90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Menikah (Bab 65)


__ADS_3

Perjalanan cukup panjang, penuh hambatan dan air mata yang menemani. Tuhan begitu banyak memberikan cobaan. Namun, aku terus bangkit dan berharap bahwa akan ada bahagia dibalik semua duka yang telah Tuhan berikan padaku.


Setelah terasa seperti begitu lama menjalani kehidupan ini. Akhirnya salah satu mimpi ini akan segera terlaksana.


Banyak orang bilang, orang yang akan menikah ada saja cobaan dan halangan nya. Begitu juga denganku. Tapi, aku lebih senang menyebutnya tantangan dibanding cobaan, hanya sebatas pekerjaan kantor yang tak kunjung usai.


Tantangan pertama adalah karena adanya kehadiran Arnold yang selalu berusaha memisahkan aku dan Andreas. Rencana pernikahan kami sebelumnya juga gagal karena ulah Arnold. Hingga akhirnya membuat Mama Andreas dan keluarga yang lainnya menginginkan pernikahan sederhana agar bisa berkumpul dengan sanak saudara yang cukup jauh dalam waktu dekat. Dengan waktu yang terbatas aku dan Andreas pun langsung ngebut mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk pernikahan impianku sendiri.


Aku sangat bersyukur Andreas selalu bersedia mendampingi saya untuk segala macam persiapan pernikahan kami. Karena kali ini, aku benar-benar ingin mengaturnya sendiri. Dia selalu setia menemaniku untuk menyiapkan semuanya setiap hari.


"Sayang, kenapa tidak serahkan semuanya pada wedding organizer saja." Ucap Andreas kala aku mengajaknya untuk menyiapkan hal-hal kecil.


"Aku benar-benar ingin melakukan semuanya sendiri. Aku ingin semuanya sempurna. Toh pernikahan kita tidak akan dirayakan besar-besaran. Hanya akan mengundang anggota keluarga saja kan?" Protes ku.


"Baiklah. Terserah bagaimana kau menyukainya. Aku akan selalu mendukungmu." Balas Andreas mengelus kepalaku.


Mulai dari dekorasi, gaun, undangan, suvenir pernikahan, hingga urusan catering pun aku yang memilihnya sendiri.


Meski lelah, tapi aku begitu senang, karena bisa menyiapkan keperluan pernikahanku sendiri.


Tiba-tiba aku juga ingin cincin pernikahan couple. Sempat terjadi perdebatan antara aku dan Andreas. Entah kenapa aku ingin sekali Andreas juga pakai cincin nikah. Andreas yang tidak suka pakai aksesoris selain jam tangan tadinya menolak.


"Sayang, orang-orang juga akan tahu kalau aku sudah menikah tanpa harus memakai cincin." ucap Andreas.


Semula aku pasrah. Masalah cincin itu pun aku sudah tak menginginkannya lagi. Tapi karena Andreas memang tipe pria yang sangat pengertian akhirnya dia mengalah. Kami akhirnya memilih cincin sederhana yang bertuliskan nama kami diatasnya. Aku mengenakan cincin dengan nama Andreas. Dan sebaliknya Andreas mengenakan cincin dengan namaku. Maka setelah menikah nanti, aku akan mengenakan dua cincin di jemariku. Satu cincin yang merupakan pemberian Andreas saat melamar ku, yang tersemat di jari manis tangan kiri. Dan cincin pernikahan di jari manis tangan kanan.


Aku benar-benar menyiapkannya secara detail. Bahkan untuk buket bunga, aku memilihnya sendiri. Aku ingin sekali punya buket bunga sendiri dari bahan yang awet agar bisa jadi kenang-kenangan. Akhirnya saya memesan buket bunga mawar merah dari kain satin.


Setelah beberapa hari, urusan persiapan pernikahan akhirnya sudah bisa dibilang sempurna. Tinggal menunggu hari sambil menyiapkan fisik dan mental.


Bersyukur sekali karena mendapat bantuan dari anggota keluarga dan teman seperti Jack, Angelica dan juga Merry. Terutama Andreas yang selalu menemani dan mendukung apapun yang aku lakukan.


Tinggal menghitung hari, berdoa dan menyiapkan mental.


