90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
71. Claudia Ketakutan


__ADS_3

Claudia benar-benar bermain di dalam kastil Sean dengan melibatkan semua penjaga. Sean benar-benar kelelahan karena mencoba menangkap Claudia yang mengajaknya bermain kejar-kejaran seperti anak kecil. Claudia berlari begitu kencang bahkan para pengawal tertatih Sean tidak bisa melawan kecepatan Claudia mereka hanya berlari di sekeliling kastil dengan nafas yang berat dan terbatuk.


Sean juga seperti itu. Hari ini dia menyadari bahwa dirinya sudah semakin tua, dia harus melakukan sesuatu dengan kebugaran dirinya. Claudia benar-benar membuat Sean dan para anak buahnya kelelahan.


"Bos... Bos, ayo bangun." Ucap seseorang berteriak membuat Sean yang tengah duduk mengambil napas di sofa langsung berdiri karena kaget.


"Apa? Kenapa kau ada di sini? Pergi sana, berikan aku waktu untuk mengambil napas." Ucap Sean berteriak kepada anak buahnya itu.


"Tapi Bos, dia sudah datang. Kita harus lari lagi." Ucap anak buahnya panik.


"Apa? Sudah datang? Bagaimana mungkin? Terakhir kali aku melihatnya, dia masih berada di lantai bawah. Bagaimana dia bisa datang kemari secepat ini?" Sean tampak panik seperti orang yang dikejar hantu.


Dia tiba-tiba merasa kastil nya itu menjadi tempat yang begitu seram dan mereka semua tengah dikejar oleh hantu. Hantu yang berusia 20 tahun lebih tepatnya.


"Aaaiiiissshhh, kemari kau bodoh. Bantu aku untuk bangun, kakiku sakit." Ucap Sean.


Hari ini berlalu dengan Sean yang begitu kelelahan. Salah seorang pelayan yang bekerja sebagai pembersih datang dengan sebuah ember penuh dengan pecahan vas yang rusak.


"Apa-apaan ini? Siapa yang merusak vas ini?" Ucap Sean saat menyadari pelayan itu datang dan berteriak arahnya.


Awalnya pelayan itu diam dan menundukkan kepalanya. Tapi Sean kembali berteriak kepadanya.


"Jawab aku." Teriak Sean.


"Tuan, sebenarnya Nona Claudia yang merusak ini semua karena berlari di sekeliling kastil. Bukan hanya vas, tapi dia juga merusak jam dinding, cermin, dan dua orang pengawal anda juga terluka parah. Kepala mereka terkena pecahan vas ini." Ucap pelayan itu menjelaskan semua masalah yang dibuat Claudia beberapa saat yang lalu.


Sean menjadi marah, dia menatap gadis yang duduk di dekatnya yang tengah sibuk menulis sesuatu di kertas yang berada di atas meja.


"Claudia....." Teriak Sean.


Kali ini Claudia tidak takut sama sekali, tapi dia bertingkah seolah terkejut dan termenung. Dengan singkat bibirnya mulai menggantung dan matanya dipenuhi dengan air sebelum Sean bahkan bisa mengatakan apapun Claudia sudah lebih dulu bicara.


"Memangnya kenapa? Apakah kau akan memarahi aku dan berteriak kepada aku lagi hanya karena beberapa vas dan orang-orang mu? Apakah mereka lebih penting untukmu daripada aku? Aku hanya bermain, apa salahku. Kastil mu ini memang terlalu kecil. Jadi aku tidak bisa berlari dengan bebas. Jadi semuanya menjadi rusak karena menghalangi jalan ku. Aku tidak melakukan apapun secara sengaja. Aaaaaaaaaaa......" Claudia mulai lagi.


Mata Sean langsung membesar, ketakutan, terkejut dan putus asa. Sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa kepada Claudia.


"Sayang, kumohon jangan menangis, jangan khawatir. Semua ini hanya vas yang tidak berguna. Kau sebenarnya sudah bagus merusak mereka semua. Aku sudah berpikir bahwa aku sendiri yang akan merusak nya." Ucap Sean.


