
Karena Jack tak berhasil, keesokan harinya Andreas mengajak Velicia ke taman bermain, mengajaknya bermain komedi putar dan wahana lainnya. Tapi tetap saja, Velicia tak merasakan apapun. Sebenarnya Velicia sendiri ingin segera bisa bicara, tapi sesuatu dalam dirinya menolak untuk membiarkan suaranya keluar. Velicia pun menulis sebuah kalimat di kertas yang menyatakan ia meminta tolong pada Andreas untuk membantunya agar bisa pulih. Andreas memeluk Velicia dan berjanji untuk membuat Velicia bisa bicara lagi.
Hari ini Andreas berencana membawaku pergi ke Taman Bermain. Kemarin Jack sudah memberitahunya bahwa setidaknya aku sudah mulai merespon terhadap apa yang mereka lakukan. Dan semalam, Jack langsung kembali ke kotanya karena sang istri yang tengah hamil besar tak bisa ia tinggal terlalu lama.
"Aku mencintaimu Velicia. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu sembuh." Ucap Andreas seraya memelukku karena aku memberikannya secarik kertas.
Dalam kertas itu, aku menuliskan sebuah kalimat 'tolong bantu aku untuk sembuh.'
Angelica awalnya ingin sekali ikut bersama kami, tapi tugas kuliahnya tak bisa ia tinggalkan.
"Pulang nanti bawakan aku sesuatu ya." Pesan Angelica yang langsung disanggupi Andreas.
Waktu menunjukan pukul 09:00 kami tiba di Velicia in Wonderland, namun pengunjung sudah pada antri panjang di depan pintu gerbang. Antrian tersebut adalah antrian untuk masuk, bukan antrian untuk beli tiket.
Meski pada kenyataannya aku dan Andreas adalah pemilik taman bermain ini. Tapi, kami tetap bersikap layaknya para pengunjung lainnya yang mengantri untuk bisa masuk ke dalam.
Setelah kami masuk ke dalam area taman bermain. Kami berjalan ke tengah bazar, ternyata hari ini Andreas tengah mengadakan acara bazar besar-besaran yang pantas membuat suasananya sangat ramai dan tampak semua orang berlarian. Mungkin hanya aku dan Andreas saja yang berjalan santai.
Setelah itu Andreas sepertinya bingung akan melanjutkan perjalanan ke arah mana.
"Ke kanan atau ke kiri ya??" Ucap Andreas.
Dan akhirnya ia memutuskan mengajakku berjalan dari arah kiri terlebih dahulu ke kawasan “Adventureland”.
Aku sebelumnya memang tidak pernah mengelilingi taman bermain ini secara keseluruhan. Tempat ini terlalu besar, jadi butuh waktu seharian penuh jika mau menjelajah ke semua areal taman bermain. Dan yang tampak begitu mencolok dari taman bermain ini adalah, menirukan Disneyland. Ada begitu banyak wahana yang menirukan Disneyland, seperti rumah boneka.
Disini wahana pertama yang Andreas mengajakku untuk mencoba adalah “Alice in Wonderland”. Dengan perahu berjalan sebuah alur cerita boneka robot 'Alice' dipertontonkan. Semua boneka robot yang ada di dalam ini terlihat sengat real dan luwes gerakannya.
"Apa kau suka?" Tanya Andreas seraya merapikan sehelai rambut yang tampak menutupi bagian mataku.
Perlahan aku mengangguk dan mencoba tersenyum.
"Bagus." Ucap Andreas.
Selanjutnya aku menemukan animasi favorit ku 'Cinderella'. Berlayar dengan kapal mini untuk menelusuri setiap bagian yang menampilkan kisah Cinderella yang tentu saja diperankan oleh robot dan boneka, tetapi semuanya begitu bagus dan sangat nyata.
Puas bermain di wahana rumah boneka, Andreas menggandeng tanganku dengan mesra. Aku melihat pandangan orang-orang terhadapku begitu ramah dan penuh senyuman. Entah karena mereka tak mengenaliku atau mereka tidak perduli dengan berita yang beredar tentang diriku atau bisa juga karena mereka sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya seperti yang di klarifikasi oleh aparat yang berwenang di televisi.
