90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
57. Kebenaran Masa Lalu


__ADS_3

Di kediaman Wijaya....


Adam tiba di rumah dengan wajah yang masih terlihat sangat marah. Dia bahkan tidak menyadari kehadiran Claudia yang tidur di sofa tengah memeluk sebuah bantal karena menunggu dirinya.


Adam langsung naik ke lantai atas dan lima menit setelah itu Nila datang menghampiri Claudia dan membangunkan. Claudia membuka matanya berharap bahwa itu adalah suaminya tapi dia bingung ketika yang dia lihat adalah Nila.


"Nona Muda, bangunlah. Tuan sudah ada di rumah." Ucap Nila.


"Di rumah? Dimana dia?" Tanya Claudia.


"Di lantai atas." Balas Nila.


"Di atas? Dia pulang dan langsung naik ke lantai atas. Kenapa dia tidak membangunkan aku? Apakah dia tidak menyadari kehadiranku disini?" Tanya Claudia bingung.


Saat tiba di dalam kamar Claudia menemukan pakaian suaminya berada di atas tempat tidur dan pintu kamar mandi terlihat tertutup. Claudia mengambil pakaian Adam lalu memasukkannya ke dalam keranjang tempat cucian dan menunggu suaminya keluar dari dalam kamar mandi.


Adam akhirnya keluar dari dalam kamar mandi setelah 30 menit. Claudia langsung melihat wajah sang suami yang terlihat begitu suram. Adam bahkan tidak melihat kearah dirinya saat berjalan ke arah lemarinya.


Adam tidak pernah melakukan hal seperti itu. Tidak perduli apapun itu, dia tidak pernah abai untuk memandang istrinya dengan penuh cinta, berbicara kepadanya dengan begitu lembut, terutama saat dia pulang ke rumah. Adam selalu menginginkan pelukan dan ciuman saat kembali ke rumah setelah bekerja. Tapi dia tidak melakukan semua itu hari ini.


Adam selesai mengganti pakaiannya dengan menggunakan piyama tidur dan langsung masuk ke dalam selimut di atas tempat tidur. Sementara Claudia tetap duduk di ujung tempat tidur. Dia benar-benar tidak dihiraukan dan seperti tidak diinginkan berada di sana oleh Adam. Claudia merasa ingin menangis. Adam bahkan tidak mengatakan satu kata pun kepadanya, tidak juga melihat ke arahnya sedikitpun. Mood nya, auranya membuat Claudia tidak berani untuk memulai obrolan.


Ini adalah pertama kalinya Claudia merasa takut untuk berbicara dengan Adam.


Claudia tidak berbicara sedikit pun dan hanya berbaring dengan tenang di atas tempat tidur dengan posisi Adam yang membelakangi dirinya. Tapi Claudia dia tetap melihat kearah suaminya, menatap punggungnya. Claudia tidak pernah menyangka bahwa Adam akan bersikap dingin seperti ini terutama kepada dirinya.


'Sebenarnya apa yang sudah terjadi di rumah Megan? Kenapa dia bertingkah begitu dingin kepadaku? Dia tidak bicara padaku bahkan tidak juga melihat aku. Bagaimana bisa aku yang menjadi korban semua ini. Semua ini adalah kesalahan Megan yang menghilangkan sesuatu yang sangat penting, bukan? Lalu kenapa aku malah didiamkan seperti ini? Apakah Adam bertengkar dengan Megan? Apakah dia kesal karena hal itu? Apakah dia tidak menghiraukan aku karena dia sedang bad mood setelah bertengkar dengan Megan?


Tidak... tidak... tidak.... Aku seharusnya tidak boleh berpikir seperti ini. Tapi kenapa jadi seperti ini? Bahkan jika sesuatu telah terjadi di sana, bagaimana mungkin akulah orang yang mendapat perlakuan seperti ini? Kenapa dia tidak memelukku? Kenapa dia tidak meminta aku untuk menciumnya? Kenapa dia sendiri bahkan tidak memelukku? Sesuai kebiasaannya, dia tidak bisa tidur tanpa memelukku bukan, lalu kenapa?'


Claudia mencoba untuk tidak berpikir buruk tapi tidak bisa. Dia mencoba untuk menjaring ikan pikirannya dan mencoba untuk tidur.


Keesokan paginya...