Claudia dalam hati ingin terbahak tapi dia tetap menunjukkan wajahnya yang tidak bersalah dari luar. Ia mengusap air matanya dan bertanya,


"Benarkah? Sekarang kau benar-benar berbicara seperti suami.... Eh maksudku orang terdekat ku. Aku sangat bahagia. Terima kasih." Ucap Claudia tersenyum penuh kegembiraan.


Sean menjadi begitu bangga kepada dirinya sendiri karena dia perlahan bisa melakukan apa yang Claudia sukai.


"Aku lapar." Ucap Claudia.


Sean langsung berterima kasih kepada Tuhan. Dia bahkan berteriak dengan keras.


"Oh, terimakasih Tuhan. Sayang kamu akhirnya lapar, hahaha wow. Ayo ikut denganku, kita pergi makan siang. Apapun yang ingin kau makan, seberapa banyak pun yang ingin kau makan, oke hahaha. Ayo kita pergi." Ucap Sean.


"Aku mau ayam panggang, daging sapi premium, kimchi, kentang goreng, mie pedas, nasi.........."


Claudia terus menyebutkan nama-nama makanan yang berbeda. Sean dalam hati terdiam tapi tidak bisa protes. Setidaknya dia terbebas dari bermain berlarian menangkap Claudia. Jadi dia memutuskan untuk mengikuti apapun yang diinginkan Claudia dan meminta para pelayan untuk melayani Claudia jadi dia bisa terbebas.


Claudia akhirnya makan dengan tenang. Para pelayan tidak terlalu terganggu untuk membuat makanan yang disebutkan Claudia. Setelah makan siang Sean pergi ke kantornya dengan mengendap-endap tanpa membiarkan Claudia mengetahui hal itu. Ketika Claudia bangun dari tidur siang nya dia berharap untuk melihat Sean tapi seorang pelayan mengatakan kepadanya bahwa Sean sedang berada di ruang kerjanya.


Claudia ingin mengganggu nya, tapi kemudian memutuskan untuk tidak melakukan itu karena apa yang dia lakukan hari ini sudah cukup. Jadi Claudia menghabiskan waktunya di dalam kamar, merindukan suaminya dan kehidupan lamanya kembali di kota. Dia merindukan teman-temannya juga.


Sudah pukul 10.00 malam, Claudia sudah makan di kamarnya juga karena untuk pertama kalinya Sean tidak pulang ke rumah dari kantornya. Para pelayan menginformasikan bahwa ada masalah dari kantor perusahaan Sean, dia masih sibuk di sana.


'Masalah? Apa itu karena suamiku?' pikir Claudia dan berharap yang dipikirkan nya itu benar.


"Sayang, aku harap itu kamu. Aku merindukanmu sayang, tolong cepatlah datang. Tidak.... ini baru saja satu hari dan aku sudah sangat merindukanmu. Apakah kau merindukan aku juga? Apakah kau masih berada di rumah sakit? Apakah kau masih merasakan sakit di pundak mu?" Ucap Claudia terus-menerus


Pintu kamar itu terdengar diketuk, Claudia tengah berbaring di tempat tidurnya dan terkejut. Piyama yang dikenakan Claudia tampak berantakan, postur tubuhnya juga begitu dengan rambutnya. Claudia dengan cepat bangun dan membuat dirinya tampak lebih bersiap.


"Iya, siapa itu?" Claudia pikir itu adalah Sean, dia sudah hendak mengatakan pada Sean untuk pergi karena dia tidak mau bertemu dengan mafia itu di jam yang seperti ini.

__ADS_1


"Ini kami Nona Muda." Sebuah suara berasal dari depan pintu.


