90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
26. Kesayanganku


__ADS_3

Claudia menjadi gadis yang begitu baik sepanjang hari ini. Dia belajar dengan giat, dan bekerja keras untuk mengerjakan tugasnya. Dia menyantap makan siang, makan malam dan camilan lainnya dengan sangat baik tanpa protes apapun. Dia tidak menunjukkan sikap tantrum atau keras kepalanya sepanjang hari.


Para pelayan tampak terkejut. Mereka terakhir kali melihat gadis itu tiga hari yang lalu. Ketika dia meninggalkan rumah tanpa sarapan. Dan itu adalah seseorang yang sama sekali berbeda dengan gadis baik yang ada dihadapan mereka saat ini.


Hari ini benar-benar berjalan dengan sangat baik.


Tapi Adam tidak menyukai semua ini. Dia tidak suka saat gadis kesayangannya tidak bertindak keras kepala. Dia tidak suka saat gadis itu bersika penurut. Tapi dia mencoba untuk menerima semuanya dan berkonsentrasi pada pembelajaran perkuliahan Claudia.


********


Hari berikutnya adalah hari libur, Claudia tidak perlu pergi ke kampus. Setelah selesai sarapan, dia berjalan mendekat ke arah Adam. Adam menatapnya dan menghentikan pekerjaannya, menunggu apa yang akan dikatakan gadis itu.


"Endra mendapat ruangan VIP di Alioth. Dia mengundang aku dan teman-teman yang lainnya untuk liburan disana, hari ini juga sedang libur. Jadi...."


Adam menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.


"Tidak. Tidak akan pernah. Tidak boleh sama sekali." Ucapnya.


"Tapi kenapa?" Protes Claudia dengan menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras. "Aku sudah menjadi gadis yang baik kemarin. Aku melakukan semua yang kau katakan. Aku bahkan membiarkanmu untuk tidur di kamarku. Lalu kenapa?" Ucap Claudia seraya memelankan suaranya lalu menatap Adam penuh harap.


Adam menghela napas.


'Jadi inilah alasan kenapa kemarin ia bersikap begitu patuh.'


Adam menarik napas dalam.


"Baiklah, kau boleh pergi. Tapi, hanya dengan satu syarat. Kau tidak boleh membiarkan seseorang untuk menyentuhmu. Jarak dua meter dari semua orang, tidak dengan gadis-gadis. Tapi para lelaki. Tidak boleh berpelukan juga."


Claudia menganga.


"Apa? Kenapa? Apa aku ini menyebarkan penyakit yang menular?" Tanya Claudia yang tampak bingung.


"Mungkin saja orang lain yang punya penyakit menular. Bagaimanapun, kita tidak tahu siapa orang yang mempunyai perasaan tertarik saat menyentuh kita bukan?"


"Dasar pria tua. Ah terserah kau sajalah. Baiklah, aku akan menjaga jarak dari para lelaki." Ucap Claudia seraya menghela napas.


"Ayo pergi, biar aku yang mengantarmu." Ucap Adam.


"TIDAAAK. Dam, aku bukan pergi ke pesta ulang tahun temanku hingga kau sampai mau mengantarku pergi. Tolonglah." Claudia merengek.


"Baiklah, setidaknya pergilah dengan diantar oleh sopir. Aku tidak menerima penolakan dengan hal itu." Ucap Adam.


************


Di dalam sebuah ruangan khusus di restoran Alioth. Terdapat empat orang pria yang duduk dengan berantakan di masing-masing sofa.


Tuan William, alias Will, seorang mantan pegawai militer diusianya yang masih begitu muda, 28 tahun. Sekarang bekerja di instansi pemerintahan sebagai seorang mentri.


Tuan Septiawan Domani, alias Dom, seorang putra tertua dari keluarga Septiawan yang mempunyai perusahaan tambang mineral, berusia 27 tahun.