Ketika Claudia bangun, dia mendapati tempat tidur di sisinya sudah kosong. Dia tahu bahwa Adam sudah lebih dulu bangun daripada dirinya. Claudia tidak mempermasalahkan hal itu. Dia lalu membersihkan dirinya ke kamar mandi kemudian turun ke lantai bawah dan seperti biasa, dia pasti akan mendapati seseorang yang duduk di meja makan, menunggu dirinya untuk sarapan bersama. Tapi tidak, suaminya itu sudah pergi ke kantor sejak pagi tadi.


"Nona Muda maaf, saya tidak menunggu Anda untuk membuatkan menu sarapan. Sebenarnya saat saya melihat Tuan turun dari lantai atas tadi pagi sekali, saya pikir Tuan tidak akan pergi ke kantor. Dan anda tidak turun bersama Tuan, jadi saya mulai membuat sesuatu dengan cepat untuk disajikan kepada Tuan."


Claudia menghela napas dengan sedih. Sebenarnya, hal ini sudah beberapa kali terjadi. Saat Adam pergi ke kantor pagi sekali tanpa menunggu dirinya bangun. Tapi hari ini, hal itu sangat menyakitkan bagi Claudia. Claudia ingin berbicara dengan pria itu. Dia membiarkan semuanya berjalan begitu saja tadi malam, berpikir bahwa Adam mungkin lelah dan butuh istirahat. Claudia pikir, dia bisa bertanya kepada Adam apa yang sudah terjadi pagi harinya. Tapi lagi-lagi Adam meninggalkannya.


Kapanpun Adam pergi di pagi hari, dia selalu meninggalkan pesan untuk dirinya. Tapi hari ini, tidak ada pesan apapun, tidak ada sama sekali.


"Tidak apa-apa Nila, aku mengerti. Apakah dia makan dengan baik? Aku rasa dia tidak makan dengan baik semalam." Tanya Claudia.


Nila menundukkan kepalanya.


"Itulah apa yang ingin saya katakan kepada anda Nona. Tuan bahkan tidak sarapan. Tuan meninggalkan rumah dengan segera. Saya pikir Tuan akan menunggu sarapan di atas meja, sama seperti yang biasanya Tuan lakukan. Tapi saat saya keluar dari dalam dapur dengan membawa makanan, Tuan sudah pergi. Sudah tidak ada lagi tanda-tanda dari Tuan." Ucap Nila menjelaskan.


Sekarang semua ini membuat Claudia semakin bingung dan khawatir. Dengan wajah yang penuh kebingungan, dia menelpon Erik.


"Halo, selamat pagi Nona Muda." Ucap Erik.


"Selamat pagi Erik. Bisakah kau memberikan ponsel mu kepada Adam? Aku ingin berbicara dengannya. Ini sangat penting." Pinta Claudia.

__ADS_1


Setelah terdiam beberapa saat Erik pun membalas ucapan Claudia.


"Maaf Nona, saya sangat yakin bahwa Tuan Adam tidak ada disini." Ucap Erik yang terdengar bingung.


Jantung Claudia berdegup kencang.


"Tidak ada disana? Lalu dimana dia? Apakah dia sedang meeting atau ada agenda sarapan bersama dengan klien nya?" Tanya Claudia lagi.


"Tidak, tidak sama sekali. Tidak ada janji pertemuan hari ini. Tuan bebas, tidak ada jadwal apapun sampai jam makan siang hari ini. Tuan memberitahukan kepada saya kemarin bahwa Tuan akan terlambat datang ke kantor hari ini. Jadi saya tidak memberikan jadwal pertemuan apapun hari ini." Ucap Erik.


Claudia merasa begitu frustrasi sekarang. Dia memutuskan sambungan telepon, lalu menelpon Naomi.


"Kak Naomi, dimana Adam? Pagi ini aku sudah menelpon Erik, tapi dia tidak ada di kantor." Ucap Claudia.


"Eh... Claudia, sebenarnya ada masalah kemarin malam di rumah Megan. Jadi dia masih sibuk mengurus hal itu sekarang. Dia sedang bersama Will. Mereka tengah mendiskusikan sesuatu. Aku juga ada di sini bersama mereka. Jangan khawatir, semuanya baik-baik saja." Ucap Naomi memberitahukan kepada Claudia.


