90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Bayi (Bab 76)


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat, aku mendapat kabar bahwa istri dari Jack telah melahirkan. Aku dan Andreas berencana untuk mengunjungi Jack untuk melihat isteri dan bayinya. Jadi, pagi ini sebelum bertolak ke kota tempat Jack tinggal, aku memutuskan untuk menghubunginya lebih dulu


"Hey Jack. Selamat ya untuk kelahiran putramu." Ucapku via telepon.


"Terima kasih, terima kasih." Balas Jack.


"Hari ini juga aku akan mengunjungi bayimu bersama Andreas."


"Tidak. Jangan kemari." Ucap Jack yang membuatku terkejut.


"Apa maksudmu? Kenapa kau melarang ku?" Tanyaku heran.


"Aku tak mau membuat kondisi mu memburuk karena harus melewati perjalanan jauh untuk mengunjungi ku. Lagipula sekarang kami tengah berada di desa Mama mertua. Kau boleh datang saat kami sudah kembali ke rumah." Ujar Jack.


"Apa kau takut penyakit ku akan menular pada bayimu?" Tanyaku dengan nada kesal.


"Ya Tuhan, Velicia. Bukan begitu. Sungguh, kami sedang tidak ada di rumah. Tunggulah aku akan mengabari mu jika kami sudah kembali. Aku akan senang melihat kau menggendong keponakanmu."


"Baiklah. Kalau begitu sampaikan salam ku kepada kakak ipar. Semoga dia cepat pulih, dan jangan lupakan salam sayangku kepada si baby." Ucapku, yang setelah itu menutup telepon.


Berselang satu minggu giliran Merry yang melahirkan.


Kelahiran bayi merupakan salah satu momen yang selalu ditunggu bagi sebagian besar pasangan suami istri. Terlebih lagi bagi Merry dan Hansen yang merupakan pasangan baru yang sedang menantikan kehadiran anak pertama mereka dalam keluarga. Tidak heran, di setiap momen kelahiran anak selalu dipenuhi rasa kebahagiaan dan kegembiraan.


Suasana bahagia dan gembira ini tentu juga ikut aku rasakan ketika aku melihat Merry yang baru saja menyelesaikan proses persalinannya. Bukan hanya rasa bahagia, tetapi juga rasa syukur melihat sahabatku dan anaknya yang lahir dengan sehat. Selain menjenguk Merry sebagai bentuk perhatian, aku juga sekaligus memberikan dukungan baginya untuk menjalankan peranan barunya sebagai orang tua. Meski aku sendiri tidak tahu bagaimana rasanya menjadi orang tua.


Aku masuk ke dalam ruangan Merry, dimana disana ia ditemani Hansen dan sang Nenek. Aku merasa sangat bahagia saat melihat bayi Merry untuk pertama kalinya. Namun, hal ini juga yang semakin menguatkan keinginanku untuk memiliki anak. Tapi, aku sadar diri bahwa aku tak akan bisa mengandung, sampai kapanpun.


Memiliki anak merupakan harapan bagi semua pasangan suami istri. Bagiku bayi adalah pelita hidup bagi keluarga. Buah hati juga merupakan karunia luar biasa yang diberikan oleh Tuhan dan harus selalu disyukuri. Kehadiran bayi di tengah kehidupan berumah tangga membuat suasana rumah dan kehidupan menjadi lebih berwarna.


Dan pada saat akhirnya bayi lahir ke dunia, para orang tua pasti berharap yang terbaik untuk sang bayi agar kelak menjadi manusia yang berguna dan dicintai oleh banyak orang. Dan, aku berharap jika diberi kesempatan untuk menjadi orang tua, meskipun itu dari anak adopsi. Aku akan merawat dan membimbingnya hingga dewasa.

__ADS_1


Merry menatapku dengan wajah yang terlihat masih lemah. Namun, senyum di bibirnya terus mengembang.


"Untuk sahabatku tersayang, selamat atas kelahiran anak pertamamu. Berkah untukmu dan keluargamu. Aku turut bahagia dengan kelahiran bayi laki-laki mu yang sangat tampan ini. Semoga kebaikan dan keberkahan menyertaimu dan bayimu. Semoga di masa yang akan datang menjadi anak yang selalu berbakti kepada kedua orang tuanya. Semoga dengan hadirnya bayi laki-laki ini bisa menambah kebahagiaan untuk ayah dan ibu serta seluruh anggota keluarga. Semoga bisa tumbuh dengan sehat sampai tua nanti dan Allah memberikan keberkahan padanya." Ucapku seraya mengusap punggung tangan Merry lembut.


Mata Merry berkaca-kaca, ia lalu menatap bayi yang terbaring di sampingnya.


