
Dua hari berlalu sejak kami kembali dari agenda bulan madu. Berita yang menyeret namaku beserta Andreas dan Arnold sudah tak terdengar lagi. Entah apa yang sudah dilakukan Andreas hingga membuat berita itu bisa hilang begitu saja.
Pagi ini, aku, Andreas, Mama dan Angelica akan pergi ke pengadilan untuk menghadiri sidang putusan yang akan diterima Arnold. Sejujurnya aku tak ingin pergi, tapi aku menghargai perasaan Andreas dan yang lainnya. Kalau aku sampai tidak ikut, aku takut Andreas berpikiran yang macam-macam.
'Bisa saja Andreas berpikir bahwa aku tak tega melihat Arnold duduk di kursi pesakitan.'
Aku tengah bersiap-siap dengan duduk di depan cermin memoles wajahku dengan makeup yang tipis. Aku memilih mengenakan kemeja warna peach dipadukan dengan celana putih dengan rambut yang aku ikat tinggi. Ku poles bibirku dengan lipstik yang berwarna senada dengan kemeja yang aku kenakan. Entah kenapa aku menyukai tampilan diriku yang terlihat di cermin.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Andreas seraya memegang kedua pundak ku lalu mencium kepalaku.
"Tidak ada." Balasku kembali tersenyum.
"Kau terlihat cantik. Apa kau ingin menunjukkan kecantikan mu pada orang lain juga?"
"Maksudmu?" Tanyaku heran.
Andreas hanya tersenyum lalu berjalan menjauh ke arah lemari mengambil pakaian yang akan ia kenakan. Andreas baru saja keluar dari kamar mandi.
'Apa maksudnya aku mau menunjukkan pada Arnold?'
Aku menatap punggung Andreas yang mulai mengenakan kemeja warna biru muda.
"Kalau begitu, aku tak jadi pergi." Ucapku lalu membaringkan diriku di tempat tidur.
Andreas sontak berbalik dan mendekatiku ke tempat tidur.
"Loh kenapa?" Tanyanya.
"Aku tahu maksud dari pertanyaan mu tadi. Apa kau berpikir aku mau ikut ke persidangan demi menampakkan wajahku ini pada Arnold?" Ucapku dengan sangat kesal.
Andreas malah tersenyum dan mengusap kepalaku lembut.
"Sayang, aku hanya bercanda. Jangan dimasukkan ke hati. Aku tidak pernah berpikiran apapun tentang hal itu. Tapi jujur saja, aku sebenarnya tidak ingin pria manapun melihat kecantikan wanitaku ini. Aku takut mereka akan terpesona." Ucap Andreas kemudian mencubit hidungku.
"Jadi, kau ingin aku di rumah selamanya?" Ucapku lagi dengan raut wajah yang aku buat-buat agar terlihat semakin kesal.
"Tidak sayang. Justru aku ingin membawamu kemanapun aku pergi. Agar orang-orang tau kalau aku mempunyai isteri yang sangat cantik sepertimu." Ucap Andreas yang membuat pipiku memerah.
"Isteriku, kau sangat menggemaskan kalau sedang malu." Lanjut Andreas yang semakin membuat pipiku menghangat.
"Sudah, jangan menggodaku lagi. Ayo cepat kenakan celana mu. Atau kita akan terlambat." Balasku.
Andreas mencium keningku lalu kembali ke lemari untuk mengambil setelan jas nya.
*******
Kami tiba di pengadilan pukul 8 pagi. Agenda sidang putusan terhadap Arnold akan dimulai setengah jam lagi. Kami semua memilih menunggu di dalam ruang sidang.
"Ma, menurut Mama. Berapa lama Kak Arnold akan dipenjara?" Tanya Angelica saat kami sudah duduk berdekatan.
__ADS_1
"Mama juga tidak tahu. Yang jelas sepertinya kakak mu itu akan dihukum dengan berat. Selain karena sudah membunuh Papa nya secara tidak sengaja, dengan senjata yang ia bawa ke TKP membuktikan bahwa dia tengah mengincar seseorang untuk di tembak. Dan itu termasuk dalam rencana pembunuhan. Arnold juga terbukti telah melakukan penculikan terhadap kakak ipar mu. Dan bahkan polisi juga mendapat bukti bahwa dia telah melakukan penganiayaan terhadap kakakmu. Meski kakak mu sendiri tidak pernah melaporkannya ke pihak kepolisian." Ujar Mama Andreas.
"Artinya Kak Arnold akan dikenakan pasal berlapis ya Ma?" Tanya Angelica.
"Tentu saja. Mengingat berbagai macam kejahatan yang sudah dia lakukan." Jawab Mama Andreas.
Aku hanya terdiam mendengar ucapan keduanya, sementara Andreas sejak tadi tengah sibuk berbicara dengan beberapa pengacara.
Sidang pun dimulai.
"Pada hari ini sidang...." Entah apa yang dikatakan seseorang yang disebut sebagai Panitera itu dengan tegas. Aku tak terlalu fokus karena ia membaca begitu banyak angka yang membuatku tak mengerti. "Dengan terdakwa Arnold Setyawan siap dimulai."
Seisi ruangan mulai diam dan fokus mendengarkan ucapan Panitera itu.
"Majelis Hakim memasuki ruang sidang, hadirin dimohon berdiri !!" Ucapnya lagi dengan tegas.
