90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
54. Insiden Masa Lalu


__ADS_3

Claudia pergi untuk bertemu dengan Will pada sore harinya. Saat ini dia tengah duduk di ruang keluarga rumah Will, sementara Will datang dari dapur dengan membawa segelas susu dan segelas wine tangan lainnya.


Will menaruh gelas susu itu di hadapan Claudia.


"Ini susu coklat untukmu. Suamimu akan memarahi aku, jika aku memberikanmu wine. Jadi aku membuatkan mu susu ini, minumlah."


Claudia memutar mata malas, tapi dia juga merasa malu saat memikirkan suaminya.


"Will, aku bertemu dengan Kalina kemarin." Ucap Claudia lebih dulu.


Hal itu membuat Will terkejut, dengan wajahnya yang yang mengkerut dan dia bertanya dengan tergesa-gesa.


"Bagaimana kau bisa tahu tentang dia? Dimana kau bertemu dengannya?"


Claudia menghela napas.


"Santai, aku akan menjelaskan semuanya. Tidak perlu begitu terburu-buru."


Claudia lalu menjelaskan semuanya kepada Will. Bagaimana dia bertemu dengan Kalina serta apa yang mereka bicarakan dan semuanya.


"Wow, wanita itu masih saja keras kepala." Ucap Will berkomentar.


"Bisakah kau membuat semuanya kembali baik-baik lagi? Sangat jelas bahwa kalian berdua masih saling mencintai." Ucap Claudia.


Will tertawa perlahan dengan menggelengkan kepalanya.


"Aku memang masih mencintainya, tapi dia tidak. Dia sudah tidak mencintai aku lagi." Balas Will.


Claudia terlihat sangat tidak sabar dan frustrasi mendengar jawaban Will.


"Yang benar saja. Kau pikir bahwa dia tidak mencintaimu lagi. Katakan padaku, kenapa dia tidak pernah menghentikan mu untuk mengikutinya? Dia tahu dengan baik bahwa orang-orang mu selalu berada di belakangnya, mengikutinya, memperhatikan apapun yang dilakukannya. Kenapa dia tidak pernah menghentikan mu?" Ucap Claudia lagi mencecar Will dengan banyak pertanyaan.


Will terlihat merenung sesaat.


"Kenapa dia tidak pernah mencoba untuk bicara atau menemui ku?" Tanya Will lagi.


Claudia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Dia marah padamu. Dialah orang yang kesal dan kecewa padamu. Kenapa dia yang harus lebih dulu melakukan sesuatu?" Tanya Claudia.


"Aku mencintainya. Aku masih mencintainya, kenapa dia tidak bisa percaya kepadaku sama seperti dirimu, Jolie dan Nina..." Balas Will.


"Benarkah? Aku pikir kau itu orang yang sensitif dan pintar. Tapi sepertinya kau tidak seperti itu. Dia benar tentang dirimu. Dan aku adalah satu-satunya orang yang berharap besar padamu...." Ucap Claudia seraya ingin langsung keluar dari rumah Will dengan marah.


Tapi Will langsung menghadang nya dan berusaha menghentikannya.


"Tunggu, selesaikan bicaramu dulu. Kau tidak bisa pergi dengan cara seperti ini. Aku tidak akan membiarkan mu untuk pergi."


Claudia tersenyum mengejek ke arah Will.


"Seperti inilah... Kau seharusnya melakukan hal seperti ini juga kepada dirinya, sama seperti kamu yang menghentikan aku di sini. Kau juga seharusnya menghentikan dia. Dan tentang aku, Kak Jolie dan Kak Nina, kami semua tidak sama. Kalina juga tidak sama. Tidak seorangpun yang sama. Setiap orang bereaksi berbeda di situasi yang berbeda juga.


Kak Jolie dan Kak Nina sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Iya, mereka sesekali bertengkar dengan pasangan mereka tapi akhirnya berjalan seperti itu saja. Mereka selalu seperti itu dan itulah kenapa mereka bisa bertahan. Kalina berbeda. Dia tidak ingin bertengkar dengan mu. Dia tidak tahan dengan mu yang selalu menjadi boneka dari Megan. Jadi dia memilih berhenti dan dia akhirnya memutuskan untuk pergi. Sementara aku, aku juga ingin meninggalkan hubunganku dengan Adam. Aku juga tidak ingin memperbaiki hubungan kami. Tapi Adam, dia menghentikan aku. Dia menunjukkan siapa prioritas utama nya. Dia membuatku menyadari bahwa aku adalah satu-satunya orang yang dia pedulikan dan gadis itu hanyalah tanggung jawabnya.


