
Apa yang dikatakan Andreas memang ada benarnya. Tuan Besar Setyawan memang pria yang ambisius. Dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaannya dari kebangkrutan, seperti memaksa Arnold menikah denganku. Tapi, yang membuat aku bingung adalah, kenapa Andreas memanggil Papa nya sendiri dengan nama Tuan Besar?
"Aku tak pernah tahu bahwa kau akan menikah dengan Arnold, karena saat itu semua orang memutuskan komunikasi denganku. Kau pasti ingat, satu minggu setelah ulang tahunmu yang ke 15, aku menemui mu. Aku mengatakan padamu bahwa aku akan pergi."
Aku teringat akan hari itu. Tepat di bianglala ini, kami duduk berdua berpegangan tangan. Andreas memang mengatakan padaku bahwa ia harus pergi untuk melanjutkan studinya.
"Gadis kecil, aku akan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi ku." Ucap Andreas kala itu.
Dengan deraian air mata dan begitu polosnya aku mengatakan "aku akan menunggumu."
Berselang 5 tahun, Tuan Besar Setyawan datang membawa foto Arnold yang saat itu ku pikir Andreas untuk menikah denganku. Aku mengira bahwa Andreas sudah pulang. Apalagi saat Arnold yang ku pikir adalah lelaki yang ku cintai itu datang menemui ku dan berlutut melamar ku di pantai. Bagaimana mungkin aku bisa menolaknya.
Tapi, nyatanya semua itu hanyalah kesalahanku semata. Aku salah mengenali orang. Salahku juga dulu tak menanyakan nama Andreas. Aku hanya nyaman dengan memanggilnya 'Kakak.' Ternyata perasaan sayangku padanya berubah menjadi obsesi untuk memilikinya. Hingga aku jadi salah arah.
Air mataku tumpah ruah, aku tak dapat menahannya lagi. Aku menutup wajahku dengan telapak tanganku dan mulai terisak. Tiba-tiba tubuhku terasa hangat, Andreas memelukku dengan erat.
"Menangis lah. Aku ada bersamamu." Ucap Andreas.
Ucapan yang sama seperti di masa lalu saat aku sering menangis saat kehilangan kedua orang tuaku. Aku semakin terisak, mengingat semua yang aku lalui selama 3 tahun ini ternyata dengan orang yang salah. Aku mati-matian mencintainya karena ku pikir dia orang yang sama dengan orang yang aku cintai dulu.
"Maafkan aku...." Ucap Andreas dengan suara yang tercekat.
'Apa dia menangis?' pikirku.
Aku melepaskan pelukan Andreas dan melihat matanya yang memerah.
"Aku yang salah karena tak bisa menghubungimu. Aku yang salah karena aku tak bisa menghalangi pernikahan kalian. Aku sama sekali tak tahu karena dia memutus semua komunikasi denganku." Isak Andreas.
'Dia' yang disebut Andreas pastilah Tuan Besar Setyawan.
__ADS_1
"Aku kembali dan ternyata sudah terlambat. Jadi, aku memutuskan untuk kembali lagi ke luar negeri karena ku pikir kau akan bahagia bersama Arnold. Tapi nyatanya, keputusanku malah semakin menyakitimu. Ku mohon maafkan aku." Lagi-lagi Andreas berucap dengan air matanya yang jatuh ke pipinya.
'Ya Tuhan, pria yang selama ini ku cintai menangis untukku.'
Tanpa sadar, aku menarik Andreas kedalam pelukanku. Ku biarkan kepalanya bersandar di dadaku. Aku mengelus pucuk kepalanya, persis seperti yang seorang ibu lakukan kepada anak laki-lakinya yang tengah menangis.
"Satu hal yang ingin aku tahu. Apakah kau menyukaiku?" Tanyaku.
Andreas langsung duduk tegap dan memegang kedua tanganku.
"Aku sangat menyukaimu. Meski awal pertemuan kita aku hanya menyukaimu sebagai seorang adik. Namun seiring berjalannya waktu rasa suka ku itu berubah menjadi cinta. Namun tak pantas bagiku untuk menyatakan cinta pada gadis kecil berusia 15 tahun. Jadi, aku menunggu hingga gadis kecilku berubah menjadi sedikit lebih dewasa." Ucap Andreas.
"Apa kau mencintaiku?" Tanyaku dengan berani.
