90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Hari Pernikahan (Bab 53)


__ADS_3

Aku pernah bermimpi untuk menikah satu kali dalam seumur hidup. Namun, terkadang kenyataan dalam pernikahan tak sesuai dengan harapan. Pernikahan kandas kemudian menyisakan status duda atau janda seperti yang aku alami sekarang. Aku juga pernah memilih, jika harus berpisah dengan suami maka perpisahan kami hanya karena ditinggal karena Tuhan mengambil nyawa kami. Tapi, apalah daya, lagi-lagi semua sudah digariskan Tuhan. Dan, kini aku digariskan untuk menikah lagi. Tentu saja untuk menikah lagi aku memerlukan beberapa pertimbangan.


Sejujurnya status janda yang aku sandang ini memang membuat image yang kurang baik bagi beberapa orang. Dan sekarang, saat aku hendak menikah lagi, status ini terasa menjadi hambatan. Meski sebenarnya tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Tapi, tentu saja dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku berpikir. Pasti ada anggota keluarga Andreas yang memberi pertimbangan lebih rumit untuk memberikan restu kepada kami. Apalagi aku ini adalah mantan isteri dari adik Andreas sendiri.


Jujur saja, pada awalnya ada rasa takut yang aku rasakan karena akan menikah lagi. Tentu saja karena aku takut gagal kembali. Tapi, perlahan dengan pasti, aku mulai yakin bahwa Andreas adalah pilihan terbaik.


Tapi pernikahan bukan hanya membutuhkan persiapan fisik tetapi juga persiapan batin.


"Tak ada yang punya cita–cita bercerai ketika menikah. Semua pasangan berharap untuk selalu bersama sampai maut memisahkan. Jadi, saat janda atau duda ragu untuk menikah lagi adalah sebuah kewajaran. Anggap ini sebagai ujian mental sebelum menikah lagi. Belajar dari kegagalan sebelum menikah lagi adalah sebuah langkah bijak.


Ketika memiliki calon pasangan, kamu dapat melihat serta merasakan sendiri kenyamanan psikologis saat bersama. Calon pasangan membantu untuk melewati masa ragu sehingga bisa dipercaya. Suatu komitmen yang baik dibangun di atas sebuah saling percaya." Ucap Mama Andreas kala aku bertemu dengannya 2 hari yang lalu saat fitting baju pengantin.


Ah, mungkin memang inilah jalan yang terbaik yang Tuhan berikan padaku. Meski di luaran sana tetap saja ada orang yang menggunjing, aku tidak boleh memikirkan apapun yang mereka katakan. Ini adalah hidupku, aku yang menjalaninya bukan mereka. Toh juga aku menikah dengan Andreas sudah mendapat dukungan dari keluargaku dan juga keluarganya.


Meski aku hanya memiliki Jack, tapi dialah orang yang memang paling mengerti akan diriku.


"Lepaskan beban di masa lalu. Karena jodoh, selayaknya hidup, mati dan rezeki tidak pernah bisa diduga, tidak pernah bisa disangka–sangka datang dan perginya. Manusia memiliki kewajiban untuk selalu berusaha dan berupaya mendapat yang terbaik dalam hidupnya." Itulah yang Jack ucapkan padaku kala aku meminta restunya untuk menikah dengan Andreas.


*********


Setelah persiapan demi persiapan yang dilakukan oleh Andreas, akhirnya hari pernikahan kami pun datang. Meski ada begitu banyak gangguan yang datang dari Arnold, tetap tak dapat menghentikan acara pernikahan kami yang ternyata dilaksanakan di kediaman Andreas.


Sudah sejak kemarin aku tak bertemu dengannya. Andreas bilang, "sampai jumpa di depan penghulu."

__ADS_1


Aku semakin dibuat gemetar saat satu persatu tamu mulai memasuki pekarangan rumah. Aku yang tengah menunggu perias yang datangnya agak terlambat di kamar Andreas, hanya bisa melihat orang-orang yang mulai berdatangan.


Andreas ternyata menyiapkan acara pernikahan di halaman belakang rumah yang lumayan luas. Sehingga semua tamu berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju halaman belakang.


