
Pagi menjelang....
Aku tengah duduk di halaman depan rumah, memandangi Andreas yang tengah berolahraga dengan mengangkat barbel dan sesekali melompat. Tubuh pria yang selama ini selalu ku lihat berbalut kemeja, hari ini untuk pertama kalinya aku melihatnya mengenakan baju bola dengan lambang sebuah klub sepak bola terkenal.
Dia tampak begitu berbeda dari biasanya. Hari ini, aku bisa melihat sisi lain dari pria yang sejak dulu ada di dalam hatiku.
"Kenapa?" Tanya Andreas dengan melambaikan tangannya ke arahku.
Aku hanya menggeleng.
"Kalau ingin peluk, tunggu aku selesai mandi saja ya. Kalau sekarang masih bau asem." Goda Andreas dengan mencubit hidungku.
"Aduuuhhh pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan pasangan bucin. Apalah dayaku yang hanya seorang jomblo." Ucap Angelica tiba-tiba datang dengan pakaian olahraganya.
Sepertinya Angelica baru pulang jogging. Terlihat keningnya masih basah karena keringat.
"Sudah sarapan?" Tanya Angelica padaku, aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Kak, udah dong olahraganya. Udah waktunya sarapan nih. Kasihan Velicia. Lagian aku juga udah laper banget nih." Ucap Angelica yang membuat Andreas menghentikan aksinya mengangkat barbel.
"Baiklah, ayo masuk." Ucap Andreas kemudian berjalan mendekatiku.
Tanpa aba-aba, Andreas langsung menggendong tubuhku. Aku yang kaget karena perlakuannya hanya bisa memejamkan mata. Sementara berjalan dibelakang kami Angelica yang terus bergumam tak jelas.
Setelah beberapa saat memasak, Andreas keluar dari dapur dengan membawa nasi goreng dan telur mata sapi. Ia dengan begitu sabar menyuapiku. Hal itu lagi-lagi membuat Angelica protes.
"Bisa tidak, kalian berdua mengurangi keromantisan kalian di depanku. Lama-lama aku mau nangis kalau begini terus. Bagaimana kalau nantinya kalian sudah menikah? Bisa-bisa aku.... Aahhh...." Ucapan Angelica terhenti saat Andreas mencium pipiku. "Kaaak Andreaaass..." Teriak Angelica.
Sesaat aku merasakan wajahku tak kaku. Bibirku ingin sekali tersenyum. Hanya saja suaraku belum juga mau keluar.
Setelah selesai sarapan aku duduk di ruang keluarga menonton televisi sembari menunggu Andreas dan Angelica yang sama-sama pergi membersihkan diri. Aku fokus pada sebuah berita yang menjelaskan tentang penangkapan terhadap beberapa orang yang menjadi tersangka perundungan terhadap diriku.
Ada sekitar dua puluhan orang yang berjejer membelakangi layar kamera dengan mengenakan pakaian serba oranye. Aku kembali mengingat bagaimana wajah satu persatu orang yang telah menyakitiku hari itu. Bulu kudukku merinding saat mengingat kejadian itu.
Aku semakin terkejut, kala secara tiba-tiba Jack hadir dihadapanku dan memelukku dengan erat. Terdengar suara Jack yang terisak. Aku ingin menenangkannya, tapi suaraku benar-benar tak bisa diajak bersahabat. Dan yang bisa ku lakukan hanyalah mengelus punggungnya.
"Maafkan aku, aku benar-benar seorang kakak yang buruk. Aku gagal melindungi dirimu. Aku bukan kakak yang baik." Isak Jack.
Andai aku bisa bicara aku akan mengatakan padanya, 'Jack, kau adalah kakak terbaik yang pernah ada di dunia ini. Tak perduli jika diantara kita tak ada hubungan darah, kau selalu membuatku merasa menjadi seorang adik perempuan yang beruntung memiliki dirimu sebagai seorang kakak.'
__ADS_1
Saat Andreas turun dari lantai atas dan mendapati Jack tengah duduk bersamaku, Andreas lalu menjelaskan keadaanku kepada Jack.