Jadi mengenai Kak Jolie dan Kak Nina, mereka memilih mempertahankan hubungan mereka dengan menyesuaikan diri dengan segala situasi dengan adanya Megan diantara mereka. Dan dalam hubunganku, suamiku yang menyelamatkan hubungan kami. Tapi dalam hubungan mu sendiri, bagaimana?


Kenapa kau membiarkan dia pergi? Kenapa kau menyerah?


Kau baru saja menghentikan aku hanya karena aku ingin pergi tanpa menyelesaikan obrolan kita. Lalu kenapa kau membiarkan dia pergi tanpa menyelesaikan dengan baik hubungan kalian." Ujar Claudia panjang lebar.


Will terlihat mulai menangis, dia tiba-tiba menarik Claudia kedalam pelukannya seraya menangis.


Claudia sedikit terkejut, tapi dia tidak protes.


'Sangat sulit untuk menghilangkan keegoisan lelaki ini untuk bisa menjadi tenang.'


Claudia pun membiarkan Will menangis saat memeluk dirinya.


"Aku juga marah. Kami bertengkar hebat malam itu. Aku bukanlah orang yang sabar dan penuh toleran seperti Adam. Aku tidak bisa melawan keegoisan ku sendiri. Dia pergi di hadapan mataku, tapi aku tidak menghentikan dia." Will terus berbicara sambil menangis di pundak Claudia.


Claudia merasa buruk, dia tidak dapat percaya bahwa seorang William bisa menangis seperti ini di hadapan dirinya. Claudia lalu mengangkat tangannya dan mulai mengusap punggung Will dengan lembut.

__ADS_1


"Will, aku rasa kau seharusnya bertemu dengan dia sekali saja." Ucap Claudia.


Will melepaskan pelukan itu, dia masih menangis. Dia sendiri terkejut, bagaimana gadis nakal di hadapannya itu bisa membuatnya lemah dan terlihat cengeng dihadapannya.


"Dia tidak akan setuju. Aku tahu bagaimana kerasnya dia."


"Bagaimana jika aku yang mencoba." Usul Claudia dengan wajah yang tampak ragu-ragu.


Will melihat kearah Claudia beberapa saat kemudian sebelum dia berbicara lagi.


"Kau tidak egois seperti yang orang katakan tentang dirimu. Kau itu sebenarnya menggemaskan. Setidaknya seperti itulah aku melihatmu, sangat menggemaskan." Ucap Will seraya tersenyum kearah Claudia yang terlihat merona malu karena ucapan Will.


Will menyeka rambut Claudia yang menutupi matanya ke belakang telinganya dan kembali tersenyum lagi.


"Terima kasih. Aku akan mematuhi perintah mu, jika kamu bisa membuat semua itu menjadi kenyataan. Jika kau bisa mengembalikan dia ke dalam hidupku, aku akan berhutang nyawa kepadamu." Ucap Will.


"Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak mungkin... Apakah kau bercanda? Kau ingin mempertaruhkan nyawa mu untuk seseorang lagi. Kumohon jangan. Aku tidak mau menjadi Megan yang kedua lagi. Kau tidak perlu berhutang nyawa mu kepadaku. Kumohon." Ucap Claudia dengan ekspresi yang serius.


Detik berikutnya keduanya tertawa terbahak.


Will menundukkan kepalanya 90 derajat ke arah Claudia menunjukkan tanda dia setuju dengan ucapan Claudia. Tapi Claudia sendiri tetap tertawa.


Will lalu berdiri tegak, dan kemudian mencubit pipi Claudia. Kemudian mendekat ke arahnya lalu memegang wajah Claudia dan mencium kening Claudia. Sebuah ciuman seperti seorang kakak kepada adiknya dan ingin melindungi adiknya.