Langkah baru dimulai dan ada beberapa hal yang berubah dan harus diubah dari hidupku. Meski ini merupakan pernikahan kedua bagiku, tapi untuk pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan yang begitu tak terkira. Pernikahan ku kali ini benar-benar dilandasi oleh cinta dan tanpa adanya kesalahan.


Aku benar-benar bahagia.


*********


Pagi hari ini, cuacanya terasa begitu mendukung pernikahan kami yang memang di laksanakan di ruang terbuka yaitu tepian pantai. Aku bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap-siap. Kali ini, aku memilih tak mengenakan jasa perias pengantin. Aku mau melakukannya sendiri.


Aku duduk di depan cermin di dalam sebuah kamar hotel yang ada di pinggir pantai dan mulai memolesi wajahku. Terdengar suara pintu kamar hotel di ketuk.


"Siapa?" Tanyaku.


"Ini aku dan Merry." Jawab Angelica.


Aku bergegas membukakan pintu untuk mereka. Keduanya tampak cantik dalam balutan dress berwarna putih. Dalam pernikahan hari ini, aku meminta keamanan lebih di tingkat kan lagi. Mengingat kejadian yang lalu, saat aku diculik di hari pernikahanku bersama Andreas.

__ADS_1


"Sini, biar aku bantu untuk menata rambutmu." Ucap Angelica.


"Terima kasih." Balasku.


Kami bertiga berbincang-bincang di dalam kamar hotel, menunggu hingga waktunya tiba.


"Veli, aku turut bahagia untukmu. Semoga kali ini, kau bisa mendapatkan kebahagian yang selama ini kamu inginkan bersama Andreas." Ucap Merry.


"Terima kasih Mer. Doa yang sama aku tujukan padamu dan Hansen." Balasku.


"Heh, kakak ipar. Apa kau tidak akan mendoakan ku juga?" Protes Angelica.


"Tentu saja aku selalu mendoakan kebahagiaanmu. Tapi pertama-tama, segera temukan pria yang layak untuk kau jadikan pasangan hidup. Ingatlah untuk tidak gegabah mengambil keputusan. Kenali dulu pria yang akan kau nikahi. Pastikan dia adalah orang yang tepat. Jangan sampai salah pilih sepertiku dulu." Ucapku memberikan nasehat kepada adik ipar ku itu.


Saat menyebut nama Arnold, aku tiba-tiba teringat dirinya.


'Apa kabar pria itu?'


Sudah berhari-hari tak ada kabar mengenai dirinya. Semoga saja kali ini dia benar-benar sudah bisa menerima pernikahanku dengan Andreas.


Waktu pernikahan pun segera dimulai. Angelica dan Merry berjalan mendampingiku menuju area tempat pernikahan. Dan ternyata persis seperti yang aku inginkan. Nuansa putih dan biru mendominasi dekorasi pernikahanku. Rasanya gugup sekali saat semua mata memandang ke arahku.


"Ayolah, tenang saja. Kenapa wajah mu terlihat tegang begitu?" Tanya Angelica.


"Aku gugup." Balasku.


"Tenanglah. Kami tidak akan membiarkanmu jatuh." Kali ini Merry yang berucap.


Hingga akhirnya aku tiba di hadapan Andreas. Kami pun mengucap sumpah pernikahan di hadapan semua keluarga dan kerabat yang hadir.


"Saya, Andreas Setyawan akan menjadikan Velicia sebagai istri saya. Saya yakin memilih Velicia karena saya merasa nyaman. Saya tahu Velicia akan setia pada saya dan Velicia adalah cinta sejati saya.


Pada hari yang istimewa ini, di hadapan Tuhan dan semua saksi pernikahan kita, saya berjanji akan selalu berada di sisi Velicia sebagai suami yang setia. Dalam suka dan duka, dalam sedih dan senang, dalam sakit dan sehat maupun dalam keadaan terpuruk dan bahagia. Saya berjanji akan mencintai Velicia tanpa syarat. Menghibur saat masa sulit. Mendukung dalam mencapai cita-cita. Menangis dan tertawa bersama. Selalu terbuka. Selalu menghargai setiap keputusan. Selamanya kita akan hidup bersama." Ucap Andreas dengan mata yang berbinar.


