
Sudah dua hari sejak aku diculik, dan benar-benar tidak ada yang bisa ku lakukan. Pintu depan selalu dijaga oleh pengawal. Bahkan dibawah balkon kamar Arnold menempatkan dua orang penjaga untuk mengawasi ku. Aku benar-benar tidak bisa berkutik.
Awalnya aku tak mau mengganti pakaianku, karena tak ingin mengenakan pakaian yang diberikan Arnold. Tapi, karena berhubung sudah seharian aku tak berganti pakaian aku pun terpaksa mengganti pakaianku dengan sebuah dress warna biru yang disediakan Arnold.
Seorang pelayan wanita juga setiap harinya membawakan aku makanan ke dalam kamar. Meski awalnya aku menolak untuk memakannya, tapi pada akhirnya aku mau. Karena bagaimanapun aku perlu tenaga untuk berpikir dan berusaha agar bisa keluar dari tempat ini.
Semua kebutuhanku sudah dipenuhi Arnold di dalam kamar ini. Termasuk juga obat-obatan yang diresepkan Dokter untuk mengobati kanker ku. Tapi, tetap saja aku layaknya seekor burung yang berada didalam sangkar. Aku tak bisa bebas, aku hanya bisa menatap jalanan yang tampak ramai seperti semut yang berbaris dari atas balkon tanpa bisa tahu kapan aku bisa pergi dari tempat ini.
Kini harapan satu-satunya adalah menunggu keajaiban datang.
Saat aku tengah tidur siang, terasa seseorang tengah mengelus rambutku dengan halus. Aku sontak bangun dan berdiri menjauh.
"Mau apa kau?" Teriakku.
"Sudah aku katakan bahwa aku hanya ingin kau menikah denganku. Itu saja." Jawab Arnold santai.
"Kau sudah gila. Cepat lepaskan aku, bagaimanapun kau memaksaku. Sudah aku katakan bahwa aku tidak akan pernah kembali padamu." Ucapku.
"Terserah kau saja. Aku mau memberitahumu sesuatu, meskipun kau berusaha kembali ke kota. Tak akan ada satu pun orang yang akan menerima dirimu karena orang-orang sudah berpikir bahwa kau sudah kabur dari pernikahan mu sendiri. Mana ada wanita yang kabur begitu saja dihari pernikahannya. Orang-orang sudah tentu akan menggunjing mu. Lebih baik kau terima saja takdir mu dengan menikah denganku. Atau kau akan selamanya berada di tempat ini." Ucap Arnold lalu pergi meninggalkan aku.
"Aaaaarrgghh meski mati sekalipun, aku tidak akan pernah mau kembali denganmu." Teriakku saat Arnold menutup pintu.
Aku bosan seperti ini terus. Apa yang bisa aku lakukan? Kenapa tak ada tanda-tanda dari Andreas maupun Jack untuk menyelamatkan aku. Apa jangan-jangan mereka percaya bahwa aku sengaja kabur dari pernikahanku sendiri?
'Tidak, tidak. Mereka pasti tengah berusaha mencari keberadaan ku. Aku yakin itu.'
Tepat saat seorang pelayan wanita masuk membawa makan siang. Aku terkejut dengan kehadiran Viona dibelakang pelayan itu.
"Mau apa kau disini?" Teriakku.
Aku sudah kesal dengan sikap Arnold, sekarang malah harus bertemu dengan Viona yang selama ini selalu bermusuhan denganku.
"Kau boleh keluar." Titah Viona pada pelayan wanita itu.
Viona tiba-tiba menarik tanganku untuk duduk di tempat tidur.
__ADS_1
"Aku kemari untuk membebaskan mu." Ucap Viona.
Aku tak percaya dengan apa yang dikatakan Viona. Mana mungkin dia mau menyelamatkan aku.
"Aku tahu kau pasti tak percaya denganku. Tapi silahkan kau pikir sendiri, jika kau terus disini bersamanya. Bagaimana dia bisa menikah denganku dan bertanggung jawab akan bayiku." Lanjut Viona.
Secara logika, apa yang dikatakan Viona ada benarnya juga. Tapi apa yang bisa dia lakukan untuk membebaskan aku?
"Apa kau tak takut Arnold mengetahui maksud kedatangan mu?" Tanyaku.
"Dia tak tahu, aku masuk ke kamar ini. Selama ini aku hanya berada di lantai bawah. Sejak 2 hari yang lalu, aku merasa ada yang aneh di rumah ini. Arnold menyewa beberapa pengawal dan aku pun memberanikan diri naik kemari siang ini saat Arnold keluar rumah. Ternyata dia menyekap mu disini." Ujar Viona.