"Mau menggendongnya?" Tanya Merry yang membuatku terkejut.


"A-aku!" Entah kenapa aku tiba-tiba menjadi gugup.


"Kelak, aku juga akan memintanya memanggilmu dengan sebutan Mama. Gendong lah." Ucap Merry yang membuatku begitu terharu.


Perlahan Nenek Hansen mengangkat bayi mungil itu lalu memberikannya padaku. Jujur saja, aku merasa gemetar. Ini adalah pengalaman pertamaku menggendong bayi. Aku menatap bayi mungil yang berada dalam gendonganku ini.


"Selamat datang ke dunia, anak tampan. Selamat juga untuk Mama mu yang telah berjuang melahirkan mu, bayi setampan ini. Kau pastinya akan menjadi penyejuk hati untuk kedua orang tuamu. Semoga Tuhan memberikan keberkahan kepadamu dan semoga Tuhan memberi berkah atas mu. Kelak saat besar nanti, kau akan menjadi anak yang baik. Dan semoga kedua orang tuamu dimudahkan, dikuatkan, dan dilancarkan dalam mendidik serta mengasuh mu hingga menjadi anak yang sukses dunia akhirat." Ucapku panjang lebar.


Tiba-tiba terdengar dari arah pintu, suara Andreas mengaminkan ucapan ku.


Saat datang ke rumah sakit siang tadi, Andreas memang tidak bisa menemaniku karena ia tengah ada rapat penting.


"Selamat ya." Ucap Andreas pada Hansen.


"Terima kasih." Balas Hansen.


Andreas dan Hansen tampak berbincang sebentar lalu keluar ruangan bersama, mungkin keduanya ingin mengobrol berdua. Kini tersisa aku, Merry dan Nenek didalam ruangan. Bayi Merry tiba-tiba menangis. Aku sontak panik, dan segera meletakkannya kembali disamping Merry.


"Ada apa dengannya Nek. Aku tidak mencubitnya kok." Ucapku.


Nenek hanya bisa tertawa, lalu menjelaskan semuanya secara perlahan.


"Jadi, kalau nangisnya seperti itu, tandanya dia lapar." Ucap Nenek seraya memberi kode pada Merry agar segera memberikan ASI pada bayinya.

__ADS_1


Merry mengangguk, lalu segera memberikan ASI pada bayinya.


“Menjadi ibu adalah proses belajar yang tak pernah usai,” ujar Nenek seraya menepuk pundak ku. Menjadi ibu harus kuat. Tak mengapa seorang laki-laki menjadi lemah. Namun seorang ibu, tak boleh lemah. Seorang wanita tidak boleh menjadi ibu yang lemah. Karena anaknya membutuhkan ibu jauh lebih besar dari kebutuhan apapun. Ibu harus tetap kuat untuk anak-anaknya." Lanjut Nenek.


Wanita yang telah merasakan menjadi seorang ibu selama puluhan tahun silam itu menatapku dan Merry tajam. Seolah berusaha meyakinkan kami, bahwa kami berdua mendengar dan memahami setiap kata yang diucapkannya.


Kata-kata Nenek memang berderai seperti hujan. Dan aku laksana bumi yang rekah mereguk rakus setiap kali bulir kalimatnya menyentuh hatiku. Aku tergugu.


Namun, sanggupkah aku seperti yang dikatakannya jika diberi kesempatan menjadi seorang ibu? Yang tak pernah mengeluh sekalipun beban berat yang disandang mampu merontokkan tulang-tulang? Sanggupkah aku menjalani rutinitas yang begitu padat dan melelahkan demi mengantar anak-anak meraih kesuksesan?


Sepertinya aku sanggup. Apalagi melihat wajah menggemaskan bayi mungil Merry yang bisa aku timang beberapa saat semakin membuatku jatuh cinta pada sosok bayi.


Jadi, setelah pulang ke rumah malam harinya. Aku pun mulai mengutarakan keinginanku pada suamiku.


"Aku ingin mengadopsi anak. Hmmm bila perlu bayi. Apakah ada?" Tanyaku pada Andreas saat kami berbaring sambil berpelukan di tempat tidur.


"Apa kau yakin?" Tanya Andreas.


"100 persen." Jawabku.


Andreas lalu mengecup kepalaku lembut.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku setuju-setuju saja, jika itu bisa membuatmu bahagia." Ucapnya.


Aku semakin mengeratkan pelukanku padanya. Suamiku ini memang terhitung tidak pernah menolak keinginanku. Dan hal itulah yang membuatku merasa semakin beruntung karena dicintai olehnya.


"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu." Ucapku.


"I love you too." Balasnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2