
Adam terus sibuk mencumbu sang istri. Menciumi wajah, leher, dada hingga ke perut Claudia. Claudia sendiri tak berhenti mendesah. Ia sebenarnya merasa malu dengan dirinya yang bisa mengeluarkan suara liar seperti itu. Tapi semuanya terasa tak bisa dikendalikan, Claudia seolah hanyut dalam kemesraan yang diberikan sang suami padanya.
Adam mengangkat kepalanya lalu memandangi wajah Claudia yang terlihat memerah. Adam hendak menarik ****** ***** Claudia. Tapi Claudia terlihat sangat gugup. Dia menahan tangan Adam dengan mata keduanya yang saling menatap. Dia juga terlihat menggigit bibirnya. Adam pun mengusap pipi Claudia dengan lembut.
"Ada apa cinta? Kenapa kau begitu gugup? Ini bukan pengalaman yang pertama kali untukmu bukan? Bagaimanapun kau akan melakukannya bersamaku. Kau tidak perlu....."
'Plak!'
Mata Adam membelalak, wajahnya memerah. Butuh waktu baginya untuk mencerna kenyataan bahwa Ratu nya ini sudah menamparnya ditengah adegan romantis mereka.
Adam merasa kesal, sangat kesal. Dia tidak pernah merasa begitu kesal pada Claudia selama ini. Dia tidak bisa menemukan alasan apapun dari tamparan yang dilayangkan Claudia padanya.
Adam Wijaya, seorang pria yang tidak pernah bicara dengan sangat lemah lembut pada orang lain. Seorang pria yang hanya menjentikkan jarinya untuk mendapatkan sesuatu. Seorang pria yang dihormati oleh banyak orang. Tidak pernah ditampar oleh siapapun dan hanya sang istri yang berusia 21 tahun, seorang mahasiswa yang berani melakukannya.
Adam menatap Claudia dengan mata yang memerah penuh kemarahan. Claudia kenyataannya jauh lebih marah dari Adam. Hal itu membuat Adam menjadi bingung. Dia bahkan melupakan amarahnya sendiri.
Claudia mendorong Adam agar menjauh dari tubuhnya. Ia kemudian bangun lalu menuju kamar mandi, meninggalkan Adam yang tampak kebingungan. Dengan wajah yang masih bingung, Adam terus menebak-nebak apa yang membuat dirinya sampai ditampar begitu keras oleh sang istri.
'Apa dia akan memanggilku Pria Tua lagi? Kesalahan apa yang aku lakukan kali ini? Tidak pernah ada gadis manapun yang menahan diri denganku sampai saat ini. Apa yang terjadi padanya? Apa dia sedang datang bulan?' pikir Adam.
Dia terus menunggu Claudia. Sebenarnya dia tengah berada dipuncak birahinya dan itu sangat menyakitkan baginya. Dia membutuhkan sang istri sekarang, disini. Tapi sayang sekali...
Gadis itu akhirnya keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan keluar dengan cepat dari ruangan itu tanpa memberikan Adam kesempatan untuk bertindak. Adam mencoba untuk mengejar Claudia keluar, tapi ia tidak bisa melakukannya karena ia hanya menggunakan celana bokser nya saja. Dia tahu kali ini, dia tidak akan bisa mengejar sang istri setelah selesai mengenakan celananya.
Adam menjatuhkan kepalanya di tempat tidur dengan rasa frustrasi.
'Tuhan, aku tahu bahwa aku sudah bersikap begitu kejam dan dingin pada dunia ini sepanjang hidupku. Tapi, apakah Engkau harus membalas ku dengan cara seperti ini? Dengan menjodohkan ku dengan seorang istri yang sepuluh kali lebih kejam dariku. Dunia takut padaku. Dan Engkau mengirimkan seorang pasangan yang aku takuti. Kenapa? Kenapa Kau harua mempermainkan aku seperti ini?'
Adam lalu beranjak bangun hendak kembali berpakaian rapi. Tapi, setelah mengenakan kemeja dan jasnya, matanya membelalak. Ia menyadari bahwa celana yang tergeletak di lantai bukanlah miliknya. Itu adalah milik Claudia. Sepertinya Claudia salah menggunakan celana dan meninggalkan celana miliknya disini. Dan Claudia mempunyai pinggang yang kecil, tentu saja celananya tidak akan muat jika dikenakan Adam.
Adam rasanya ingin menangis sekarang. Dia berdiri beberapa saat dengan bagian bawah yang belum mengenakan celana, lalu menelepon Erik.
"Ya Tuan?"
"Bawakan padaku sebuah celana sekarang juga. Aku sedang berada dalam ruangan istirahat." Perintah Adam.
Erik begitu kebingungan.
'Apakah dia telah pipis di celananya? Atau dia sudah melakukan...' Erik berhenti berpikir setelah Adam mematikan sambungan teleponnya.
"Baik Tuan." Balas Erik bicara seorang diri.
Kurang dari lima belas menit kemudian, Erik datang dan mengetuk pintu dari ruang istirahat pribadi milik Adam, dimana Adam tampak duduk mengenakan bokser menunggu dirinya.
