
Hari itu juga Claudia pergi ke kantor Adam membawakan makan siangnya, tapi dia tidak menemukan Adam berada di kantor. Erik mengatakan bahwa Adam bahkan tidak datang ke kantor hari ini sejak pagi tadi. Sekretaris Adam harus membatalkan semua jadwal meeting dan pertemuan. Sekarang Claudia semakin tidak sabar, dia langsung menelpon Adam sendiri.
Setelah tiga kali berdering, Adam baru menjawab panggilan itu.
"Hmmmm....??"
Seperti itulah balasan yang dijawab Claudia saat menelpon Adam. Biasanya Adam akan mengatakan 'hai sayang, hai cinta, iya sayang' seperti itulah. Tapi kali ini hanya menjawab dengan kata 'hmmmm...' saja.
Claudia tidak mempermasalahkan hal itu dan dia lalu bertanya, "kau di mana?"
"Aku sedang keluar untuk urusan penting." Balas Adam.
Claudia dapat merasakan tidak ada kehangatan dari suara Adam, dan juga tidak ada perasaan. Hanya suara yang terdengar dingin dan penuh emosi. Claudia tidak terbiasa dengan hal itu. Adam tidak pernah berbicara dengannya seperti itu. Claudia tidak menyukai itu, tapi apa yang bisa dia lakukan untuk bereaksi dengan sikap Adam atau dia bisa saja malah semakin membuat Adam marah.
Claudia sangat ingin bertemu dengan Adam, bicara dengannya. Tapi itulah masalahnya saat ini. Claudia tidak berbicara dengan suaminya dalam waktu 12 jam sejak semalam dan hal itu membuat dirinya merasa begitu hampa.
Adam tidak memeluk atau menciumnya bahkan juga tidak menyapa nya selama 12 jam ini. Claudia sangat menginginkan suaminya saat ini.
Claudia menghela napas lalu menjawab,
"Oh, aku ada di kantormu membawa makan siang mu. Kapan kita...."
"APA? KENAPA? APAKAH AKU MEMINTAMU UNTUK DATANG KE KANTOR MEMBAWAKAN MAKAN SIANG KU? SIAPA YANG MENYURUHMU?"
Adam terdengar berteriak memotong ucapan Claudia.
Claudia benar-benar terkejut sejak hari dimana Adam tahu bahwa dia adalah istrinya, Adam tidak pernah berbicara seperti itu kepadanya dan tidak pernah berteriak padanya. Claudia sering marah kepada Adam, tapi Adam tidak pernah berteriak. Hari ini adalah pertama kalinya Adam seperti itu, Claudia sangat bingung.
'Membawa makan siang untuk suamiku sendiri, apakah itu perbuatan kriminal? Kenapa aku harus membutuhkan izin untuk melakukan hal itu?' pikir Claudia.
"Tetaplah di situ. Aku akan segera datang. Kau jangan sampai berani untuk meninggalkan kantor." Ucap Adam lalu memutuskan sambungan telepon.
Claudia bahkan tidak dapat berbicara, dia sangat terkejut. Dia langsung duduk di sana dengan wajah yang terlihat jelas begitu terkejut.
Kurang dari 15 menit, Adam sudah tiba di sana. Dia langsung datang dan menarik Claudia. Matanya terlihat begitu marah. Claudia tidak mengatakan satu kata pun dan hanya menatap suaminya itu.
Adam juga tidak mengatakan apapun, dia hanya memegang tangan Claudia erat dan menariknya keluar melewati pintu. Claudia mengharapkan sebuah pelukan atau kata-kata manis yang sering diucapkan suaminya. Tapi semua itu tidak terjadi, dia hanya bisa terdiam mengikuti suaminya menuju mobil.
Setelah berkendara dalam diam, mobil akhirnya tiba di rumah. Adam langsung membawa Claudia ke dalam kamar dan melepaskan tangannya dengan mendorong Claudia ke atas tempat tidur.
"NILAA....." Teriak Adam.
Pelayan itu langsung naik ke lantai atas.
"Ya Tuan." Jawab Nila seraya membungkuk di hadapan Adam.
