90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
17. Tidak Enak


__ADS_3

Sesaat setelah Claudia mengucapkan nama Adam yang keluar dari mulutnya, semua orang yang mendengar langsung menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.


'Siapa gadis itu? Apa hubungannya dengan Bos? Tidak ada orang yang pernah berani menyebut dan memanggil Bos dengan menyebut nama seperti itu.' Ucap para karyawan yang mulai berbisik.


Wanita yang berdiri di meja resepsionis memutar mata ke arah Claudia.


"Apakah kau salah satu dari fans Bos?" Tanya wanita itu yang seperti terlihat sudah biasa menghadapi situasi yang seperti ini setiap harinya.


Tapi tidak pernah ada yang berani memanggil nama bosnya secara langsung hingga hari ini. Setiap hari ada saja beberapa orang yang datang untuk menemui Adam. Adam memang terkenal sangat digandrungi oleh para gadis belia.


"Maaf, tapi Bos sangat sibuk, kau lebih baik mengunjungi museum kami. Di sana gratis untuk semua pengunjung." Saran wanita yang berdiri di meja resepsionis itu kepada Claudia.


Claudia memutar mata malas.


"Dengar ya! Aku datang kesini untuk menemuinya. Aku sama sekali bukan penggemarnya. Tidak dalam mimpi sekalipun." Ucap Claudia.


"Lalu apa tujuanmu datang kemari? Untuk bertemu dengan Bos? Kau tidak terlihat seperti klien perusahaan ataupun bukan dari awak media yang ingin mewawancarai Bos? Lalu untuk apa kau kemari?" Tanya wanita itu.


Claudia mulai terlihat kesal, ia sangat tidak menyukai hal yang bersangkutan dengan tanya jawab.


"Dengar ya, aku datang kemari membawa makan siangnya. Aku ini is... Aku ini keluarganya. Segera hubungi dia dan beri tahu dia bahwa aku adalah Claudia..."


"Jika kau memang keluarganya, mengapa kau tidak menghubunginya saja sendiri." Ucap wanita itu seraya menatap Claudia dengan tatapan mengejek.


Claudia bisa saja menghubungi Adam sendiri, tapi dia sangat takut. Adam tengah marah padanya. Adam bisa saja membunuhnya dengan kata-kata melalui telepon. Claudia terlihat bingung sesaat, yang membuat wanita itu merasa senang dengan apa yang ia katakan kepada Claudia dan membuat Claudia akan segera pergi begitu saja.


Claudia lalu menelepon seseorang.


"Halo, aku ada di lantai bawah di depan meja resepsionis. Tante dihadapan ku ini membuatku sakit kepala dan tidak mengizinkan ku masuk. Katakan padanya untuk membiarkan aku masuk." Ucap Claudia.


Claudia sebenarnya menelpon Erik.


Wanita yang berdiri di hadapan Claudia membelalakkan mata dan terlihat kaget karena ucapan Claudia.


'Berani berani nya dia menyebut ku tante. Apa aku terlihat setua itu? Dasar berandalan.'


Claudia menutup telepon, lalu duduk di sebuah kursi yang tersedia di depan meja resepsionis. Wanita yang berdebat dengannya sejak tadi hanya diam dan berpikir bahwa Claudia akan pergi dengan sendirinya karena kelelahan menunggu. Kemudian ia menerima sebuah telepon.


Wanita itu mengangkat telepon lalu berkata,


"Halo ada yang bisa saya ban..."


Bahwa dia ke atas." Ucap seorang pria dengan suara berat dan terdengar dingin.


Wanita itu mematung.


'Apakah tuan Adam, CEO dari perusahaan ini menelpon ku langsung? Dia tidak pernah menelpon langsung ke resepsionis? Ada beberapa departemen khusus yang menerima panggilan langsung darinya. Bagaimanapun tidak pernah ada karyawan atau departemen lainnya yang mendapat panggilan telepon darinya secara langsung.'


Wanita itu merasa sedikit pusing. Kakinya terasa lemas, ia bahkan tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri. Dia bahkan harus memegang mejanya untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.


"Baik Tuan." Ucapnya dengan gugup, padahal telepon sudah terputus sejak tadi.


'Apa aku sudah melakukan kesalahan?' Pikir wanita itu.


"Hehehe, hai bocil. Eh maksud saya, saya minta maaf Nona. Mari ikut saya, saya akan mengantar Nona ke ruangan Bos." Ucap wanita itu dengan posisi membungkuk 90 derajat.


