
Erik terdiam setelah mendengar perintah yang diucapkan Tuan Muda nya.
'Apa Anda bercanda Tuan? Anda memintaku untuk mengeluarkan Claudia dari sini? Apa Anda ingin membunuhku, jika iya tinggal bilang saja.' ucap Erik dalam hati.
Erik benar-benar tidak bisa membayangkan kemarahan yang akan diterimanya dari Claudia, jika dia sampai berani mengusir Claudia keluar.
"Tuan dengarkan saya dulu." Ucap Erik. "Dia tidak seperti yang Anda pikirkan. Sebenarnya..."
Adam menyela ucapan Erik.
"Erik, apakah kau tidak mencintai pekerjaanmu?" Ucap Adam dengan wajah yang begitu kesal. "Lakukan seperti yang aku katakan." Lanjutnya.
Erik berbalik dan menatap Claudia. Sorot matanya seolah mengatakan agar Claudia segera pergi. Rose dan Diana yang sejak tadi memegangi tangan Claudia kembali menarik Claudia mengajaknya untuk keluar. Claudia memutar bola mata malas saat melihat mata Erik yang penuh harap. Ia lalu berjalan keluar.
Dengan Rose, Diana dan juga Erik yang berjalan mengikuti Claudia dari belakang, membuat Adam bingung.
'Kenapa Erik bahkan sampai mengikuti gadis bar-bar itu seperti seekor anak anjing peliharaan.'
Adam terlihat begitu kesal.
"Terima kasih Adam." Ucap wanita yang datang bersamanya tadi dengan suara yang dibuat-buat agar terdengar imut.
Hal itu membuat Adam merasa jijik. Dia menatap wanita itu dengan tajam dan menyadari kenapa wanita itu tadi sampai berterima kasih padanya.
Adam melihat kedua tangan wanita itu memegang bungkusan parfum yang diperebutkan tadi dengan sangat erat, seperti telah mendapat sebuah jackpot. Adam lalu menarik bungkusan parfum itu dari tangan wanita itu dengan kasar.
"Hentikan semua imajinasi mu itu. Aku tidak bertengkar dengan gadis brandal itu untuk memperebutkan parfum ini demi dirimu. Lagi pula, aku tidak buta. Aku tahu dia yang lebih dulu melihat parfum ini dibanding kamu. Aku tidak melakukan semua ini untukmu. Aku melakukan semua ini karena aku menginginkan parfum ini untuk istriku. Aku juga membenci gadis brandal tadi, tapi kau jangan ikut campur dalam semua ini. Satu hal lagi, jaga sikapmu jangan pernah memanggilku dengan panggilan yang menjijikkan. Ingat batasan mu, aku ini Bos mu." Ucap Adam lalu pergi dari dalam toko.
Sebenarnya Adam datang ke mall Starlight bersama sekretarisnya. Wanita yang bersamanya tadi adalah sekretarisnya, Hana. Adam datang ke mall untuk mencari hadiah untuk isterinya sekaligus ingin melihat kelayakan yang diberikan mall pada pengunjung. Kualitas produk yang di jual, pelayanan kepada pengunjung, kebersihan, toko-toko, perilaku para staf mall pada pengunjung dan yang lainnya. Adam ingin memastikan semuanya dalam kondisi yang baik dan tak ingin reputasi mall ini rusak dimata para pengunjung.
"Nona, kenapa Anda tidak membiarkan saya mengatakan kepada Tuan Muda bahwa Anda adalah isterinya?" Tanya Erik.
Claudia sudah meminta Erik untuk mengantar kedua sahabatnya pergi ke lantai paling atas masuk ke dalam sebuah restoran untuk makan. Rose dan Diana sebenarnya ketakutan karena membayangkan pemilik mall tadi akan memarahi mereka jika terus berkeliaran di dalam mall mengingat keduanya adalah teman Claudia, gadis yang berseteru dengan pemilik mall tadi.