Claudia tidak tahan lagi, dia langsung mematikan sambungan telepon. Dengan begitu frustrasi, dia langsung membanting ponselnya dengan keras ke lantai hingga membuat suara layar ponsel itu terpecah.


Nila menghela napas panjang. Dia tahu bahwa Claudia tengah marah. Sekarang tidak ada cara apapun untuk mencoba menghentikan amarah Claudia.


Claudia berlari menuju kamarnya, dia ingin berteriak, dia ingin mengeluarkan sumpah serapah nya. Dia lalu membenamkan wajahnya di bantal dan berteriak, serta mengumpat karena rasa frustrasi nya.


Setelah beberapa menit mengeluarkan rasa frustrasinya, Claudia pun duduk.


"Tidak, aku tidak bisa membiarkan pikiranku bermain-main dengan ku kali ini. Dia mencintaiku, dan aku tahu itu. Megan hanyalah tanggung jawabnya. Megan mungkin berada di dalam bahaya lagi. Itulah kenapa mereka semua tengah berkumpul sekarang. Dia bukannya tidak menghiraukan aku, dia mungkin tengah stres. Yaah dia hanya sedang marah kepada Megan dan stres. Itulah kenapa dia tetap diam. Dia tidak marah padaku, tidak. Tetaplah berpikir positif Claudia." Ucap Claudia mencoba menenangkan dirinya.


*******************


Adam pergi ke rumah Will pagi tadi.


Will tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat Adam melemparkan beberapa foto dihadapan dirinya di atas meja. Will melihat foto itu, sedangkan Adam terlihat begitu marah. Mata Will langsung membelalak.


"Ini.... Oh ya Tuhan... Bagaimana... Ini semua gila..." Ucap Will.


"Benar sekali. Kau seharusnya lebih berhati-hati. Dia datang ke rumahmu dan seseorang mengikutinya. Bagaimana jika mereka mengikutinya setelah dia meninggalkan rumahmu? Dan bagaimana jika para bajingan itu sudah tahu tentang informasi dirinya? Pria itu juga terlihat begitu percaya diri malam itu." Ucap Adam.


Will menjadi begitu terkejut.


Pertama, foto yang dilihatnya adalah Claudia dan dirinya. Gambar itu terlihat bahwa mereka berdua tampak begitu intim.


Kedua, Adam tidak terganggu dengan foto itu sama sekali. Dia selama ini menjadi pria yang paling begitu posesif di dunia tapi dia bahkan tidak menanyakan apapun tentang foto itu.


Ketiga, pria yang sebenarnya menjadi musuh mereka akhirnya muncul.


Will tidak berbicara beberapa saat.


"Percaya padaku Dam, foto ini semuanya tidak seperti yang kau...


"Diam lah... Apakah aku bertanya padamu tentang foto itu? Aku Adam Wijaya. Kau seharusnya tidak meremehkan aku. Aku tahu dia datang untuk menemui mu. Dia dalam bahaya, kita semua tahu tentang itu. Dan apakah kau pikir aku akan membiarkan dia berkeliling di seluruh kota tanpa pengawasan dariku? Aku bukan seorang psyco, tapi aku harus melakukan semua ini untuk membuat dia selalu aman. Dia memberitahuku bahwa dia bertemu dengan Kalina minggu lalu. Tapi dia tidak memberitahuku bahwa dia mengunjungi mu. Aku bisa menebak apa yang menjadi alasannya. Jadi aku tidak menanyakan apapun kepadanya. Dia ingin melakukan semuanya secara rahasia. Dia mungkin berpikir bahwa kalian semua akan membiarkan orang lain tahu bahwa inisiatif yang dia lakukan ini sebenarnya akan sukses. Aku tidak terganggu sama sekali dengan hal itu.


Fokus utama ku adalah keselamatan nya. Siapa yang bisa mengambil foto ini? Aku sudah menemukan satu nama dalam pikiranku. Jika aku benar dengan tebakan ku itu, maka orang yang mengambil foto itu bukanlah hal yang berbahaya. Tapi jika aku salah dan itu adalah ulah pria itu...."


Adam berhenti berbicara, ekspresinya berubah dari ketakutan menjadi khawatir.

__ADS_1


**************


Semua itu dimulai saat pertama kali Claudia bertemu dengan Sean.