Claudia ingin memutar mata malas tapi dia tidak melakukannya dan menampilkan wajah yang bersikap sopan.


'Apakah dia yang menelpon sendiri atau Erik?' Tanya Claudia dalam hati sebelum berjalan mengikuti wanita itu.


Wanita itu membawa Claudia ke lantai di mana tempat ruangan Adam berada. Nadia, sekretaris Adam menatap keduanya. Nadia ingin membuat perhitungan dengan Claudia. Tapi dia tidak bisa melakukannya karena sang Bos memintanya untuk membiarkan Claudia masuk ke dalam ruangannya.


"Hai mbak Nadia, sebenarnya Bos menelpon langsung ke meja resepsionis saya beberapa saat yang lalu, dan meminta saya untuk membawa gadis ini ke ruangan Bos." Ucap wanita itu mengkonfirmasi kepada Nadia.


Claudia memutar mata malas saat Nadia terlihat menyombongkan diri berdiri di hadapannya. Namun Claudia tersenyum sinis dan memicingkan mata membuat Nadia merasa kesal. Rahang Nadia mengeras ia berusaha menahan kecemburuan nya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kau boleh pergi sekarang. Aku akan mengurus nya mulai dari sini." Ucap Nadia membuat wanita resepsionis itu pergi.


Saat wanita resepsionis itu sudah pergi, Claudia lalu menatap kearah Nadia.


" Kau tidak perlu menemaniku berjalan kesana, cukup tunjuk saja jalannya. Aku bisa berjalan sendiri." Ucap Claudia.


**********


Claudia mengetuk pintu kayu sebanyak dua kali lalu masuk ke dalam dan mendapat sambutan suara 'hmmmmm' dari dalam ruangan.


Adam mengalihkan perhatiannya dari laptop yang ada di depannya ke arah Claudia yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Adam menatap gadis itu dengan tatapan yang tajam.


Claudia tampak melihat sekitar dengan penasaran. Perhatian Claudia tertuju pada seisi ruangan, kecuali Adam.


Saat Claudia menyadari sepasang mata menatapnya dengan tajam, ia langsung berhenti melihat sekeliling dan membeku. Ia melangkah maju mendekat ke meja Adam, Claudia lalu menelan saliva nya.


"Adam.... tidak, aku minta maaf. Maksudku, Tuan, aku minta maaf karena sudah mengganggumu tapi, eeehh aku membuat ini di rumah. Jika kau mau mencicipi nya...." Ucap Claudia dengan suara yang terdengar takut.


Adam menaikkan alisnya karena penasaran.


'Ada apa dengannya? Yang aku tahu selama ini dia adalah orang yang tidak segan-segan untuk berkelahi hanya untuk menyelesaikan masalahnya? Apa ada sesuatu yang sedang direncanakan?' Pikir Adam.


Adam terus memandangi Claudia.


'Apa dia benar memasak semua ini? Apa dia memang tahu cara untuk memasak?' Tanya Adam dalam hati.


Adam mengingat hari dimana mereka menikah, sebelum ia pergi ke Kanada. Adam meminta kepada Erik dan Naomi untuk memperlakukan Claudia selayaknya seorang Ratu di rumah itu. Claudia tidak boleh melakukan pekerjaan rumah apapun.


'Bagaimana mungkin Jono bisa memberikannya izin untuk masuk ke dalam dapur apalagi sampai memasak.'


Untuk beberapa saat Adam tidak mengatakan apapun. Hal itu semakin membuat Claudia gugup.


'Apakah dia se-marah itu padaku? Oh Tuhan, selamatkan aku. Aku hanya ingin perceraian, tidak ada yang lain. Tolong jangan kacau kan tiga bulan ini. Kumohon.' Ucap Claudia berdoa dalam hati.


Adam masih saja terus memandangi Claudia dengan rasa penasaran, sebelum suatu bau yang hangus menusuk hidungnya. Adam lalu menatap box makanan yang dibawa Claudia dengan tatapan terkejut.


Claudia bertepuk tangan dengan tersenyum dan mulai menjelaskan kepada Adam.


"Tampilannya mungkin memang terlihat buruk tapi rasanya enak kok." Ucap Claudia penuh percaya diri.


'Iya, tampilannya memang sangat buruk.' ucap Adam dalam hati.


"Jono sudah mencicipi nya dan dia mengatakan hal yang sama bahwa masakan ku memang enak. Jadi kau harus mencicipi nya juga." Ucap Claudia.


