90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
28: Underwear


__ADS_3

Claudia baru saja keluar dari kamar mandi dan ia langsung melihat ponselnya untuk melihat notifikasi yang terus ia terima. Saat membuka ponselnya, ia begitu terkejut mendapati ada seribu lebih komentar yang ia dapatkan atas postingan terakhirnya.


Dengan cepat ia melihat komentar itu. Ada ribuan gadis yang berkomentar di postingannya.


'Siapa dia?'


'Ya Tuhan Di, kau tinggal bersama seorang pria?'


'Kenapa kau tidak memperkenalkannya kepada kami?'


'Jadi Endra bukan kekasihmu?'


'Apakah dia Sugar Daddy mu?'


'Jika aku punya lelaki seperti dia untuk dibangunkan, aku tidak akan pernah meninggalkan kamarku.'


'Di, kau gadis yang nakal.'


'Kenapa begitu pelit, tunjukkan sedikit wajahnya kepada kami.'


Ada begitu banyak komentar yang seperti itu.


'Wah, punggung Adam benar-benar menarik perhatian banyak orang.' ucap Claudia dalam hati.


Dia lalu membaca komentar privasi yang dikirimkan sahabatnya.


Endra: 'Akhirnya, kau bukan cuma menyandang nama menjadi Nyonya Adam saja, tapi sekarang kau benar-benar sudah resmi menjadi Nyonya Adam. Aku ikut bahagia.'


Rose: 'Bagaimana kehebatannya di ranjang?'


Yuna: 'Wow, mulai hari ini aku akan sangat menghormatimu Di. Kau adalah wanita nomor satu di negara ini setelah istri Presiden kita.'


Bam: 'Mandi air hangat, itu akan membuat tubuh kalian berdua lebih nyaman setelah lembur semalam.'


Diana: 'Di sahabatku, aku sudah tergila-gila pada Tuan Adam sejak lama. Tapi setelah mengetahui dia adalah suamimu, aku mulai mengendalikan diriku. Jangan buat aku mulai menggilainya lagi ya, dengan postingan mu yang seperti ini.'


Endra: 'Jadi, berapa ronde semalam?'


Claudia tertawa membaca pesan yang dikirimkan oleh para sahabatnya itu, namun ia juga sedikit tersipu. Nama Nyonya Adam yang disebutkan sahabatnya terngiang terus dalam pikirannya.


Ada satu lagi pesan yang ikut berkomentar tentang postingannya, yaitu dari akun 'A'. Claudia sendiri belum mempunyai bayangan mengenai, siapa pemilik akun itu. Dia juga tidak terlalu memikirkannya. Dia lalu membuka pesan itu dan membacanya.


A: 'Caption nya sangat menakjubkan. Kau harus menulis lirik lagu. Kau hebat dalam menulis kata-kata. Kata-kata yang kau tuliskan mengisyaratkan bahwa kau sangat mengagumi orang itu.'


Claudia sekarang merona, ia seperti seorang istri yang baru saja mengalami malam pertama pernikahan.


Akhirnya, seseorang yang memiliki intelektual yang tinggi bisa memahami keahlian menulis yang dimiliki Claudia. Tidak seperti para sahabatnya dengan komentar bodoh mereka.


Claudia dengan cepat mengetik balasan.


Claudia: 'Terima kasih, kau sangat manis. Kau satu-satunya orang yang bisa melihat kemampuanku dalam menulis.'


A: 'Sama-sama. Btw, tetaplah menulis caption yang bagus. Pria itu sepertinya memang terlihat tampan. Tapi tampak agak tua.'


Claudia: 'TIDAAK. Tidak sama sekali. Dia baru berusia 26 dan sebentar lagi masuk 27. Dia memang pria yang tampan dari wajah dan semuanya.'


A: 'Apa aku boleh tau, siapa dia?'


Claudia: 'Emmmm aku tidak bisa mengatakannya, maaf. Tapi seperti yang kau katakan tadi. Aku memang sangat mengaguminya. Dia sempurna dalam setiap sudut. Baik itu fisik, mental, dan emosionalnya. Kau akan kagum atas kepribadiannya. Caranya bicara, berjalan dan semuanya...'


A: 'Aah, aku mengerti. Tapi, selama ini yang aku dengar dari orang-orang, bahwa kau itu adalah wanita lajang. Bukan begitu?'


Claudia: 'Tidak, tidak sama sekali. Aku bukan wanita lajang.'


