90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Anak Adopsi (Bab 77)


__ADS_3

Semuanya berjalan lancar, kehidupanku semakin diliputi kebahagiaan. Aku lebih sering mengunjungi Merry untuk sekedar menimang bayinya yang diberi nama Naomi. Tak ada lagi kabar tentang Arnold maupun Viona. Keduanya seolah bak ditelan bumi.


Hari ini, aku memilih bermalas-malasan di rumah, karena memang hari minggu. Sementara Andreas sendiri pagi ini sudah keluar rumah entah kemana. Satu minggu terakhir ini, Andreas memang tampak sangat sibuk. Ia bahkan sering telat pulang ke rumah.


Jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi saat suara deru mobil terdengar dari halaman depan rumah.


"Sepertinya Andreas sudah pulang."


Aku beranjak menuju ruang tamu dan langkahku seketika terhenti saat melihat Andreas membawa sebuah basket bed bayi.


'Apa ada bayi disana?' pikirku.


Andreas mendekat dengan senyuman merekah di bibirnya. Perlahan ia meletakkan basket bed itu ke atas meja, lalu menunduk dan mengeluarkan bayi mungil dengan selimut berwarna pink.


Aku sontak mendekat dan memandang bayi itu. Bibir dan pipinya memerah, begitu mungil. Aku memandang penuh tanya ke arah Andreas. Tanpa bicara atau menjelaskan apa-apa, Andreas langsung menyerahkan bayi itu padaku.


"Ini anak kita. Rawatlah dia dengan baik." Ucap Andreas.


Dengan bayi di dalam gendonganku, aku masih diam seribu bahasa. Tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Andreas memegang kedua pundak ku dan membawaku duduk ke sofa. Barulah setelah itu aku bisa mengeluarkan suaraku.


"Apa maksudnya ini? Siapa orang tua anak ini?" Tanyaku bingung.


"Ini anak kita. Jadi kita berdua lah orang tuanya sayang." Balas Andreas santai.


"Andreaass..." Ucapku sedikit berteriak membuat bayi mungil itu kaget dan terbangun lalu menangis dengan kencang.


Aku jadi panik, dan tak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan tangisnya. Untung saja Andreas langsung memberikan bayi itu susu dalam botol dot yang ia ambil dari tas perlengkapan bayi dengan gambar sebuah karakter animasi. Bayi itu langsung terdiam dan fokus meminum susu.


"Aku mengadopsi bayi ini untuk jadi anak kita." Ujar Andreas.


Aku terpaku menatap bayi itu yang fokus menyusu. Wajahnya yang cantik dan begitu mungil membuatku semakin jatuh hati.

__ADS_1


"Siapa dan dimana orang tua kandungnya?" Tanyaku.


Hatiku sedikit terluka saat mengajukan pertanyaan itu. Karena bagaimanapun, anak itu bukanlah anak kandungku. Dia tetaplah anak milik orang lain.


"Ibunya merupakan kerabat dari seorang OB yang bekerja di kantor. Dia sudah memiliki banyak anak. Karena ekonomi yang tidak memungkinkan membuatnya menyerahkan bayi ini padaku." Jawab Andreas.


Di satu sisi ada banyak pasangan yang menanti kehadiran seorang anak dalam rumah tangga mereka. Tapi disisi lain, ada orang yang dengan mudah menyerahkan begitu saja anaknya kepada orang lain dengan alasan ekonomi yang tidak memadai. Bahkan yang lebih parah, ada saja manusia yang membuang darah dagingnya sendiri karena hasil hubungan terlarang.


Ah, bagaimanapun juga semuanya sudah takdir yang diberikan Tuhan. Seperti yang terjadi padaku. Aku ditakdirkan untuk tidak bisa mengandung, tapi kini diberikan kesempatan untuk merawat seorang anak yang diadopsi suamiku.


"Terima kasih sayang." Ucapku pada Andreas.


"Mari rawat dia dengan baik. Dan, aku ingin menamainya Claudia. Bagaimana menurutmu?" Tanya Andreas.


"Claudia Arista Setyawan." Ucapku yang membuat Andreas mengangguk.


"Nama yang indah." Balas Andreas.