"Aku berjanji, aku akan selalu menjagamu. Bukan karena kau adalah istri dari Adam. Tapi sebagai keluarga ku sendiri. Aku sudah tidak punya keluarga lain. Aku akan menganggap mu sebagai keluargaku mulai sekarang. Aku akan membunuh semua bajingan tu. Adam memang benar, kau adalah hal yang paling berharga." Ucap Will.


Claudia menjadi malu dan tiba-tiba menjadi begitu penasaran.


"Bajingan siapa? Siapa yang akan kau bunuh untuk melindungi aku?" Tanya Claudia pada Will.


Wajah Will langsung terlihat panik. Namun dia langsung berbalik, tidak membiarkan Claudia untuk melihat hal itu.


"Ehhhh..... Mmm... Maksudku orang-orang yang mencoba untuk menyakiti dirimu." Ucap Will menjelaskan dengan panik.


Claudia memutar mata malas.


"Oh ayolah, aku ini menguasai ilmu beladiri. Aku bisa meninju dan menendang orang yang ingin berbuat jahat padaku." Ucap Claudia membuat Will menganggukkan kepalanya tanda mengerti akan apa yang dikatakan Claudia.


Setelah bertemu dengan Will, Claudia meninggalkan rumah Will lalu hendak pulang ke rumahnya dengan menggunakan mobilnya sendiri.


Sebelum pergi, dia sudah berpamitan pada Will dan juga memeluknya.


"Jangan khawatir, kau akan segera bersatu dengannya." Ucap Claudia berbisik di telinga Will.


Will lalu membalas pelukannya dan tersenyum.


"Aku percaya padamu, Nyonya Adam.." Ucap Will yang juga berbisik.


Claudia menundukkan kepalanya karena malu saat Will menyebutkan namanya dengan sebutan Nyonya Adam. Claudia mulai menyukai kapanpun orang-orang memanggilnya dengan sebutan Nyonya Adam.


Will yang lebih tinggi dari Claudia menundukkan kepalanya untuk melihat mata Claudia.


"Aaaaawww.... Nyonya Adam tengah malu. Oh ya Tuhan, biarkan aku mengambil foto dirimu. Aku akan menunjukkannya pada Adam."


Claudia dengan cepat mengambil ponselnya lalu mengambil gambar Claudia yang terlihat malu dan tidak protes sedikitpun.


Claudia sedang berada di jalan kembali ke rumahnya. Dia merasa bernostalgia saat melewati jalanan ini. Dulu, dia sering mengunjungi tempat ini saat ia masih remaja.


Sudah begitu lama Claudia tidak pernah datang ke tempat ini. Mobilnya terus melaju, tiba-tiba dia melihat ke tempat sebuah taman yang ada di sisi jalan saat mobilnya melewati tempat itu.


Sebuah insiden kembali teringat di dalam pikiran Claudia, membuatnya mengingat kembali kejadian di hari itu. Saat itu, dia masih berusia 16 tahun. Dia bertemu dengan seseorang hari itu. Dan tiba-tiba bersamaan dengan waktu itu terjadi sesuatu kepada dirinya beberapa tahun belakangan.


Claudia tengah bermain basket dengan teman-temannya. Semua orang di tempat itu tengah sibuk dengan urusan mereka sendiri. Para orang dewasa berjalan-jalan di sore hari di tengah taman itu. Para orang tua juga tengah bersantai saat membiarkan anak-anak mereka bermain. Para remaja yang baru pulang sekolah seperti Claudia juga bermain di sana. Beberapa remaja bermain basket, ada yang bermain voli dan yang lainnya bermain bulutangkis.


Semuanya begitu damai dan nyaman, sampai mereka semua mendengar suara ledakan yang begitu keras. Suara itu berasal dari suara tembakan senjata api. Kedamaian yang berada di taman itu langsung terganggu dalam sekejap mata. Semuanya menjadi kacau dan bising. Semua orang mulai berlari untuk menyelamatkan hidup mereka, anak-anak mulai terdengar menangis ketakutan. Semua orang bergegas untuk pergi menyelamatkan diri.


Beberapa orang pria menggunakan pakaian serba hitam, memasuki area taman. Terlihat tengah mengejar 3 orang laki-laki. Hal itu menjadi bukti bahwa para laki-laki itu tengah dipukuli dan disiksa. Beberapa bekas pukulan dan juga lebam begitu banyak di tubuh mereka. Bahkan luka di tubuh mereka terlihat mengeluarkan darah.