Claudia mengenali suara itu. Itu adalah seorang pelayan yang memasak dan yang paling sering didengar oleh Claudia, karena dia adalah orang yang selalu dekat dengan Claudia pada hari pertama ini. Tapi yang membuat Claudia lebih terkejut karena pelayan itu memanggilnya dengan sebutan Nona Muda. Tidak ada orang lain, selain para pengawal dan pelayan suaminya yang memanggilnya dengan sebutan itu. Claudia mengerutkan keningnya berpikir dan membiarkan pelayan itu untuk masuk ke dalam kamar.


Ada hampir tujuh atau delapan orang dari mereka. Mereka semua masuk kedalam dan langsung membungkuk di hadapan Claudia dengan posisi 90 derajat. Claudia lebih terkejut lagi. Sejak momen dimana dia meninggalkan rumah, tidak ada satu orang pun yang bersikap seperti itu kepadanya. Claudia juga tidak mengharapkan hal itu, tidak juga menyukainya ketika orang melakukan itu. Tapi sejak beberapa bulan tinggal sebagai Nyonya Adam, dia sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu.


Claudia lalu menanyakan apa tujuan mereka datang menemuinya di jam yang seperti ini. Para pelayan itu pun menginformasikan kepada Claudia bahwa mereka mengetahui jika Claudia adalah Nyonya Adam. Claudia begitu terkejut karena mereka mengetahui hal itu, ia pun kembali bertanya kenapa mereka bisa mengetahui hal itu dan mereka menjawab bahwa mereka mengetahuinya dari internet.


Setelah itu mereka pun mengatakan kepada Claudia walau mereka bekerja sebagai pelayan Sean, tapi mereka lebih suka untuk menghormati Tuan Adam dan Nyonya Adam. Mereka pun berjanji untuk membantu Claudia selama dia berada didalam kastil Sean.


Claudia lalu meminjam ponsel mereka untuk melihat berita di sosial media. Merekapun memberikan Claudia untuk menggunakan ponsel mereka.


Claudia mulai melihat ke internet dan saat itu dia pun mengetahui apa yang sudah dilakukan suaminya.


Adam memposting foto dirinya. Claudia mengingat foto itu diambil suaminya ketika dia tengah belajar di ruang kerja Adam saat malam hari.


Melihat foto itu Claudia tiba-tiba tersenyum, dia merona. Dia melihat suaminya sudah memberitahukan tentang identitasnya kepada semua orang lewat internet bahkan Claudia sedikit tertawa melihat pengumuman yang dibuat suaminya untuk orang yang bisa menemukannya akan diberikan hadiah yang besar. Claudia tahu bahwa itu untuk mengalihkan perhatian Sean.


Claudia lalu melihat postingan terakhir suaminya dengan caption, 'aku sangat merindukanmu. Aku tidak bisa tidur dengan lengan ku yang kosong tanpa ada dirimu dalam pelukanku.'


Claudia tidak bisa menahan air matanya. Dia mulai tampak menangis melihat postingan suaminya itu. Para pelayan mulai tampak khawatir.


"Nona Muda jangan khawatir, jangan menangis. Tolong." Ucap mereka berusaha menenangkan Claudia yang terlihat sudah menangis sesenggukan.


"Nona Muda, apa anda tahu seluruh negeri sekarang sedang mencari anda. Bukan karena hadiah yang Tuan umumkan, tapi karena mereka mencintai anda dan peduli kepada anda. Itu juga pertama kalinya kami mengetahui tentang identitas anda dan situasinya sudah seperti ini. Bukan karena hadiahnya, tapi jika anda mau, kami bisa membantu anda untuk melarikan diri dari sini." Salah satu dari pelayan itu berucap kepada Claudia.


Para pelayan lainnya setuju dan mereka semua langsung menganggukkan kepala secara bersamaan. Hal ini membuat Claudia berhenti menangis dan mengusap air matanya.