"Karena aku tak mau dia tahu. Tidak ada gunanya. Sekarang dia sudah ada disini. Aku akan mendapatkan surat cerai yang akan dia tanda tangani. Dan kami bukan lagi sepasang suami isteri. Jadi aku tidak mau dia mengetahui siapa aku." Ujar Claudia.
"Tidak akan ada perceraian yang terjadi Nona. Saya yakin, Nona dengan segala sikap kekanak-kanakan dan sifat pemarah Nona akan sangat cocok dengan Tuan Muda." Ucap Erik.
Erik memang sudah seperti kakak laki-laki bagi Claudia. Meski tetap bersikap sopan pada Claudia, namun Erik juga kerap memberikan kritikan pada Claudia dan Claudia sendiri tak mempermasalahkan hal itu.
"Sampai kapan Anda akan menyembunyikan jati diri Anda pada Tuan Muda." Tanya Erik lagi. "Tuan Muda bahkan sudah meminta saya untuk memberikan foto Anda pagi ini."
"Apa yang ingin dia lakukan dengan foto ku?" Tanya Claudia tak percaya.
"Ya ampun Nona. Sudah tentu suami tercinta Anda ingin melihat wajah cantik Anda." Balas Erik.
"Erik, jika kau berani mengatakan apapun padanya tentang diriku atau kau berani memberikan padanya fotoku, maka aku akan mengirimkan video memalukan yang pernah kau lakukan yang ada di dalam ponselku pada kekasihmu. Dan kau pasti tahu bahwa aku tidak bercanda." Ucap Claudia mengancam Erik lalu melihat ke arah kukunya yang lentik.
'Aku ingin membunuhmu Nona. Aaarrrgghhh....' umpat Erik dalam hati lalu pergi dari hadapan Claudia dengan menghentakkan kakinya.
**********
"Aku harap kalian berdua menikmati makan siang kalian dengan nyaman." Ucap Claudia pada kedua sahabatnya.
"Tentu saja Di." Ucap Rose dengan mulut masih penuh dengan dessert. "Makanan disini luar biasa enaknya." Lanjut Rose.
"Di, harus aku akui. Makanan disini benar-benar sangat enak. Tapi, apa kau yakin akan membayar tagihannya?" Tanya Diana. "Aku dan Rose bisa patungan untuk membantumu membayar tagihannya."
Harga makanannya memang sangat mahal.
Claudia hanya mengangguk dan tersenyum. Meski sebenarnya dalam hatinya sangat marah vila mengingat apa yang baru saja terjadi. Suami yang terlihat begitu sempurna dimata semua orang malah harus berkelahi dengannya demi gundik nya.
Disisi lain, Erik terus mengirimkan pesan padanya. Memintanya untuk menghapus video memalukan itu dan berjanji tidak akan memberitahu apapun pada Adam.
__ADS_1
Claudia tersenyum penuh kemenangan, ia senang sekali bisa mengerjai Erik.
Sampai tiba-tiba Erik masuk ke dalam restoran bersama Adam dan duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari Claudia. Claudia tak ingin sahabatnya tahu bahwa Erik dan Adam ada disini. Ia menggeleng ke arah Erik dan bibirnya seperti mengucapkan kata 'tidak.'
Hal itu terlihat jelas oleh Adam. Ia semakin dibuat bingung dengan sikap Erik dan Claudia yang disebutnya sebagai gadis brandal.
'Dasar gadis brandal, apa tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain menggoda para pria. Menjijikkan sekali.' pikir Adam.
Suasana yang tenang tiba-tiba menjadi gaduh saat suara teriakan terdengar memekakkan telinga. Suara itu tak lain berasal dari wanita yang ikut bersama Adam tadi, Hana sekretaris Adam.
Hana berteriak karena pelayan yang mengantar makanan ke meja mereka secara tak sengaja tersandung menumpahkan sup ke atas meja dan mengenai pakaian Hana dan membuat wanita itu mulai membuat keributan di dalam restoran.
Claudia tengah membayar tagihan, dan keributan yang dibuat Hana mengundang perhatiannya.
"Kau. Beraninya kau. Kau sudah merusak pakaian dan sepatuku." Teriak Hana pada pelayan yang menumpahkan sup itu.
