecil...."


Kami memanggil hampir bersamaan. Mata kami beradu pandang dan seketika tertawa canggung.


"Kau duluan..." Ucap Andreas.


"Kau saja..." Ucapku.


Tiba-tiba....


"Wah.... Wah... Wah.... Apa yang kau lakukan disini dengan mantan isteriku Andreas?"


'Arnold?'


"Arnold. Kami hanya berbincang-bincang saja. Aku berterima kasih padanya karena telah membebaskan adik kita." Ucap Andreas.


Ku lihat raut wajah Andreas berubah saat Arnold datang. Sementara Arnold menatapku dengan tatapan penuh ancaman.


'Apa? Kenapa? Apa dia cemburu?' pikirku.


"Aku harap kau tidak tertarik dengan wanita yang pernah menjadi isteriku." Ucap Arnold lagi.


Andreas hanya tersenyum, ia menepuk pundak Arnold.


"Gadis kecil, aku permisi dulu. Senang bertemu denganmu." Ucap Andreas lalu pergi meninggalkan aku dan Arnold.


Aku hendak masuk ke dalam mobil, namun Arnold menghalangiku.

__ADS_1


"Aku lihat kau begitu bahagia bisa bertemu dengan cinta mas kecilmu." Ucap Arnold.


Jujur saja. Aku malas untuk menanggapi Arnold. Aku ingin segera pergi dan tak berurusan dengannya lagi.


"Bukan urusanmu. Lagipula aku berhak menentukan kebahagiaanku sendiri. Kau bukan suamiku lagi. Kita sudah tidak memiiki hubungan apapun lagi." Ucapku.


"Hahaha apa kau pikir Andreas mau menerima mu? Jangan terlalu banyak bermimpi Velicia. Andreas tidak akan mungkin menerima dan mencintai wanita yang sudah berulang kali ditiduri oleh adiknya. Lebih baik kau kembali lagi padaku. Aku akan memberikanmu cinta yang tidak akan pernah kamu bayangkan." Ujar Arnold.


Sakit, hatiku sakit sekali mendengar kenyataan yang diucapkan Arnold. Dia benar, Andreas mungkin tidak akan mencintai wanita yang pernah tidur dengan adiknya. Tapi, aku masih bisa berusaha. Aku hanya ingin dia mengetahui perasaanku yang sebenarnya terhadap dirinya, entah dia mau menerima ataupun tidak.


"Tidak, terima kasih. Aku sudah cukup merasakan bagaimana sakitnya menjadi isteri dari seorang Arnold Setyawan. Aku tidak mau lagi." Balasku.


"Velicia, aku janji akan berubah. Aku tidak akan lagi berhubungan dengan wanita lain. Aku hanya akan mencintaimu seorang. Tolong Velicia, terima aku lagi. Ayo kita rujuk."


Kali ini wajah Arnold berubah memelas. Ia menggenggam tanganku dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskan aku. Tapi aku tidak akan termakan rayuan manisnya lagi. Aku sudah memutuskan untuk melupakan Arnold. Aku tidak mau lagi.


"Arnold, maaf. Sekali lagi aku katakan, aku tidak akan kembali lagi bersamamu." Ucapku.


Seketika wajah Arnold kembali berubah marah, dia mendorongku mendekat ke mobil.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu Velicia. Sampai kapanpun." Ucap Arnold sambil memegang daguku.


Arnold berusaha untuk mencium ku. Dengan susah payah aku mendorongnya.


"Apa kau sudah gila, ini kantor polisi. Aku bisa saja berteriak minta tolong." Ancam ku.


"Silahkan saja. Tapi dengarkan aku, jika kau tak mau kembali rujuk denganku. Aku akan menghancurkan keluarga Ardana." Arnold berbalik mengancam ku.


Jadi benar, bahwa dialah yang telah menyebabkan keretakan dalam hubungan keluarga Arista dan keluarga Ardana.


"Arnold ku mohon, jangan lakukan itu. Biarkan keluarga Ardana tenang. Jangan mengganggu mereka. Aku sudah memberikan semuanya padamu. Tolong jangan rusak hubungan keluarga Arista dan keluarga Ardana." Ucapku berusaha memohon pada Arnold.


"Kalau begitu kau harus kembali padaku. Rujuk lah denganku, dan jadilah Nyonya Setyawan lagi."


"Tidaak. Aku tidak bisa. Tolong Arnold, lepaskan aku." Aku kembali memohon pada Arnold.


"Tidak mungkin. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melepaskan dirimu. Apalagi sampai merelakan mu bersanding dengan Andreas." Ucap Arnold.


Aku menitikkan air mata. Tak percaya bahwa Arnold bisa melakukan semua ini padaku.


"Bukankah dulu kau yang ingin berpisah denganku? Kau ingin bahagia dengan Viona. Kenapa sekarang kau malah melakukan semua ini padaku. Arnold, ku mohon lepaskan aku." Isak ku.


Melihatku menangis, Arnold malah membekap ku dalam pelukannya.


"Maafkan aku, ku mohon jangan menangis. Aku hanya ingin kembali menjadi suamimu. Mencintai dirimu dan tak akan pernah menyakitimu lagi. Ku mohon Velicia kembalilah padaku." Ucap Arnold semakin mengeratkan pelukannya padaku.


Aku berontak, bersusah payah melepaskan diri darinya.


"Aku yang harus memohon padamu. Lepaskan aku." Isak ku lagi.


"Tidak akan pernah." Teriak Arnold seraya semakin mengeratkan pelukannya lagi.


Aku menangis sejadi-jadinya. Hal itu membuat Arnold panik, mungkin ia takut kalau kami akan menarik perhatian orang. Apalagi kami berada di parkiran kantor polisi.


'Merry, Angelica. Kalian dimana?' pikirku.


Arnold melepaskan pelukannya karena aku menangis semakin keras.


"Sudah, sudah. Jangan menangis lagi. Nanti orang-orang berpikir bahwa aku telah menyakitimu." Ucap Arnold berusaha mengusap air mataku.


"Kau memang telah menyakitiku. Kau menyakiti hatiku." Teriakku.


Tepat saat Arnold hendak menyentuh wajahku, Merry dan Angelica datang. Sontak Merry memukul tangan Arnold.


"Jangan pernah ganggu Velicia lagi. Kau bukan lagi suaminya, jadi kau tidak berhak untuk menyentuhnya." Ucap Merry kemudian merangkul ku yang masih terisak.


"Kak Arnold kenapa lagi sih? Kalian berdua kan sudah bercerai. Kenapa Kak Arnold lagi-lagi mengganggu Kak Velicia." Ucap Angelica.


"Karena aku ingin dia kembali padaku." Balas Arnold.


"Jangan mimpi." Ucap Merry. "Angelica tolong bawa Arnold pergi dari sini. Kalau tidak aku akan berteriak."


Angelica lalu menarik paksa Arnold pergi menjauh dariku dan Merry.


"Ayo kita pergi." Ajak Merry.


Kami berdua lalu meninggalkan parkiran kantor polisi menggunakan mobilku. Sementara mobil Merry sudah dibawa kembali oleh salah seorang karyawannya ke kedai tehnya.


Bersambung.....


Terima kasih atas kesediaan kalian membaca karya receh ini. Hari ini aku up nya cuma 1 bab aja ya, tapi panjang banget kan.... 😁😁


Oh ya, jangan lupa selalu berikan.....


Like 👍


Komen 💭


Hadiah 🎁


Vote 🎟️

__ADS_1


Salam sayang....


La-Rayya ❤️


__ADS_2