Aku pun mulai merawat bayi perempuan ini dengan penuh cinta. Sesekali aku juga membawanya berkunjung ke rumah Merry yang juga memiliki bayi laki-laki. Aku belajar banyak dari Merry bagaimana cara merawat bayi. Meski perasaanku begitu bahagia, tapi aku juga sempat ingin menyerah dan meminta suami agar ada nanny karena begitu kerepotan seorang diri merawat Claudia.


Hingga 5 tahun berlalu....


Pagi hari sebelum mandi, kami berjemur bersama lalu memberinya susu, dan dilanjutkan mandi. Setelah itu kami bermain bersama dan dia tidur kurang lebih 1 jam. Saat Claudia tidur, aku menyiapkan makan siang atau membersihkan rumah, setelah bangun dilanjutkan snack time dan makan siang. Sebelum tidur siang kami akan bermain atau membaca buku cerita. Sore hari tentu mandi dan berkumpul dengan Papa nya. Malam hari terkadang dia makan malam atau hanya minum susu saja. Sebelum tidur Claudia gosok gigi, ganti baju dan dilanjutkan main di kamar hingga dia tertidur.


Begitulah rutinitas kami di rumah. Andreas bekerja, aku mengurus Claudia dan rumah. Aku meninggalkan pekerjaanku di kantor demi mengurus Claudia. Aku masih memantau semua pekerjaan dari rumah, selain itu semuanya diurus oleh Andreas.


Ketika Claudia sudah tertidur, aku dan suami akan me time. Ini menjadi momen penting untuk me-recharge energi yang sudah terkuras untuk beraktivitas seharian. Kami akan mengutarakan hal-hal yang dirasa memberatkan dan merencanakan hal yang akan kami lakukan ke depan terutama tentang parenting. Sangat menyenangkan menjadi keluarga lengkap setelah kehadiran Claudia. Dengan saling mendukung menjadi kunci kami untuk bahagia.


Beberapa bulan terakhir, aku melihat perubahan pada Andreas. Dia jadi lebih sering pulang larut malam, atau tiba-tiba keluar rumah di hari libur. Tapi, aku masih bisa berpikir positif, 'mungkin saja pekerjaannya semakin banyak.'


Malam ini kami berbaring berdua dikamar, sementara Claudia kini sudah memiliki kamarnya sendiri. Claudia tumbuh menjadi anak yang cantik dan pintar. Aku semakin bangga padanya. Namun satu hal yang menjadi pertanyaan di benakku. Semakin besar, wajah Claudia semakin menunjukkan kemiripan dengan Andreas.

__ADS_1


'Apa mungkin dia adalah anak Andreas?'


Selama ini, aku sering menanyakan pada Andreas dimana Ibu dari Claudia. Tapi Andreas selalu mengatakan bahwa Ibu nya sudah pindah ke provinsi lain. Kali ini aku akan bertanya kembali. Dan ku harap Andreas mau bicara jujur.


"Sayang..." Ucapku dengan kepala yang berbaring di dada Andreas.


"Hmmm...." Balas Andreas.


"Apa aku boleh bertanya?" Tanyaku.


"Tentu saja." Balas Andreas singkat.


"Siapa sebenarnya ibu dari Claudia?" Tanyaku.


Andreas terdengar menghembuskan nafas berat.


"Harus berapa kali aku katakan bahwa Ibu nya adalah..."


"Aku tahu. Kau sudah sering menjelaskannya. Tapi, apa kau bisa menjawab kenapa wajah Claudia bisa mirip denganmu?"


Andreas langsung bangun, dan menuju kamar mandi.


'Ada apa dengannya?' pikirku.


Aku duduk di tepi tempat tidur dan menunggu Andreas keluar dari kamar mandi.


Tak lama Andreas keluar, tanpa menghiraukan aku dia langsung berbaring di tempat tidur dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


"Andreas... Jawab aku." Ucapku menarik selimutnya.


"Sayang, kita bicarakan ini lain kali saja ya. Aku lelah." Ucap Andreas kemudian kembali menarik selimut hingga menutupi kepalanya.

__ADS_1


Aku terdiam, tak ada yang bisa ku lakukan sekarang. Biarlah Andreas tidur karena mungkin dia memang kelelahan. Tapi, aku tidak akan menyerah hingga menemukan jawaban yang sebenarnya.


Bersambung....


__ADS_2