"Tidak, aku tidak mau. Aku tidak bisa kabur dari sini. Aku datang kemari sendirian, hanya untuk memberikan suamiku waktu untuk menghukum monster ini. Sampai aku di sini tetap aman, suamiku tidak terlalu fokus kepada keamanan ku. Dia bisa mencari dan menginvestigasi tentang monster ini. Tapi jika aku tidak dengan Sean di sini, dia bisa saja kembali merusak hidup kami. Aku disini, jadi suamiku bisa menghukumnya. Suamiku akan datang kemari membawa aku pergi dengannya. Jangan khawatir." Ucap Claudia menjelaskan semuanya karena para pelayan itu tampak bingung Claudia pun memberitahukan kepada mereka semuanya. Mereka semua terkejut dengan semua hal yang terjadi.


"Jangan khawatir Nona Muda, percayalah kepada suami anda. Suami anda sangat mencintai anda. Kami semua tahu itu, seperti yang anda katakan, suami anda akan datang menyelamatkan anda." Ucap mereka.


Para pelayan lalu meninggalkan Claudia sendiri untuk kembali ke kamar mereka. Claudia tidak dapat mengerti perasaannya, apakah dia harus menangis satu tersenyum. Tapi satu hal yang pasti, bahwa Claudia begitu merona dengan postingan yang dilakukan suaminya.


************


Keesokan paginya, Claudia bangun karena suara keras di depan pintunya. Dia langsung duduk karena terkejut. Dia melihat jam yang ada di dinding yang menunjukkan jam 06.00 pagi. Claudia merasa begitu heran, siapa yang membangunkan nya di jam seperti ini. Dia pun lalu pergi ke arah pintu dan membuka pintunya. Tapi saat dia membukanya, Sean langsung masuk ke dalam kamar itu memegang dagu Claudia dengan begitu keras. Matanya begitu penuh kemarahan, dan itu bukti bahwa dia tidak tidur semalaman.


"Apa-apaan ini? Beraninya kamu menyentuh aku. Jangan pernah mencoba untuk menggunakan kekuatanmu kepadaku. Aku tidak lemah, paham?" Teriak Claudia pada Sean.


"Diam lah, dan katakan padaku. Apa rencana mu sebenarnya?" Ucap Sean dengan penuh kemarahan.


Claudia tidak bisa mengelak bahwa dia takut mendengar suara Sean yang seperti itu, tapi dia tetap berusaha untuk tenang.


"Apa maksudmu mengatakan hal itu?" Tanya Claudia dengan penuh percaya diri dalam hati mencoba untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi di kantor Sean.


"Salah satu perusahaan ku di razia oleh polisi semalam dan mereka menemukan... Terserah saja. Aku berpikir bagaimana polisi bisa datang merazia perusahaan ku dan menggeledah tempat ku di jam seperti itu tanpa adanya peringatan, huh?" Tanya Sean.


"Bagaimana aku bisa tahu, aku berada di sini di kastil denganmu. Aku tidak punya ponsel atau apapun. Apakah kau pikir aku lah orang yang melakukan itu, atau memberikan informasi kepada polisi?" Ucap Claudia dengan marah.


Dalam hati dia tahu siapa yang melakukannya.


"Dan kenapa kau begitu peduli? Kau bukannya sudah berhenti melakukan pekerjaan yang ilegal, jadi kenapa memangnya jika polisi datang untuk menggeledah tempatmu? Aku yakin mereka tidak menemukan apapun, bukan begitu?" Ucap Claudia mencoba untuk bermain dengan kata-katanya.


"Kau tahu sayang, aku punya kau disini. Aku harus tahu siapa yang melakukan ini, dan ini adalah suamimu. Dia yang memberikan informasinya kepada polisi." Ucap Sean.


"Benarkah? Dan kenapa polisi mempercayai dia? Kenapa polisi terlalu bergantung kepada informasi yang dia berikan hingga membuat polisi tidak perlu ragu untuk menggeledah tempatmu? Tidak bisakah kau menghentikan mereka dan meminta balasan kepada mereka?" Ucap Claudia lagi.


"Karena bajingan itu punya bukti... Dia punya bukti dari...." Sean berhenti berucap dan terdiam.