Sebenarnya Sean adalah pria yang dewasa dan bisa mendapatkan wanita manapun. Tapi dia menyukai Claudia. Dia menginginkan Claudia dalam hidupnya. Sean adalah mafia kejam dan tidak memiliki hati nurani. Dia menjadi pemimpin mafia terbesar di negara ini sampai sekarang. Tapi tentang Claudia, dia hanya bertemu satu kali dengannya dan langsung ingin memilikinya. Tidak butuh waktu lama untuk Sean jatuh cinta pada Claudia. Dia tidak pernah berencana untuk mencium atau melakukan apapun kepada Claudia. Tapi bibir kecil menggemaskan milik Claudia itu, terlalu sayang jika harus dilepaskan begitu saja oleh Sean. Dan Claudia sendiri saat itu terlihat begitu tertarik kepada Sean. Sean benar-benar jatuh hati kepada Claudia untuk pertama kali dalam hidupnya.


Sean menyelesaikan misi nya di taman itu dan kembali ke rumahnya. Dia memberikan gambar Claudia yang diambil diam-diam saat Claudia meninggalkan toko itu kepada sekretaris dan asistennya, orang yang paling dia percaya.


"Kalian hanya punya waktu 5 jam untuk mendapatkan informasi tentang dia. Nama alamat, identitas, kesukaannya dan semua hal tentangnya." Titah Sean dan memberikan sebuah memory card kepada mereka. "Masukkan semua informasi ke dalam memory card ini dan kembalikan semuanya kepadaku." Lanjut Sean.


"Memory card? Tapi ini anting..." Asisten Sean tampak bingung.


Sean menertawakan asistennya sebelum memperlihatkan bahwa ada sebuah memori card yang berada di dalam anting-anting itu. Anting-anting itu sebenarnya sebuah berlian langka dengan secara tehnik dimasukkan sebuah memory card di dalamnya.


Asisten Sean sudah mengumpulkan semua informasi tentang Claudia di dalam memory card itu. Tapi sayangnya malam itu saat dia ingin memberikan semua itu kepada Sean, asisten dan dua orang lainnya ditangkap oleh petugas perbatasan.


Saat para petugas memeriksa barang bawaan dan tubuh mereka. Para petugas akhirnya menemukan anting-anting itu. Asisten Sean meminta kepada mereka untuk mengembalikan anting-anting itu, tapi para petugas itu tidak membalas apapun.


"Aku beri tahu kalian, itu adalah anting berlian yang langka. Pemiliknya adalah seorang mafia. Apakah tidak mungkin baginya untuk memiliki hal yang langka seperti ini? Tahan saja kami, pukuli saja kami, atau lakukan apapun yang ingin kalian lakukan. Tapi tolong berikan anting-anting itu kembali kepadaku." Ucap asisten Sean itu, tapi petugas tidak mengembalikan nya, dan dia malah menyimpannya untuk dirinya sendiri.


Semua orang tahu kisah selanjutnya dari ketua mafia itu, yang menyerahkan dirinya sendiri kepada polisi dan semuanya.


Itu semua terjadi setelah Papa Megan meninggal ketika Adam dan teman-temannya mengambil tanggung jawab terhadap Megan. Setelah beberapa bulan serangan itu dimulai. Beberapa pria terus mengikuti Megan dimana pun dia berada, seperti sekolah, taman dan tempat lainnya.


Menjadi seorang tentara dan seseorang yang berhubungan dengan administrasi negara, Papa Megan mempunyai banyak musuh. Adam dan tiga pria lainnya, pertama kali berpikir bahwa semua orang yang mengikuti Megan itu adalah musuh dari Papa Megan yang mencoba untuk membalas dendam. Dan keempat pria itu mulai melawan geng Sean dan mereka melakukan yang terbaik untuk melindungi Megan dari segalanya.


Saat itu malam ulang tahun megan yang ke delapan belas tahun. Ketika Adam pergi untuk mengantar Megan ke rumahnya dan meninggalkan Claudia sendirian di mobil. Dia merasa beberapa orang pria ada di semak-semak. Dia lalu mengantar Megan sampai ke dalam rumah dan berdiam diri di sana beberapa saat untuk memastikan bahwa Megan tidak sendirian dan aman. Setelah beberapa saat ketika Will mengirimkan 4 orang penjaga dan tiba di sana untuk menjaga Megan, Adam keluar dari dalam rumah Megan untuk kembali kepada Claudia.


