90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Rumah Impian (Bab 51)


__ADS_3

Rumah merupakan tempat tinggal wajib bagi setiap manusia, dimana waktu yang di habiskan setiap orang terbanyak yaitu di rumah bersama keluarga tercinta. Rumah juga sebagai tempat kita berlindung dari gangguan-gangguan yang mengancam kita seperti hujan, panas, ancaman dari binatang buas, ancaman dari para penjahat.


Setiap orang mempunyai mimpi menginginkan rumah impian, begitu juga denganku.


"Apa kau masih ingat hari dimana kau mengatakan padaku bagaimana rumah impianmu?" Tanya Andreas.


Sesaat aku berpikir dan mulai mengingat hari itu. Kala Andreas membawaku ke taman bermain dan kami berdua masuk ke ruangan tempat pajangan replika sebuah kerajaan dengan rumah penduduk lainnya.


Aku mengatakan pada Andreas bahwa rumah impian ku adalah dimana rumah yang terletak di daerah yang sejuk, penuh dengan pemandangan alam dan di halaman depan yang luas ada sebuah air mancur buatan dimana terdapat pula kolam ikan disana.


Dan hari ini, Andreas membawaku ke sebuah rumah yang persis seperti yang aku impikan.


"Rumah siapa ini?" Tanyaku.


"Rumahku, dan akan menjadi rumah kita." Jawab Andreas.


Rumah ini minimalis namun berdesain modern, dilihat dari tampak depan rumah ini terlihat sangat kokoh dan mewah. Pintu depan yang besar dan berdesain modern saat ini, tidak terlalu banyak jendela yang di tampilkan namun rumah ini dominan dengan kaca-kaca yang bening.


Andreas menggandeng tanganku masuk ke dalam rumah. Aku begitu takjub dengan setiap detail yang ada. Ketika aku memasuki rumah, aku di sambut dengan ruangan yang luas, tampak terlihat kursi yang bergaya eropa, lantai yang terbuat dari marmer, terdapat juga vas bunga yang besar dan dinding-dindingnya di hiasi dengan hiasan dinding, jam dinding klasik dan berbagai pigura.


"Hei... Selamat datang." Sosok Angelica menghambur di pelukanku. "Ayo cepat kemari. Aku akan menunjukkan semua ruangan di rumah impianmu ini." Lanjut Angelica menggandeng tanganku.


"Pelan-pelan. Jangan sampai calon isteriku terluka." Teriak Andreas saat Angelica menarik tanganku untuk berjalan cepat.


"Tenang saja." Teriak Angelica.


Angelica membawaku ke ruang keluarga dimana terdapat sebuah sofa untuk menonton tv dan berkumpul bersama keluarga. Di sudut ruangan terdapat sebuah lemari dimana berisi koleksi benda-benda antik, disudut lainnya tampak terlihat sebuah tangga yang bergaya modern tangga dengan susunan balok segiempat dari kayu olahan. Aku mendongak melihat ke atas, terlihat susunan lampu-lampu yang indah seperti lampu-lampu yang ada di hotel berbintang 5.


'Pasti rumah ini terlihat mewah dimalam hari.' pikirku.


"Apa kau suka kakak ipar Velicia?" Ucap Angelica dengan nada menggoda.


Aku hanya tersenyum membalas ucapan menggodanya itu.


"Ini belum seberapa. Ayo lihat ke samping rumah." Ajak Angelica kembali menarik tanganku.


Dari ruang keluarga Angelica membawaku ke samping rumah. Terdapat sebuah kolam renang yang luas dilengkapi dengan tempat untuk bersantai yang terbuat dari kayu pilihan namun berdesain modern.


Angelica mengajakku duduk di pinggir kolam. Sambil memainkan air dengan kaki, kami mulai mengobrol ringan.


"Terima kasih ya, karena sudah membuat Kak Andreas bisa tersenyum lagi." Ucap Angelica serius. "Sejak kau bersedia menjalin hubungan dan bahkan menerima lamarannya, Kak Andreas menjadi lebih ceria. Berbeda dengan 3 tahun belakangan." Lanjut Angelica.


"Apa kau tak keberatan atas hubunganku dengan Andreas?" Tanyaku.


"Kenapa aku harus keberatan? Selama Kak Andreas bahagia, aku juga ikut bahagia." Jawab Angelica.


"Hubunganmu dan Arnold tampak baik, sama baiknya saat bersama Andreas. Apa kau tidak...."