A: 'Ah, salahku. Jika kau masih wanita lajang. Aku ingin kau menjadi kekasihku. Kata-kata yang kau tulis, menyiratkan bahwa kau orang yang romantis.'


Claudia: 'Stop. Berhentilah membuat aku malu. Dan aku minta maaf, tapi aku bukanlah wanita singel. Dan aku tidak ingin punya hubungan yang lain lagi.'


A: 'Aku mengerti.'


Claudia tersenyum setelah berbalas komentar dengan Tuan A itu.


Claudia lalu keluar dari kamar untuk sarapan, dimana Adam sudah menunggunya.

__ADS_1


"Selamat pagi sayang." Sapa Adam padanya.


Mendengar suara dan melihat ke arah Adam membuat Claudia merasa tersipu dan malu. Pria yang baru saja dibicarakannya dengan Tuan A. Pria yang membuat Endra dan teman-temannya yang lain menggodanya. Pria yang membuat para wanita tergila-gila. Kemudian nama panggilan 'Nyonya Adam' dan nama panggilan yang Adam berikan padanya 'Sayang'.


Melihat wajah Claudia yang memerah karena tersipu malu, membuat Adam bertanya.


"Ada apa sayang, apa kau baik-baik saja?"


Claudia menggelengkan kepalanya, kemudian duduk di tempat biasanya dihadapan Adam. Adam seperti biasa menyiapkan makanan di piringnya, sementara Nila yang menyiapkan makanan di piring Adam.


Minggu ini kembali berjalan dengan baik. Kebanyakan malam, Claudia menghabiskan waktunya di tempat tidur Adam. Meski sebenarnya, keduanya belum pernah sampai ke tahap hubungan suami istri. Keduanya hanya saling bercumbu, sebatas berciuman saja.


Claudia biasanya mendapat uang saku setiap minggunya dan menerima kartu kredit di akhir pekan untuk berbelanja dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.


***********


Minggu berikutnya....


Seperti biasanya di akhir pekan, Claudia akan libur pergi ke kampus. Sementara Adam tetap pergi ke kantor, tidak seperti Claudia yang libur di hari sabtu dan minggu. Adam hanya libur pergi ke kantor di hari minggu saja.


"Dam, aku akan pergi nonton film dengan teman-temanku hari ini. Jangan khawatir, aku akan menjadi gadis yang baik. Aku akan menjaga jarak sejauh 2 meter dengan yang lainnya, tidak minum alkohol dan akan pulang cepat."


Adam tersenyum saat mendengarkan ucapan Claudia.


"Baiklah, bawa kartu VIP ku untuk menikmati makan siang kalian di restoran yang terletak di lantai paling atas mall. Dan setelah selesai nonton film, pergilah berbelanja. Kau tidak pernah menggunakan kartu kepemilikan mu disana. Gunakan itu hari ini." Ucap Adam.


"Baiklah, aku akan menggunakannya hari ini. Tapi, apakah kau ingin aku membawakan mu sesuatu?" Ucap Claudia yang langsung menyesali pertanyaannya.


Siapa pria lawan bicaranya ini. Apa yang pria ini tidak punya sampai ia menawarkan sesuatu untuk ia belikan. Claudia merasa begitu bodoh. Adam sudah memiliki segalanya.


"Tidak ada sayang." Balas Adam.


Namun ia kemudian memiliki sebuah ide.


"Tunggu sayang, aku ingin kau membelikan ku ****** *****. Pastikan yang berwarna gelap, jangan merah, dan jangan yang ada gambarnya. Sepertinya yang model bokser lebih bagus." Ucap Adam tanpa ragu, tanpa merasa malu, tapi gadis yang ada dihadapannya tampak begitu malu.


"Apa kau benar-benar ingin aku membelikan mu ****** *****?" Tanya Claudia tampak tidak percaya.


Claudia menggelengkan kepalanya perlahan, namun dengan cepat kembali mengangguk lalu berjalan keluar rumah.


Adam menahan tawa melihat tingkah istrinya itu. Setelah Claudia keluar rumah, barulah ia terbahak karena melihat wajah sang istri yang memerah seperti tomat itu.


***********


Akhirnya Claudia dan teman-temannya selesai menonton di bioskop dan sekarang tengah berkeliling mall untuk belanja. Claudia sendiri berada dalam dilema yang besar. Sepanjang menonton film, ia terus saja memikirkan hal yang diminta oleh suaminya.


"Ndra, kamu bisa bantu aku gak?" Tanya Claudia panik.


