90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Bertemu Lagi (Bab 22)


__ADS_3

Sore hari sepulang bekerja, aku meminta sopir untuk mengantar ku pergi ke sebuah Mall di pusat kota. Aku ingin bersenang-senang untuk menghilangkan kegundahan hatiku dengan makan-makan atau melakukan perawatan di salon.


Di sisa hidupku yang sebentar lagi, aku mau menikmati semuanya tanpa memikirkan hal yang akan membuatku sakit hati.


Jam dinding menunjukkan pukul 7:30 malam. Setelah selesai melakukan perawatan, aku bergegas menuju sebuah restoran untuk mengisi perutku yang sudah mulai keroncongan.


Tepat setelah selesai makan malam, saat hendak berjalan keluar restoran, Arnold menarik tanganku secara tiba-tiba. Ia membawaku ke tempat parkir mobilnya dan membuka pintu mobilnya untukku.


Pria yang terlihat sendu itu berbicara,


"Ayo, masuk Velicia," pintanya padaku..


Aku hendak menolak, namun suasana parkiran yang sepi membuatku takut jika harus berjalan sendirian. Apalagi yang terlihat disini hanya para lelaki.


Aku terpaksa masuk ke dalam mobil Arnold. Tanganku terasa semakin dingin, terus saja saling meremas, dengan pandangan tertuju ke luar jendela. Sungguh, aku benci situasi ini. Bagiku ini bukanlah kebetulan, tetapi cobaan.


"Kau mau pulang ke rumah atau pergi ke suatu tempat?" Tanya Arnold padaku.


"Aku mau ke menemui temanku." Jawabku asal.


"Bisa tolong nanti kasih tahu arahnya?" ucap Arnold.


"Ketik saja jalan pelita no.4 di google map," balasku tanpa melihat ke arahnya.


"Sayang sekali, tapi HP-ku mati, kehabisan baterai." Balas Arnold.


Pasti bohong!


"Mobilnya belum bisa jalan kalau tidak tahu arahnya," ucap Arnold lagi.


"Aku pesan taxi on–"


"Ah, iya, aku lupa kalau bawa charger, sebentar aku isi daya dulu," ucap Arnold memotong ucapan ku dengan tangan sibuk mencari sesuatu.


Arnold terlihat sibuk mengotak-atik ponselnya.


Lama sekali. Dia cari alamat atau nulis novel!


"Ehem." Aku sengaja berdeham.

__ADS_1


"Maaf, tadi ada pesan masuk jadi aku balas dulu. Kita jalan sekarang."


Kita?


Mendengar kata 'kita' yang terlontar dari mulut Arnold membuatku mengembuskan napas panjang.


Sabar Velicia ... anggap saja ini salah cobaan dalam hidupmu. Dia bukan siapa-siapa. Jaga hatimu, Velicia. Kuat, yuk, kuat!


Akhirnya mobil melaju dengan kecepatan sedang, ditemani keheningan.


Mobil berbelok masuk ke SPBU setelah beberapa saat.


"Isi bensin dulu, ya." Ucap Arnold.


Aku hanya diam dengan pandangan terus saja menatap ke luar jendela.


Arnold membuka jendela, memberikan uang dan berbicara sejenak dengan petugas. Ia mulai melajukan mobilnya lagi setelah pengisian selesai. Bukannya keluar dari SPBU, ia malah mampir ke minimarket yang masih satu lokasi dengan SPBU itu.


"Aku haus sekali, tadi belum sempat minum apa-apa. Kamu mau titip sesuatu?"


"Tidak, terima kasih," jawabku tanpa menatap Arnold.


"Oke. Bentar, ya."


Tuhan, kenapa Engkau mempertemukan kami lagi? Padahal aku sudah berjuang mati-matian untuk mengikhlaskan dan melupakan. Apa ini salah satu dari ujian-Mu juga?


Aku memejamkan mata sesaat, entah kenapa rasa perih singgah di ulu hatinya. Dengan dada yang sesak, aku memesan taxi online dan memintanya untuk cepat datang.


"Hidup ini layaknya jalan raya, Nona. Kita akan bertemu banyak persimpangan, yang terkadang membuat laju kendaraan kita berhenti sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan lagi agar sampai ke tujuan," ucap Bu Sumi kala itu.