"Sebagai adik, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kedua kakakku. Kak Arnold memang baik padaku dan juga sayang padaku. Aku juga tidak membeda-bedakan dia dengan Kak Andreas. Hanya saja mungkin karena aku lebih sering bersama Kak Andreas, jadi aku tahu betul bagaimana Kak Andreas. Sebenarnya dengan siapapun kau menikah, baik itu Kak Andreas maupun Arnold aku akan setuju-setuju saja. Tapi, aku juga tahu bagaimana selama ini Kak Arnold memperlakukanmu. Aku pikir dia bisa berubah untuk meninggalkan si Viona dan mencintai kamu. Tapi nyatanya dia selalu menyakitimu. Hingga aku lebih memilih kau bersama dengan Kak Andreas. Bagaimanapun Kak Andreas sangat mencintaimu sejak dulu." Ujar Angelica panjang lebar.


"Kalau boleh aku tahu. Sejak kapan kalian tinggal di rumah ini?" Tanyaku lagi.


"Kak Andreas sudah merancang rumah ini sejak ia masih berada di luar negeri. Dia mengatakan pada Mama bahwa rumah ini akan menjadi kado pernikahannya untuk wanita yang ia cintai. Dan kami tidak pernah tahu bahwa wanita itu adalah dirimu. Namun, sejak ia kembali dari luar negeri dan kau malah menikah dengan Kak Arnold aku baru tahu bahwa kau adalah wanita yang dicintainya. Kak Andreas hanya mengatakannya padaku. Dan rumah ini sudah rampung saat ia kembali dari luar negeri. Tapi, dia kembali lagi dan bilang padaku untuk menenangkan diri." Jawab Angelica.


Aku terdiam, begitu dalam cinta yang Andreas tujukan padaku. Namun, dulu Tuhan belum mengizinkan kami untuk bersama. Tapi kali ini, apapun yang terjadi aku harus bisa bersatu dengan Andreas.


"Apa kau mau melihat-lihat lagi?" Tanya Angelica.


"Lebih baik kau ceritakan saja padaku tentang rumah ini." Balasku.


"Baiklah. Di rumah ini terdapat 4 kamar tidur. Dimana 2 kamar tidur terletak di lantai dasar dan 2 lainnya terletak dilantai atas. Untuk 2 kamar dilantai dasar itu kamar untuk tamu dan satunya kamar Kak Andreas. Katanya biar nanti kalau kamu hamil, gak akan susah kalau harus naik turun jika kamar kamu ada di lantai atas. Untuk kamar dilantai atas itu katanya untuk kamar anak-anak Kak Andreas kelak. Setiap kamar juga dilengkapi dengan kamar mandi yang didalamnya terdapat wastafel. Selain kamar tidur dilantai atas juga terdapat suatu ruangan untuk berkumpul keluar, dan terdapat pula teras untuk bersantai dan menikmati pemandangan." Ujar Angelica.

__ADS_1


'Anak!'


Hal itulah yang tak bisa aku penuhi nantinya sebagai isteri dari Andreas. Tapi, dia sudah tahu semuanya. Jadi aku tidak perlu memusingkan hal itu lagi. Tujuan kami menikah juga bukan karena harus memiliki keturunan. Semuanya semata karena kami saling mencintai dan ingin hidup bersama hingga menua bersama-sama.


"Hei, kenapa melamun?" Tanya Angelica.


Aku hanya menggeleng pelan. Lalu, Andreas datang dengan membawa nampan berisi tiga buah gelas berisi jus stroberi, jus jambu, dan jus alpukat.


"Ayo diminum." Ucap Andreas seraya ikut duduk di sampingku.


Aku memilih jus jambu, sementara Angelica memilih jus stroberi dan sisanya diambil Andreas.


"Segar sekali. Siapa yang buat?" Tanyaku.


"Kak Andreas." Jawab Angelica.


Aku menatap Andreas tidak percaya.


"Kenapa? Tidak percaya?" Tanya Andreas.


"Bukan hanya pandai membuat jus dan minuman yang lainnya. Kak Andreas juga jago masak." Puji Angelica.


"Oh ya!" Seruku. "Berarti aku tidak harus memusingkan untuk memasak kalau sudah menikah nanti." Ucapku.


"Tentu saja. Kau hanya perlu duduk manis dan selalu mencintaiku." Balas Andreas.


"Huuu gombal." Sorak Angelica.


Kami bertiga tertawa kemudian melanjutkan obrolan kami.


