
Kecewa...
Kata itulah yang tengah aku rasakan sekarang. Aku kecewa sekali. Ternyata Andreas sejak awal sudah tahu pikiran ku terhadap dirinya yang selalu ada di dalam ingatan ku ini. Tapi, dia terus saja menjaga jarak dan bersikap gentleman kepada aku, mantan adik iparnya ini.
Perasaan ku ini memang tidak masuk akal dan sangat konyol.
Bisa-bisanya aku mencintai orang yang salah. Dan orang yang aku cintai selama ini juga mengetahui semuanya. Dia tahu bahwa aku menyukai dirinya sejak lama.
Tapi, dia tak melakukan apapun saat aku memutuskan untuk menikah dengan adiknya. Apa mungkin karena aku hanya memendam perasaan ini seorang diri, sementara Dia sedikitpun tak memiliki perasaan padaku.
'Ah, benar-benar memalukan.'
Sudahlah. Lebih baik sekarang aku mandi dan berganti pakaian. Tubuhku begitu lengket karena aktifitas di siang tadi.
Setelah membersihkan diri, aku menuju dapur untuk memasak menu makan malam. Aku membuat sup ikan. Teringat akan apa yang Arnold katakan, bahwa sup ikan yang aku buat selama ini tidak enak.
Aku mulai mencari resep sup ikan yang enak di ponsel. Kemudian mulai memasak selama kurang lebih 30 menit. Baru saja hendak menikmati sup ikan dengan resep baru, ponselku berdering. Menampilkan nomor tak dikenal.
"Siapa lagi ini?" Ucapku kemudian menggeser tombol warna hijau.
"Halo, dengan Nona Velicia?" Ucap seorang lelaki dengan suara yang berat.
"Iya benar saya sendiri. Ada apa ya? Ini dengan siapa?" Tanyaku.
"Kami dari pihak kepolisian. Kami minta Nona Velicia untuk segera datang kemari. Karena....."
"Baik. Sebentar lagi saya kesana Pak." Ucapku menyela ucapan pria yang menyebut dirinya sebagai polisi itu.
Sebenarnya ada apa lagi? Baru saja aku membebaskan Angelica dari kantor polisi. Kenapa sekarang malah harus kembali lagi kesana.
Aku memutuskan kembali ke kantor polisi setelah mengganti pakaian. Aku tak melanjutkan makan ku karena sudah tak berselera. Entah apa yang akan aku hadapi di kantor polisi nanti. Semoga bukan masalah yang serius. Aku bosan seharian ini terus-terusan menghadapi masalah yang tak ada habisnya.
Tiba di kantor polisi, aku dikagetkan karena mendengar suara tangisan seorang wanita di ruangan interogasi.
"Ada apa ini Pak?" Tanyaku.
"Anda di tuduh telah melakukan tindak penganiayaan terhadap Nona Viona di rumah anda sendiri. Menurut keterangan yang diberikan Nona Viona, anda memukul wajah dan kepalanya karena sakit hati. Disebabkan oleh Nona Viona yang meminta agar anda menjauhi seorang pria bernama Arnold yang merupakan calon suami dari Nona Viona." Ujar seorang polisi.
"Oh begitu!" Seruku.
Aku tak habis pikir, apalagi yang ingin dilakukan wanita berbisa itu. Kenapa tak ada habis-habisnya ia mengganggu ketenangan ku.
"Dimana wanita itu sekarang Pak?" Tanyaku.
"Nona Viona sedang berada di ruangan sebelah."
"Apa saya boleh menemui Viona Pak. Sepertinya semua ini ada kesalahpahaman yang terjadi. Saya ingin menyelesaikannya secara kekeluargaan." Ucapku.
__ADS_1
Polisi tersebut mengiyakan ucapan ku. Aku bergegas menemui Viona. Ku dapati ia duduk seorang diri dengan rambut yang berantakan dan mata yang sembab karena menangis.
"Hai Viona." Sapa ku.
"Apa yang mau kau lakukan lagi padaku? Pergi sana." teriak Viona.
'Cih, dasar ratu drama.' ucapku dalam hati.
Arnold tiba-tiba hadir di dalam ruangan itu. Ia tampak memandangi Viona dan aku secara bergantian. Ku pikir ia akan mendekati Viona. Namun, ia malah mendekati aku.
"Apa kau kemari untuk membela Viona lagi?" Ucapku menyindirnya.
Arnold menatapku dengan tatapan sendu.