Erik masuk ke dalam ruangan dan matanya sontak membelalak. Tuan Adam Wijaya, ada disana diatas tempat tidurnya, memegangi kepalanya sendiri, dengan hanya mengenakan setelan jas bagian atas terlihat begitu frustrasi karena hanya mengenakan bawahan bokser untuk menutupi keperkasaan nya. Erik tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ada sebuah tanda merah juga di pipi Bosnya itu.
'Apakah Nona Muda yang sudah menamparnya? Ya Tuhan, gadis ini benar-benar... Aku harus lebih berhati-hati padanya. Gadis nakal itu sudah menampar Bos dan masih bisa hidup dengan bebas di dunia ini. Itu semua adalah hal yang tidak akan mungkin terjadi pada orang lain jika sampai berani menampar Bos. Dan Bos, malah tampak sangat patuh pada perintah gadis itu.' pikir Erik.
*******************
Setelah berpakaian lengkap, Adam menyadari bahwa istri kesayangannya itu telah menulis sebuah status di sosial medianya.
__ADS_1
'AKU INGIN...'
Hanya itu saja, Adam lalu dengan cepat mengetik komentar lewat pesan.
Claudia mendapat sebuah notifikasi tentang sebuah pesan dari akunnya dari Tuan A.
'Apa yang kau inginkan?'
Claudia: 'Aku ingin dia berjalan dengan tanpa mengenakan alas kaki diatas bara api.'
A: 'Waah, lalu?'
Claudia: 'Aku ingin dia berlutut diatas kulit durian. Aku ingin dia dikutuk seperti Malin Kundang menjadi batu.'
A: 'Apa yang sudah dilakukannya kali ini?'
Claudia: 'Dia... Dia... Bajingan itu sudah meragukan keperawanan ku. Dia berpikir bahwa aku sudah pernah melakukannya. Maksudku, dia sudah tahu bahwa aku sangat membenci mantanku. Tapi dia masih berpikir bahwa aku pernah tidur dengan pria bajingan itu. Bagaimana dia bisa berpikir seperti itu...'
Claudia tidak mendapat balasan lagi. Dia lalu mematikan ponselnya. Saat ia tiba di kampus, ia lalu menceritakan semua yang terjadi pada para sahabatnya. Mereka semua malah memarahinya dan mengutuk perbuatannya yang telah menampar Adam. Bahkan sahabat baiknya, Endra, bahkan berpikir bahwa Claudia lah yang bersalah. Hari ini Claudia bahkan bertengkar dengan sahabatnya hanya karena Adam.
Saat ini Claudia tengah duduk di dalam perpustakaan kampus untuk yang pertama kalinya dalam sejarah hidupnya. Sambil meminum milkshake dan belajar. Dia akan menjalani ujian dalam waktu 20 hari lagi.
Adam sendiri sudah mengajarinya dengan sangat baik untuk ujiannya nanti, seperti sebuah keajaiban semua itu memang berhasil. Tapi, Claudia masih butuh menambah pembelajarannya sendiri.
Sebuah notifikasi terdengar dari ponselnya, yang merupakan tentang Tuan A yang mengganti foto profilnya. Claudia sama sekali tidak tertarik dengan hal itu. Tapi Claudia sangat ingin mengetahui siapa Tuan A yang sebenarnya. Jadi dia mengklik notifikasi itu lalu membuka profil Tuan A.
Claudia malah terkejut karena mendapati bahwa itu adalah dirinya. Tuan A menaruh foto dirinya sebagai foto profilnya.
A: 'Kita bisa menaruh foto artis, idola atau siapapun orang yang kita kagumi sebagai foto profil kita kan? Jadi, apa salah jika aku menaruh fotomu sebagai foto profilku? Aku sangat mengagumimu.'
Claudia: 'Itu bukan alasan yang lucu. Jangan mencoba untuk bermain pintar denganku.'
A: 'Hei, aku sangat menyukaimu. Kau terlihat sangat menggemaskan di foto ini.'
Claudia: 'Dengar ya. Berhentilah bicara hal seperti itu. Hapus fotoku dari profil mu.'
A: 'Tapi, aku menyukaimu. Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Maukah kau menjadi temanku?'
Claudia: 'Dengar ya, Tuan Tidak Dikenal. Aku sudah menikah. Berhentilah mengatakan hal seperti itu padaku. Aku tidak menyukai rayuan mu. Lagipula, jika suamiku mengetahui semua ini. Kau pasti akan dipotong menjadi beberapa bagian dan dijadikan makanan hewan buas di kebun binatang.'
Claudia tidak mendapat balasan lagi, jadi dia pun menutup ponselnya.
*********************
Sudah jam 9:30 malam.....
Adam pulang ke rumah. Tapi, bukannya mendapati gadis kesayangannya. Dia malah disambut oleh Nila. Nila mengatakan bahwa Claudia akan tinggal di asrama kampus dan dia tidak akan kembali lagi ke rumah.