"Oh ya, aku lanjut lagi ya tentang rumah ini." Ucap Angelica. "Di sudut pojok lantai atas terdapat suatu ruangan yang khusus untuk Kak Andreas bekerja dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya. Aku tak pernah diizinkan masuk ke dalam ruangan itu. Entah kenapa, aku juga tidak tahu." Ujar Angelica. "Kembali ke lantai dasar. Di sudut dekat ruang keluarga ada ruang dapur, dimana terdapat meja makan dengan kursi.


Di halaman belakang juga terdapat sebuah halaman yang luas. Dimana ketika memandang kesamping kiri terdapat tanaman-tanaman hias yang indah, memandang kesamping kanan terdapat kolam kecil untuk ikan yang juga dilengkapi dengan pancuran air. Selanjutnya di tengah-tengah halaman tersusun balok-balok batu berbentuk bulat seperti kayu sebagai jalan untuk menuju tempat duduk yang terbuat dari kayu olahan sebagai tempat bersantai." Ucap Angelica menjelaskan dengan sangat teliti.


"Sangat." Balasku.


"Oh ya, kalau kalian sudah menikah nanti. Aku masih boleh tinggal di rumah ini kan?" Tanya Angelica.


"Tentu saja.."


"Tidak."


Aku dan Andreas menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda.


"Aaa kenapa Kak Andreas tidak setuju? Kak Velicia saja setuju aku tinggal disini." Protes Angelica.


"Kau akan menjadi pengganggu." Balas Andreas.


"Aku janji tidak akan mengganggu." Rengek Angelica.


"Tidak..." Andreas tetap pada pendiriannya.


"Biarkan saja dia tinggal bersama kita. Lagipula aku kan bisa ada teman ngobrol kalau ada dia jika nantinya kamu harus keluar kota untuk pekerjaan." Ucapku.


"Yeeaaayy.... Aku mencintaimu Kak Velicia." Ucap Angelica girang seraya memelukku dengan erat.


"Sudah-sudah. Cepat lepaskan kakak ipar mu. Dia bisa sesak nafas karena pelukanmu." Ucap Andreas.


Angelica tampak terpaksa melepaskan pelukannya padaku. Aku hanya bisa tertawa melihat ekspresinya.


"Kenapa cemberut. Oh ya bukannya hari ini kamu ada jadwal bertemu dengan dosen mu?" Tanya Andreas.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Kenapa aku bisa lupa." Ucap Angelica seraya menepuk jidatnya. "Aku berangkat sekarang ya Kak. Sampai jumpa kakak ipar." Teriak Angelica berlarian masuk ke dalam rumah.


"Selalu saja begitu." Ucap Andreas.


Aku hanya menggeleng. Jujur saja, melihat kedekatan antara kedua kakak beradik ini membuatku merasa sedikit iri. Andai saja aku punya kakak ataupun adik yang selalu ada bersamaku. Mungkin aku tidak akan terlalu kesepian.


Aku memang memiliki Jack sebagai kakak. Tapi, dia tidaj bisa selalu berada bersamaku. Dia juga punya kehidupannya sendiri. Keluarganya sendiri. Meski begitu, aku yakin Jack selalu menyayangiku seperti adik kandungnya sendiri.


"Akhir-akhir ini kau selalu saja melamun. Kau begitu berbeda dengan gadis kecil yang aku kenal dulu. Sebenarnya ada hal apa lagi yang mengganjal di hatimu?" Tanya Andreas.


"Tidak ada. Memangnya apa yang terlihat berbeda dariku?" Balasku balik bertanya.


"Maaf jika kata-kataku membuatmu tersinggung. Dulu kau adalah gadis kecil yang begitu kuat. Kau begitu percaya diri dan yang paling utama adalah kau bukan gadis yang lemah. Namun, sekarang aku melihatmu menjadi gadis yang mudah putus asa. Kau begitu lemah dan...."


"Aku tahu." Ucapku menyela perkataan Andreas. "Sejak aku mengetahui diriku mengidap kanker, aku memang menjadi manusia yang lemah. Apalagi Tuhan memberiku ujian yang begitu bertubi-tubi. Tapi, aku akhirnya menyadari bahwa aku harus bangkit dan menjadi diriku sendiri seperti yang dulu. Aku harus kuat dan percaya diri. Aku harus menerima takdir yang Tuhan berikan padaku. Dan Tuhan pun memberiku kebahagiaan dengan menghadirkan dirimu. Terima kasih ya, sudah menerima aku apa adanya." Ucapku dengan memandang Andreas dengan lekat.


"Karena aku mencintaimu." Ucap Andreas seraya mencium punggung tanganku. "Sekarang, ayo ikut aku. Aku punya sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu." Lanjut Andreas.