Teman kelas Claudia segera menariknya pergi bersama dengan mereka.


"Hei Di, apa yang kau lihat? Kemari lah cepat, dan ayo lari. Para mafia itu ada disini." Ucap mereka.

__ADS_1


Claudia keluar dari lamunan nya dan mulai berlari di belakang mereka, mengikuti kemana teman-temannya pergi.


Tiba-tiba dia melihat seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam keluar dari dalam sebuah mobil mewah. Mata pria itu ditutupi oleh kacamata hitam, dia juga mengenakan masker yang juga berwarna hitam. Dia terlihat begitu mewah dan berkelas. Tapi anehnya, pria itu bukannya berlari keluar dari dalam taman itu seperti orang lainnya. Pria itu malah masuk ke dalam taman dengan langkah yang begitu cepat, membuat Claudia begitu terkejut.


Claudia berteriak penuh frustrasi karena terkejut. Dia kemudian berlari mendekat kearah pria itu meninggalkan teman-temannya. Tepat saat pria itu hendak masuk kedalam arena taman, Claudia memegang pakaian pria itu dari belakang lalu menarik pria itu mendekat kearahnya.


Claudia dapat merasakan bahwa pria itu jauh lebih kuat dari dirinya. Tapi Claudia terlalu terkejut untuk bereaksi, hingga dia dapat menarik pria itu dengan mudah.


Claudia mulai menarik pria itu masuk ke dalam sebuah toko yang sebenarnya tertutup. Namun Claudia mendobrak pintu itu dengan keras dan berhasil masuk.


Saat akhirnya dia bisa masuk ke dalam toko yang sebenarnya sudah tutup itu, Claudia akhirnya bisa menghela napas lega. Tanpa ia sadari, dia tengah dilihat dengan tajam oleh pria yang ditarik nya sejak tadi itu.


"Beraninya kau. Apakah kau tahu siapa aku?" Ucap pria itu dengan suara yang terdengar begitu dingin.


Claudia bahkan tidak kaget sedikitpun sebelum akhirnya berbalik menatap pria itu dan melihatnya dengan tajam lalu melipat tangan di dadanya.


"Aku tidak tahu kau siapa Tuan. Tapi yang aku tahu bahwa kau itu orang bodoh. Begitu naif nya dirimu ini. Tidak kah kau melihat bahwa taman sedang diserang oleh beberapa orang mafia. Kami orang-orang waras ini berlari untuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman untuk menyelamatkan hidup kami. Dan kau ada di sana mencoba untuk berjalan masuk ke dalam tempat berbahaya itu sendirian." Teriak Claudia pada pria itu.


Pria itu tidak berkata apa-apa, hanya membuka masker yang dikenakannya. Wajahnya pun terlihat.


Claudia tetap menatap pria itu dengan berani. Pria itu terlihat tampan, tinggi dan mempesona.


"Sekarang kau tahu siapa aku. Aku rasa sekarang kau tidak mau menyelamatkan hidupku seperti seorang pahlawan." Ucap pria itu berteriak pada Claudia membuat Claudia bingung, kenapa dia tidak boleh menyelamatkan pria itu.


Dengan bingung Claudia membalas, "tidak, aku masih tidak tahu siapa kau. Apakah aku harus tahu siapa dirimu? Apakah kau itu seorang bintang film, penyanyi atau artis papan atas?" Ucap Claudia.


Pria itu hanya memandang Claudia dengan tatapan tidak percaya.


"Serius? Apa kau memang benar-benar tidak mengetahui siapa aku, atau hanya berpura-pura. Ngomong-ngomong berapa usiamu?"


"Aaaahh... Kenapa aku harus berbohong, aku serius. Aku tidak tahu siapa kamu, percaya padaku. Aku minta maaf karena sudah menyakiti keegoisan dan rasa percaya dirimu itu. Seharusnya kau tidak bertemu dengan seseorang yang tidak tahu siapa kau sebenarnya bukan?" Ucap Claudia bercanda.


"Kau mengaku tidak tahu siapa aku. Tapi kau tetap menyelamatkan aku. Bagaimana jika aku seorang kriminal?" Tanya pria itu.