"Ayo kesana." Ucap Andreas sambil menunjuk ke arah sebuah toko aksesoris.
Sebelum masuk ke dalam toko, aku tampak memperhatikan langit yang biru dengan sedikit awan yang menghiasinya.
__ADS_1
'Sungguh cuaca yang begitu cerah.'
Kami masuk ke dalam toko aksesoris dan ternyata Andreas membelikan ku sebuah bando cantik. Ia langsung memakaikannya di kepalaku. Sementara ia sendiri mengenakan topi kupluk yang memiliki telinga seperti kucing.
"Bagaimana? Apa aku sudah tampak seperti kucing favoritmu?" Tanya Andreas dengan matanya yang sengaja ia mainkan berkali-kali.
Sontak sebuah senyuman akhirnya terukir di wajahku. Melihat akhirnya aku bisa tersenyum, Andreas tampak begitu girang. Ia melompat-lompat dan langsung memelukku.
"Kau tersenyum sayang. Tersenyum....." Teriak Andreas.
Andreas langsung menarik tanganku menuju sebuah wahana yang cukup bisa memacu adrenalin. Awalnya aku tidak mau masuk ke wahana ini, tapi karena rasa penasaran melihat antreannya yang begitu panjang dan selain itu Andreas juga memaksaku.
"Ayolah sayang. Siapa tahu dengan menaikinya kau bisa berteriak dan mendapatkan kembali suaramu." Ucap Andreas.
Ya sudah, aku akhirnya memberanikan diri untuk mencobanya. Dan, seperti dugaan ku, rasanya membuat jantung berdetak begitu cepat. Menyenangkan sekali, tapi nyatanya aku belum bisa mengeluarkan suaraku untuk berteriak.
Durasinya cukup lama dan diterjunkan berkali-kali. Setidaknya 4-5 kali seingat ku di tempat yang berbeda, dan diantara terjun-terjunan itu, disuguhkan cerita dari boneka-boneka robot yang beraneka karakter. Terjun terakhir diakhiri di luar tepat disebelah pintu masuk antrian, jadi disaksikan oleh para pengunjung. Benar-benar menyenangkan.
Waktu menunjukan pukul 1:30 siang, berhubung perutku belum lapar, jadi aku mencoba satu wahana lagi sebelum makan siang.
"Apa kau benar-benar belum lapar?" Tanya Andreas.
Aku hanya menggeleng dan malah menarik tangannya menuju wahana pemicu adrenalin lainnya. Aku penasaran, dan berharap bisa berteriak sekencang-kencangnya. Dan yang terjadi sama saja. Aku tetap tak mendapatkan suaraku.
Kini sudah pukul 3 sore dan tiba waktunya untuk melihat atraksi parade yang sepertinya telah ditunggu sebagian besar pengunjung disini. Parade dilalui dengan para badut. Pengunjung tampak antusias menyambut tiap ikon-ikon badut dan juga orang-orang berpakaian ala Arabian Night yang lewat.
Parade selesai, aku mulai mencari-cari wahana lain. Aku benar-benar ingin bisa mengeluarkan suaraku dengan berteriak disini. Jadi aku ingin mencoba permainan yang agak mirip dengan Roller Coaster. Meliuk-liuk dengan cepat dan sangat memacu adrenalin.
"Apa kau yakin?" Tanya Andreas tampak ragu saat aku membawanya mengantri untuk mencoba wahana itu.
Aku mengangguk dengan pasti dan menarik tangan Andreas agar segera membawaku naik ke wahana itu.
'Semoga saja ia tidak takut.' pikirku.
Kami pun akhirnya berhasil menaikinya. Andreas tampak berteriak kencang. Tapi yang terjadi padaku, selalu saja sama. Aku tetap saja tak bisa mengeluarkan suaraku.
'Ah, entah sampai kapan harus begini.'
Andreas sepertinya menyadari raut wajahku yang kecewa. Ia memelukku di tengah-tengah pengunjung yang ramai.
"Tenanglah. Kau pasti sembuh. Perlahan tapi pasti kau akan mendapatkan suaramu kembali. Intinya hari ini, kita bisa bersenang-senang. Itu saja sudah sangat baik. Apalagi aku sudah bisa melihat ekspresi di wajahmu lagi." Ucap Andreas.
