
Sekarang semuanya menjadi lebih damai. Tak ada lagi berita-berita miring yang menyangkut keluarga Setyawan. Meski pada awalnya, hari dimana Arnold divonis 20 tahun, tajuk berita di koran harian kota ini semuanya memberitakan tentang hal itu.
Aku sebenarnya merasa iba akan nasib yang dialami Arnold, terlebih pada Viona yang harus mengandung seorang diri. Tapi, seperti yang telah Mama katakan padaku. 'Apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai.'
Satu minggu ini, semuanya berjalan lancar. Tak ada lagi gangguan yang biasa dilakukan Arnold dulu padaku. Semuanya terasa begitu damai. Akhirnya, setelah sekian lama, aku bisa juga bernafas lega dan bisa merasakan kebahagiaan menjadi seorang isteri.
Pagi ini, seperti beberapa hari sebelumnya. Aku memutuskan untuk pergi ke taman bermain untuk mengecek pekerjaan para karyawan ku. Karena memang tak ada pekerjaan yang bisa aku lakukan selain itu. Mama juga tak membolehkan aku untuk bekerja di dapur. Semuanya sudah di serahkan pada seorang asisten rumah tangga. Tugasku hanyalah menyiapkan segala keperluan suamiku.
Canggung sekali rasanya karena tak mengerjakan apapun selain menyiapkan pakaian kantor Andreas dan keperluan kecilnya yang lain-lain. Tapi, tak ada yang bisa ku perbuat. Karena sekali Mama sudah bicara, tak ada lagi yang bisa dibantah.
Pagi ini, aku sudah menyiapkan kemeja serta setelan jas berwarna navy untuk Andreas. Dia yang sudah selesai mandi keluar lalu mengenakan pakaiannya. Seperti biasa, ia akan selalu memintaku untuk membantunya mengenakan dasinya. Karena tubuhku yang pendek, membuat Andreas menyediakan bangku khusus yang bisa aku naiki agar bisa menjangkau dasinya.
"Entah bagaimana jadinya aku tanpamu sayang." Ucap Andreas kala aku mengencangkan dasi di kerah kemejanya.
"Kau akan baik-baik saja." Balasku singkat.
"Aku tidak akan sempurna tanpamu. Tidak akan ada orang lain yang bisa memakaikan ku dasi serapi dirimu." Ucapnya lagi.
"Ada-ada saja. Bukankah selama ini kau selalu memakai dasi mu sendiri." Ucapku.
"Tidak pernah sayang." Balas Andreas seraya melingkarkan tangannya di pinggangku. "Sebelum dirimu, hanya Angelica yang terbiasa memakaikan nya untukku."
"Oh ya?"
"Tentu saja. Untuk apa aku berbohong. Aku mencintaimu." Ucap Andreas lalu mulai mencium bibirku.
"Ayolah, ini sudah siang. Kau harus segera berangkat ke kantor. Nanti kau bisa terlambat." Ucapku setelah melepaskan diri darinya dari pelukannya.
"Bersiaplah. Hari ini kau ikut denganku."
"Kemana?" Tanyaku bingung. "Ke kantor?"
Andreas mengangguk kemudian mengenakan sepatunya.
"Untuk apa?" Tanyaku.
"Sudah, tak usah terlalu banyak bertanya. Sekarang gantilah pakaianmu. Aku akan menunggumu di bawah." Balas Arnold lalu pergi meninggalkan aku yang termenung.
'Untuk apa aku harus ikut ke kantornya?'
Meski masih dalam keadaan bingung, aku tetap mengikuti perintah Andreas. Dress yang tadinya aku kenakan sekarang aku ganti dengan pakaian formal. Sudah lama sekali aku tak mengenakan pakaian kantor seperti ini. Seingat ku terkahir kali aku mengenakannya adalah sebelum aku menyerahkan semua perusahaan Arista pada Arnold.
Setelah berganti pakaian, aku berjalan turun ke lantai bawah. Andreas sudah menungguku di ruang makan bersama dengan Mama. Sementara Angelica sudah dua hari ini tidak ada di rumah karena sedang melaksanakan tugas kuliah lapangan. Seperti yang dikatakannya padaku, dia mendapat tugas untuk melakukan tugas kuliah lapangan di luar kota.