"Aku sudah mengurus semuanya. Semua orang yang melakukan perundungan terhadapnya sudah di tangkap polisi dan akan segera diproses secara hukum. Tapi, aku belum mempunyai bukti tentang hilangnya Velicia di hari pernikahan. Apakah itu karena diculik oleh Arnold atau tidak. Aku kehilangan jejak. Dan yang bisa menjawab semuanya, seperti yang kau lihat. Dia begitu trauma hingga tak dapat berbicara." Ujar Andreas.
Kedua pria itu memandangku nanar. Jack lalu mengatakan pada Andreas bahwa ia akan membawaku ke makam Mama dan Papa.
"Aku akan membawanya ke makam Mama dan Papa. Apa kau mau ikut?" Tanya Jack.
"Aku tidak bisa. Aku masih harus mengurus semuanya ke kantor polisi. Selain itu, aku juga harus ke rumah sakit untuk meminta obat pereda nyeri untuknya." Balas Andreas.
Jumlah obat yang harus aku konsumsi bertambah. Selain aku masih harus tetap mengonsumsi obat pasca operasi kanker dan berbagai vitamin. Kali ini, aku juga harus meminum obat anti depresan.
"Tolong jaga dia untukku." Ucap Andreas pada Jack.
"Tentu saja. Dia adikku." Balas Jack.
******
Kini, aku berada di depan pusara Mama dan Papa. Jika biasanya aku datang untuk berkeluh kesah dan bahkan selalu menangis jika berkunjung kemari. Hari ini, tak ada lagi air mata atau keluh kesah yang bisa aku katakan secara langsung. Semuanya hanya bisa aku katakan dari dalam hati.
"Nak Velicia!" Sapa kakek penjaga makam.
'Mah, Pah...
Aku datang menemui kalian dengan keadaan seperti ini. Aku memang tidak bisa menjadi seperti yang Papa mau. Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk menjadi wanita yang pemberani, kuat dan tak mudah menyerah. Dalam hati yang terdalam, aku sepertinya mampu untuk melakukan semuanya. Tapi, tubuhku berkata lain. Tubuhku tak bisa aku kendalikan lagi. Sepertinya tubuhku lelah. Lelah karena selalu disakiti orang-orang jahat...
Mah, Pah...
Bagaimanapun, aku akan selalu berusaha menjadi seperti yang kalian inginkan. Hanya saja, sepertinya tubuhku perlu waktu untuk mengumpulkan semua keberanian itu. Tapi aku berjanji, bahwa aku akan selalu menjadi wanita tangguh seperti yang Papa inginkan.'
Jack kembali lalu mengajakku untuk pergi ke saung milik kakek penjaga makam itu. Kami akhirnya duduk, di saung dengan cuaca yang cukup cerah pagi ini. Atau setidaknya lebih panas dari hari biasanya.
Jack kembali ke mobil mengambilkan air mineral untukku. Dia meninggalkan aku duduk berdua bersama kakek penjaga makam.
"Velicia apa kabar?"
Seperti biasanya, bibirku tidak bisa diajak bersahabat. Aku tak bisa menjawab pertanyaan kakek itu.
Pria tua itu terdengar menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kau pasti ingat bahwa kakek pernah memberitahumu saat itu. Sebagai manusia, tentunya kita tidak luput dari yang namanya cobaan. Setiap hari ada berbagai masalah yang harus kita hadapi dalam hidup, mulai dari masalah keluarga, masalah dengan teman, masalah di sekolah atau di tempat kerja, hingga masalah finansial.
Terkadang masalah-masalah tersebut datang bertubi-tubi kedalam hidup kita, dan membuat kita merasa lelah menghadapinya. Namun suka atau tidak suka, kita harus tetap menghadapi masalah tersebut. Karena lari atau menghindari masalah bukanlah penyelesaian yang baik." Ucap kakek yang selalu yang berpakaian serba hitam itu.
Jack kembali dengan membawa air mineral dan memberikannya padaku.
"Minumlah dulu." Ucap Jack.
"Apa kalian..."
"Saya kakaknya." Ucap Jack menyela ucapan kakek itu.
Kami bertiga terdiam sebentar, sambil merasakan udara panas yang berhembus mengenai wajah kami.
