
Aku berjalan mendekati Arnold yang tengah berdiri di pintu rumahku.
"Kau sedang apa disini?" Tanyaku pada Arnold.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu. Kau siapa? Sedang apa kau di rumah ini? Ini rumah istriku, aku datang untuk mencarinya." Jawab Arnold.
Kepalaku rasanya semakin pening mendengar ucapan Arnold. Aku hendak memintanya untuk pergi, tapi dia malah dengan santai melengos masuk ke dalam rumah.
Arnold mulai berjalan di ruang tamu dan menatap pigura yang menampilkan gambar ku yang menempel di dinding.
"Aku rindu sekali dengan isteriku. Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Apa kau tahu, isteriku ini sangat cantik." Ucap Arnold seraya mengusap wajahku yang ada di dalam pigura.
"Kau ini kenapa sih?" Tanyaku keheranan.
Namun, Arnold sama sekali tak menggubris ku. Ia malah terus memandangi pigura itu.
"Kau sangat cantik isteriku." Dia malah mengucapkan kata yang sama berulang-ulang, membuatku semakin jengkel.
"Pulanglah. Ini sudah malam." Ucapku.
"Aku tidak akan pulang sebelum bertemu dengan isteriku yang cantik."
"Ya Tuhan Arnold, apa kau sudah gila?" Teriakku.
Hal yang tak ku duga malah dilakukan Arnold. Dia memojokkan aku di tembok, membuatku tak bisa menghindari tatapannya.
"Benar, aku memang sudah gila. Aku tergila-gila sama kamu." Ucapnya.
Aku memalingkan wajahku agar mata kami tak saling menatap lagi. Entah kenapa aku merasa risih dengan yang dilakukan Arnold.
"Lepaskan aku!" Seru ku berusaha melepaskan diri dari terhimpit oleh Arnold.
"Apa kau tahu Velicia. Saat mendengar berita kepergian mu, duniaku rasanya hancur. Aku tidak tahu sihir apa yang sudah kau gunakan padaku. Hingga aku menjadi tergila-gila padamu." Arnold berusaha meraih daguku, namun aku mendorongnya dengan keras.
"Omong kosong. Apa yang sebenarnya terjadi padamu. Cepat lepaskan aku." Teriakku padanya.
"Seharusnya aku sudah menikah dengan Viona dan bahagia bersamanya. Tapi, aku malah terjebak dengan perasaanku padamu. Aku malah membatalkan pernikahanku karena hatiku yang hanya tertuju padamu." Ucap Arnold lagi.
"Kau mabuk ya?" Pekik ku.
"Iya, aku mabuk. Mabuk karena cintaku padamu."
__ADS_1
'Ya Tuhan, pria ini kenapa tiba-tiba berubah menjadi buaya.'
"Arnold ku pikir kau sudah paham bahwa selama ini hubungan kita hanya sebuah kesalahpahaman semata. Aku salah karena memilihmu karena ku pikir kau pria yang sejak 9 tahun yang lalu aku cintai. Jadi, lepaskan aku. Biarkan aku bahagia dengan cintaku dan kau bisa bahagia bersama wanita mu itu." Ucapku.
Jujur, aku sendiri masih bingung dengan perasaanku. Aku memang mencintai sosok Arnold yang tenyata adalah Andreas itu. Tapi, aku juga merasa sakit hati saat membayangkan Arnold bersama dengan Viona.
Arnold tiba-tiba melepaskan aku dan berjalan menuju dapur.
'Apalagi yang ingin dilakukan pria itu?'
Aku mengikutinya ke arah dapur, ternyata ia tengah menuang air putih yang di ambil dari lemari pendingin dan menenggaknya hingga tandas satu gelas besar.
Arnold kembali menuangkan air itu dan berjalan ke arahku lalu memberikan gelas berisi air putih itu padaku.
"Minumlah, kulitmu terlihat kering. Sepertinya kau kurang minum air putih." Ucap Arnold.
Tanpa sadar aku menerima gelas itu dan meminum airnya hingga tak tersisa.
"Kau sungguh cantik Velicia." Ucap Arnold kala aku meletakkan gelas kosong diatas meja.
"Sejak kapan kau berubah jadi buaya?" Tanyaku.
Aku terdiam, sesaat merenung. Aku benar-benar tak menyukai situasi ini.
Arnold tiba-tiba meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Aku yang kaget sontak berusaha melepaskan diri. Tapi pelukan Arnold yang erat membuatku tak bisa berkutik.