"Ayo cepat, habiskan sarapan mu. Kita harus segera berangkat." Titah Andreas.
"Velicia mau kemana? Apa dia mau ikut ke kantor bersamamu?" Tanya Mama.
__ADS_1
Andreas hanya mengangguk seraya menyuapi makanannya. Setelah selesai sarapan, kami berdua kemudian bergegas menuju kantor. Awalnya ku pikir, Andreas akan membawaku ke kantor nya. Ternyata dia membawaku ke perusahaan Arista. Mobil Andreas berhenti di depan pintu masuk perusahaan.
Andreas membukakan pintu untukku dan memintaku untuk turun.
"Ayo turun, kita sudah sampai." Ucap Andreas.
"Ke-kenapa kita kemari?" Tanyaku bingung.
"Turunlah dulu, aku akan menjelaskan semuanya nanti." Jawab Andreas.
Kakiku terasa bergetar saat melangkah masuk ke dalam perusahaan yang sudah lama tak ku kunjungi ini. Semua kenangan saat pertama kali harus mengemban tanggung jawab sebagai CEO di usiaku yang baru 15 tahun. Satu tahun setelah kepergian Mama dan Papa, aku baru bisa fokus mengemban tugas itu.
Ternyata semua karyawan yang bekerja di perusahaan ini berdiri menyambut kedatanganku. Mereka tersenyum dan menyapaku dengan ramah. Wajah-wajah yang ternyata masih sama seperti dulu sebelum aku pergi.
"Welcome back Bu Velicia...." Sapa mereka.
Di ujung barisan para karyawan itu, berdiri Dara, sekretaris ku yang ternyata juga masih bekerja disini. Dia menghambur memelukku dengan erat. Dara sejak dulu memnag sudah seperti kakak perempuan bagiku. Tak ku sangka, ternyata Arnold masih mempertahankan semua karyawan yang aku pekerjakan dulu.
"Bagaimana kabarmu Bu Bos?" Tanya Dara sumringah.
"Aku baik." Balasku.
"Senang melihat Bu Bos bisa kembali bekerja disini." Ucap Dara.
Aku lalu berbalik menatap Andreas penuh tanya. Ia hanya tersenyum lalu menggandeng tanganku masuk ke dalam lift. Sementara Dara terdengar tengah mengumumkan sesuatu pada karyawan lainnya sebelum pintu lift tertutup. Aku tidak bisa mendengar apapun yang dia katakan.
"Ada apa ini sebenarnya?" Tanyaku.
"Mulai hari ini, kau bisa bekerja lagi disini mengurus perusahaan Arista." Jawab Andreas.
"Bagaimana bisa?"
"Aku sudah mengurus semuanya beberapa hari yang lalu." Balas Andreas. "Aku sudah mengurus segala administrasinya. Mengenai perusahaan Papa juga, semuanya sudah clear dari surat wasiat yang di tinggalkan Papa. Papa nyatanya memberiku 30 persen saham dari perusahaan Setyawan. Sisanya kau tahu sendirilah, untuk anak kesayangan Papa yang kini ada di penjara." Ucap Andreas sedikit tersenyum.
Tentu saja, Tuan Besar Setyawan pasti memberikan bagian yang lebih besar pada Arnold. Tapi, pertanyaannya bagaimana bisa Andreas mengurus perusahaan Arista hingga kembali ke tanganku lagi.
"Mengenai perusahaan ini, aku sudah menemui Arnold. Dia sudah menandatangani semua berkas pengalihan perusahaan atas namamu. Sementara untuk perusahaan Setyawan dia menyerahkan pengurusannya padaku." Ucap Andreas.
'Apa Arnold sudah berubah?' pikirku.
"Kenapa?" Tanya Andreas. Dia sepertinya menyadari bahwa aku tengah melamun. "Tidak usah berpikir terlalu banyak. Sekarang fokuslah kembali untuk meneruskan perusahaan ini. Aku harus pergi sekarang. Masih ada pekerjaan yang harus aku urus. Oh ya, nanti aku akan mengirimkan makanan untukmu, jangan lupa setelah itu minum obatmu. Aku akan kembali menjemputmu saat pulang kerja. Ini semua berkas-berkas pengalihan perusahaan atas namamu. Aku pergi sayang. Aku mencintaimu." Ucap Andreas seraya mencium keningku.