"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Endra. "Apa kau baik-baik saja?"


Claudia menggigit bibirnya sebelum menjawab.


"Sedikit tidak baik-baik saja. Sebenarnya aku harus membelikan ****** ***** untuknya. Apa kau bisa membantuku?" Ucap Claudia dengan suara pelan.


Endra tampak bingung karena belum mengerti dengan apa yang dikatakan Claudia, terutama mengatakan ingin membelikan ****** ***** untuknya.


"Yah baik, tidak masalah. Kau kan perempuan, kenapa harus bingung untuk membeli ****** ***** untuk dirimu sendiri. Kita tidak pernah membahas masalah ini sebelumnya. Kau tumben sekali mau membahas masalah sensitif ini denganku." Balas Endra santai.


Claudia menghentakkan kakinya dengan keras.


"Endra... Aku ingin membelikan untuk dia... Dia... Dia... Bisakah kau mendengarkan aku sekarang. Dia meminta aku membelikan itu." Ucap Claudia kesal.


Endra terkejut. Ia berusaha keras untuk menahan tawanya.


"Di... Gadis nakal. Kau mengalami perkembangan sekarang. Kau Claudia Arista Setyawan, ingin membelikan ****** ***** untuk suamimu. Aku benar-benar tidak mempercayai apa yang aku dengar." Ucap Endra.


"Endra, kau tidak menolongku. Berhentilah tertawa dan mengolok-olok aku." Claudia mulai kesal.


Entah bagaimana Endra bisa mengontrol dirinya untuk tidak tertawa dan dengan cepat menaruh jari tengahnya di depan bibirnya untuk menunjukkan bahwa ia akan diam.


"Dengar. Aku tidak bisa membeli itu dengan adanya para gadis-gadis yang lain dan Bam. Mereka semua akan menertawakan aku. Jadi, kau harus membawa mereka menjauh dariku. Dan bantu aku mendapatkan sedikit privasi agar aku bisa melakukannya. Mengerti?" Tanya Claudia.


Adam sebenarnya hanya main-main saja. Dia mengizinkan Claudia pergi berbelanja bersama teman-temannya lalu memintanya untuk dibelikan ****** ***** agar ia bisa pamer. Dia bisa merasa begitu bangga jika Claudia bisa membelikannya suatu benda yang sangat sensitif baginya dihadapan teman-temannya. Dan Claudia tahu benar akan hal itu.

__ADS_1


Claudia akhirnya dapat menyelesaikan tantangan yang diberikan Adam kepadanya dengan bantuan Endra. Dia menggunakan kartunya sendiri sekarang. Sejak saat menonton bioskop, belanja. Dan sekarang dia dan teman-temannya berada di lantai paling atas mall untuk makan siang di ruang VIP dengan menggunakan kartu milik Adam.


Manager restoran tahu siapa Claudia. Terakhir kali, Claudia datang bersama Adam, dan saat itu Adam memberitahu kepadanya tentang Claudia.


Teman-teman Claudia berterima kasih padanya atas jamuan yang ia berikan. Terakhir kali, mereka juga di traktir oleh Claudia di tempat ini. Namun, kali ini ia mereka berada di ruangan VIP. Mereka sangat senang dan bersyukur. Cara mereka dilayani, dan sikap ramah para staff semuanya karena Claudia Wijaya dan sang suami yang kaya raya itu.


Makanan yang disajikan sangat menakjubkan. Ada sepuluh menu utama. Claudia mengambil gambar dari makanan itu, kemudian mengambil gambar dirinya sendiri, dan juga gambar teman-temannya. Kemudian mengunggahnya ke akun sosial medianya.


'Makanan yang nyaman. Tempat yang nyaman. Waktu yang nyaman.'


Setelah itu, ia kembali mengunggah foto selfi dirinya dengan caption, 'terima kasih. Sepertinya aku mulai merindukanmu.'


Kemudian Claudia menaruh ponselnya kembali dalam tas.


"Di, seharusnya kau meminta suamimu untuk memberikan masing-masing kepada kami kartu VIP. Kami bisa datang kemari dan menikmati waktu kapanpun." Ucap Rose.


"Bener tuh Di. Kau hanya perlu menjentikkan jarimu, maka dia akan melakukan semuanya. Toh selama ini dia sudah tergila-gila padamu." Tambah Diana.


"Baiklah, aku akan mengatakan pada managernya langsung." Ucap Claudia.


Dengan sekali menaikkan tangan ke udara, seorang pelayan mendekat.