"Velicia, mau kah kau memulai semuanya dari awal denganku?" Tanya Andreas yang membuatku diam membisu.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku mengerti perasaanmu. Meski Arnold bukan pria yang kau sukai dulu, tapi setelah menjalani pernikahan selama 3 tahun, kau pasti memiliki rasa suka padanya. Kau harus tahu, awalnya aku tak ingin masuk dalam hubungan kalian seperti ini. Karena ku pikir Arnold bisa berubah, tapi nyatanya dia terus saja menyakitimu. Jadi, mulai hari ini aku katakan, aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan membiarkan dia mendekati atau menyakiti dirimu lagi. Tapi, kembali lagi. Semua keputusan aku serahkan padamu. Jika kau mengizinkan aku untuk masuk ke dalam hidupmu, menjagamu, dan mencintaimu dengan caraku."
"Velicia! Apa aku salah bicara?" Tanya Andreas.
Untuk kedua kalinya dia memanggil namaku. Jika biasanya dulu dia selalu memanggilku dengan sebutan gadis kecil. Air mataku semakin mengalir deras.
"Maafkan aku jika telah membuatmu sedih. Tolong jangan menangis lagi. Kau bisa menolak ku, tidak apa-apa. Jangan paksakan dirimu, jika kau ingin bersama..."
Aku menghambur ke pelukannya dengan terisak aku mengatakan,
"Aku mencintaimu Kakak, sejak dulu dan akan selalu begitu. Hanya saja aku salah mengenalimu. Aku sangat mencintai seorang pria yang dulu ku panggil dengan sebutan kakak. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya. Tapi jujur, aku tak punya keberanian untuk membayangkannya. Karena aku wanita yang sudah...."
"Sssttt.... Diam lah." Andreas menyela ucapan ku. "Aku ingin menikmati suasana syahdu ini." Lanjut Andreas semakin mengeratkan pelukannya padaku.
__ADS_1
"Aku mencintaimu gadis kecilku." Ucap Andreas seraya memegang kedua pipiku, tatapan mata kami beradu.
"Aku juga mencintaimu Kakak.... Andreas." Balasku lalu menutup mataku.
Ku pikir Andreas akan mencium ku dengan posisi kami yang sudah begitu dekat. Yang ia lakukan malah membuat pipiku memerah. Andreas mencubit hidungku, lalu mencium keningku begitu lama. Terasa hangat dan penuh cinta.
"Jangan terlalu cepat. Kita baru saja resmi berpacaran." Bisik Andreas ditelinga ku yang membuatku semakin merasa malu.
Bisa-bisanya aku berpikir bahwa Andreas akan mencium ku.
"Iihhh....!" Seruku dengan mencoba terlihat kesal dan mendorongnya, padahal hanya menutup rasa maluku.
Aku memalingkan wajahku darinya dengan perasaan yang begitu malu. Andreas malah memegang daguku, kemudian mencium pipiku.
"Sudah tidak kesal lagi kan gadis kecilku." Ucap Andreas yang malah semakin membuatku malu.
'Ya Tuhan....'
**********
Hari demi hari berlalu dengan cepat.....
Acara pernikahan Merry dan Hansen akan segera terlaksana. Kedua belah pihak keluarga mereka sudah bertemu untuk membahas semua persiapan. Hansen yang hanya memiliki seorang nenek, berbaur dengan keluarga besar Merry yang datang dari kota sebelah. Mereka sepakat untuk melangsungkan pernikahan secara sederhana di rumahnya.
Persiapan demi persiapan sudah di lakukan dengan cepat. Aku ikut membantu Merry untuk menyiapkan pernikahan impiannya selama ini. Sejak dulu, Merry selalu berkata bahwa ia ingin menikah dengan mengenakan gaun yang memiliki ekor yang sangat panjang. Dan akhirnya ia mewujudkan semua impiannya.
Aku ikut bahagia melihat kebahagiaan dari wajah sahabatku itu.
Hubunganku dan Andreas pun berjalan lancar. Ia memperlakukanku dengan baik. Beberapa hari ini, dirinya juga ikut sibuk membantuku untuk menyiapkan pernikahan Merry dan Hansen.
__ADS_1
Dan, yang membuat aku semakin merasa nyaman adalah, tak ada lagi gangguan dari Arnold. Dia seperti menghilang di telan bumi. Tak ada tanda-tanda dari keberadaannya akhir-akhir ini. Hal itu membuatku sangat bersyukur. Karena aku pikir Arnold pasti sudah mau melepaskan aku.
Bersambung.....