90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Pulang (Bab 64)


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat, akhirnya hari ini Andreas bisa pulang ke rumah. Aku bahagia sekali. Andreas sudah jauh lebih baik. Luka di perutnya sudah sedikit mengering. Jadi dia sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Meski masih harus membatasi diri.


Kami berjalan keluar ruangan setelah semua administrasi dibereskan Angelica. Hari ini Angelica kami jadikan sopir pribadi. Gadis itu tak pernah mengeluh, meski kadang-kadang ia suka menggodaku.


"Silahkan raja dan ratu. Mobil sudah siap." Ucap Angelica saat aku dan Andreas akhirnya sampai di luar rumah sakit.


"Terima kasih adik kecil ku. Kau yang terbaik." Balas Andreas mengelus kepala Angelica.


"Ayolah, aku ini bukan anak kecil lagi. Lihat kau membuat rambutku berantakan." Ucap Angelica.


Andreas tertawa, dan perlahan masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan Andreas terus saja menggenggam tanganku dan sesekali mencuri-curi kesempatan untuk mencium pipiku. Aku selalu ingin menghindar, tapi Andreas menarik pinggangku dan memelukku. Posisi duduk kami sangat berdekatan. Andreas membelai rambutku dan menyelipkannya ke belakang telingaku.


Pria ini sepertinya sengaja mendekatkan bibirnya ke telingaku. Hembusan nafasnya yang hangat begitu terasa di telingaku..


"Aku mencintaimu." Bisik nya di telingaku.


'Ah, selalu saja begini.'


Beberapa hari di rumah sakit, aku harus tahan dengan sikap manja dan bisa dibilang Andreas begitu berbeda. Dia menjadi pria yang sedikit nakal. Setiap saat selalu saja menggodaku. Dia selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Berikan aku sebuah ciuman." Bisik nya lagi.


"Kau ini..." Ucapku menyenggolnya.


"Aduuuhhh...." Andreas meringis kesakitan.


"Ada apa?" Tanya Angelica kaget.


Aku panik, dan segera memegang perut Andreas. Mungkin senggolan ku tadi mengenai luka di perutnya.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Aku lupa. Apa kena bekas lukamu? Ya Tuhan aku bodoh sekali." Ucapku panik.


"Tidak. Bukan disitu yang sakit. Tapi disini. Jadi kau harus menciumnya." Ucap Andreas menunjuk pipinya.


"Hah, dasar. Ku pikir Kakak terluka beneran. Gak taunya." Angelica mengomel sambil terus fokus mengemudi.


Sementara aku kesal karena dibohongi. Padahal aku sudah begitu panik. Berpikir sudah terjadi sesuatu padanya. Aku menggeser tubuhku menjauh dari Andreas dan membelakanginya dan memilih menatap ke luar jendela.


"Ayolah sayang. Maafkan aku. Aku hanya bercanda." Ucap Andreas.


"Tidak lucu." Balasku.


"Iya, iya. Aku minta maaf. Jangan marah lagi. Kemari lah." Andreas berusaha membujukku.


"Tidak mau." Ucapku.


"Rasakan. Jangan mau Velicia. Kak Andreas pantas dimarahi." Ucap Angelica mendukungku.


"Kalau kau marah karena aku bercanda baiklah. Biar ku sentuh lukaku sendiri dengan keras agar kau perhatian padaku." Ancam Andreas.

__ADS_1


"Apa kau sudah gila?" Tanyaku berbalik menatap Andreas dengan tangannya yang hampir menyentuh perutnya yang terdapat luka.


Plakk...!


Aku menepis tangan Andreas.


"Kekanak-kanakan sekali." Cibir Angelica.


Andreas seperti tak perduli dengan apa yang diucapkan Angelica. Ia hanya menatapku dengan sorot mata yang menyesal.


"Jangan pasang wajah yang seperti itu. Baiklah, aku memaafkan mu." Ucapku yang membuat wajah Andreas berubah cerah.


Andreas menarik tanganku untuk mendekat padanya.


'Ikut sajalah. Daripada panjang urusannya nanti.'


"Aku mencintaimu." Ucap Andreas dengan memegang kedua pipiku dan mulai mencium ku.


"Cium teruussss...." Teriak Angelica.


Pipiku terasa panas, malu sekali harus seperti ini di depan orang.


"Sirik." Balas Andreas.


Aku menutup wajahku dengan tangan. Aku tak ingin Andreas melakukannya lagi.


"Kau kenapa sayang?" Tanya Andreas.


Setelah satu jam perjalanan, akhirnya kami tiba di kediaman Andreas. Sepertinya sudah ada banyak orang yang menunggu kedatangan Andreas. Karena ada beberapa mobil yang terparkir di halaman depan rumah. Dan satu mobil yang sangat aku kenal adalah milik Arnold.


'Apa dia ada didalam? Bukankah seharusnya dia sudah di tangkap polisi?'


Aku menggandeng tangan Andreas dengan kuat setelah turun dari dalam mobil. Aku takut jika ia bertemu dengan Andreas nanti, mereka akan kembali berseteru.


"Ada apa?" Tanya Andreas yang sepertinya mengetahui kekhawatiran ku.