__ADS_1
Sebagai ucapan terima kasihmu padanya, aku berusaha berjinjit dan berhasil mendaratkan sebuah ciuman di pipi Andreas kemudian berlari kecil meninggalkannya yang berdiri mematung. Mungkin ia kaget karena ciuman spontan yang aku berikan.
'Lihat sekarang, siapa yang sudah menjadi patung.' teriakku dalam hati.
"Hei tunggu. Aku mau yang lebih banyak lagi..." Teriak Andreas mengejar ku.
Hari pun mulai gelap, Andreas akhirnya membawaku pulang setelah sebelumnya ia mengajakku mampir makan malam di sebuah restoran Jepang. Dan sepertinya saat perjalanan pulang, aku tertidur di dalam mobil karena begitu lelah.
Dan saat tersadar, Andreas ternyata tengah menggendongku naik ke tempat tidur. Dia dengan penuh kasih sayang menyelimuti tubuhku, lalu mencium keningku.
"Tidurlah, semoga mimpimu indah." Ucap Andreas hendak pergi dari kamar.
Aku menahan tangannya dan memintanya untuk menemaniku. Aku menepuk tempat tidur di sampingku. Entah ide gila dari mana, yang jelas malam ini aku ingin Andreas menemani aku tidur.
"Apa kau ingin aku menemanimu tidur malam ini?" Tanya Andreas.
Aku mengangguk cepat.
"Tapi...."
Aku memasang wajah memelas dan akhirnya dia pun setuju.
"Aku janji tidak akan macam-macam apalagi sampai melewati batas." Ucapnya saat berbaring berhadapan denganku.
'Aku percaya padamu.' balasku dalam hati.
Lama kami saling pandang, hingga tanpa sadar aku lah yang memulai untuk mendekatkan bibirku pada bibirnya. Aku menarik Andreas ke dalam pelukanku dan membuat ciuman kami semakin dalam. Tubuhku seperti tak bisa aku kendalikan sendiri. Hatiku menolak untuk melakukan semua ini karena kau takut Andreas nantinya berpikir aku ini wanita yang sangat agresif. Tapi pada kenyataannya aku benar-benar tak bisa mengawal perasaanku.
Aku mencintai Andreas dan aku menginginkannya.
Kami berciuman cukup lama. Sesekali mengambil nafas dan melanjutkannya lagi. Hingga Andreas akhirnya memegang dan menahan kedua pipiku untuk menghentikan aksi kami.
"Kau tak tahu berapa lama aku menahan diri untuk melakukan semua ini dan bahkan lebih dari ini. Tapi mari kita tidur saja dan hentikan sampai disini saja. Aku takut, aku tidak bisa menahan diriku nantinya. Sungguh Velicia, aku lebih menginginkan dirimu. Tapi aku mau kita melakukannya saat sudah menjadi pasangan yang sah dimata Tuhan nanti." Ucap Andreas lalu mencium keningku. "Ku harap kau tidak marah. Dan jangan menganggap aku menolak mu. Karena sesungguhnya aku lebih menginginkan dirimu. Hanya saja aku masih mau menahan diriku. Apa kau mau memaafkan ku." Lanjutnya lagi.
Aku mengangguk dan kembali mencium bibirnya. Ia membalas ku perlahan dan kami menghentikannya bersamaan.
"Tidurlah. Aku akan memelukmu sepanjang malam." Ucap Andreas lagi.
Andreas lalu memeluk tubuhku dengan erat. Membuat aku merasa hangat dan merasakan degup jantungnya yang begitu cepat. Sepertinya Andreas memang berusaha sekuat mungkin untuk menahan gejolak yang ada di dalam dirinya untuk berhubungan denganku.
'Ah Andreas. Kau pria yang begitu sempurna untuk aku miliki. Terima kasih karena telah mencintaiku...'
__ADS_1
Dan aku pun terlelap dalam pelukan Andreas. Dan aku bermimpi tengah berpelukan dan berciuman mesra dengannya di sebuah rumput ilalang yang sangat luas.
Bersambung....