Tanpa bicara apapun, Sean langsung keluar dari kamar Claudia. Claudia hanya bisa tertawa saat Sean sudah menjauh dari pandangannya.


"Bagus sekali sayang. Kau sangat hebat. Monster itu mulai terlihat kacau." Ucap Claudia.


Setelah selesai mandi, Claudia langsung pergi ke ruang tamu. Sean sudah siap untuk pergi bekerja. Dia tampak sibuk berdiskusi tentang sesuatu dengan para anak buahnya, kemudian saat dia hendak keluar rumah, Claudia berteriak.


"Tunggu, kau mau pergi kemana?" Teriak Claudia.

__ADS_1


Sean dan para anak buahnya berbalik.


"Aku mau pergi bekerja, ini sangat penting. Kau jangan khawatir, akan ada orang-orang disekitar kastil. Mereka akan tetap menemanimu." Ucap Sean seraya pergi dari Claudia, dia benar-benar sibuk bekerja hari ini.


Claudia langsung berlari mendekati Sean dan terlihat begitu cemberut lalu menaruh tangannya di dada Sean dan mulai berbicara lagi.


"Tidak, aku tidak mau dengan mereka. Kau tidak boleh pergi kemana-mana. Kau harus berada di sini denganku."


Sean hari ini tidak bisa bermain-main lagi.


"Dengar, aku tidak seperti suamimu yang bisa kau perintahkan dan aku akan pergi bekerja. Kau tidak bisa memerintah aku apapun. Bajingan itu... suamimu itu, sudah membuat kepalaku sakit. Aku tidak peduli apa, dan kenapa dia melakukan semua ini. Apakah dia melakukannya untukmu atau hal yang lainnya. Tapi dia merusak semua pekerjaanku. Pagi ini polisi kembali menggeledah rumah ku, jadi berhentilah menjadi keras kepala kepadaku. Aku tidak suka orang yang keras kepala." Ucap Sean dengan penuh kemarahan.


Sean hendak keluar lagi, tapi Claudia menghalangi jalannya, berdiri di hadapan Sean. Claudia memperlihatkan wajahnya yang cemberut.


"Tapi, apa masalahnya? Biarkan mereka melakukan apapun yang mereka mau. Kau sudah bersih kan sekarang? Jadi apa yang kau takut kan, jangan katakan jika kau masih terlibat dalam hal mafia itu, kau tidak begitu bukan?" Tanya Claudia tanpa rasa bersalah.


Rahang Sean mengeras.


"Aku tidak perlu menjelaskan semuanya kepadamu." Ucapnya.


"Kenapa tidak? Aku adalah pasangan masa depanmu. Kau ingin menikahi aku. Aku ini sudah menjadi kekasihmu sekarang. Kenapa aku tidak bisa mengetahui tentang dirimu? Kenapa aku tidak bisa bertanya kepadamu?" Ucap Claudia.


"Iya kau memang pasangan masa depanku dan kekasihku sekarang. Tapi itu tidak berarti bahwa aku harus menjawab semua pertanyaan mu. Pekerjaanku dan profesi ku, ini semua bukan area dari pengetahuan mu. Jadi kau hanya perlu membuat aku bahagia, puas secara mental, emosional dan di atas ranjang." Ucap Sean yang membuat Claudia merasa jijik. "Jadi sayang, menjauh lah dari kehidupan pekerjaanku dan fokus dengan pikiran dan tubuh mu, oke." Ucap Sean seraya pergi.


Claudia merasa begitu jijik, dia pun langsung berlari kearah kamarnya dan menutup pintu dengan cepat. Ketika dia tiba-tiba mendengar beberapa pelayan yang datang tadi malam ke kamarnya memberikan ponselnya dan memperlihatkan apa yang di posting oleh Adam.


Melihat semua postingan Adam, Claudia mencium ponsel itu dengan menangis. Dia benar-benar merindukan suaminya itu.