"Aku tidak perduli siapapun kau, tapi aku akan tetap menyelamatkanmu untuk tidak mati di tangan para mafia itu. Jadi, diam lah dan jangan panik. Aku ada di sini bersamamu. Aku bisa ilmu bela diri dan juga kick boxing, oke. Jangan khawatir." Ucap Claudia dengan bangga.


Claudia lalu pergi untuk melihat bagaimana situasi di luar melewati celah kecil dengan melirik perlahan untuk tidak dilihat oleh para mafia itu. Claudia tidak menyadari bahwa pria yang yang seharusnya tetap diam setelah marah-marah itu sebenarnya tengah menatap dirinya. Claudia menjadi terkejut ketika merasakan sebuah tepukan di pundaknya.


Claudia merasa ketakutan oleh pria itu sendiri karena berpikir bahwa orang yang memegang pundaknya adalah para mafia itu.


Pria itu memegang pundak Claudia dengan erat. Claudia yang berdiri diatas sebuah bangku pendek itu tidak dapat menyeimbangkan dirinya saat hendak berbalik. Dia pun membuat pria itu terjatuh ke lantai dan dirinya berada di atas pria itu. Dengan punggungnya yang berada di dada pria itu. Sebenarnya Claudia jatuh menimpa pria itu.


Pinggang Claudia berada di kedua lengan pria itu, saat Claudia mencoba untuk bangun, tapi tidak bisa.


"Tunggu dulu, tunggu dulu. Kau harus berbalik untuk bisa berdiri. Kau tidak bisa berdiri dengan posisi yang seperti ini ucap pria itu dengan dingin.


Claudia hendak mengatakan sesuatu tentang situasi itu saat pintu didobrak dengan suara yang begitu keras.


"Hei, buka pintu ini? Siapa yang ada di dalam? Apakah mereka bersembunyi di sini?"


Seorang pria berbicara sebelum memaksa masuk kedalam toko itu, sama seperti yang telah Claudia lakukan beberapa saat yang lalu.


Claudia menutup matanya berpikir bahwa dia akan segera tertangkap oleh para mafia itu dan kemudian dibunuh oleh mereka.


Tapi saat membuka matanya, Claudia menemukan dirinya berada di bawah pria itu di bawah sebuah rak pakaian. Suasananya begitu gelap di sana. Para pria yang mencari dan berusaha menemukan seseorang yang tidak di ketahui oleh Claudia sendiri. Sementara Claudia mencoba untuk menebak, bagaimana mereka bisa sampai di sini.


Akhirnya setelah beberapa menit berpikir Claudia pun menyadari bahwa pria itu pasti sudah bergerak dengan cepat sesuai dengan insting nya. Ya mungkin saja menggelindingkan tubuh mereka di antara tempat itu tanpa berdiri dan menghindari membuat suara bising dari langkah kaki mereka.


'Hmmmmmm sangat pintar.' Pikir claudia.


Lalu kemudian Claudia menyadari bahwa bagaimana posisi mereka yang saat ini. Claudia terus menatap pria itu.


'Apa aku berada di dalam sebuah drama sinetron? Hal ini terjadi kepadaku, sama seperti adegan yang ada di drama atau film. Apakah pria ini adalah pahlawanku atau suami masa depanku. Biasanya hal seperti inilah yang terjadi di setiap adegan drama. Lalu apakah dia akan mencium ku setelah itu? Aaaarggh, ciuman pertamaku, aku sangat gugup.'


Claudia terus berpikir hal-hal yang aneh di dalam kepalanya tanpa menyadari hal yang lebih besar dihadapannya.


Pria itu mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan menelpon seseorang.


"Keluar dari dalam toko ini dengan cepat. Aku ada di dalam sini dan bersihkan semua kejadian lainnya. Aku harus membawa seseorang dengan aman ke dalam mobil. Dia bersamaku dan yah para bajingan itu berlari ke arah utara ikuti mereka ke arah sana." Ucap pria itu lalu memutuskan panggilan telpon.


Para pria yang tadinya masuk untuk memeriksa kedalam tokoh itu, sekarang sudah keluar dengan cepat dan pergi jauh dari toko.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2