Tuan Kim Wesley, alias Kim, seorang pebisnis sama seperti Adam. Teman keluarga Claudia, tapi merupakan teman terbaik dari Adam, 28 tahun.


Dan yang terakhir adalah Adam Wijaya.


Mereka semua adalah orang kaya dan hidup penuh dengan kemewahan. Mereka semua sudah memiliki pasangan.


Dan mereka semua sudah tahu sekarang bahwa Adam sudah bukan pria lajang, seperti yang diberitakan media. Terima kasih kepada pesta yang diadakan Kim, jadi mereka tahu dari teman mereka bahwa gadis yang dibuang ke dalam laut kemudian mempermalukan Adam dengan sikapnya itu adalah istri Adam sendiri.


Mereka akhirnya bisa bersenang-senang berempat, mengingat akhirnya Adam kembali setelah 2 tahun lamanya.


Kim sebenarnya tengah membicarakan insiden yang terjadi di pesta malam itu.


Tiba-tiba, mereka menyadari bahwa wallpaper dari ponsel Adam menampilkan wajah Claudia yang tengah tersenyum. Menampilkan gigi kelincinya yang menyembul sempurna. Sementara Adam sendiri saat ini tengah larut dalam lamunannya, mengingat kembali bagaimana ia dan Claudia berciuman dengan ganas malam itu di pesta Kim.


"Wah, wah, wah.... Cinta membuat semuanya jadi indah sekarang." Dom memberi komentar.


Adam memutar mata, kembali lagi dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Ketiga pria lainnya sekarang semakin penasaran untuk bertemu dengan Claudia secara langsung. Gadis yang sudah membuat teman mereka yang merupakan balok es dingin itu mencair dan seorang pria yang menjadi budak cinta.


Adam tiba-tiba mendapat sebuah telepon.

__ADS_1


"Baiklah, aku segera kesana. Dia seharusnya tidak boleh terluka, ingat itu." Ucap Adam.


Adam berdiri dan mengucapkan permisi kepada teman-temannya dan bergegas pergi.


"Ya Tuhan, apa itu tadi?" Tanya Dom.


"Kau tahu, itu semua pasti berhubungan dengan Claudia. Adam tidak pernah bersikap begitu peduli terhadap apapun atau siapapun, kecuali pada Claudia." Ucap Kim khawatir.


"Dia tidak pernah meninggalkan pertemuan kita saat masih baru dimulai seperti yang dilakukannya hari ini." Balas Will dengan suara yang tenang.


"Benar sekali. Pada akhirnya nanti yang mulia Tuan Adam Wijaya akan menjadi budak istrinya. Lihat saja, cara dia pergi baru saja, dan wajahnya yang terlihat begitu khawatir.." Ucap Dom.


"Tidak juga. Aku yakin, Adam akan membuat gadis nakal itu patuh padanya. Kita kenal Adam dengan baik. Bukan begitu?" Balas Will.


"Baiklah, mari bertaruh. Jika aku menang, kau harus memberikan aku senjata api yang kau punya itu."


"Dan jika aku yang menang, aku akan mengejar mu menggunakan senjata api itu." Will memotong ucapan Dom dengan balasan yang mematikan.


"Guys, ayolah kalian berdua. Hentikan. Kita harus mengikuti Adam. Claudia pasti tengah dalam bahaya." Kim menghentikan perdebatan mereka berdua dan langsung bangun untuk mengikuti Adam.


Adam tiba di ruang VIP di tempat yang sama, restoran Alioth. Dan saat melihat situasi disana, mata Adam membelalak sempurna.


Istri kesayangannya tengah memegang sebuah botol kaca, dan bersiap untuk memukul kepala seorang pria dengan benda itu. Ia berdiri tepat diatas sebuah meja. Dua pria tampak terkapar di lantai. Satu orang memegang perutnya dan satu lagi memegang lututnya karena kesakitan.