"Bukankah aku memintamu untuk mengatakan kepadanya agar tidak keluar dari rumah?" Tanya Adam. "Jawab aku, bukankah aku mengatakan hal itu pada mu?" Tanya Adam lagi, kali ini penuh dengan kemarahan.
Nila gemetar, wanita itu sebenarnya lebih tua dari Adam. Tapi aura menakutkan Adam yang keluar, membuat semua orang ketakutan kepadanya.
"I...iii..iya Tuan. Saya lupa untuk mengatakannya kepada Nona Muda, sebenarnya itu...."
"DIAM LAH...!!!" Teriak Adam memotong ucapan Nila dengan kasar. "Bagaimana kau bisa melupakan hal itu? Biar aku tebak, kalian semua melihat aku selalu dengan suasana hati yang baik selama ini, begitu bukan? Aku bahkan tidak memberikan kalian sedikit kemarahan selama beberapa bulan ini. Itulah alasan kenapa kalian semua mulai besar kepala, karena berpikir aku tidak akan bereaksi apapun dengan kesalahan yang kalian perbuat." Ucap Adam dengan berteriak lagi.
Claudia merasa tidak enak hati pada Nila. Nila terlihat menangis. Claudia tidak pernah melihat Nila begitu ketakutan.
"Nila, kau boleh pergi." Ucap Claudia kali ini.
Claudia tidak tahan lagi dengan perlakuan Adam itu. Sebenarnya Claudia tidak ingin bereaksi tapi Adam memaksa dirinya dengan menguji kesabaran nya.
Nila tidak pergi, dia tetap berdiri di sana.
"Nila apa kau tidak dengar yang sudah aku katakan? Pergilah." Ucap Claudia lagi.
Claudia berjalan mendekati pintu lalu menutup nya setelah Nila akhirnya melangkah perlahan keluar dari dalam kamar. Claudia kemudian melihat kearah pria yang berdiri di belakangnya. Dia melihat pria itu dan menunggu apa yang akan dia katakan.
__ADS_1
Adam berapa saat melihat kearah Claudia.
"Segera kemasi barang-barang mu. Kau akan pergi ke New York lusa."
Claudia semakin bingung lagi.
"Apa?" Ucap Claudia tidak menyadari apa yang dikatakan oleh Adam.
"Kau sudah mendengarkan aku. Kau harus pergi meninggalkan rumah ini ke New York lusa. Aku sudah memesankan tiket dan semuanya sudah diatur untukmu. Tapi sebelum hari itu datang, kau tidak boleh keluar dari dalam rumah. Kau mengerti itu?" Ucap Adam dengan nada yang terdengar berbeda.
"Tapi kenapa?" Claudia semakin bingung dan juga terkejut.
"Apa maksudmu menanyakan kenapa, itu sudah diputuskan sebelumnya bukan?" Ucap Adam bertingkah seolah hal itu bukan hal yang baru saja mereka putuskan.
"Iya, aku tahu. Tapi kita memutuskan aku akan pergi ke New York setelah hasil ujian ku keluar." Ucap Claudia berusaha mengerti akan apa yang sedang terjadi.
"Iya, tapi hal itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Mereka tidak membutuhkan hasil ujian mu. Dan kenapa kita harus menunda proses keberangkatan mu?" Ucap Adam dengan santai.
Claudia tidak dapat berkata apa-apa, dia tidak percaya dengan apa yang didengar nya. Claudia tidak menampik bahwa apa yang diucapkan Adam itu sangat menyakiti dirinya.
"Hah?? Aku berada di sini membuat semua proses ditunda? Aku tidak bisa percaya semua itu Dam. Kenapa semuanya begitu mendadak?" Ucap Claudia.
"Semuanya memang mendadak. Aku tidak bisa memberitahukan mu bahwa.... Sudahlah bisakah kau berhenti untuk mempertanyakan keputusanku, setidaknya sekali saja Claudia... Bisakah kau percaya kepada ku tanpa bertanya apapun sekali saja??"
"Aku akan melakukannya tapi tidak kali ini. Kau harus memberi tahu aku alasan kenapa kau begitu ingin mengirimkan aku pergi ke New York? Apakah aku mengganggu sesuatu di sini?"