"Permisi, apa aku bisa bicara dengan manager tempat ini?" Tanya Claudia sopan.


"Tentu saja Nona." Pelayan itu mengangguk dan membungkuk pada Claudia lalu menelepon manager.


"Woaaah Claudia, tahan dulu. Kamu hanya bercanda. Dan hanya ingin mengerjai mu dengan kekuasaan yang dimiliki suamimu. Kami tidak bersungguh-sungguh. Hentikan dia Di. Kami tidak ingin semua ini Di." Ucap Rose.


"Iya, dia benar. Kami berdua hanya bercanda. Lagi pula, kami tidak bisa menghabiskan waktu di tempat seperti ini. Kau sudah mentraktir kami dua kali, itu sudah cukup. Jadi santai saja." Sambung Diana.


"Diam lah guys. Ini hanya sebuah kartu. Dan aku tidak perlu meminta dia melakukan semua ini. Jangan merasa malu. Lagi pula untuk kalian ketahui, seluruh tempat ini adalah milikku." Ucap Claudia menghentikan ucapan para sahabatnya itu.


Manager itu mendekati meja mereka.


"Iya Nona. Saya harap Anda menikmati semuanya dan bersenang-senang. Apa ada hal lain yang Anda butuhkan?" Tanya manager seraya membungkuk pada Claudia.


"Bisakah aku memberikan akses kartu VIP kepada mereka sebagai hadiah dariku?" Tanya Claudia sopan.


"Tentu saja Nona. Tenang saja, saya akan mengatur semuanya. Mereka akan menerima kartu itu besok yang akan dikirimkan ke kediaman mereka masing-masing. Tapi, saya perlu untuk mengetahui identitas mereka." Jawab manager menjelaskan.


"Tidak masalah. Kau bisa bertanya pada mereka. Mereka punya waktu luang untuk memberikan identitas mereka." Balas Claudia.


Tak lama kemudian, teman-temannya dan otoritas tempat itu mulai sibuk berbagi tentang identitas mereka. Claudia mengirim pesan pada Adam memberitahukannya mengenai hal itu. Dia memberitahu temannya, bahwa dia tidak perlu memberitahu kepada Adam tentang hal itu. Tapi dia tidak mau bertindak sok hebat dan berkuasa. Lagipula semuanya tetaplah milik Adam.


Dengan cepat ia menerima pesan balasan dari Adam.


'Bagus sayang. Kenapa kau memberitahuku tentang hal ini. Kau punya kendali penuh atas tempat itu. Apapun itu. Ngomong-ngomong, apa kau bersenang-senang?'


'Yah, makanannya sangat enak. Kami bersenang-senang.' balas Claudia.


Setelah semua prosedur selesai, mereka kembali pada makan malam mereka. Teman-teman Claudia mulai menggodanya tentang pertanyaan apakah dia sudah melakukannya dengan Adam? Bagaimana kehebatan Adam di ranjang dan bagaimana Adam memperlakukannya di tempat tidur.


"Di, kau harus mengikatnya, dan menungganginya seperti kuda. Laki-laki, sangat menyukai hal yang seperti itu." Ucap mereka yang tiba-tiba terhenti karena suara ketukan di pintu.


Claudia memutar kepalanya dan melihat bahwa ada Erik yang berdiri disana.


"Erik??? Apa yang kau lakukan disini,?" Tanya Claudia bingung.


Erik masuk lalu membungkuk pada Claudia.


"Halo Nona Muda. Saya harap Anda bersenang-senang."


Claudia tidak terkejut. Erik selalu bicara dengan sopan dan formal padanya setiap kali berada di tempat umum dan saat bersama dengan Adam. Erik lalu berbisik di telinga Claudia, mengatakan sesuatj. Wajah Claudia masih saja terkejut, begitu juga dengan teman-temannya. Erik lalu kembali keluar dari dalam ruangan itu.


"Hei Di. Apa yang terjadi?" Tanya Endra.


Namun, belum sempat Claudia menjawab, seseorang kembali muncul di pintu.


Dan disana lah dia, Adam Wijaya, masuk ke dalam ruangan. Mereka semua berdiri melihat kedatangannya. Adam lalu berjalan mendekat dan berdiri dihadapan Claudia. Claudia tampak begitu bingung dan terkejut. Erik sudah memberitahunya bahwa Adam akan datang tapi dia tetap terkejut.


Dan hanya ada satu kata dalam pikirannya saat ini, 'kenapa?'


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2