Para pria dan wanita yang berada disekitar tempat itu ketakutan menatap ke arah Claudia. Tidak ada yang berani mengatakan apapun. Tapi dari mata mereka menunjukkan penilaian mereka terhadap Claudia. Teman-teman Claudia yang lainnya juga berteriak kepada Claudia menyuruhnya untuk membunuh pria itu. Dan Endra juga berdiri di atas meja lain menatap para gadis dan menyumpahi mereka.


****Flashback****


Claudia dan teman-temannya tampak bersenang-senang di dalam ruang VIP Alioth. Ada sekitar tiga puluh sampai tiga puluh lima orang yang diundang Endra. Dia sebenarnya bukan orang yang terlalu dekat dengan orang lain. Ada beberapa wanita yang selalu dekat dengannya, lebih tepatnya penggemarnya, beberapa orang pria yang berasal dari tim bola basketnya. Dan beberapa teman dekatnya, Rose, Diana, Bam dan tentu saja termasuk Claudia.


Semuanya berjalan dengan mulus.


Sampai saat Endra pergi ke ruang istirahat untuk membuang botol bir yang sudah dia minum. Claudia sendiri bersikap sangat tenang hari ini. Dia hanya bersenang-senang, mengobrol dengan Rose dan yang lainnya.


"Aku tidak mengerti, kenapa gadis berandalan itu selalu menempel pada Endra seperti sebuah permen karet. Setiap kali aku berusaha berbicara dengan Endra, aku harus selalu menunggu sampai Endra berhenti mendengarkan semua omong kosong berandalan itu." Salah seorang gadis berkomentar, dengan suara yang lumayan jelas hingga sampai didengar oleh telinga Claudia.


Rose dan Claudia memutar mata mereka dan menertawakan drama yang mereka buat.


"Eeewww.... Siapa yang berani berkencan dengannya? Dia tidak punya apapun untuk membuat pria tertarik padanya. Jika dia punya pacar, pacarnya akan dibunuh pada hari berikutnya setelah mereka berhubungan."


Mereka semua tertawa.


"Hei, tapi Endra sendiri yang menjadikannya sebagai prioritas utamanya."


"Apa kau berpikir begitu? Tidak akan pernah. Gadis berandalan itu pasti memaksa Endra dengan berbagai cara. Kau tahulah sesuatu yang berhubungan dengan hubungan simbiosis mutualisme. Aku juga dengar bahwa dia kadang-kadang menghabiskan malamnya di rumah Endra."


"Memalukan."


Kemudian, para pria mulai ikut berbicara...


"Tapi, aku akan dengan senang hati menggantikan tempat Endra jika dia memang butuh banyak pria untuk tidur dengannya. Aku mau jadi salah satunya." Ucap salah seorang pria berkomentar diiringi tawa dan diikuti oleh yang lainnya.


Rose mulai tampak khawatir, karena gadis dihadapannya sekarang sudah berubah merah seperti sebuah gunung api yang akan meledak. Dalam sekejap mata, semua makanan yang ada diatas meja dihadapan mereka berserakan dimana-mana dan berada di bawah meja.


Rose dengan cepat menarik Claudia menuju kamar mandi. Namun Claudia dengan cepat berhenti di depan para pria yang berkomentar tadi dan langsung memegang lehernya dan mulai mencekiknya.


Pria itu tentu saja melawan balik, dia merupakan seorang pemain basket. Tapi, lihat dulu dengan siapa mereka berkelahi. Seorang gadis yang jago bela diri dan tinju.


Saat Endra kembali, awalnya dia terkejut dengan pemandangan yang terlihat. Rose sudah memberitahu semuanya padanya.


Tapi yang mengejutkan adalah, dia tidak berusaha melerai Claudia. Dia justru malah pergi kehadapan para gadis yang bergosip tadi, lalu mulai melempari mereka semua dengan makanan dan minuman.