Tak ada yang bisa ku lakukan selain pasrah. Karena semakin aku memberontak, Arnold akan semakin mengeratkan pelukannya.
Arnold perlahan mengendurkan pelukannya. Kini aku malah merasakan ia memelukku dengan sangat lembut. Wajahku yang tepat berada di dadanya dapat mendengarkan detak jantung Arnold dengan jelas.
"Apa kau dapat mendengarkannya dengan jelas?" Tanya Arnold.
Aku hanya diam membeku, tak ingin menjawab apapun dari setiap pertanyaan yang dia lontarkan.
"Velicia, aku mencintaimu. Di setiap hembusan nafas dan detak jantungku hanya ada namamu."
Belum sempat aku berkomentar, Arnold sudah lebih dulu melanjutkan kalimatnya.
"Aku tahu ucapan ku ini terdengar seperti gombalan bagimu. Tapi demi Tuhan, sejak kita bercerai, aku tak lagi tenang. Hidupku menjadi hampa, tidurku menjadi tak nyenyak, makan pun aku tak berselera. Yang aku inginkan hanya bisa terus bersama kamu. Melihat kamu yang terus berusaha menyenangkan aku setiap hari. Aku merindukan semuanya. Aku rindu saat kau merengek memintaku agar tinggal bersamamu di rumah dan tak pergi keluar untuk menemui wanita lain. Aku rindu rayuan mu yang ingin berpacaran denganku. Aku bahkan rindu memakan sup ikan tak enak yang sering kau buatkan untukku." Ujar Arnold.
'Apa? Jadi selama ini sup ikan yang selalu ku masak untuknya dianggap tak enak?'
__ADS_1
Seolah mengerti dengan pertanyaan yang aku utarakan dalam hati, Arnold tertawa singkat dan mulai menjelaskan kembali padaku. Aku ingin melepaskan pelukannya. Namun, ia kembali mengeratkan pelukannya padaku.
"Sup ikan yang selalu kau buatkan untukku itu tak enak." Ucapnya lagi.
"Lalu untuk apa kau selalu memakannya? Apa kau tak pernah berpikir berapa banyak uang yang aku habiskan untuk membeli ikan setiap harinya?" Ucapku jengkel.
"Aku hanya ingin menghargai masakan yang dibuat oleh isteriku."
Jawaban Arnold membuat hatiku berdebar menjadi semakin tak karuan.
'Kenapa? Kenapa baru sekarang kau mengatakan semua ini Arnold. Kala aku sudah mengetahui semua kebenarannya bahwa kau bukanlah seseorang yang selama ini aku cintai.'
"Velicia, aku semakin mengerti akan perasaanku padamu saat kau sudah meninggalkan aku. Setelah kau pergi, aku baru merasakan bahwa kehadiran dirimu dalam hidupku sangatlah berharga. Berat bagiku menjalani hari-hariku tanpa kehadiran dirimu. Velicia kenapa kita harus bercerai?"
Ucapan Arnold menyadarkan ku, dengan cepat aku melepaskan diri dari pelukannya.
"Kau bertanya kenapa kita bercerai? Kenapa? Bukankan itu yang kau inginkan? Bukankah kau ingin bersatu dengan wanita mu itu? Wanita yang sangat kau cintai sebelum menikah denganku? Kau bahkan tetap berhubungan dengannya meski aku memohon padamu. Yang paling menyakitkan adalah, kau bahkan rela membunuh anakmu sendiri demi wanita itu. Atas perbuatan mu itu aku harus menderita suatu penyakit yang bahkan hampir merenggut nyawaku. Dan sekarang kau datang mengatakan semua omong kosong mu. Tidak Arnold, kau jangan pikir aku bisa percaya semudah itu. Dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan pernah memaafkan mu."
Selesai sudah, semuanya sudah aku ucapkan dihadapan orangnya secara langsung.
"Dengarkan aku Velicia. Aku tidak pernah membunuh anak kita. Aku bahkan tidak tahu kalau kau hamil. Aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat. Tolong beri aku kesempatan untuk menjaga dan merawat mu."
"Tidaaaakk." Teriakku. "Aku tidak butuh dirimu. Dan aku tidak akan pernah memaafkan mu." Aku berteriak padanya.
"Tolong Velicia, katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkan kesalahanku?" Arnold tampak memohon padaku.
Bersambung....
Terima kasih atas kesediaan kalian membaca karya receh ini. Jangan lupa berikan.....
Like 👍
Komen 💭
Hadiah 🎁
Vote 🎟️
Salam sayang....
La-Rayya ❤️
__ADS_1