Sontak saja semua orang yang hadir mengikuti perintah yang diucapkan Panitera.
"Hadirin dipersilahkan duduk kembali...!!" Lanjut Panitera.
"Apakah saudara Jaksa Penuntut Umum sudah siap mengikuti persidangan?" Tanya Hakim Ketua.
"Siap." Jawab Jaksa Penuntut Umum singkat.
"Apakah saudari Penasehat Hukum sudah siap mengikuti persidangan?" Tanya Hakim Ketua lagi.
"Pada hari ini, tanggal XXX, sidang pengadilan Negeri Ternate yang memeriksa dan mengadili perkara pidana dengan nomor XXXX, dengan terdakwa Arnold Setyawan, saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum." Ucap hakim ketua lalu mengetuk palu 1 kali.
"Kepada Saudara Jaksa Penuntut Umum, harap menghadirkan Terdakwa di muka sidang." Lanjut Hakim Ketua.
"Baik Majelis Hakim... Terdakwa Setyawan, dipersilahkan memasuki ruang sidang." Ucap Jaksa Penuntut Umum.
Sontak saja, mata kami semua melihat ke arah Arnold yang masuk dengan mengenakan kemeja putih dan bercelana hitam. Ia terlihat begitu murung, tampak merasa begitu bersalah. Arnold memasuki ruang sidang sambil memberi hormat kepada Majelis Hakim dengan menganggukkan kepalanya.
Hakim Ketua mempersilahkan Arnold untuk duduk.
"Silahkan duduk!!" Ucap Hakim Ketua. "Saudara Terdakwa, apakah Saudara dalam keadaan sehat?"
"Sehat, Pak Hakim." Balas Arnold.
"Apakah saudara sudah siap mengikuti persidangan?" Tanya Hakim Ketua kembali.
"Siap Pak Hakim." Jawab Arnold mantap.
"Baik, sesuai dengan agenda, sidang hari ini adalah pembacaan putusan dan kepada saudara terdakwa, Jaksa Penuntut Umum dan Penasehat Hukum agar menyimak dan mendengarkan putusan ini." Ucap Hakim Ketua lagi.
Hakim Ketua pun membacakan putusan terakhir, yaitu menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara pada Arnold. Lalu mengetuk palu 3 kali.
Apakah saudara terdakwa, Jaksa Penuntut Umum dan Penasehat Hukum, sudah mengerti dengan putusan ini?"
__ADS_1
"Mengerti, Pak Hakim." Balas Arnold.
"Mengerti. Majelis Hakim yang terhormat." Balas Jaksa Penuntut Umum.
"Mengerti, yang mulia." Balas Penasehat Hukum.
"Baik. Kepada para pihak yang merasa berkeberatan terhadap isi putusan ini dapat mengajukan upaya hukum banding dalam waktu 14 hari sejak putusan ini dibacakan. Demikian sidang pada hari ini dinyatakan ditutup!" Ucap Pak Hakim lalu mengetuk palu 3 kali.
"Aku keberatan...." Teriak seorang wanita.
Saat aku menengok, ku lihat sosok yang berteriak itu adalah Viona.
"Bagaimana dengan nasib anak yang ku kandung jika Papa nya harus di hukum 20 tahun, sedangkan dia belum mau menikahiku?" Teriak Viona lagi.
"Mohon saudari untuk tenang. Sudah saya katakan, jika saudari merasa berkeberatan terhadap isi putusan ini dapat mengajukan upaya hukum banding dalam waktu 14 hari sejak putusan ini dibacakan. Dan sekarang sidang sudah di tutup." Ucap Hakim Ketua.
"Majelis Hakim akan meninggalkan ruang sidang. Hadirin dimohon berdiri." Ucap Panitera dengan lantang.
"Tidak... Tidak... Jangan begini. Bagaimana dengan aku...." Teriak Viona histeris lalu menangis sejadi-jadinya.
Aku merasa iba pada wanita itu. Aku bisa membayangkan bagaimana pilu hatinya saat mendengar putusan itu. Apalagi dia tengah mengandung.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Andreas mengusap tanganku lembut.
Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya.
"Aku hanya kasian pada Viona." Balasku.
"Apa yang kau tabur, itu yang kau tuai." Ucap Mama tiba
-tiba sudah berdiri di belakangku. "Ayo kita pulang." Lanjutnya.
"Apa Mama tidak mau bertemu dengan Kak Arnold?" Tanya Angelica.
"Tidak perlu. Mama tahu bagaimana Arnold. Disaat seperti ini, dia tidak akan mau ada orang yang melihatnya. Lebih baik kita membesuknya lain kali saja." Jawab Mama lalu berjalan ke arah pintu keluar disusul Angelica.
Sementara aku dan Andreas masih berdiri dan menatap ke arah Viona yang duduk di kursi sambil menutup wajahnya karena menangis.
'Viona, ku harap kau tabah menerima semua ini.'
"Sayang, ayo pulang." Ajak Andreas.
"Baiklah." Balasku.
a
Suara tangis Viona terus terngiang di telingaku, membuatku merasa kasihan padanya. Aku ingin sekali mensupportnya karena bagaimanapun, dia pernah membantu aku untuk kabur dari di sekap oleh Arnold.
Bersambung....
__ADS_1