"Dasar kalian wanita sialan. Beraninya kalian bicara buruk tentang aku dan dia. Apa kalian berpikir aku menyukai kalian semua? Sama sekali tidak. Aku mengundang kalian kemari hanya untuk meramaikan pesta ini, tidak lebih dari itu. Aku sama sekali tidak tertarik untuk berteman dengan kalian. Kalian semua sampah. Kalian menilai dia seperti itu padahal kalian sendirilah yang seperti itu."


Rose sama sekali tidak menyangka bahwa Endra malah mengumpat pada para gadis itu, daripada untuk membantu Claudia. Setidaknya melerainya agar tidak berkelahi.


Rose lalu pergi ke arah para pria itu, berusaha menghentikan Claudia untuk tidak berkelahi. Tapi dia tidak bisa hingga akhirnya dia terdorong jatuh ke lantai. Dan membuatnya bertubrukan dengan gadis lain yang juga terjatuh. Gadis itu hendak berjalan menuju lantai atas dimana terdapat ruangan khusus dan tidak sengaja tersenggol oleh Rose dan ikut terjatuh.


Mona Olivia, seorang aktris terkenal. Dia berteriak pada gadis yang sudah minta maaf padanya itu.

__ADS_1


Dia memanggil manager tempat itu dan meminta untuk para mahasiswa yang ada di ruangan itu berlutut meminta maaf kepadanya.


"Hei Nona, dia sudah meminta maaf padamu." Ucap Claudia mendekat ke arah mereka meninggalkan perkelahiannya.


Orang-orang yang asa di ruangan itu kini mulai menatap ke arah drama baru yang tercipta. Namun semuanya menjadi semakin buruk saat manager tempat itu melihat ke arah Claudia dan menyadari bahwa tempat itu menjadi kacau karena perbuatan Claudia.


****Flashback off****


Tapi bukan hal itu yang membuat mata Adam membelalak. Semuanya karena manager tempat itu yang meminta dengan kasar pada Claudia untuk berlutut dan meminta maaf, bukannya meminta teman Claudia.


"Jadi, kau gadis berandalan. Jika kau memang khawatir kepada temanmu, kenapa tidak kau saja yang berlutut dan minta maaf pada Nona Mona. Lagipula, kaulah orang yang sudah mulai berbuat onar dan mengacaukan tempat ini."


Adam menggertak kan giginya. Darahnya seperti mendidih, matanya nyalang menatap manager itu.


"Apa yang terjadi disini?" Ucap Adam dengan suara yang penuh intimidasi.


Semua orang lalu beralih menatap ke arahnya.


"Hei kau berandalan. Jadi inilah kenapa aku kehilangan kartu VIP ku sejak pagi tadi. Dasar kau pencuri." Ucap Dom berteriak pada pria yang berdiri diatas meja.


Endra lalu turun dari atas meja, mendekat ke arah kakaknya itu.


"Adam... Ah, benar-benar suatu kejutan. Sedang apa kau disini? Ya Tuhann..." Ucap aktris itu, dia mengenal Adam, dia pernah bertemu dengan Adam di pesta.


"Kemari lah." Ucap Adam dengan suara yang dingin dan penuh ketenangan.


Semua orang tampak bingung, kepada siapa Adam berbicara selain pada Endra dan temannya. Aktris itu mengira bahwa Adam berkata padanya, lagipula dirinyalah yang baru saja bicara pada Adam. Dia lalu berjalan dua langkah sampai....


"Aku bilang kemari lah." Ucap Adam lagi, kali ini dengan suara yang memerintah tapi tetap tenang.


Aktris itu menjadi bingung.


Tapi, semua orang akhirnya mendapat jawaban setelah melihat gadis yang bermasalah itu melangkah pelan menuju hadapan Adam. Hingga ia sampai dan berdiri di depan Adam dengan kepala yang tertunduk.