"Kau memang tidak bisa merubah dirimu sendiri. Kau masih sama. Aku adalah satu-satunya orang yang membodohi diriku sendiri, berpikir bahwa kau mencintai aku dan percaya kepadaku. Tapi tidak, kau tidak pernah mencintai aku Claudia dan juga tidak mempercayai aku."
"Bagaimana kau bisa begitu mudah mengatakan bahwa aku tidak mencintaimu. Aku memberikan segalanya untukmu Adam, dan kau masih butuh bukti atas cintaku?"
"Lalu kenapa kau selalu butuh bukti dari kesetiaan ku Claudia?"
Claudia sudah ingin menangis, dia tidak pernah berpikir semua ini akan terjadi terutama dengan Adam.
Claudia menelan ludah dan berjalan mendekat kearah Adam dengan tidak memutuskan kontak mata mereka berdua, kemudian berucap,
Adam terlihat semakin marah, dan rahang nya mengeras karena rasa frustrasi.
"Kau belum bisa mempercayai aku bukan?"
"Aku percaya... Dan aku akan percaya kepadamu hanya jika kau memberi tahu aku, kenapa kau sangat ingin mengirim aku pergi kesana? Kenapa semua ini sangat mendadak? Beritahu aku alasannya, lalu aku akan melakukan apapun yang kau mau." Ucap Claudia.
"Apakah kau selalu mengatakan semua isi hatimu kepadaku? Kau bilang kau memberikan semuanya kepadaku, benarkah? Apakah kau memang memberikan semuanya kepadaku? Kau hanya memberikan aku tubuhmu Claudia, tidak yang lain. Tidak dengan kepercayaan mu, tidak juga dengan tempat khusus yang ada di hatimu bagiku. Apakah kau memberitahuku tentang kehidupanmu? Berapa kali kau pernah menceritakan tentang masa lalu mu dan berbagi sesuatu kepadaku tentang semua itu hah? Kau bahkan tidak pernah berbicara kepadaku tentang Calvin, tidak pernah. Itu semua Om Andreas dan Yumi yang memberi tahu aku tentang Calvin. Sampai sekarang kau tidak pernah mengatakan apapun tentang Calvin kepadaku. Apakah kau memberi tahu aku kau pergi bertemu Will minggu lalu? Tidak, kau tidak mengatakannya. Ada banyak hal tentang dirimu, hidupmu dan masa lalu mu yang tidak pernah kau katakan kepadaku. Bukankah aku benar Claudia.
Lalu kenapa kau mengharapkan aku akan mengatakan semuanya kepadamu. Aku sedang menghadapi situasi yang genting. Karena aku tidak ingin diganggu oleh mu, maka aku akan mengirim mu pergi. Aku tidak bisa memberitahukan mu alasannya. Jika kau ingin percaya kepadaku, maka baiklah, itu bagus. Tapi jika kau tidak mau percaya padaku, maka itu kau masih sama seperti dirimu yang dulu. Aku juga tidak masalah dengan hal itu. Berbahagialah dengan rasa ketidakpercayaan mu itu. Aku sudah berusaha begitu keras untuk melawan rasa ketidakpercayaan mu itu. Aku berharap setidaknya kau sekarang bisa percaya kepada ku. Kau tidak akan menanyakan apapun jika aku memintamu untuk pergi sekarang, kau akan percaya kepadaku. Tapi kenyataannya tidak.
Kau Claudia Arista Setyawan, tidak pernah bisa mencintai aku, tidak pernah. Baiklah, kau tau Claudia... Tetaplah di sini, jangan pergi kemana-mana. Aku sedang berjuang dengan sesuatu yang tidak berguna. Kau tidak mencintai aku, jadi kenapa aku harus berjuang untuk semuanya. Kau tidak pernah melihat aku seperti tipe pria yang kau suka. Karena aku bukanlah orang yang bisa kau cintai. Aku sekarang tahu tipe pria idaman mu. Kasar, beringas, impulsif, ganas dan keras kepala sama seperti dirimu. Itulah tipe pria ideal yang kau suka bukan?
Claudia Arista Setyawan adalah wanita yang di luar jangkauan ku. Aku Adam Wijaya, tidak akan pernah bisa menjadi pria favoritmu. Kau sudah punya begitu banyak pengalaman yang tidak serasi dengan diriku. Aku seharusnya menghentikan semua ini sejak lama. Aku seharusnya menjadi pria singel, sendiri dalam hidupku kau tahu...!