"Apa Viona mengganggumu lagi?" Tanya Arnold.
Sebenarnya ada apa dengan laki-laki ini?
Aku menatap Viona, ia terlihat begitu marah melihat Arnold yang malah mendekati aku.
"Segera tangkap dan penjarakan wanita jahat itu. Dia sudah menganiaya aku. Lihat! Ini adalah bekas cakaran dari wanita buas itu." Teriak Viona tiba-tiba seraya memperlihatkan lengannya yang terdapat penuh cakaran.
"Kau jangan mengada-ada ya. Aku tidak pernah melakukan apapun padamu." Teriakku.
"Dasar penjahat. Masih tidak mau mengaku. Bukankah kita baru bertemu di rumah mu tadi. Aku hanya datang untuk berpamitan padamu dan kau malah memukulku karena aku mengatakan padamu untuk menjauhi Arnold. Dan...."
Plak!
"Hentikan Nona Velicia! Perbuatan anda ini sengaja melawan hukum." Teriak seorang polisi.
"Aku tidak perduli. Dia menuduhku dengan tuduhan palsu, maka sekarang dihadapan kalian semua aku mewujudkan semua kebohongan yang dia katakan." Ucapku seraya kembali berusaha menarik rambut Viona.
Arnold dengan cepat menarik tubuhku dalam pelukannya. Dia mencoba untuk melerai agar aku tak memukuli Viona.
Tapi apa yang dilakukan wanita itu? Dia malah terlihat berpura-pura lemah dan menangis tersedu-sedu.
"Dasar ratu drama!" Teriakku.
"Hentikan Veli. Jangan begini, atau kau akan membuat dirimu sendiri berada dalam masalah." Ucap Arnold.
Pemeriksaan kembali di lanjutkan, kami bertiga duduk di ruangan interogasi. Viona tampak berantakan dengan rambutnya yang semakin acak-acakan. Seorang polisi wanita memberikannya air minum.
'Semoga kau tersedak.' kutuk ku dalam hati.
Dan benar saja, aku baru mengedipkan mataku. Suara baruk Viona terdengar menggema di seluruh ruangan. aku tak tahan untuk tertawa, hingga bibirku melengkung mengukir senyuman dengan suara tawa yang sedikit tertahan.
"Lihat. Dia sengaja menertawai aku." Pekik Viona. "Hukum dia seberat-beratnya Pak." Teriaknya lagi.
__ADS_1
Arnold tampak menatap Viona dengan penuh kekesalan.
"Pak, biarkan saya yang menangani masalah ini. Nona Velicia adalah mantan isteri saya. Sementara wanita itu adalah mantan tunangan saya." Ucap Arnold.
Polisi mengiyakan ucapan Arnold, lalu setelah melakukan mediasi akhirnya Viona mau berdamai. Entah apa yang sudah dikatakan Arnold padanya, hingga membuat wanita itu melunak.
'Apa mungkin Arnold menjanjikan sesuatu padanya? Atau Arnold mengatakan untuk kembali padanya?'
Ah, apa peduliku. Terserah dia saja.
Aku berjalan keluar dari kantor polisi. Dan kembali bertemu Viona.
"Hari ini kau boleh bebas. Tapi, lain kali aku tidak akan melepaskan kamu." Ucap Viona.
"Terserah kau saja." Ucapku.
Viona lalu pergi menggunakan mobilnya.
Aku berjalan menuju mobil dengan kepalaku yang terasa berat. Tubuhku menjadi begitu lemah. Apa mungkin karena belum sempat makan dan minum obat tadi. Mataku berkunang, dunia rasanya berputar, aku hampir saja terjatuh ke tanah kalau seseorang tak dengan cepat menopang tubuhku.
Sesaat, aku melihat orang itu terlihat nampak seperti Arnold.
"Tolong antar aku pulang. Obat ku ada di rumah." Ucapku.
Pria itu mengangguk, dan menggendong tubuhku masuk ke dalam mobil.
Samar aku mendengar ada orang yang bertanya padaku dengan suara yang sangat sedih.
"Vel, kamu beneran suka sama Andreas?"
Setelah itu, aku sudah tak sadarkan diri.
Bersambung....
Terima kasih atas kesediaan kalian membaca karya receh ini. Jangan lupa berikan.....
Like 👍
Komen 💭
Hadiah 🎁
Vote 🎟️
Salam sayang....
La-Rayya ❤️
__ADS_1