Setiap tamu yang datang, semuanya mengenakan pakaian serba putih. 'Apa mungkin Andreas yang meminta untuk dresscode hari ini bertema putih?'


Andreas benar-benar mengurus semuanya secara detail. Aku bahkan sempat mencuri-curi kesempatan untuk melihat dekorasi di taman belakang pagi-pagi sekali saat aku tiba di rumah ini. Karena semalam Andreas memintaku untuk tidur di rumahku saja.


Pagi sebelum fajar, aku sudah tiba di rumah Andreas. Namun, aku belum juga bisa melihatnya. Dan saat aku mencoba melihat dekorasi di taman belakang. Seorang pelayan memergokiku dan memintaku untuk masuk ke kamar sesuai dengan perintah Andreas yang mengatakan "Nona Velicia tak boleh melihat apapun sebelum pernikahan dimulai."


Aku hanya tersenyum melihat pelayan wanita itu mencoba menirukan suara Andreas.


Dan disinilah aku, hanya mampu duduk dan menunggu di kamar Andreas sampai perias wajah itu datang. Aku pernah mengatakan pada Andreas bahwa aku bisa merias wajahku sendiri tanpa harus mendatangkan seorang perias wajah. Tapi dia bilang, untuk momen sakral harus dilakukan oleh orang yang professional.


Pintu kamar tempat aku dirias tiba-tiba terbuka.


Aku yang tengah duduk di tepian ranjang hanya menggeleng. Entah apa yang terjadi pada perias itu. Kenapa hingga kini ia belum sampai juga.


"Aduh gimana dong, acara udah mau mulai. Tapi kamu belum juga didandani." Ucap Angelica gusar.


"Entahlah. Kalau saja Andreas membiarkan aku merias wajahku sendiri. Pasti semuanya sudah clear dari tadi." Balasku.


"Ya sudah. Kita tunggu lima menit lagi. Jika perias itu belum datang juga. Maka kau terpaksa merias wajahmu sendiri. Dan aku akan membantu untuk menata rambutmu." Ucap Angelica.

__ADS_1


Menit berikutnya, pintu kamar terbuka dan menampilkan seorang wanita yang tampak stylist dengan menenteng perlengkapan make-up nya.


"Akhirnya kau datang juga. Cepat waktunya sudah mepet." Titah Angelica.


Dengan cepat wanita itu masuk dan mulai mengeluarkan peralatan riasnya di depan cermin besar yang memang tersedia di dalam kamar.


"Kalau begitu, silahkan Nona keluar dulu. Biarkan saya merias pengantin seorang diri agar lebih fokus." Ucap si perias yang mengenakan kacamata bening dan masker yang menutupi mulut hingga hidungnya itu.


"Baik... baik... Waktumu tinggal sebentar. Lakukan dengan cepat dan jangan lupa harus cantik dan elegan." Titah Angelica seraya berjalan keluar dari kamar.


Aku mulai berganti pakaian dengan gaun berwarna putih. Lalu duduk di depan cermin dan mulai merias ku secara perlahan.


"Anda akan menjadi pengantin yang paling cantik di dunia ini Nona." Ucap si perias itu padaku.


"Terima kasih." Balasku tersenyum.


Tak butuh waktu lama bagi perias itu untuk selesai merias wajahku. Tapi aku kurang puas dengan hasilnya.


"Maaf, apa kau sudah selesai? Tapi kenapa hasilnya seperti ini?" Ucapku, semoga dia tak tersinggung.


"Belum, Nona. Tapi saya mau fokus ke rambut anda dulu." Balasnya.


"Ohh ..."

__ADS_1


Perias itu berdiri di belakangku dan mulai memegang rambutku. Namun, detik berikutnya yang dia lakukan sungguh membuatku kaget. Perias itu menutup mulut dan hidungku dengan sapu tangan. Aku berusaha berontak, tapi sepertinya ia menaruh sesuatu disapu tangan itu karena tiba-tiba aku merasa pusing dan detik berikutnya semuanya jadi gelap.


Bersambung....


__ADS_2