"Tidak ada apa-apa." Jawabku tersenyum.


Angelica berjalan lebih dulu dan kami mengekornya dibelakang. Saat masuk ke dalam rumah, kami disambut oleh Mama Andreas dan anggota keluarga lainnya. Ternyata saat masuk ke ruang keluarga, sudah ada Jack yang menunggu. Dan yang mencuri perhatianku adalah kehadiran Tuan Besar Setyawan yang duduk berdampingan bersama Arnold.


Kami semua duduk melingkar di ruang keluarga. Tanganku tak hentinya bergenggaman dengan Andreas. Dapat kulihat sorot mata Arnold tengah melihat ke arah tangan kami yang saling menggenggam.


"Aku pikir kau tak akan mempunyai keberanian untuk menunjukkan wajahmu." Ucap Andreas.


"Dia datang kemari untuk minta maaf." Balas Tuan Besar Setyawan.


"Mama serahkan semuanya sama kalian. Yang Mama inginkan hanya kita semua bisa hidup rukun, dan tak ada lagi masalah. Apalagi kita semua ini keluarga, terutama untuk kalian Andreas dan Arnold." Ucap sosok wanita yang sebentar lagi kembali menjadi mertuaku itu.


"Ma... Aku juga tidak pernah menginginkan semuanya berantakan. Disini, bukan aku yang menjadi biang masalahnya. Aku hanya melindungi wanita yang aku cintai. Dan yang pasti wanitaku juga mencintaiku, bukan karena aku paksakan atau dia salah mencintai, semuanya murni. Hanya saja seseorang tak bisa menerimanya." Ucap Andreas lalu menatapku. "Aku mencintaimu." Ucap Andreas lagi seraya mencium tanganku.

__ADS_1


Aku melihat ke arah Arnold dan tangannya terlihat mengepal.


"Oh ya, aku mau bertanya. Kenapa Arnold tidak di penjara setelah perbuatannya?" Tanya Jack yang tiba-tiba ikut bersuara.


"Karena aku menjaminkan nya." Balas Tuan Besar Setyawan. "Ini adalah masalah internal keluarga. Jadi, aku mengatakan kepada polisi bahwa Arnold tidak sengaja melakukannya. Dan masalah ini akan kita selesaikan secara kekeluargaan."


"Cih, mudah sekali anda mengatakannya. Menusuk perut seseorang bisa terbebas begitu saja? Oh ya aku lupa bahwa anda sekarang menjadi orang yang paling berpengaruh di kota ini. Anda bisa dengan mudah menangani situasi apapun, termasuk hukum." Cibir Jack.


"Kami tidak mau berdebat dengan orang yang bukan dari anggota keluarga." Ucap Arnold yang juga ikut bicara.


"Dia kakakku. Jadi dia anggota keluargaku." Balasku.


Arnold menatapku dengan tajam.


"Arnold cepat katakan..." Titah Tuan Besar Setyawan.


"Andreas aku minta maaf, aku khilaf." Ucap Andreas tanpa memandang Andreas.


"Lalu yang kau lakukan terhadap calon isteriku apa? Kau menculiknya di hari pernikahan." Balas Andreas.


"Kau tidak mempunyai bukti apapun. Jadi kau jangan asal menuduh." Arnold berkelit.


"Sudahlah. Jangan lagi ungkit masa lalu. Yang terpenting sekarang Arnold disini sudah menyesali perbuatannya dan tidak akan mengganggu kalian lagi. Kalian bisa melanjutkan pernikahan kalian dan aku akan menjamin bahwa Arnold tidak akan mengganggu lagi." Ucap Tuan Besar Setyawan.


Tuan Besar Setyawan berdiri disusul Arnold kemudian berkata.


"Kami permisi dulu."


Setelah mereka pergi, Jack berpindah duduk mendekati aku dan Andreas.


"Kenapa kalian tidak melaporkannya pada polisi. Pria itu sudah gila." Ucap Jack.


"Biarlah. Bagaimanapun aku mengerti perasaannya. Aku juga dulu pernah merasakan sakit hati saat mengetahui Velicia menikah dengannya. Tapi aku bisa menahan diriku agar tak bertindak bodoh. Tapi dia berbeda. Yang terpenting sekarang, aku akan menikahi Velicia tanpa gangguan apapun lagi." Ucap Andreas.


"Mama mau kalian menikah secepatnya. Tidak perlu melaksanakannya dengan mewah. Yang penting sakral." Ucap Mama Andreas.


"Aku punya satu keinginan." Ucapku.


"Apa sayang?" Tanya Andreas.


"Aku mau kita menikah di pantai." Ucapku.


"Tentu saja. Keinginanmu pasti terkabulkan." Balas Andreas.


*********


Persiapan pernikahan pun mulai dilakukan. Sesuai dengan yang dikatakan Mama Andreas, kami memutuskan untuk melangsungkan pernikahan sederhana. Tidak mengundang terlalu banyak orang. Dan hanya akan dihadiri oleh keluarga inti saja.


Persiapan pernikahan kami hanya memakan waktu satu minggu saja. Dan besok adalah waktunya. Aku sudah tak sabar menyandang status sebagai Nyonya Andreas Setyawan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2