Pelayan itu terus saja menunduk dan berkali-kali minta maaf. Dia berharap Hana tidak akan melapor kepada Manajer restoran yang dimana akan membuat dirinya kehilangan pekerjaan. Dia mengatakan akan membersihkan sepatu Hana sekarang juga.
"Kau, lebih baik kau cepat membersihkan sepatuku sekarang. Apa kau tidak tahu bahwa semua yang aku kenakan ini sangat mahal. Bahkan lebih mahal dari harga dirimu. Dasar pecundang." Ucap Hana.
Adam kehilangan kesabarannya dan hendak memarahi Hana. Namun sebelum ia sempat berkata, Claudia sudah lebih dulu datang dan membela pelayan itu.
"Hei Tante, hentikan omong kosong ini. Dia sudah minta maaf dan menjelaskan bahwa ia tersandung. Kau tidak boleh memintanya untuk membersihkan sepatumu. Dia bukan budak mu." Ucap Claudia.
"Kau diam lah. Kau tidak berhak mengatur apa yang ingin aku lakukan. Apa kau tidak mendapat cukup pelajaran tadi disana?" Ucap Hana menunjuk Claudia.
"Ini bukan tentang aku. Ini tentang dia. Berhentilah bersikap seperti itu padanya. Itu sangat tidak sopan." Balas Claudia.
"Dan kau mau mengajarkan kami tentang kesopanan. Kau?" Ucap Adam dengan sorot mata penuh kebencian.
Adam menatap Claudia dengan tajam.
"Ini masalah kami, biar kami yang menanganinya. Kau urus saja masalah mu sendiri." Lanjut Adam.
Adam benar-benar marah, darahnya begitu mendidih. Ia tak terima diajari oleh gadis berandalan dihadapannya.
"Kau lebih baik diam dan jangan ikut campur." Ucap Adam dengan sorot mata penuh emosi. "Erik.... Erik...." Teriaknya.
"Ya Tuan Muda..." Balas Erik.
Erik menatap wajah Claudia. Ia tahu benar bahwa kali ini Claudia tidak bersalah, ia bahkan tak mengerti, kenapa Bos nya bisa bersikap berlebihan seperti ini.
'Gadis yang berdiri dihadapan mu ini akan sudah ingin mengajukan surat perceraian padamu dan kau malah semakin membuatnya marah.' ucap Erik dalam hati.
"Usir keluar gadis berandal ini dari dalam mall sekarang juga. Aku tidak ingin dia datang kemari seumur hidupnya. Dia tak diizinkan untuk memasuki mall ini lagi." Ucap Adam.
Wajah Erik terlihat syok, ia begitu terkejut.
'Bagaimana mungkin dia tak diizinkan masuk ke dalam Starlight. Sedangkan dia sendiri adalah pemilik utama mall ini. Apa kau sudah gila Tuan?'
Erik berbalik menatap Claudia. Gadis itu berdiri tegap, menatap mata Adam tanpa takut.
"Aku akan membuat kau menyesali apa yang telah kau lakukan hari ini Tuan Adam Wijaya." Ucap Claudia.
Adam melihat sesuatu di mata Claudia. Ada air mata disana, dan gadis itu berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya. Melihat itu, entah kenapa hati Adam menjadi terluka.
Claudia kemudian berlalu, sementara Erik hanya bisa berdiri dengan putus asa.
Adam menghela napas panjang kemudian menatap pelayan tadi dan memegangi pundaknya.
"Hei, tenang saja. Kau tidak perlu takut akan kehilangan pekerjaanmu. Lebih baik kau kembali bekerja. Jangan pikirkan semuanya, dan tetaplah bekerja dengan baik. Manager mu tidak akan berani memecat mu." Ucap Adam.
"Terima kasih Tuan." Ucap pelayan itu.
__ADS_1
Adam lalu menatap ke arah Hana yang terlihat heran atas sikap dirinya. Adam melihat Hana dengan tatapan benci lalu pergi meninggalkan wanita itu yang hanya bisa berdiri mematung dengan pakaian dan sepatu yang masih kotor.