Saat dia berjalan kembali ke arah Claudia, dia mendengar beberapa pria berbicara. Mereka mungkin tidak menyadari kehadiran Adam di kegelapan.


Itulah pertama kalinya Adam mendengar tentang anting-anting itu. Setelah apa yang dia dengar itu, Adam pun yakin bahwa para pria itu tidak mengancam hidup Megan. Mereka hanya menginginkan anting-anting itu, anting berlian yang langka itu yang diberikan papa Megan sebelum dia meninggal.


Mereka menanyakan Megan tentang hal itu dan semua itu benar. Papa Megan memberikan sebuah anting-anting berlian kepadanya tiga hari sebelum dia masuk ke ruangan operasi. Paa Megan akhirnya meninggal di dalam ruang operasi karena menyelamatkan anak buahnya, Adam dan Will.


Adam dan Will sudah mencoba untuk mencari tahu apa alasan dari para anggota mafia itu mengejar anting-anting itu, tapi tetap tidak bisa.


Setelah beberapa minggu, bagian forensik dan cyber departemen sudah bisa mengungkap rahasia nya. Mereka akhirnya tahu bahwa anting-anting itu sebenarnya memiliki memory card di dalamnya.


Awalnya mereka berpikir memory card itu adalah suatu file yang berisi informasi tentang bisnis gelap ataupun kerjasama mereka. Dan mungkin itulah alasan kenapa mereka ingin mendapatkan anting-anting itu lagi. Tapi ternyata tidak, memory card itu hanya berisi sebuah folder dengan nama 'Cinta.'


Butuh 4 hari untuk bagian cyber departemen untuk bisa meretas password dari memory card itu. Saat folder dibuka, semua orang tidak dapat berkata apa-apa, terutama Adam dan para sahabatnya.


Semua data itu adalah gambar Claudia dan data pribadinya. Mulai dari namanya, usia, alamat, sekolah, background keluarga hingga masalah percintaan dan semuanya. Adam benar-benar terkejut, dia bahkan tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya.


Saat itu ketika Adam tengah melakukan sesuatu, dia dan Will menggunakan Megan sebagai umpan. Mereka akhirnya membiarkan Megan terlihat dan didekati oleh para mafia itu, hanya untuk menemukan semua kebenarannya. Karena Adam begitu khawatir melihat informasi istrinya yang berada di dalam memory card itu. Dan para mafia itu mencoba untuk menemukan dirinya.


Itulah bagaimana akhirnya mereka semua mengetahui kebenarannya. Saat itu ketika para mafia itu tengah mencecar Megan dengan berbagai pertanyaan tentang anting-anting itu, mereka berbicara bahwa dalam memory card itu menyimpan informasi tentang orang yang dicintai oleh bos mereka. Mereka tengah mencari gadis yang dicintai oleh bos mereka. Bos mereka tengah dihukum dan akan segera dibebaskan akan keluar. Suatu hari nanti saat Bos mereka keluar dari penjara, maka dia akan menanyakan tentang gadis yang sangat dia cintai dan menjadi alasan sampai dia menyerahkan dirinya ke polisi. Hanya untuk memastikan dia bisa hidup bahagia dan damai setelah hukuman itu.


Adam begitu terkejut dan ketakutan. Hal itu membuatnya terlibat perkelahian dengan para pria itu dan mendapat tembakan. Adam tahu jika anting-anting itu tetap bersama dirinya, mereka semua tidak akan pernah menemukan Claudia. Karena mereka tidak punya petunjuk apapun tentang Claudia.


Hanya asisten dan bos mereka yang mempunyai foto dari claudia. Tapi mereka tidak punya itu. Adam tahu untuk menyelamatkan istrinya, dia harus menyimpan memory card itu dengan aman.


Bersambung...

__ADS_1


Adam selalu mempercayai istrinya. Tapi bisakah Claudia selalu percaya kepada Adam. Claudia baru saja bisa mengatasi masalah kepercayaannya itu. Dia sudah mulai bisa percaya kepada suaminya.


Sekarang, apakah dia akan tetap kuat untuk menghadapi semuanya dan mempercayai suaminya? Atau dia akan kembali lagi seperti masa lalunya yang bermain-main dalam pikirannya sendiri....


__ADS_2