90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
41. Jatuh Cinta


__ADS_3

Bel rumah berbunyi....


Claudia dengan perlahan melepaskan pelukannya pada Adam dan bergegas menuju pintu untuk membukanya. Dia tahu bahwa ada pelayan yang bisa membuka pintu, tapi dia tidak ingin para pelayan akan panik karena melihat kedatangan dokter dengan segala perlengkapan mereka. Para dokter pasti sudah datang dengan membawa peralatan untuk operasi.


Adam tidak mengatakan apapun hingga akhirnya kemudian secara perlahan kesadaran nya hilang.


Beberapa menit kemudian Claudia kembali ke kamar dengan dokter dan para timnya yang lain serta Naomi juga ada di sana disamping Claudia.


Claudia mendapati Adam yang sudah tidak sadarkan diri dengan mata yang tertutup, tubuhnya yang kaku dan Claudia mulai merasa ketakutan. Dia bergegas berlari ke arah tempat tidur dan melompat lalu mengusap wajah Adam dengan tangannya.


"Sayang, sayang. Apa yang terjadi? Buka matamu, kumohon." Isak Claudia.


Naomi lalu datang mendekat ke arah Claudia dan memegangi pundaknya.


"Di, tenanglah. Dia hanya pingsan karena rasa sakit yang dialaminya. Jangan khawatir, ikutlah bersamaku. Kita harus keluar dari ruangan ini agar dokter bisa melakukan tugas mereka. Ayolah." Ucap Naomi.


Tapi Naomi tidak dapat membujuk Claudia.


Claudia terus memegang tangan Adam dengan menangis, mengusap wajah Adam dan sesekali sesenggukan. Setelah berkali-kali mencoba, Naomi akhirnya berhasil mengajak Claudia untuk keluar. Entah bagaimana caranya, Naomi akhirnya bisa menenangkan Claudia.


Claudia merasakan sesuatu yang berdesir dalam hatinya dan dia ingin mengungkapkan semua itu kepada temannya. Dia ingin bicara agar mengeluarkan isi hatinya. Dia lalu memutuskan untuk menelpon Endra.


"Halo Di... Aku mendengar semuanya dari Dom. Di mana dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja?" Itulah hal pertama yang dikatakan Endra saat mengangkat telepon dari Claudia.


"Ndra sepertinya aku jatuh cinta..."


Sesaat Endra kehilangan kata-katanya, "apa?"


"Aku rasa aku jatuh cinta padanya." Ucap Claudia sebelum mulai menangis.


Endra dengan cepat menggabungkan panggilan dengan para sahabatnya yang lain dan memberitahu mereka tentang berita yang baru saja di dengarnya. Sementara Claudia masih sibuk dengan tangisan nya.


"Dia tetap menampakkan wajahnya yang tenang, walaupun aku selalu bersikap buruk padanya. Dia tidak pernah berbuat jahat padaku. Malah sebaliknya dia selalu bersikap manis padaku. Memastikan aku untuk selalu makan dengan baik, belajar dengan baik, tidur dengan baik. Dia bahkan tahu apa yang aku sukai dan tidak sukai. Dia selalu meminta kepada koki untuk membuatkan makanan favoritku. Dia tidak pernah meminta koki untuk memasak makanan apapun untuknya. Kapanpun koki bertanya tentang apa yang ingin dia makan, dia akan selalu menjawab makanan favoritku. Dia tidak pernah ketinggalan untuk melihat jadwal belajar ku atau jadwal harian ku. Dia melakukan apapun untuk membuat aku merasa lebih hidup bahkan di antara jutaan orang yang ada, dia akan selalu mendengarkan aku. Dia selalu bisa memecahkan masalah ku. Dia tidak pernah gagal untuk membuatku merasa menjadi orang yang paling spesial. Tidak ada satu hari pun tanpa ciuman darinya untukku, atau mengatakan kata cinta padaku. Tidak peduli bagaimana aku mau marah padanya atau kesal padanya. Dia tidak pernah mengatakan hal tentang perceraian. Dia sangat suka untuk menyuapiku dengan tangannya sendiri. Dia bersikap dingin dan arogan pada seluruh dunia tapi tidak padaku. Dia bersikap begitu gentleman.


Aku sangat marah ketika ada gadis lain yang duduk di kursi penumpang di samping dirinya, aku juga marah ketika dia berada di dalam suatu ruangan berduaan dengan Megan dalam waktu yang lama. Aku marah kapanpun dia bersikap baik kepada Megan. Ini bukan tentang dia atau Megan. Ini tentang aku. Aku hanya tidak suka dia melihat orang lain selain aku.