Tiba-tiba Adam merasakan kehilangan yang begitu dalam. Dia tidak pernah menyangka bahwa gadis nakal yang penuh emosi ini akan menjadi seluruh dunianya. Dia tidak pernah tahu bahwa seseorang akan membuatnya merasa begitu nyaman berada di rumah yang bahkan membuatnya seperti tidak bisa bernapas tanpa kehadiran gadis itu di rumah ini. Adam menutup matanya menghela napas panjang.
Dan momen berikutnya, Adam sudah berada di depan gerbang asrama kampus Claudia.
__ADS_1
Claudia berada di dalam asrama bersama Yuna. Dia tengah bertengkar dengan Endra, Rose dan Diana. Jadi dia tidak bicara dengan mereka. Claudia benar-benar seperti wanita yang tengah datang bulan, ia marah pada apa saja dan siapa saja.
Seseorang terus saja meneleponnya sejak tiga puluh menit yang lalu, dan dia terus mengabaikannya. Tapi hal itu belum dapat membuatnya merasa tenang. Kemudian dia mendapat sebuah pesan.
'Aku menunggumu di depan gerbang asrama. Jika kau tidak muncul dalam waktu 5 menit, aku akan masuk dan menyeret mu keluar. Sekarang kau pilih saja, jika kau ingin teman sekelas mu melihat apa yang akan aku lakukan.'
Darah Claudia terasa mendidih seperti gunung berapi.
'Pria sialan ini. Berani-beraninya dia mengancam ku seperti ini.'
Claudia begitu kesal lalu dengan wajah penuh amarah hendak keluar dari dalam kamar.
"Hei Di, ada apa? Sepertinya kau tengah bersiap untuk berkelahi. Apa kau mau aku ikut membantumu?" Tanya Yuna.
"Iya benar sekali, dan lawan ku adalah Adam Wijaya. Kau ingin membantuku kan? Jadi, ayo pergi." Ucap Claudia seraya menarik lengan Yuna untuk keluar dari dalam ruangan.
Yuna langsung syok dan tampak menangis. Ia lalu terduduk dan memeluk kaki Claudia.
"Tidak... Tidaak... Tidaak... Di, tolong lepaskan aku. Aku tidak mau pergi." Ucap Yuna tampak takut karena membayangkan dirinya berhadapan dengan Adam.
Claudia melepaskan Yuna, kemudian dengan cepat bergegas menuju gerbang. Dia sudah menghabiskan waktu satu menit. Dan waktu yang dimilikinya hanya empat menit untuk bisa sampai di gerbang.
Ketika dia sudah keluar dari gedung asrama. Dia melihat dengan jelas sebuah mobil mewah terparkir tepat di depan gerbang asrama. Beberapa gadis dan para laki-laki lainnya mencoba dengan keras untuk mengetahui siapa yang ada didalam mobil itu. Claudia menghela napas kemudian dengan cepat menaikkan hoddie dan menutupi wajahnya.
Adam dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan Claudia dari dalam mobil.
"Apakah begitu memalukan jika bersamaku? Kenapa dia tidak mau orang-orang tahu bahwa aku adalah suaminya?" Ucap Adam.
Dia ingin sekali keluar dari dalam mobil untuk membukakan pintu untuk Claudia. Tapi dia tahu bahwa gadis itu tidak akan menyukainya terlebih ada banyak pasang mata yang melihat.
Adam tidak pernah ingin memaksa gadis itu. Tapi Claudia tidak memberinya pilihan lain. Dia tidak mengangkat telepon, dan Adam tak ingin dia tinggal di asrama kampus. Nona Claudia Wijaya ingin tinggal di asrama kampus, menolak untuk tinggal di rumah mewah dengan suaminya. Adam tidak bisa membayangkan semua itu. Lagipula, Adam tidak bisa tidur sendirian lagi malam ini.
Claudia dengan cepat masuk dan duduk di kursi belakang, tapi tetap diam. Adam juga tidak mengucapkan sepatah katapun. Diapun mulai menyalakan mobilnya dan bergegas pergi.
Setelah beberapa menit kemudian, Claudia tidak dapat menahan dirinya untuk bicara.
"Apa yang kau inginkan, hah? Kenapa kau datang kemari dan memaksaku? Hentikan mobilnya dan katakan semuanya disini. Aku tidak akan kembali ke rumah. Aku katakan padamu, aku akan tinggal di asrama."
Adam tidak menghentikan mobilnya, dan terus bersikap tenang. Dia menyadari bahwa dirinya tidak pernah meluapkan amarahnya jika Claudia berada didekatnya.
"Baiklah, aku juga akan mengatakan padamu. Bahwa kau tidak boleh tinggal di asrama kampus." Balas Adam akhirnya.
"Dan, kenapa bisa seperti itu?"
"Karena aku memintamu."
"Kenapa aku harus mendengarkan mu kali ini?"
"Karena aku adalah suamimu. Dan kau adalah Nyonya Adam." Jawab Adam.
"Ha ha ha ha ha, Nyonya Wijaya kepalamu. Para wanita lain mengantri untuk menjadi Nyonya Adam. Bagaimana kalau kita bercerai saja dan aku akan memberikan hak istimewa itu kepada mereka. Kau sendiri juga bisa mendapatkan istri yang patuh dan sempurna."
__ADS_1
Bersambung....