Posturnya, gerak tubuhnya, sikapnya, dan yang lainnya sangat berbeda dengan beberapa saat yang lalu. Gadis itu berdiri tidak terlalu dekat dengan Adam. Adam lalu menariknya mendekat, kemudian mengusap pucuk kepala Claudia dengan lembut.


Adam begitu fokus menatap Claudia yang menunduk. Aura nya yang dingin, seketika menghilang begitu saja. Semua orang menatap mereka dengan ekspresi yang terkejut. Kecuali teman Adam dan Claudia. Mereka sudah mengetahui yang sebenarnya.


Adam kembali mengusap kepala Claudia dengan sangat lembut beberapa kali dan bertanya, "apa yang terjadi?" Suara Adam terdengar begitu lembut dan tenang lalu memeluk Claudia.


Claudia yang memukuli para pria itu sampai terkapar, membiarkan suaminya memeluknya dengan erat. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Adam dan bibirnya menempel di kemeja yang dikenakan Adam.


"Gadis-gadis disana berbicara buruk tentang aku dan Endra. Mereka berbicara tentang kami yang melakukan...." Claudia mulai menjelaskan.


Adam bahkan tidak melihat sedikitpun ke arah gadis-gadis yang terlihat malu itu.


"Dan?" Tanya Adam lagi melihat keraguan dari suara istrinya.


Claudia menelan ludah, dia ragu-ragu untuk menjelaskan semuanya atau tidak. Tapi dia dapat merasakan pelukan Adam yang semakin erat ditubuhnya.


"Kemudian, para pria itu, mereka bilang... Maksudku, mereka berkomentar jorok padaku." Ucap Claudia.


Saat ia mendongak untuk melihat wajah suaminya, ternyata suaminya tengah menatap para pria itu dengan tajam. Tatapan itu mengisyaratkan bahwa mereka sudah berurusan dengan orang yang salah. Semua orang yang ada disana sangat ketakutan, bahkan manager tempat itu sampai kencing di celana.


Claudia terus menatap Adam dan membalas pelukannya dengan erat.


"Tenang saja, aku sudah memberi mereka pelajaran." Ucapnya.


Claudia lalu menceritakan insiden yang terjadi dengan aktris itu. Adam sekarang menatap mata istrinya dengan lekat. Memeluknya dengan erat, mata keduanya bertatapan penuh ketenangan.


Adam kemudian memanggil Erik dengan tatapan mata yang tidak beralih dari Claudia. Erik lalu muncul begitu saja, entah darimana datangnya.


"Minta Naomi untuk mengurus semuanya. Pastikan bahwa tempat ini berpindah kepemilikan atas nama kesayanganku ini. Sekarang juga, dan disini juga, dan tandai mereka berempat. Aku akan memberitahumu nanti apa yang akan aku lakukan pada mereka. Pecat manager itu sekarang juga. Dan Nona Mona diblacklist dari tempat ini mulai hari ini." Ucap Adam tegas.


"Baik Bos." Balas Erik.


Erik sendiri masih tidak mengetahui apa yang terjadi. Tapi dia bisa bertanya pada manager tempat ini nanti.


"Dom, adikmu membawa pengaruh buruk pada kesayanganku. Ajari dia bagaimana bersikap dengan baik, sebelum aku melakukan sesuatu padanya." Ucap Adam memberi peringatan pada Dom tentang Endra, kali ini suaranya terdengar lebih bersahabat dibanding tadi.

__ADS_1


Adam kemudian memegang tangan Claudia, lalu menggandengnya untuk berjalan keluar dari tempat itu. Adam sama sekali tidak menjelaskan siap Claudia bagi dirinya. Hal itu membuat semua orang masih bingung. Mereka tidak bisa memastikan apakah Claudia dan Adam memang memiliki hubungan pernikahan, karena berita yang tersebar di media mengatakan bahwa Adam adalah seorang pria lajang.


Bersambung....


__ADS_2