Aku menjadi marah ketika mengetahui dia memberikan sebuah pulau kepada Megan sebagai hadiah ulang tahunnya. Bukan karena hadiah itu mahal, tapi karena aku berpikir bahwa hadiah yang diberikan padaku lah yang paling istimewa. Tapi kemudian Dom memberi tahu aku, bahwa Megan sendiri yang meminta hadiah itu kepada Adam. Jadi bukan Adam yang ingin memberikannya sendiri. Aku bukanlah orang yang cemburuan, lalu kenapa....


Aku masih tidak menyukai fakta bahwa suamiku harus mendapat luka tembak karena gadis itu. Suamiku terluka karena dirinya. Aku sangat marah dan aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri." Akhirnya Claudia berhenti berucap.


Saat ini semua sahabatnya malah tersenyum seperti orang bodoh.


Rose yang berada dalam sambungan telepon itu mulai berkata, "Claudia Wijaya, seharusnya kau mendengar semua ucapan mu sendiri sejak lima menit yang lalu. Kau berbicara layaknya seorang istri. Ya Tuhan, Claudia sayang, sahabat kami yang super emosional, sahabat kami yang kepala batu. Kau akhirnya jatuh cinta. Jatuh cinta pada suamimu yang luar biasa itu."


"Sudah sering kali aku menghentikan dirinya saat kami akan melakukan hubungan itu. Dia selalu bisa mengontrol dirinya. Aku dengan jelas dapat merasakan keperkasaan nya dan bagaimana wajahnya yang terlihat putus asa. Tapi tetap saja, dia tidak pernah mau untuk memaksa aku. Dia menghentikan semuanya saat aku memintanya." Ucap Claudia lagi.


"Hey, hey, hey, Claudia. Tidak boleh ada pembicaraan tentang hal itu. Oke." Endra menghentikan Claudia.


Membuat Bam yang memang sedang ada disampingnya cekikikan.


"Claudia sayang, kau itu memang jatuh cinta. Cepat beritahu dia bahwa kau mencintainya. Ingatlah pria mu itu adalah pria yang limited edition dengan selera fashion yang tinggi, kegantengan yang paripurna dan semuanya tidak akan bisa didapatkan pada pria lain. Jadi segeralah jadikan dia milikmu atau orang lain akan mengambilnya darimu." Ucap Diana yang membuat para sahabat yang lainnya tertawa termasuk juga Bam yang terdengar terbahak disamping Endra.

__ADS_1


Tiba-tiba Claudia melihat salah seorang dokter keluar dari dalam kamar bersama para timnya yang lain dengan membawa beberapa peralatan di tangan mereka. Claudia memutuskan sambungan panggilan dengan para sahabatnya dan berlari dengan tidak sabaran.


"Dokter bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Claudia.


"Kedua peluru sudah berhasil dikeluarkan. Tuan Adam sudah melewati masa kritis nya. Operasi hampir selesai, namun Dokter Kevin berada didalam untuk menyelesaikan pekerjaannya agar tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan di masa yang akan datang nanti dengan keadaan Tuan Adam."


Claudia menghela napas lega.


"Bolehkah saya masuk?" Tanyanya lagi.


"Tunggu beberapa menit lagi Nona, maka anda boleh masuk." Jawab salah seorang asisten dokter.


"Baiklah kalau begitu." Balas Claudia.


Lima belas menit kemudian dokter keluar dari dalam kamar dan memberitahukan keadaan Adam kepada Claudia dan juga Naomi.


*****************


Pagi berikutnya Adam terbangun dengan hal pertama yang dilihatnya adalah lengan mungil yang begitu menggemaskan memeluknya. Adam merasa begitu bahagia. Claudia tertidur disampingnya dan Adam mulai mengelus kepala Claudia.


Sentuhan itu membuat Claudia terbangun. Claudia langsung terduduk dan menatap Adam. Dia mengucek matanya dan berharap apa yang dilihatnya adalah benar.


"Selamat pagi sayang. Apa kau tidur nyenyak? Apakah kau lapar?" Tanya Adam.


Claudia merasa tidak habis pikir. Pria di hadapannya terkena tembakan dan semalam baru saja selesai dioperasi dan sekarang pria dihadapannya ini malah menanyakan apakah dirinya baik-baik saja atau lapar.


"Aku akan turun kebawah untuk mengambil kan sarapan untukmu. Setelah itu kita harus pergi ke rumah sakit. Dokter Kevin mengatakan bahwa lukamu perlu perawatan karena takutnya akan terkena infeksi jika tidak ditangani dengan baik."


Claudia tampak kesal dan marah.


"Baiklah kalau begitu. Kau bisa meminta Megan untuk datang dan merawat mu karena aku tidak mau merawat pasien yang keras kepala." Ucap Claudia lalu beranjak menuju kamar mandi.


Adam tidak dapat berkata-kata. Dia menghela napas dan mengangkat tangannya menyerah.


Claudia telah selesai mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Dia lalu kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi makanan dengan wajah yang tidak terlalu bersahabat.


"Jadi, apakah kau siap untuk pergi ke rumah sakit atau tidak?" Tanya Claudia.