"Hidup Nona adalah jalan Nona, Nona Velicia sendiri yang bisa tentukan kapan mau berhenti dan kapan mau melanjutkan perjalanan. Yang jelas, tak ada luka yang tak sembuh, tak ada luka yang tak ada obatnya, dan setiap luka memiliki takdirnya. Semua hanya masalah waktu dan seberapa keras ikhtiar kita, sisanya serahkan pada Tuhan, biarkan Dia yang selesaikan."


Aku yang tadinya terpejam, refleks terbuka saat mendengar suara gerak pintu. Tampak Arnold masuk dengan membawa sesuatu di tangan.


"Buat jaga-jaga kalau kamu haus nanti," ucapnya sambil memutar badan ke arahku dan menyodorkan botol minuman rasa cokelat, minuman kesukaanku.


Aku hanya menatapnya sekilas. "Aku alergi cokelat."


"Iya kah? Sejak kap–"

__ADS_1


"Sejak beberapa hari yang lalu," ucapku dengan cepat.


"Velicia...." suara Arnold terdengar lembut, tetapi mampu meremas hatiku.


"Aku sudah pesan taxi online, terima kasih atas tumpangannya," ucapku sambil keluar dari mobil saat melihat sebuah taxi online berhenti di minimarket sesuai arahan yang kuberikan tadi.


Arnold ikut turun dari mobil. "Velicia......."


Aku langsung mengangkat satu tangan ke arahnya, memberi tanda untuk tidak lagi bicara atau mendekat.


"Jangan membuatku membencimu untuk kedua kalinya, Tuan Arnold Setyawan."


Selama perjalanan, bayangan wajah Arnold yang mencoba menahan ku untuk tidak pergi tadi membuat hatiku tak karuan.


Aku meletakkan tangan di dada, mencoba menguatkan diri untuk tidak menangis. Titik tujuan sengaja tidak aku pusatkan ke rumah. Aku sengaja memilih menyendiri dulu sampai tenang dan pergi ke pantai seperti biasanya.


Aku menghembuskan napas panjang perlahan.


Aku memandang lurus ke depan menatap deburan ombak. Setelah menempuh perjalanan lumayan panjang, akhirnya aku sampai juga di pantai pinggiran kota. Aku mulai berjalan menyusuri bibir pantai sambil tersenyum miris, entah ide gila apa yang tersemat di pikiranku tadi, sudah malam seperti ini malah minta diantar driver yang aku pesan secara offline ke pantai.


Tadinya ku pikir driver tersebut akan menolak.


Pria yang usianya kira-kira sepantaran dengan mendiang Papa itu pun rela menunggu sampai aku selesai.


"Saya tunggu di sini saja ya. Nanti kalau sudah selesai kamu ke sini aja," ucapnya saat aku turun dari dalam mobil. "Jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh, ingat orang tua di rumah."


Aku ingin tertawa saat driver itu mengatakan ada orang tua di rumah. Padahal, pada kenyataannya aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dan tanpa melakukan hal yang aneh-aneh pun, hidupku tidak akan bertahan lama. Sesuai diagnosa dokter beberapa hari lagi aku akan mati.


Perlahan, aku berjalan menyusuri tepian pantai.


Angin sepoi-sepoi menggerakkan rambut panjang ku yang terikat tinggi. Perlahan, mataku terpejam dengan tangan direntangkan sembari menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan nya perlahan. Aku melakukan berkali-kali sampai hatiku benar-benar tenang.


"Arrrrgggggh!" Aku berteriak sekeras mungkin, ketika mengingat semua mimpi-mimpi yang kandas tanpa bekas.


Napas ku tersengal setelah itu. Dada bergemuruh hebat karena sesak kembali memenuhinya. Perlahan tubuhku jatuh ke pasir, memegang dada yang sakitnya kembali terasa.


Kenapa sangat sulit melupakan, padahal sudah berusaha sekeras mungkin. Kenapa, ya, Tuhan ...?


Tak memedulikan kondisi sekitar, aku menjatuhkan tubuhku di atas pasir dengan kepala menatap langit malam yang semakin pekat. Sesuatu yang hangat aku rasakan mengalir dari ujung mata.

__ADS_1


Tuhan ... tolong genggam hatiku, agar tak lagi mengharap selain pada-Mu.


Bersambung......


__ADS_2