Claudia terlihat sangat antusias, dia lalu mengambil sepotong ayam dari dalam kotak makanan dan memberikannya kepada Adam.


Adam sebenarnya tidak ingin mencicipi makanan yang terlihat buruk itu tapi karena wajah menggemaskan istrinya itu membuatnya terpaksa untuk memakannya demi tidak membuat Claudia merasa kecewa. Adam mengambil potongan ayam itu.


Claudia mulai menjelaskan makanan yang ia bawa.


"Yang ini adalah campuran tofu dan daging ayam cincang. Dan yang ini.... Emmmm.... Kenapa warnanya hitam seharusnya warnanya itu merah, ini daging sapi."


Claudia menatap hidangan yang ia bawa itu dengan menggelengkan kepala dan tertawa kecil lalu menatap Adam.


"Mengejutkan." Ucap Claudia pada dirinya sendiri. "Ngomong-ngomong yang ini adalah..." Claudia menunjuk ke arah masakannya dengan wajah yang bingung, "ini seharusnya bola daging dengan saus yang berwarna coklat tapi kenapa malah jadi hitam juga?" Ucap Claudia pada dirinya sendiri lagi.


Claudia kembali melihat kearah makanan yang dibawanya dan berpikir sesaat.


"Aku tahu.... Aku tahu, yang ini ini adalah udang rebus dan dia tidak berubah hitam." Ucap Claudia dengan wajah yang terlihat begitu bangga akhirnya.


'Tentu saja tidak akan menghitam, yang perlu kau lakukan hanya memasukkannya ke dalam panci dan merebusnya.' ucap Adam dalam hati.


Potongan daging ayam cincang yang dicampur dengan tofu yang dipegang oleh Adam kini terasa sangat berat seperti batu hingga Adam rasanya tidak sanggup untuk memindahkannya.


"Adam, eh... maksudku Tuan. Ini adalah pertama kalinya aku memasak. Aku mau minta maaf atas kesalahan yang aku lakukan semalam." Ucap Claudia dengan menundukkan kepalanya saat Adam menatap dirinya. "Aku seharusnya tidak melanggar janji, dan aku juga sebenarnya tidak boleh mabuk. Tapi aku akan berjanji, aku tidak akan menyusahkan mu lagi di masa depan. Aku minta maaf, jadi bisakah kamu memaafkan aku?" Tanya Claudia.

__ADS_1


Adam begitu sibuk memikirkan perubahan dari sisi lain istrinya itu sampai tidak menyadari bahwa kepalanya mengangguk menandakan bahwa ia setuju untuk maafkan kesalahan yang sudah diperbuat Claudia. Melihat hal itu Claudia menjadi begitu senang. Adam yang juga melihat wajah Claudia yang tampak bahagia membuatnya merasa lega.


"Kau belum juga mencicipi nya." Ucap Claudia.


Adam menjadi gugup kembali. Dia kemudian melihat kearah udang.


'Sepertinya ini lebih aman. Setidaknya ini hanya direbus saja.' ucap Adam dalam hati kemudian mulai mengambil udang.


Saat Adam ingin mencicipi udang itu, Claudia malah menghentikannya.


"Jangan mencicipi yang itu, karena kau harus mengupasnya lebih dulu maka akan memakan waktu lebih lama. Jadi lebih baik kau makan yang lain saja." Ucap Claudia yang semakin membuat Adam menjadi gugup.


Adam lalu mengambil sepotong daging yang terlihat merah karena saus nya, lalu mulai mengunyah nya dengan pelan.


Claudia terus menatap wajah Adam dengan penuh harap. Ia begitu gugup sampai memutar ujung pakaiannya sendiri.


Tapi setiap kali Adam mencoba mencicipi masakan yang dibuat Claudia, ia selalu memuntahkannya ke dalam tempat sampah lalu minum air dan mengusap mulutnya dengan tisu.


"Apa rasanya seburuk itu?" Tanya Claudia dengan wajah kecewa


Melihat wajah Claudia yang kecewa membuat Adam menjadi tidak enak hati.


"Apakah kau datang kemari benar-benar untuk meminta maaf, karena aku berpikir kau datang kemari untuk mengerjai ku." Ucapan Adam membuat claudia semakin kecewa.


"Tidak benar. Aku kemari benar-benar untuk meminta maaf kepadamu, permintaan maaf ku benar-benar tulus." Balas Claudia.


