
Semua orang berteriak dan berlari berhamburan ke arah Tuan Besar Setyawan. Pria paruh baya itu tergeletak dengan luka tembak di dada nya. Aku dan Andreas mematung. Masih mencerna apa yang tengah terjadi. Sementara Arnold yang berdiri dihadapan Tuan Besar Setyawan menjatuhkan senjata api yang dipegangnya sejak tadi.
Perlahan ia beringsut mundur dengan wajah yang pucat. Ia mengusap wajahnya berkali-kali lalu menghambur memeluk Tuan Besar Setyawan.
"Papaaa...." Teriak Arnold.
Semua orang tampak syok, tak terkecuali Mama. Angelica dengan sigap memegangi Mama dan membuatnya duduk. Meski Tuan Besar Setyawan sudah bukan suaminya lagi, terlihat jelas kalau Mama juga masih peduli dengan keadaan Tuan Besar Setyawan.
Aku menatap Andreas yang berdiri mematung. Sorot matanya memancarkan kemarahan yang sangat dalam. Dia melepaskan pegangan tangannya padaku dan menarik Arnold yang tengah duduk meratapi Tuan Besar Setyawan yang sudah terbujur kaku.
Andreas mulai menghajar Arnold dengan membabi buta.
"Kau benar-benar penjahat...." Teriak Andreas.
Jack menarikku menjauh dari keduanya. Arnold benar-benar membiarkan dirinya dihajar habis-habisan oleh Andreas tanpa perlawanan. Jack terdengar menelepon ambulan. Semuanya kacau. Hari pernikahan yang awalnya bahagia berubah menjadi duka.
Tak ada yang melerai Andreas yang masih terus saja memukuli Arnold. Hingga wajahnya sudah mulai membiru.
"Jack, hentikan dia. Kalau tidak akan ada lagi yang mati di tempat ini." Teriakku.
Jack segera menarik Andreas agar menjauh dari Arnold. Dengan susah payah ia berusaha hingga akhirnya berhasil.
"Bajingan kau Arnold." Teriak Andreas. "Kau pantas untuk di penjara."
Aku terduduk lemas, tak percaya dengan apa yang tengah terjadi dihadapanku. Papa mertuaku meninggal di hari pernikahanku di tangan anaknya sendiri.
Apa ini? Takdir apalagi yang Tuhan berikan padaku?
Ambulan datang setelah tiga puluh menit kemudian. Tuan Besar Setyawan memang sudah tidak tertolong sejak awal karena peluru yang di tembakkan Arnold mengenai tepat di jantung Tuan Besar Setyawan. Polisi pun berdatangan dan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Dan Arnold pun langsung dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa.
Sore itu juga, Tuan Besar Andreas akan dimakamkan. Hari dimana seharusnya aku merasakan kebahagian, kini kembali berubah mencekam. Pesta pernikahan yang aku rencanakan, sudah pasti dibatalkan.
Di dalam kamar pengantin yang masih bertabur bunga mawar itu. Aku duduk di tepian ranjang setelah mengganti pakaian untuk segera pergi ke makam. Aku mengambil ponsel lalu menelepon seseorang yang bertanggung jawab atas katering untuk pesta yang seharusnya digelar malam nanti.
"Halo Nona Velicia..." Ucap seorang wanita dari seberang telepon.
"Aku minta maaf. Pesta malam nanti dibatalkan. Untuk makanan yang sudah terlanjur aku pesan, tolong kau sumbangkan ke panti asuhan atau yayasan-yayasan yang sekiranya membutuhkan." Ucapku lalu langsung menutup telepon.
Aku tak menyadari, ternyata Andreas tengah berdiri menatapku dari pintu kamar kecil. Dengan wajah sendu, ia berjalan mendekatiku.
__ADS_1
"Maaf." Ucap Andreas seraya duduk di sampingku dan langsung memelukku.
"Kenapa harus minta maaf. Semuanya sudah takdir yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita tak mungkin bisa menghindarinya." Balasku.
"Pernikahan impianmu harus batal karena kejadian hari ini. Aku...."
"Sssttt..." Aku menutup mulut Andreas dengan telapak tanganku.
"Jangan bicara lagi. Setidaknya aku sudah menyandang status sebagai isterimu dihadapan Papa. Papa sudah tenang di alam sana. Sekarang lebih baik kita fokus pada pemakaman Papa. Masalah pesta pernikahan tak perlu dibahas lagi." Ucapku.
"Aku mencintaimu." Ucap Andreas.
"Aku juga mencintaimu." Balasku lalu memeluknya.
************
Dengan pakaian yang serba putih, kami mengantar Papa ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Air mata mengiringi kepergian Papa saat dimasukkan ke perut bumi.
Tidak ada lagi pria tegas dan ambisius itu. Tidak ada lagi pria pekerja keras itu. Meski akhir-akhir ini aku kecewa akan sikapnya yang terus memaksaku kembali pada Arnold. Tapi, bagiku dia tetaplah sosok pria baik yang selalu membelaku saat Arnold masih menjadi suamiku dulu. Bahkan bisa ku katakan, Tuan Besar Setyawan, atau pria yang kini seharusnya kembali ku sebut dengan kata Papa ini, sangat menyayangiku dulu. Entah itu tulus atau karena harta yang aku miliki, tapi dia memang menunjukkan rasa sayang dan pedulinya padaku.
'Selamat jalan Pa. Semoga semua perbuatan baikmu senantiasa dicatat sebagai amal baik oleh Yang Maha Kuasa. Tenanglah disana dalam kedamaian Pa...'
