
Hari ini aku kembali janjian dengan Andreas untuk pergi ke taman bermain. Dia sudah menyerahkan sepenuhnya taman bermain itu padaku untuk aku kelola.
Sejak pagi-pagi sekali, aku sudah mandi dan tampil dengan cantik. Tak lupa aku tambahkan wewangian di tubuhku agar saat berada di dekat Andreas ia bisa mencium wangi parfum dari tubuhku.
'Ah, kenapa pikiran ku jadi ngelantur begini.'
Aku turun ke lantai bawah untuk sarapan sambil menunggu jemputan dari Andreas. Roti panggang dengan selai cokelat merk terkenal Nut**la menjadi menu sarapanku pagi ini. Karena aku merasa tubuhku sudah kembali fit, jadi aku tak lagi memperkerjakan Bu Sumi. Aku mengurus rumah seorang diri kali ini.
Setelah selesai sarapan, aku mengambil obat yang selalu diberikan Dokter untuk aku minum 3 kali dalam satu hari, lalu meminumnya. Meski bosan, setidaknya obat ini bisa membuat rasa sakit ku perlahan semakin berkurang.
Aku kembali menuju dapur untuk mencuci piring bekas sarapanku dan tepat saat itu terdengar suara bell rumah berbunyi. Dengan wajah riang aku berjalan cepat menuju pintu depan.
'Pasti itu Andreas.' pikirku.
Ku rapikan baju serta rambut yang hari ini aku kuncir tinggi. Berjalan melewati sebuah cermin besar yang menggantung di dinding, sejenak aku berhenti untuk memastikan riasan ku masih bagus. Kemudian aku berlari kecil menuju pintu depan.
"Hai Andre....."
Ucapan ku sontak terhenti saat aku menatap sosok pria yang ada dihadapanku bukanlah Andreas, melainkan Arnold.
"Waahh, sepertinya kau sudah janjian dengan kekasih barumu itu." Ucap Arnold dengan raut wajah yang kesal.
"Mau apa kau kemari. Lebih baik kau pergi." Usir ku seraya menutup pintu.
Tapi, Arnold mendorong pintu dengan keras hingga membuatku tersungkur ke lantai.
"Tega sekali kau mengusirku isteriku. Kau bahkan berselingkuh dengan Kakak ipar mu sendiri. Kau benar-benar gadis nakal" Ucap Arnold seraya berjongkok di lantai dan memegang daguku.
"Lepaskan aku, pergi kau dari sini." Teriakku.
Arnold menuntun tubuhku agar berdiri lalu berusaha mencium ku. Dia memegangi daguku dengan keras. Aku berusaha berontak namun tenaganya yang lebih kuat membuatku tak berdaya. Saat dia berhasil mencium ku, aku langsung menggigit bibirnya dan berusaha menendang ke arah alat vitalnya.
Arnold tersungkur karena aku berhasil menendangnya. Ia meringis kesakitan dan aku berusaha untuk segera lepas dari dirinya dengan mencoba untuk kabur. Tapi sayang, usahaku gagal. Arnold malah menarik rambutku lalu mendorongku hingga membentur tembok.
Tenaganya terlalu kuat hingga aku tak bisa melawannya lagi. Ia berusaha menjamah tubuhku. Sekuat tenaga aku berusaha berontak. Namun, tetap saja Arnold lebih kuat dariku.
__ADS_1
"Tolong lepaskan aku." Ucapku lirih dengan bulir air mata yang mulai jatuh membasahi kedua pipiku.
"Tidak akan pernah. Hari ini kau jadi milikku. Kau yang memaksa aku untuk melakukannya dengan kekerasan." Bisik Arnold sambil mencium telingaku.
Aku tahu kemana arah perbuatannya ini. Tidak! Semua ini tidak boleh terjadi. Aku dan Arnold sudah bukan suami isteri lagi. Dan sekarang di hatiku sudah ada Andreas, aku tidak mungkin mengkhianatinya.
Arnold semakin beringas, ia memegangi kedua tanganku dan kakiku benar-benar dibuat tak bisa bergerak. Dengan cepat ia lalu mengangkat tubuhku dan menjatuhkan ku di atas sofa panjang yang ada di ruang tamu.
Aku berusaha bangkit. Lagi-lagi tenagaku kalah kuat dengan dirinya. Saat ia berusaha menyingkap dress yang aku gunakan, tanpa sadar aku meludahi wajahnya. Tatapan Arnold berubah marah. Ia mengangkat tubuhku, membuat posisiku membelakangi dirinya.
Dan hal yang tak aku inginkan pun terjadi. Sama seperti dulu saat kami masih menikah. Arnold memperlakukanku dengan sangat kasar. Tangannya yang besar iyu menarik rambutku hingga aku merasakan sepertinya semua rambutku terlepas dari kepalaku.
Meski dulu aku bisa bahagia dengan perlakuannya yang seperti ini. Tapi kali ini, aku benar-benar terhina. Aku memang bukan gadis perawan, dan Arnold memang pernah melakukannya denganku. Tapi perlakuannya ini membuatku merasa menjadi wanita paling kotor di dunia ini.