Mulai hari ini aku tidak akan berjuang untuk apapun. Semuanya ku serahkan kepadamu. Kau yang akan berjuang, jika kau ingin tetap bersamaku maka kau akan melakukan apa yang aku katakan. Tapi, jika kau tidak ingin bersamaku, maka aku akan melepaskan mu. AKU AKAN MELEPASKAN MU NONA CLAUDIA ARISTA SETYAWAN.."
Keheningan menyelimuti seluruh ruangan saat keduanya terlihat saling menatap kemudian Adam mulai berbicara lagi.
"Aku tidak mau mendengarkan apapun lagi. Kau bisa berpikir apapun yang kau inginkan, tapi keputusan finalnya adalah kau harus pergi." Ucap Adam kemudian berjalan keluar dari dalam kamar meninggalkan Claudia sendirian di kamar.
Claudia merasa terlalu sakit untuk berbicara apapun. Dia tetap tidak bisa mempercayai bahwa suaminya bertindak seperti itu kepadanya. Claudia tidak bisa menghentikan air matanya yang mengalir begitu saja di pipinya. Dia mengerti apa maksud dari perkataan Adam dia sudah dibuang oleh Adam.
*************
Tepat di dalam sebuah ruangan khusus di kantornya, Adam tengah minum alkohol gelas demi gelas.
Adam marah pada dirinya sendiri. Dia kesal karena dia sudah berbicara kepada istrinya seperti itu. Tapi dia harus melakukannya. Pertama, karena dia harus mengirim Claudia pergi dari negara ini secepat mungkin. Dan kemudian dia kesal karena Claudia tidak pernah berbicara tentang Sean kepada dirinya. Bagaimana sebenarnya hubungannya dengan Sean di masa lalu, dan apakah mereka begitu dekat. Adam benar-benar tidak tahu apapun tentang hal itu.
Adam mencoba untuk tidak bereaksi akan hal itu. Tapi pada akhirnya dia bereaksi juga. Adam kesal, karena dia menyadari bahwa Claudia menangis karena ucapannya tadi.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu terdengar diketuk. Sangat aneh bagi Adam memikirkan siapa yang bisa datang ke kantor di jam seperti ini.
"Masuklah." Ucap Adam dengan suara yang terdengar rendah.
Dia lalu melihat kearah pintu dengan penasaran untuk melihat siapa yang datang itu.
Adam mengusap matanya beberapa kali. Adam membutuhkan waktu beberapa saat untuk bisa mengenali wajah itu.
Ternyata itu adalah Megan. Adam mengerutkan dahinya melihat gadis itu.
"Kau. Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Adam dengan suara yang terdengar mabuk.
Megan berjalan ke arah Adam dengan langkah yang sedikit takut. Megan tidak pernah melihat Adam yang terlihat seperti itu. Cara Adam berbicara kepadanya malam itu membuat Megan masih merasa takut.
"Om, sebenarnya aku butuh tanda tangan Om di kertas ini. Ini berhubungan dengan sekolahku dan hanya Om dan Om Will yang bisa menandatangani surat ini. Jadi aku datang kemari." Ucap Megan menjelaskan dengan suara yang pelan.
Adam mengambil kertas itu dari tangan Megan dan melihatnya. Matanya terasa semakin kabur dan kabur setiap detiknya. Dia melihat kearah kertas itu lalu menaruhnya kembali di atas meja. Adam berbalik menatap Megan kemudian Megan langsung mengalihkan pandangannya dari Adam. Tatapan mata Adam terlihat sedikit berbeda hari ini.
Megan dapat merasakan tatapan Adam yang begitu berbeda kepadanya. Dia terus memutar ujung pakaian yang dikenakannya dan menelan ludah.
"Kemari lah." Ucap Adam yang masih melihat kearah Megan.
Dengan Adam yang memintanya untuk mendekat, membuat Megan terkejut dan suara Adam benar-benar terdengar begitu berbeda.
Megan berjalan mendekat, lalu duduk di samping Adam. Dia melihat kearah Adam sekali dan melihatnya lagi. Sementara Adam terus menatapnya dari atas ke bawah. Adam terlihat tengah memperhatikan seluruh tubuh Megan. Membuat Megan merasa mata Adam tidak sopan.