"Sekarang cukup, kau lebih baik segera pulang dan mulai hari ini kau dilarang untuk masuk ke dalam dapur."


"Aku mengerti, maaf karena sudah mengganggu mu. Aku tidak akan pernah mencoba memasak sesuatu untuk mu mulai hari ini. Aku juga tidak akan pernah memasuki dapur selamanya. Tapi tolong terima permintaan maaf ku. Jangan katakan padaku bahwa kau akan memperpanjang waktu hukuman. Aku hanya ingin berce...."


"Wah tentu saja, kenapa aku bisa lupa. Aku memang sangat bodoh. Kau tidak pernah menyesali perbuatan yang kau lakukan semalam, yang kau takut kan hanya aku akan menunda waktu perceraian. Aku pikir kau sudah berubah. Tapi nyatanya dalam waktu 24 jam ini kau sama sekali tidak berubah. Akulah orang yang kembali dibodohi." Ucap Adam.


Claudia merasa terluka di dalam dirinya tidak tahu kenapa dan dimana rasa sakit itu. Tapi dia memang benar merasa terluka.


"Iya... iya... Benar, aku melakukan semuanya karena hal itu. Kenapa kau bisa berpikir bahwa aku melakukan semua ini..." Ucapan Claudia terhenti. "Ngomong-ngomong, jangan pernah berpikir bahwa aku akan menyukaimu, karena aku tidak akan pernah menyukaimu apalagi sampai jatuh ke dalam perangkap mu. Aku sangat membencimu, aku membencimu dari dulu sekarang dan selamanya. Aku membencimu... Aku membencimu..." Teriak Claudia.


Claudia mengambil kembali kotak makanan yang ia bawa lalu berjalan keluar dari ruangan Adam.


Adam terdiam. Dia melihat sesuatu yang berbeda dari mata Claudia. Dia ingin melihatnya lagi, ingin memastikan arti dari tatapan mata itu tapi Claudia sudah pergi.


**********


Malam itu Adam kembali ke rumah, sudah larut malam. Dia masuk ke dalam rumah melepaskan sepatunya lalu hendak naik ke lantai atas. Ketika ia melihat sebuah bayangan hitam mendekat ke arahnya dan berbicara dengan suara yang pelan.


"Ini untuk anda Tuan." Ucapnya seraya memberikan segelas susu pada Adam.


"Ya Tuhan... Kau menakuti ku saja. Kenapa kau tidak menghidupkan lampunya lebih dulu?" Ucap Adam tapi tidak dibalas.


"Saya sudah mencicipi makanannya. Rasanya sangat tidak enak. Saya minta maaf. Saya tidak menyadari bahwa makanannya seburuk itu. Saya hanya menyiapkan susu untuk Tuan. Silahkan diminum." Ucap Erik lalu permisi pergi ke kamarnya.


Jono keluar dari dapur menemui Adam.


"Apa Tuan ingin saya memasak sesuatu untuk makan malam?" Tanya Jono.


"Tidak perlu." Balas Adam. "Oh ya Jon, apakah dia memang memasak makan siang itu sendiri untukku?" Tanya Adam.


Jono menghela napas, ia sebenarnya sudah bisa menebak apa yang sudah terjadi di kantor tadi.


"Benar Tuan. Nona Muda mulai memasak sejak jam 12.30 siang. Untuk memastikan setiap masakan yang dibuat enak, Nona memasak beberapa kali dan beberapa bagian tubuh Nona bahkan terbakar. Nona terlihat sangat bersungguh-sungguh dan bersemangat jadi saya tidak mau mematahkan kepercayaan diri dan semangat Nona. Saya pikir Tuan bisa melakukan hal yang sama dan tidak merusak ekspektasi yang Nona harapkan. Tapi sejak Nona kembali dari kantor Tuan, Nona tidak makan apapun, dan tidak pernah keluar dari dalam kamar. Sampai Nona mendengar suara mobil Tuan." Ujar Jono.


Adam menghela napas dan merasa bersalah sekarang. Ia lalu naik ke lantai atas kemudian pergi ke kamar Claudia setelah mengganti pakaiannya. Ia lalu mengetuk pintu kamar Claudia.


Adam terus mengetuk pintu kamar Claudia tapi tidak ada jawaban. Adam sangat ingin minta maaf, tapi tidak bisa ia lakukan maka ia memutuskan untuk melakukannya besok pagi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2