***********
Adam tiba di rumah dan langsung duduk di sebuah kursi pijat dan meluruskan kakinya.
"Bagaimana dengan kunjungan ke mall tadi?" Tanya Naomi.
"Jangan bertanya." Balas Adam. "Sangat menyebalkan."
"Ada apa? Kenapa?" Tanya Naomi penasaran.
"Aku tidak mau membahasnya."
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Naomi lagi.
"Tidak ada masalah dengan mall nya. Semuanya sangat baik, sempurna. Hanya saja...."
Ucapan Adam terhenti saat sebuah pesan terdengar masuk ke ponselnya. Adam dengan cepat membuka pesan itu. Dan seketika bibirnya tersenyum, dan membuat Naomi heran. Pertama kalinya ia melihat Adam tersenyum bahagia seperti itu.
'Ada apa sebenarnya?' tanya Naomi dalam hati.
"Naomi, dia menggunakan kartunya." Ucap Adam girang.
Naomi masih terlihat bingung, ia tak mengerti dengan apa yang dikatakan Adam.
Adam terlihat seperti anak kecil yang begitu bahagia.
"Naomi dia menggunakan kartu kreditnya untuk pertama kali. Aku baru saja mendapatkan pemberitahuannya. Aahh aku tidak percaya ini, dia akhirnya mau menggunakannya." Ucap Adam tampak begitu bahagia.
Senyuman Adam tiba-tiba hilang dan kembali membuat Naomi bingung.
"Oh tidak." Ucapnya. "Naomi, dia menggunakan kartunya di sebuah restoran yang ada di Starlight. Di waktu yang sama dimana aku juga ada disana. Jika dia memang ada disana bersamaan denganku, itu artinya..."
"Apa?" Tanya Naomi begitu penasaran.
"Itu artinya dia melihat semuanya. Dia melihatku bersama Hana dan juga berkelahi dengan gadis berandal itu. Dia melihatku dengan semua kekacauan yang terjadi. Ah... Sial... Sial... Sial... Apakah dia akan berpikir bahwa Hana adalah selingkuhan ku? Kenapa dia tak datang padaku atau menemui ku?"
Adam terus saja mengoceh.
"Aku sangat bodoh. Dia mungkin saja mau memulai semuanya dengan menggunakan kartu pemberianku untuk pertama kali dan aku malah membuat kekacauan. Dia melihat suaminya dengan seorang wanita, membela wanita itu dengan berkelahi dengan orang lain. Padahal aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi dia pasti berpikir seperti itu. Dia pasti berpikir seperti itu." Adam terus saja menyalahkan dirinya sendiri.
Adam mondar-mandir dan terus merutuk perbuatannya.
"Kau bodoh sekali Adam. Sekarang bagaimana? Dia pasti berpikir yang tidak-tidak. Padahal dia baru saja ingin memberikan kesempatan pada hubungan kami. Aaaarrggghhh apa yang harus aku lakukan?"
Tapi Naomi sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia harus segera bertemu dengan Claudia dan menanyakan pada Claudia apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah dilihatnya di mall.
"Dim, tenanglah. Aku akan berusaha untuk mencari tahu apa yang sudah dilihatnya di mall. Kita akan mencari solusi. Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Naomi berusaha menenangkan Adam.
Adam lalu menceritakan semuanya pada Naomi secara detail. Apa yang sudah terjadi, dimulai dari pertengkarannya dengan gadis yang disebutnya berandalan karena memperebutkan parfum sampai insiden di dalam restoran.
"Jelaskan padanya bahwa wanita itu adalah sekretaris ku." Ucap Adam dengan raut wajah yang terlihat panik.
"Tenanglah aku akan mengatakan semuanya." Balas Naomi.
Setelah Naomi pergi, Adam menelepon Erik dan mengatakan apa yang terjadi.
Erik hanya bisa menggeleng dan ingin meneriaki kebodohan dari kedua pasangan suami isteri itu.
"Kalian berdua pasangan yang membuatku pusing." Teriak Erik.
Bersambung...
__ADS_1