Megan sebenarnya memang menyukai Adam. Tapi dia tidak pernah melihat Adam menatapnya seperti itu. Megan merasakan napas hangat di telinganya. Megan merasa malu dan tidak dapat menahan diri untuk terlihat merona.
"Kau bukanlah gadis kecil yang sama seperti dulu lagi bukan? Aku selalu berpikir bahwa kau masih kecil." Ucap Adam dengan suara yang terdengar menggoda dan matanya terus menatap Megan dengan nakal.
Adam menyentuh tangan Megan dan menggenggam nya dengan erat. Megan semakin tidak bisa menahan diri untuk merona malu. Dia melihat kearah Adam kali ini. Matanya sangat jelas menunjukkan seberapa besar dia menyukai Adam dan bagaimana bahagia dan senang hatinya yang dia rasakan saat ini.
Adam tiba-tiba menarik Megan mendekat ke arahnya, menggenggam tangan megan dengan erat kemudian secara tiba-tiba Adam mendorong Megan ke atas sofa. Membuat Megan berbaring dan Adam sendiri berada di atas tubuh Megan.
Mata Adam menunjukkan hasrat yang begitu besar. Napasnya terasa di kulit Megan. Mereka berdua terdengar bernapas begitu berat. Adam menarik tangannya lalu mengusap wajah Megan. Tangannya terus-menerus mengusap wajah Megan dengan matanya yang mengikuti arah tangannya.
"Apa kau menyukaiku?" Tanya Adam dengan suara yang begitu dalam dan menggoda.
Megan benar-benar meleleh karena sentuhan yang dilakukan Adam. Ini adalah pertama kalinya bagi Adam menyentuh Megan seperti itu, melihatnya seperti itu. Megan selalu menginginkan momen yang seperti ini datang, tapi tidak pernah terjadi sampai akhirnya saat ini terjadi juga. Megan merasa mimpinya menjadi kenyataan. Adam terlihat menunggu respon dari Megan. Dia pun menganggukkan kepalanya. Adam semakin menunduk membuat wajah keduanya hanya berjarak beberapa inci saja.
"Katakan padaku Tuan Puteri..."
Megan menutup matanya saat Adam menyebut panggilan itu. Sudah sangat lama saat Adam memanggil namanya dengan dengan sebutan Tuan Putri. Megan tersenyum lalu sebelum menjawab.
"Iya, aku menyukaimu. Aku sangat menyukaimu sampai aku bisa melakukan apapun yang kau mau untuk aku lakukan, hanya untuk bisa membuat dirimu menjadi milikku seutuhnya." Ucap Megan dengan berani yang akhirnya keluar dari rasa malunya.
Hidung Adam sudah menyentuh pipi Megan. Adam memegang wajah Megan dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya menahan dirinya agar tidak terjatuh menimpa Megan.
Mereka berdua menatap satu sama lain sebelum Adam akhirnya berbicara lagi.
"Bagaimana jika aku menginginkanmu saat ini, sekarang juga? Apakah kau setuju untuk memberikan pengalaman pertama mu itu kepada ku?" Tanya Adam tanpa keraguan dengan masih menatap tubuh Megan dengan matanya yang terlihat penuh hasrat.
Megan tidak dapat mempercayai apa yang dilihatnya. Dia merasa bahwa dirinya tengah bermimpi.
"Iya, tentu saja aku mau." Balas Megan tidak ingin membuang kesempatannya.
"Apa kau yakin? Aku sangat frustrasi sekarang. Aku butuh seseorang untuk mengeluarkan semuanya sekarang. Aku tidak akan berhenti jika kau meminta aku untuk melakukannya." Ucap Adam memperingati Megan.
Megan tetap terdiam hanya menganggukkan kepalanya dan menelan ludah.
Bersambung....
Bagaimana menurut kalian? Apakah Adam akan benar-benar melakukannya atau tidak?
Apakah Adam akan mengkhianati Claudia? Atau itu hanyalah trik Adam yang akan memberikan pelajaran kepada Megan agar gadis itu tidak lagi mengganggunya?
__ADS_1
Silahkan coba ditebak-tebak... 😁