Aku berjalan beriringan mengikuti langkah Andreas. Tangannya menggenggam tanganku begitu erat saat kami melangkah menuju lantai atas. Seolah ia tak akan membiarkanku jatuh.


Mataku menatap setiap ruangan yang aku lewati. Persis seperti yang dikatakan Angelica. Gadis itu benar-benar memberitahuku setiap detailnya. Dan ternyata Andreas membawaku ke sebuah ruangan yang dikatakan Angelica sebagai ruang kerja Andreas sekaligus ruangan misterius.


"Bukankah kau tidak mengizinkan siapapun untuk masuk selain dirimu?" Tanyaku.


"Kau termasuk pengecualian." Balas Andreas tersenyum. "Ayo masuk." Lanjutnya setelah membuka pintu.


Ruangannya begitu gelap. Tak ada sedikitpun cahaya yang masuk. Kemudian semuanya nampak jelas saat Andreas menghidupkan lampu. Mataku membulat sempurna saat melihat seisi ruangan. Tanganku menutup mulutku yang menganga. Perlahan aku berjalan mendekat ke arah dinding, dimana terdapat berbagai macam ukuran pigura yang menempel di dinding.


Semua dinding dipenuhi dengan pigura diriku. Dan di setiap bawah gambar diriku terdapat tulisan tanggal pengambilan gambar. Ada begitu banyak gambar diriku yang diambil secara acak.


Aku terfokus pada gambar diriku yang tengah duduk di pinggir pantai seorang diri dengan menatap lautan luas. Tertulis tanggal dimana aku mengetahui bahwa diriku terkena kanker. Dan masih banyak gambar lainnya ya g terpampang. Bahkan gambar beberapa tahun sebelum aku memutuskan menikah dengan Arnold pun ada menempel di dinding.


Air mataku luruh. Aku begitu terharu melihat semua ini. Sedalam apa cinta pria yang bersamaku saat ini?


Sepertinya Andreas menyadari aku tengah menangis, meski aku membelakangi dirinya. Andreas mendekat dan memelukku dari belakang.


"Kenapa menangis?" Tanya Andreas seraya menempatkan dagunya di pundak ku.


"Aku hanya terharu dan bahagia. Bagaimana bisa semua gambar ini bisa kau dapatkan? Sementara kau selalu berada di luar negeri." Tanyaku.


"Aku memang kehilangan kontak dengan keluargaku terutama Papa. Tapi, aku selalu meminta seorang teman untuk memantau keadaanmu. Aku sama sekali tak pernah berpikir kau akan menikahi Arnold karena tak pernah ada kabar kedekatan antara kalian berdua." Jawab Andreas.


Memang benar, aku memang tak pernah bertemu dengan Arnold sebelumnya. Pernikahan kami memang aku yang memutuskan saat Tuan Besar Setyawan membawakan foto yang ku pikir adalah Andreas hingga aku langsung setuju untuk menikah.


Arnold memang pernah bertemu sekali denganku sebelum pernikahan. Yaitu, saat dia melamar ku di pinggir pantai. Dan hari itu merupakan hari yang paling penting dan membahagiakan dalam hidupku. Karena aku memang berpikir bahwa Arnold adalah Andreas.


'Ah, untuk apalagi aku mengingatnya.'


"Gadis kecil. Ku harap kau tidak akan terharu dengan kado yang diberikan Arnold padamu saat dimalam pesta ulang tahunmu itu. Karena aku mempunyai lebih banyak gambar dirimu dibanding dengannya. Dan gambar yang aku punya pun lebih detail karena memiliki tanggal pengambilan dan bahkan banyak dan juga pengambilannya sudah sejak beberapa tahun yang lalu." Ucap Andreas seraya memelukku semakin erat.


'Oh ternyata dia cemburu dengan apa yang diberikan Arnold padaku.'


"Jika suatu saat Arnold mau memberikan seluruh yang dia punya padaku. Apa yang akan kau berikan padaku?" Tanyaku mencoba menggodanya seraya mengelus pipinya dengan lembut.


Andreas sontak memutar tubuhku dan memegang daguku untuk menatapnya.


"Aku bisa memberikanmu nyawa...."


Aku langsung membungkam mulutnya dengan mencium bibirnya. Untuk pertama kalinya aku bertindak agresif pada Andreas. Semoga dia tidak menganggap aku over.


"Jangan katakan lagi. Aku percaya padamu." Ucapku.

__ADS_1


"Aku mencintaimu." Balas Andreas seraya membalas mencium ku.


Bersambung.....


__ADS_2