Aku tak pantas lagi untuk bersama dengan Andreas. Aku wanita yang kotor. Wanita yang tak bisa menjaga diriku sendiri.
'Maafkan aku Andreas.'
Air mataku bercucuran sepanjang perbuatan bejat yang dilakukan Arnold padaku. Ia tak perduli dengan rintihan kesakitan yang aku rasakan. Dia bukan lagi Arnold yang aku kenal. Aku tak ingin mengenalnya lagi. Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatannya ini.
Arnold akhirnya mengakhiri perbuatan bejatnya. Ia lalu mendorong tubuhku yang sudah sangat kesakitan terjatuh di sofa. Aku menangis, tapi tak mengeluarkan suara sedikitpun. Kini, hanya air mataku saja yang mengalir.
Arnold merapikan dirinya lalu duduk di sampingku yang meringkuk kesakitan.
"Maafkan aku Velicia. Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatan ku hari ini..."
"Pergilah..." Ucapku menyela dirinya. "Kau tak perlu mengatakan apapun lagi. Tujuanmu sudah tercapai, aku tak akan pernah bisa bersatu dengan Andreas lagi. Tapi satu hal yang akan aku tekankan padamu. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah kembali padamu. Meski di dunia ini hanya tersisa kau seorang, aku lebih baik memilih untuk mati daripada harus hidup denganmu lagi." Ucapku dengan menahan sakit di perut dan area sensitif ku.
Mungkin Arnold baru menyadari bahwa aku tengah kesakitan. Ia berusaha menyentuh diriku. Namun dengan cepat aku menampik tangannya.
"Pergiiii...." Teriakku.
Entah dari mana asalnya tenagaku ini, hingga aku bisa berteriak kencang.
"Jangan pernah perlihatkan wajahmu dihadapanku lagi..." Teriakku lagi.
__ADS_1
"Maafkan aku Velicia, aku hanya tak bisa menahan diriku. Aku marah melihat kedekatan mu dengan Andreas. Aku ingin kau kembali padaku." Ucap Arnold.
"Ku mohon pergilah. Tolong pergi..." Ucapku kini dengan suara yang sangat menyayat hati. Aku menangis, tepatnya kali ini meraung meratapi nasib yang menimpa diriku.
"Biarkan aku merawat mu Veli. Aku sangat mencintaimu..."
"Jika kau memang mencintai aku, maka pergilah. Ku mohon pergilah..." Balasku.
Sejenak Arnold terdiam, ia kemudian kembali merapikan pakaiannya.
"Baik, aku pergi sekarang. Tapi ingat, aku akan kembali untuk merebut cintamu." Ucap Arnold lalu berjalan pergi meninggalkan aku yang masih berbaring di sofa panjang ruang tamu.
Pandanganku menatap punggung Arnold yang berhenti di pintu rumah yang memang sedari tadi terbuka. Arnold tampak menginjak sesuatu berulang kali, lalu pergi.
Dengan tenaga yang tersisa, aku bangkit. Sambil memegang perutku, aku berjalan perlahan menuju pintu rumah dan melihat tepat di lantai teras rumah terdapat satu buket mawar putih dan sebatang cokelat yang sudah tak berbentuk karena diinjak Arnold tadi.
Aku mengambil bunga dan coklat yang sudah hancur itu dengan air mata yang mengalir deras. Aku yakin ini semua pasti dari Andreas. Berarti dia sudah melihat semuanya.
'Ya Tuhan.... Aku malu sekali.'
Kali ini aku tak akan mempunyai muka untuk bertemu dengan Andreas lagi.
'Maafkan aku Andreas, pasti kau kecewa padaku.'
Aku mencoba untuk bangkit dan berdiri dengan membawa bunga dan coklat yang sudah hancur itu masuk ke dalam rumah. Kemudian membawanya menuju lemari pendingin. Ku masukkan bunga dan cokelat itu, lalu aku berusaha menyeret tubuhku agar bisa berjalan menuju kamar mandi yang ada di lantai bawah.
Dengan dress yang aku pakai tadi, aku mulai menyiram tubuhku dibawah guyuran air yang jatuh dari shower kamar mandi. Aku menggosok tubuhku dengan kasar. Berharap semua bekas sentuhan Arnold bisa menghilang.
Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa aku akan mengalami penghinaan seperti ini dari Arnold. Ku pikir dia sudah berubah, nyatanya laki-laki itu memang laki-laki yang paling jahat yang pernah aku kenal.
Senyum Andreas tiba-tiba terbayang dalam ingatanku. Pria yang sangat baik padaku. Namun, lagi-lagi takdir yang tak aku harapkan, pada akhirnya memisahkan aku juga dengan dirinya.
'Andreas, mungkin Tuhan memang tidak mentakdirkan kita untuk berjodoh. Aku harap kau bisa bahagia bersama wanita yang jauh lebih baik dari diriku.'
Bersambung.....
__ADS_1