90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Tentang Anak (Bab 75)


__ADS_3

Hari-hari berlalu, kehidupan pernikahanku semakin berjalan dengan baik. Tak ada lagi gangguan dari orang luar, termasuk Viona. Entah kemana perginya wanita itu, yang jelas aku tak pernah mendengar kabar darinya lagi.


Lima bulan susah pernikahan ku dan Andreas berjalan. Seperti kata orang, masih seumur jagung. Namun, rasanya kami sudah menikah dalam waktu yang begitu lama. Mungkin karena kami memang sudah mengenal satu sama lain lebih dulu, hingga kini hampir tak pernah ada perdebatan diantara kami berdua. Hanya saja, ada satu hal yang selalu mengganjal di hatiku.


Menikah lima bulan, tapi belum juga diberi momongan. Hal seperti ini tentu banyak terjadi di sekitar ku. Jangankan lima bulan, bahkan ada pasangan yang lain bahkan harus menunggu bertahun-tahun untuk akhirnya menimang bayi. Apalagi sahabatku, Merry juga sekarang sudah hamil besar.


'Jangan ditanya bagaimana bahagianya Merry, karena kebahagiaan itu tentu tak bisa ditukar dengan apapun.'


Apalagi Viona juga sedang hamil. Lalu, kenapa aku berbeda? Kenapa aku tak bisa mengandung. Hal ini selalu saja menggangguku. Belum lagi tentang perasaan Andreas. Aku yakin dia tentu saja dia sudah ingin sekali bisa menggendong bayi. Tapi, apalah dayaku karena semua itu tak akan pernah terjadi.


Banyak pertanyaan dan terutama nasihat yang ditujukan kepadaku. Aku hanya menerimanya dengan senyum, menjawab pertanyaan dengan sabar, dan menanggapi nasihat-nasihat itu dengan terbuka. Namun apakah orang-orang tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya?


Hari ini, aku duduk untuk makan siang di kedai teh Merry, dan tanpa sengaja mendengar obrolan tiga orang ibu muda tentang melahirkan. Terlihat salah seorang dari mereka tengah hamil besar.


"Wah, kalau aku dulu ngelahirin normal. Berat bayiku 3,55 kilo, panjangnya 52 centimeter. Nggak ribet kok lahirannya," ungkap seorang ibu muda pertama.


"Wih! Gede banget ya anaknya. Aku waktu itu juga lancar dan nggak ribet lahirannya. Cuman anakku 2,8 kilo aja beratnya," ibu muda kedua menimpali.


"Jadi wanita itu hebat ya. Apalagi yang sudah pernah hamil dan melahirkan, mereka itu sempurna. Wanita yang tak pernah hamil dan melahirkan bukanlah wanita sempurna" timpa ibu muda lainnya.


'Ah, andai saja Tuhan memberikanku kesempatan untuk bisa merasakan hal itu. Aku memang wanita yang tak sempurna.' ucapku dalam hati.


Saat tengah asyik termenung, Merry datang dengan membawa nampan berisi minuman dan roti untuk makan siang ku.


"Ada apa denganmu? Akhir-akhir ini aku sering melihatmu melamun?" Tanya Merry seraya duduk perlahan dihadapan ku.


Perut Merry yang semakin membuncit, membuat gerakannya menjadi semakin terbatas.


"Aku memang wanita yang tak sempurna ya Mer." Ucapku seraya menyeruput teh hijau buatan Merry.

__ADS_1


"Bicara apa sih kamu." Ucap Merry kemudian menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan dan melihat ke arah tiga ibu muda tadi. Dan salah satu dari mereka tampak tengah hamil besar.


Merry sepertinya menyadari, bahwa pandangan mataku tertuju pada ketiganya.


"Kenapa kau bisa bilang begitu?" Tanya Merry dengan wajah tenang.


"Karena aku tidak akan pernah bisa hamil dan merasakan bagaimana rasanya melahirkan." Jawabku.


Merry tampak menghela nafas dan mengusap punggung tanganku dengan lembut.


"Ada saja orang yang berani berkata, 'wanita yang tak pernah hamil dan melahirkan bukanlah wanita sempurna'. Lisan kita memang harus lebih dijaga lagi. Kepada pengantin baru dan pengantin lama yang belum juga dianugerahi kehamilan, tak perlulah kita iseng bertanya, 'kapan punya momongan nih?' Itu sama saja bertanya, 'kapan matahari terbit dari barat?' Hanya Tuhan yang tahu jawabannya." Ucap Merry dengan suara lantang.


Ketiga orang ibu muda itu tampak menatap ke arah kami berdua.


"Velicia sayangku. Ketahuilah bahwa setiap wanita itu sempurna, dengan segala takdir yang Tuhan gariskan untuknya. Memang hebat wanita yang bisa sabar melahirkan dan menyusui ekslusif. Namun, wanita yang bisa bersabar menanti bertahun-tahun kehamilannya yang tak kunjung tiba juga tak kalah hebatnya. Termasuk juga wanita yang memang di vonis untuk tak bisa hamil. Bayangkan, kesabaran seluas apa yang dimiliki oleh wanita yang sudah belasan tahun menikah namun tak juga mendapatkan strip 2 di alat tes kehamilan. Sementara pasangan muda yang baru menikah, terkadang sudah memberi kabar hamil. Kau harus bersabar, dan jangan berputus asa. Apa mertuamu menanyakan prihal kehamilan?" Tanya Merry lagi.