Jika boleh jujur rasanya tak pernah ada yang namanya benar-benar siap menghadapi kenyataan saat orang tua akhirnya pergi untuk selamanya. Kalau boleh memilih, aku pasti ingin bisa terus bersama orang tuaku sampai akhir hayat. Hanya saja hidup ini sesungguhnya bukan milik ku. Saat takdir berkata lain, mau tak mau aku harus menerimanya. Ketika orang tua akhirnya berpulang, rasa sedih dan duka lara pasti menyergap. Hidup pun rasanya tak sama lagi. Ada ruang di hati yang kosong dan hampa. Dan kita baru menyadari betapa berharganya sosok mereka setelah aku merasakan kehilangan.
Aku jadi ingat kata-kata yang sering diucapkan Papa padaku.
"Bersedih lah jika itu bisa mengurangi duka mu."
Hal yang lumrah jika bersedih setelah kehilangan orang yang paling berharga dalam hidup. Kesedihan itu pun tak bisa di hindari begitu saja. Yang perlu dilakukan adalah melepaskannya.
"Tak apa menangis. Biarkan saja air mata itu mengalir. Menangis tak selalu berarti kamu lemah. Tapi karena memang kamu membutuhkannya untuk membuat hatimu terasa lebih lega." Itulah kata-kata yang sering Papa ucapkan padaku dulu.
Tanpa kehadiran orang tua lagi di sisiku, hidup jadi terasa berbeda. Hal-hal yang tadinya begitu mudah aku lakukan kini terasa lebih berat dari biasanya. Kenyataan bahwa Mama dan Papa harus lebih dulu berpulang merupakan bentuk ujian tersendiri. Dan itu terjadi karena Sang Penggenggam Kehidupan yakin aku bisa melewati ujian ini karena aku kuat.
Karena aku masih punya tugas di kehidupan ini. Masih ada banyak pekerjaan dan tanggung jawab yang harus aku selesaikan saat ini. Terlebih aku sudah menjadi isteri Andreas.
Aku percaya pada satu hal. Apa yang sudah hilang dariku pasti akan ada gantinya. Saat orang yang aku sayangi pergi, aku yakin masih akan ada orang-orang baru yang akan menyayangiku. Melewati ujian kehilangan ini tak bisa disepelekan. Tapi bukan berarti aku harus kehilangan harapan hidup karenanya kan?
Kehilangan pergi memang meninggalkan luka yang dalam. Hanya aku sendiri yang paling mengerti kesedihan dan duka itu. Tapi aku juga selalu punya pilihan dalam hidupku, mau terus melanjutkan hidupku dengan lebih baik atau meratapi semua yang telah terjadi.
__ADS_1
Dan nyatanya aku memilih untuk melanjutkan hidupku dengan baik dan bertemu Andreas. Andreas membuatku semakin menjadi pribadi yang lebih kuat. Jadi, kini giliran aku yang harus menguatkan Andreas menghadapi semuanya.
Andreas duduk dan mengusap nisan yang bertuliskan nama Tuan Besar Setyawan. Aku ikut duduk disampingnya dan mengusap punggungnya. Kini yang tersisa hanya kami berdua. Semua orang sudah pulang.
"Pa... Aku tahu aku anak yang tidak patuh pada Papa. Untuk itu aku minta maaf Pa. Semoga Papa tenang di alam sana." Ucap Andreas.
Andreas kemudian bangkit sembari menggenggam tanganku. Saat kami berdua hendak menuju mobil, sebuah mobil polisi berhenti di depan mobil kami. Andreas lantas menghentikan langkahnya. Aku yakin itu pasti Arnold.
Dan benar saja, Arnold berjalan keluar dari mobil polisi dengan mengenakan kemeja putih. Wajahnya terlihat lesu, ia tampak begitu murung.
Saat ia berjalan melewati kami yang berdiri mematung, ia berhenti sebentar dan hanya memandang Andreas dengan tatapan kosong lalu berjalan pergi ke makam Papa. Andreas lalu menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam mobil. Tepat saat kami akan membuka pintu mobil, seorang anggota polisi mendekat.
"Selamat sore Pak Andreas." Sapa seorang polisi dengan name tag Bambang Prasetyo.
"Iya. Selamat sore Pak." Balas Andreas.
"Saya minta kesedian Pak Andreas dan isteri untuk ke kantor polisi besok, guna menjadi saksi atas kasus yang melibatkan Pak Arnold." Ucap Pak Bambang.
"Tentu saja." Balas Andreas singkat.
Setelah itu kami pun masuk ke dalam mobil. Sebelum mobil meninggalkan tempat pemakaman, aku melirik sebentar ke arah Arnold yang tengah membungkuk dan terlihat jelas meski dari dalam mobil yang lumayan jauh ia tengah menangis.
'Kasihan sekali kau Arnold.' ucapku dalam hati.
Mobil pun berjalan dan suasana hening menyelimuti perjalanan kami, hingga Andreas akhirnya bersuara.
"Apa kau kasihan pada Arnold?" Tanya Andreas.
"Eh itu...."
"Kenapa kau gugup? Aku hanya bertanya." Ucap Andreas cepat.
"Bukan begitu. Aku hanya khawatir kalau kau sampai berpikir aku memiliki perasaan yang macam-macam padanya. Padahal aku hanaya merasa iba dengan nasib yang ia miliki sekarang. Papa meninggal dan ia malah masuk penjara. Terlebih kondisi Viona yang tengah hamil. Itu saja, aku tidak...."
"Aku percaya padamu sayang.," Ucap Andreas menyela ku. "Aku mencintaimu." Lanjutnya.
"Aku juga." Balasku.
Bersambung....
__ADS_1