"Selalu kakek katakan padamu Velicia. Tuhan tidak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan. Walaupun masalah datang silih berganti dalam hidup kamu seolah tidak ada habisnya, dan kamu merasa bahwa kamu tidak sanggup lagi menghadapi cobaan tersebut. Jangan pernah menyerah! Karena sesungguhnya kamu mampu untuk menghadapinya. Ingatlah selalu, bahwa Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya." Ucap kakek itu lagi.
"Yang dikatakan beliau benar Velicia. Dan kau harus ingat bahwa selalu ada orang-orang yang sayang sama kamu. Aku tahu, seringkali cobaan yang terasa berat, malah membuat kita putus asa dalam menjalaninya. Namun sebelum rasa putus asa itu membuatmu melakukan hal-hal yang bodoh, ingatlah bahwa diluar sana ada orang-orang yang sayang sama kamu.
Meski Mama dan Papa sudah tidak ada, masih ada aku kakak mu, teman-teman mu, Merry dan Angelica. Kau juga punya Andreas sekarang pria itu sangat menyangimu. Dan kami semua akan selalu ada untuk kamu. Bersama kami semua kamu bisa berbagi bebanmu, jika kamu merasa beban itu sudah terlalu berat untuk kamu pikul sendiri." Kali ini Jack yang mulai berbicara sambil terus mengusap kepala ku lembut.
"Jangan pernah lupa, bahwa Tuhan selalu ada kapan pun kamu membutuhkan bantuan-Nya." Balas kakek itu. "Terkadang semua usaha sudah kita lakukan, namun kita tetap tidak mampu mendapatkan jalan keluar dari masalah-masalah kita. Disaat seperti ini, putus asa dan menyerah bukanlah suatu jawaban. Cobalah untuk pasrah dan serahkan semua beban kepada Tuhan penciptamu. Bersujud lah di hadapan-Nya, dan berdoalah mohon petunjuk-Nya. Ingatlah kalau Tuhan selalu ada kapanpun kamu butuh bantuan-Nya."
Meski aku begitu tersentuh dengan setiap kata yang dikatakan pria tua itu, tapi tetap saja mulutku tak mau terbuka untuk berucap. Aku bahkan sudah berusaha mengatakan sesuatu. Tapi mulutku seperti sudah diberi lem yang sangat kuat.
"Apa kamu seringkali merasa kalau cobaan hidup yang datang kepadamu seolah tidak pernah putus? Jangan pernah menyerah! Bukankah kamu tahu kalau tidak ada yang abadi di dunia ini? Begitu juga dengan masalah-masalahmu. Karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, asalkan kamu tetap mau berusaha mencarinya. Menyerah tidak akan pernah menyelesaikan masalahmu.
Ingatlah, kesabaran itu selalu berbuah manis. Sebagai manusia yang setiap hari harus selalu menghadapi masalah dan cobaan hidup, tentu terkadang kamu merasa lelah. Namun tetaplah bersabar, hadapi semua cobaan dengan tabah. Suatu saat semua kesabaran dan ketabahan mu dalam menghadapi cobaan-cobaan itu pasti akan membuahkan hasil yang manis.
Di saat itu semua lelah mu dan air matamu akan terbayar semua, dan kamu pun bisa tersenyum. Tetap semangat ya nak Velicia." Ucap kakek itu seraya mengusap kepalaku dan rasanya seperti ia tengah meniup ubun-ubun ku.
Jack akhirnya berpamitan dengan kakek itu. Sebelum kami pergi. Kakek itu mengatakan, jika aku kembali lagi nanti untuk mengunjungi makam Mama dan Papa, aku pasti sudah menjadi seseorang yang jauh lebih kuat.
Jack pun mengendarai mobilnya meninggalkan area pemakaman. Sepanjang jalan, ia terus mengajakku mengobrol meski aku sama sekali tak pernah menggubrisnya.
"Teruslah berusaha untuk bicara. Tadi aku sudah melihat perubahan di raut wajahmu. Berusahalah untuk kembali kepada kami. Setidaknya pikirkan tentang Andreas, pria yang kau cintai. Kasihan dia jika menikahi patung." Ucap Jack menggodaku.
'Ah, benar juga. Sekarang ini, aku tak ubahnya seperti patung.'
Bersambung.....
__ADS_1