"Aku akan pergi." Jawab Adam dan hendak mendekat kearah Claudia, tapi Claudia dengan cepat menghindar dengan menampilkan wajahnya yang marah tapi kenyataannya tidak.


"Aku akan mengambil pakaian mu."


Claudia kembali keluar dari dalam kamarnya menuju kamar Adam dan memilih pakaian yang nyaman dan bisa digunakan dengan mudah oleh Adam nantinya kemudian kembali lagi ke kamarnya. Adam sama sekali belum menyentuh makanannya sedikitpun.


Claudia mengerutkan dahinya.


"Kau belum makan juga? Ya Tuhan, makanannya sudah mulai dingin." Ucap Claudia seraya duduk di samping Adam.


"Suapi aku, tolonglah! Bagaimana aku bisa makan menggunakan tangan kiri." Ucap Adam dengan menampilkan wajah yang terlihat kesakitan dan dibuat-buat lalu memandang Claudia sesaat.


Akhirnya Claudia pun menyuapi Adam dan hal ini adalah yang pertama kalinya dia lakukan. Claudia sedikit gugup, namun dia tidak memperlihatkan semua itu pada Adam dan hanya memperlihatkan wajahnya yang pura-pura marah.

__ADS_1


"Ini cepat, pakai ini. Kemudian kita pergi." Ucap Claudia seraya menyodorkan pakaian kepada Adam.


Adam melihat ke arah Claudia sekali, lalu melihat tangannya yang terluka lalu melihat kearah Claudia lagi.


"Sayang tanganku terluka. Kau harus membantuku berpakaian." Ucap Adam dengan menampilkan senyum nakal.


Claudia mengambil nafas dalam untuk mengontrol ekspresinya. Suaminya yang mesum mulai menggoda nya lagi. Claudia berusaha sebisanya untuk tidak tergoda dengan wajah tampan dan mempesona yang ditampilkan oleh suaminya itu. Dan entah bagaimana dia pun berhasil melakukannya.


"Aku akan meminta bantuan." Ucap Claudia.


"Apakah kau benar-benar ingin orang lain untuk melihat tubuh suamimu ini?"


Claudia menelan ludah.


"Baiklah aku akan membantumu." Balas Claudia cepat.


Bukan pekerjaan yang mudah bagi Claudia karena Adam terus menggoda nya. Namun keadaan berubah saat Claudia hendak mengganti celananya, Adam tidak bergerak sedikitpun.


Saat claudia memasangkan kemeja lengan pendek kepada Adam, Claudia melihat dada Adam dan tampak terdiam lalu tanpa tersadar dia mencium dada sebelah kiri Adam.


"Claudia Wijaya, kau gadis yang nakal. Kau mencoba untuk menggoda ku." Ucap Adam mencoba untuk menahan tawanya karena dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Wajah Claudia memerah karena malu seperti layaknya api yang membara.


"Itu... itu tidak disengaja, kau tahu sendiri kalau aku tadi tidak sengaja terjatuh." Claudia berusaha menyangkal semuanya.


"Bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit setelah itu...??" Adam berbisik di telinga Claudia dengan suara yang menggoda.


"Hah! Setelah apa?" Tanya Claudia bingung.


"Setelah makanan penutup. Bagaimana menurutmu?" Adam kembali berbisik di telinga Claudia dengan suara yang tetap menggoda hingga membuat Claudia mengerti akan apa yang ingin disampaikan oleh Adam.


Claudia pun langsung memukul dada Adam.


"Berhenti bercanda. Ayo cepat."


Claudia berusaha mempertahankan ekspresinya yang marah, mencoba untuk menghindari suaminya yang memang sudah mampu membuat dirinya tergoda.


"Sayang hanya lenganku saja yang terluka. Bagian tubuhku yang lainnya masih bagus seperti baru. Jika kau tidak percaya padaku. Kenapa kau tidak lihat dan mencobanya sendiri. Ayo kemari lah."


Claudia terus berusaha untuk tampak marah.


"Dalam mimpimu saja. Dasar pria tua mesum. Ayo cepat kita harus pergi ke rumah sakit sekarang."


Tapi Adam terus berusaha menggoda Claudia.


"Dam, kau benar-benar bertingkah seperti pria yang sangat mesum hari ini. Bisakah kau bersikap lebih dewasa dan gentleman sedikit. Bisakah kau menyingkirkan tanganmu dariku."


"Baiklah aku mengalah. Tapi aku seharusnya mendapatkan sebuah penghargaan karena menuruti semua perintah mu. Aku sudah tidak mencium mu selama empat hari belakangan." Ucap Adam dan tanpa aba-aba langsung menarik Claudia mendekat padanya lalu menciumnya.


Adam merasa begitu bahagia. Claudia sendiri mulai merasa hidupnya kembali ceria lagi.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2