"Bagaimana dengan para pengawal? Apa kau tak takut mereka melihatmu masuk kemari?" Tanyaku lagi.
"Tenang saja. Aku tadi masuk ke sini dengan mengendap-endap. Lagian, para pengawal tengah makan siang dilantai bawah." Jawab Viona lagi.
Sejujurnya, aku merasa kasihan dengan kondisi Viona. Perutnya mulai kelihatan membuncit, tapi nyatanya Arnold ayah dari bayi dan dikandungnya tak kunjung mau bertanggung jawab. Padahal dulu keduanya benar-benar tak bisa dipisahkan. Tapi kini justru keduanya seperti orang asing.
"Kau sudah makan?" Tanyaku kepadanya, karena memang saat ini Viona terlihat lebih kurus dari biasanya padahal dia tengah mengandung.
"Kalau begitu, ayo makan ini." Ucapku.
"Tidak. Sejujurnya aku merasa mual melihat makanan. Selama kehamilan ini aku hanya bisa makan roti dan buah saja."
Aku semakin kasihan padanya.
"Lalu apa rencanamu untuk bisa membantuku kabur dari sini?" Tanyaku lagi.
"Aku punya rencana. Kau harus..."
Brakk!!!
Suara pintu terbuka mengagetkan aku dan Viona. Tampak Arnold berdiri di pintu dengan wajahnya yang begitu marah. Matanya nyalang seolah ingin langsung menerjang kami berdua.
"A-arnold..." Viona tiba-tiba jadi gagap.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini?" Teriak Arnold mendekati Viona dan langsung menarik rambut wanita malang itu. "Apa kau ingin membantunya untuk kabur dariku? Ha?" Teriak Arnold lagi seraya tangannya semakin menarik rambut Viona dengan keras.
"Arnold... Lepaskan dia..." Teriakku berusaha menarik tangan Arnold.
Arnold akhirnya melepaskan tangannya dari rambut Viona.
"Kenapa kau begitu jahat pada wanita yang selama ini mencintaimu. Apalagi dia tengah mengandung anakmu." Teriak ku.
"Wah, wah, wah.... Apa sekarang kalian berdua sudah berteman? Bukankah selama ini kalian berdua saling membenci karena memperebutkan aku?" Ucap Arnold penuh percaya diri.
"Kalau kau tahu kami saling membenci, kenapa kau bisa berpikir bahwa kami bisa berteman?" Ucapku berusaha meyakinkan Arnold.
Seolah mengerti dengan apa yang aku rencanakan, Viona langsung merangkul Arnold.
"Sayang, aku tidak sengaja naik ke lantai atas dan melihat pelayan mengantarkan makanan ke kamar ini. Jadi aku mengikutinya dan kaget melihat Velicia ada disini. Aku cuma mengatakan bahwa aku kasihan padanya. Dia wanita yang tidak ditakdirkan untuk bahagia. Bahkan di saat dia sudah mau menikah, dia harus terpisah dengan calon suaminya." Ucap Viona.
"Kau jangan berusaha membohongiku ya?" Balas Arnold.
"Untuk apa aku membohongimu? Kau sendiri tahu bagaimana bencinya aku terhadap wanita itu. Dia merebut dirimu dariku, bahkan saat aku bisa mengandung anakmu saja. Dia masih saja berada diantara kita. Aku kemari karena ingin menghajarnya." Ucap Viona.
"Kalau sampai kau berani menyakiti dia. Kau terima akibatnya." Ucap Arnold.
"Ayolah Arnold? Apa kau pikir wanita hamil yang kurus seperti dia bisa menyakitiku? Dan apa tadi? Kau bahkan begitu bodoh hingga berpikir bahwa aku dan wanita yang sudah membuat aku harus terkena penyakit itu bisa berteman. Hmmm kau memang bodoh." Ucapku.
Arnold tampak percaya dengan semua ucapan ku. Meski sebenarnya aku memang masih sakit hati pada Viona atas perlakuannya. Tapi aku juga tidak bisa memungkiri bahwa aku juga kasihan padanya.
"Terserah kalian saja. Oh ya, untukmu Viona. Jika sampai ada orang yang tahu bahwa Velicia ada disini, maka kau akan menanggung akibatnya." Ancam Arnold.
"Tenanglah sayang. Untuk apa aku membiarkan dia bebas dan hidup bahagia. Aku akan sangat bahagia jika dia menderita terkurung disini." Ucap Viona seraya menarik tangan Arnold keluar dari kamar tempat aku disekap.
Saat menutup pintu, Viona sempat menengok ke belakang dan mengerlingkan matanya ke arahku.
'Tuhan, bantu aku untuk bisa segera pergi dari tempat ini.'
Bersambung.....
__ADS_1