***************


Sean begitu panik di ruang kerjanya dengan begitu frustrasi. Polisi telah datang mencari dirinya. Dia sekarang benar-benar terjebak di dalam kastil nya sendiri. Dia tidak bisa pergi ke manapun. Dia sudah dicekal untuk meninggalkan negara ini. Dia bahkan tidak bisa pergi ke Australia lagi. Fotonya sudah tersebar di mana-mana, di seluruh negara dan internet. Dan alasannya bukan karena penculikan terhadap Claudia. Itu semua karena kepemilikan senjata ilegal dan narkoba. Polisi sudah menyita itu semua dari rumahnya dan perusahaan serta sebuah kebun miliknya.


Sean menjadi begitu marah dan melampiaskan amarahnya pada Claudia yang tengah duduk di ruang tamu dengan beberapa pelayan yang menghormatinya.


"Semua ini terjadi karena dirimu." Ucap Sean seraya menampar Claudia.


"Kau bajingan, beraninya kau. Aku akan membunuhmu." Teriak Claudia.


Claudia berusaha meninju Sean, tapi tidak bisa. Sean langsung menggenggam tangan Claudia dan menariknya mendekat.


"Lepaskan aku bajingan, sialan. Aku akan membunuhmu." Claudia terus berteriak saat Sean membawanya naik ke lantai atas.


Sean membawa Claudia masuk ke dalam kamarnya. Sean lalu langsung melempar tubuh Claudia diatas tempat tidur. Claudia langsung terduduk, dan hendak berlari keluar dari dalam kamar, tapi kembali dihalangi Sean.


"Apa yang kau lakukan, tinggalkan aku." Teriak Claudia seraya menendang perut Sean namun kembali tidak mengenai sedikitpun.


Sean malah membuat Claudia kesakitan karena memutar lengannya.


"Apa kau pikir aku ini sama seperti suamimu yang menyukai sikapmu seperti anak kecil ini? Kau salah berpikir bahwa aku seperti dia. Aku tidak suka gadis keras kepala. Aku tidak akan ragu untuk membunuhmu, karena dirimu aku menjadi hancur. Suamimu itu sudah merusak pekerjaanku. Aku tidak bodoh seperti dia. Benar aku mencintaimu, tapi aku bisa mengajarimu juga. Aku ini suami masa depanmu, kau harus menghormati aku. Kau harus melakukan apapun yang aku katakan. Lupakan sikap kekanakan yang selalu kau lakukan dengan suamimu itu, sekarang kau bersama ku." Ucap Sean.


Tidak ada cinta, ketertarikan dan kelembutan dalam suaranya itu, hanya kemarahan, dan mata yang penuh hasrat di dalamnya.


Claudia berusaha sekeras mungkin untuk tidak menangis. Tangannya sangat sakit, tapi dia tidak mengatakan apapun.


Sean hendak mengatakan sesuatu ketika seorang anak buahnya datang dan memanggil dirinya.


"Bos... Bos... Pihak pemerintah sudah menerbitkan surat penahanan atas dirimu. Mereka sudah mencari Bos di seluruh negeri dan barang bukti juga sudah di sita oleh mereka."


Sean melihat ke arah pria itu dengan ekspresi yang begitu terkejut dan khawatir.


"APAAA???" Ucap Sean dengan frustrasi.


Dia melepaskan tangan Claudia dan berlari menuju ruang kerjanya diikuti oleh para anak buahnya.


Claudia berlari ke arah kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya dan mulai menangis, Claudia sangat ketakutan. Dia tidak pernah begitu ketakutan seperti ini. Claudia juga takut akan apa yang terjadi selanjutnya.


Claudia tahu bahwa dia punya kekuatan untuk melawan Sean, dia bisa berkelahi dengan Sean, tapi jika Sean tidak melibatkan anak buahnya.

__ADS_1


'Aku harus bicara dengan suamiku.' pikir Claudia lalu berlari ke arah kamar para pelayan.


Bersambung.....


__ADS_2