Belum sempat aku menjawab, Andreas sudah keluar dari ruangan yang kini kembali menjadi ruangan ku ini.
Tak lama setelah Andreas pergi, pintu kembali di ketuk. Nampak Dara berjalan masuk.
"Ada apa?" Tanyaku seraya membuka dokumen yang diberikan Andreas tadi.
__ADS_1
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Bu Bos." Jawab Dara.
"Siapa?" Tanyaku mengernyitkan dahi.
"Aku belum pernah melihatnya kemari sebelumnya. Jadi aku memintanya menunggu di luar. Kalau tidak salah dia bilang namanya Viona dan mengaku sebagai sahabat Bu Bos."
'Viona? Mau apa dia kemari?'
"Suruh dia masuk." Ucapku.
Belum sempat Dara memanggil Viona, nyatanya dia sudah lebih dulu masuk dengan mendobrak pintu.
"Kurang ajar kau Velicia. Setelah membuatku harus hamil tanpa Arnold. Sekarang kau malah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku." Teriak Viona.
"Tolong jaga bicara anda..." Aku segera mengangkat tangan memotong ucapan Dara yang berdiri di hadapan Viona.
"Apa maksudmu?" Tanyaku dengan tenang.
"Kau tidak perlu berpura-pura bodoh. Seharusnya perusahaan ini menjadi milikku. Karena sebelumnya perusahaan ini adalah milik Arnold. Dan aku tengah mengandung anak Arnold, jadi aku berhak atas semuanya." Ucap Viona.
Aku memilih diam dan mendengarkan ocehan Viona.
"Sebagai sesama wanita kau harusnya mengerti akan kesusahan ku. Kau setidaknya harus berbaik hati padaku karena sebelumnya aku pernah membantumu kabur dari sekapan Arnold." Ucap Viona lagi.
"Sebelumnya, aku berterima kasih padamu karena sudah menolongku hari itu. Tapi semua ini tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya menerima kembali apa yang sejak awal memang milikku. Jika kau ingin protes, kenapa kau tidak pertanyakan pada Arnold. Aku menerima kembali perusahaan ini, karena Arnold sendirilah yang menyerahkannya padaku." Ucapku menjelaskan pada Viona.
"Aku tidak percaya padamu. Kau pasti berbohong. Kau pasti melakukan rencana licik hingga membuat Arnold kembali menyerahkan perusahaan ini padamu." Teriak Viona.
"Kau boleh lihat dokumen ini kalau tidak percaya. Lihatlah, ini tanda tangan Arnold." Ucapku seraya menunjukkan tanda tangan Arnold.
"Aku tidak percaya padamu. Kau wanita licik. Kau berbohong, kau itu....."
"Tolong jaga bicara anda. Silahkan keluar dari sini, sebelum aku memanggil satpam untuk mengusir anda." Ucap Dara pada Viona seraya menariknya keluar.
"Velicia kau wanita licik, kau tidak akan berumur panjang. Kau...."
"Diaaammmm....." Teriakku kala Dara sudah menyeret Viona sampai ke depan pintu. "Ingat kau tengah hamil. Jaga bicaramu. Karena semua ucapan mu itu bisa berbalik padamu. Dara, tolong segera bawa dia pergi dari sini." Titah ku.
Belum sempat Viona berteriak padaku, pintu ruangan sudah tertutup. Aku memijit keningku yang berkedut.
'Ah, hari pertama ke kantor sudah ada hal seperti ini. Semoga kedepannya tidak ada gangguan lagi.'
Aku menatap seisi ruangan dan mendapati ternyata didalam laci meja terdapat foto pernikahanku dulu bersama Arnold.
'Kenapa benda ini bisa ada disini?'
Besok, aku harus menemui Arnold. Sebelum itu, aku perlu bertanya pada Andreas. Apakah dia mengizinkanku untuk bertemu Arnold atau tidak.
__ADS_1
Bersambung....