Aku hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala saja. Jujur saja, perasaan putus asa sudah hampir mendera, perasaan bosan ditanya momongan sudah berkarat di telinga, perasaan iri terhadap kelahiran bayi, akhirnya sudah kebas. Hanya Tuhan yang menjadi tumpuan curahan hati dan segala kegelisahan ku.


Aku hanya bisa tersenyum, aku membenarkan ucapkan Merry. Memang selama ini baik Andreas maupun Mama tidak pernah membicarakan tentang hal itu. Hanya saja, aku sendirilah yang merasa tak enak hati.


Setelah pembicaraan itu dengan Merry. Malam harinya, suamiku sudah selesai mandi. Aku duduk di sofa yang tersedia di dalam kamar dengan dua gelas coklat hangat diatas meja. Andreas lalu berjalan ke arahku dengan mengenakan kaos oblong warna putih dan celana pendeknya. Ia terlihat begitu tampan. Dia duduk disamping ku alu menandaskan segelas cokelat hangat yang aku buat dengan takaran yang selalu pas di lidahnya.


"Ada apa?" Tanya Andreas. "Sepertinya ada hal yang ingin kau katakan padaku." Lanjutnya.


"Maafkan aku yang tak bisa memberikan keturunan untukmu. Maafkan aku yang menjadi akar masalah yang mungkin menyebabkan mu mendapatkan olok-olokan keluarga dan teman-teman kita. Maafkan aku yang tak berguna ini." Ucapku.


"Bicara apa sih kamu." Balas Andreas dengan raut wajahnya yang tampak tak suka dengan ucapan ku.


"Mau aku melakukan hal apapun demi bisa mendapatkan buah hati, tak akan pernah bisa berhasil. Karena aku memang tak akan pernah bisa mendapat anugerah seperti itu. Aku merasa tak pantas menjadi pendamping hidupmu." Ucapku lagi.

__ADS_1


"Sayang, aku sangat mencintai dirimu. Aku sayang sama kamu, dan akan selalu begitu. Aku tahu, kau menginginkan buah hati. Aku tahu, kau merindukan tawa anak kecil di rumah ini. Aku tahu, kau ingin sama seperti wanita yang lainnya. Bisa merasakan hamil dan melahirkan. Tapi, aku sudah mengatakan hal itu sejak awal padamu sebelum kita menikah. Aku dan semua keluarga sudah tahu tentang kondisimu. Jadi, tidak akan ada yang menanyakan mu perihal kehamilan. Dengan menikah denganmu saja, aku sudah merasa sangat bahagia. Dan aku tidak pernah menuntut mu untuk memberikan anak kepadaku. Aku hanya menuntut cinta darimu. Itu saja. Jadi cintailah aku sepenuh hatimu. Hilangkan semua perasaan bersalah tentang memiliki anak. Karena aku mencintai dirimu apa adanya." Ucap Andreas panjang lebar lalu memelukku.


Aku membalas pelukannya dengan erat. Aku memang bukan wanita setegar karang yang selalu berdiri kuat saat dihempas ombak. Sudah banyak derita yang aku lalui. Namun, perasaan ingin memiliki anak inilah yang membuatku menjadi manusia yang lemah. Tapi, sekarang tidak lagi. Aku akan menutup semua telingaku tentang perkataan orang akan kehamilan. Prioritas utamaku adalah kebahagiaanku dan juga suami yang sangat mencintaiku.


"Aku mencintaimu." Ucapku pada Andreas.


"Kau pun pasti tahu bahwa aku lebih mencintaimu." Balasnya lalu perlahan mulai mencium bibirku.


Malam ini, ku curahkan semua cinta dan kasih sayang pada suamiku tanpa beban pikiran yang menginginkan kehadiran buah hati. Aku melayaninya dengan semua cinta yang aku punya. Hingga ia bisa tertidur pulas dengan senyum yang terukir di bibirnya.


'Andreas, terima kasih. Aku mencintaimu.'


Bersambung.....


Hai semuanya....


Apa kabar? 😊😊


Maaf ya, akhir-akhir ini, jadi jarang upload. Karena ada banyak kesibukan di dunia nyata... 😁😁


Semoga kalian masih setia dengan menunggu update dari novel ini ya. Terima kasih banyak untuk semua dukungan kalian... 🥰🥰


Oh ya, kemarin tepat 16 November, Author merayakan hari jadi loh. Ada yang mau ucapin atau mendoakan... 🤭🤭


Semoga kita semua tetap sehat dan diberikan umur panjang ya... Aamiin... 🙏🙏


Salam sayang,


La-Rayya

__ADS_1



__ADS_2