"Di hadapan Tuhan, keluarga dan sahabat-sahabat kita, saya Velicia Arista menjadikan Anda suami saya. Pasangan dan teman yang selalu ada di hidup saya. Untuk berbagi tawa. Untuk berbagi duka dan untuk berbagi segala rasa yang ada. Kita akan selalu tumbuh bersama. Selamanya." Ucapku penuh haru.


Suasana haru pun menyelimuti pernikahan kami. Aku menitikkan air mata saat Andreas mendaratkan sebuah kecupan hangat di keningku. Semua orang bersorak senang dan bertepuk tangan saat kami sudah resmi menjadi pasangan suami isteri.


"Sekarang kau sudah resmi menjadi Nyonya Andreas." Ucap Andreas.


Aku tersenyum bahagia karena akhirnya pernikahan hari ini benar-benar berjalan lancar tanpa adanya hambatan.


Jamuan makan dan hiburan pun dimulai. Para tamu yang ikut menyaksikan pernikahan kami memberikan ucapan selamat.


'Tuhan baik sekali. Terima kasih banyak.'


Tepat saat kami melakukan dansa, terdengar suara keributan yang berasal dari area tempat perjamuan makan.


"Ada apa?" Tanyaku pada Andreas setelah menghentikan dansa kami.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu." Balas Andreas.


Seseorang yang mengenakan kemeja hitam tampak mengamuk dan menghancurkan semua makanan yang tersedia.


"Siapa dia?" Tanyaku geram.


"Veliciaaaa...." Teriak pria itu yang seketika membuat nyaliku ciut.


Mataku membelalak saat melihat sosok pria itu ternyata Arnold. Aku meraih tangan Andreas. Rasa takut mulai menjalar di tubuhku kala melihat sorot mata Arnold yang begitu menyeramkan.


"Kau tak bisa meninggalkanku begitu saja Velicia." Teriak Arnold lagi seraya berjalan mendekati aku dan Andreas.


Di tangan Arnold terdapat sebuah senjata api yang membuatku semakin panik. Aku yakin semua orang tampak panik terlebih saat Arnold mulai menodongkan senjata itu ke arah Andreas.


"Hentikan Arnold. Apa kau sudah gila?" Teriak Jack.


"Diam. Kalian semua diam." Teriak Arnold lagi.


"Kak Arnold...."


"Kau juga diam. Kau tidak berhak bicara. Kau bukan adikku..." Hardik Arnold pada Angelica.


Angelica sontak terdiam. Dari sorot matanya aku dapat merasakan bahwa ia begitu terluka dengan apa yang diucapkan Arnold.


Sosok Tuan Besar Setyawan berjalan mendekati Arnold. Namun, tak disangka. Arnold malah berbalik menodongkan senjata itu pada Papa nya sendiri.


"Tetap disitu Pak Tua. Kalau tidak, aku akan menembak mu." Ancam Arnold.


Terdengar suara semua orang yang begitu kaget.


"Arnold, dengarkan Papa baik-baik...."


"Aku tidak mau mendengarkan mu lagi. Semua ini terjadi karena ulah mu. Hari ini wanita yang aku cintai malah menikah dengan saudaraku sendiri. Kalau bukan karena kau menghalangiku untuk datang kemari, maka aku bisa menggagalkan pernikahan ini." Teriak Arnold.


"Kau sudah gila." Tiba-tiba kata-kata itu terlontar keluar begitu saja dari mulutku.


Arnold kembali berbalik menatapku, matanya memerah. Ia benar-benar dikuasai amarah.


"Kau benar. Aku memang gila. Aku gila karena dirimu. Jadi, aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia diatas penderitaan ku. Kau tidak boleh menikah dengan orang lain selain diriku. Karena itu, pria ini harus mati." Ucap Arnold seraya kembali menodongkan senjatanya ke arah Andreas.


Lutut ku gemetar, air mataku luruh. Satu kali saja jika Arnold menarik pelatuk itu, maka habis sudah. Kepalaku tiba-tiba pusing sekali. Aku tak dapat mencerna keadaan yang ada di sekitarku.


Dan tiba-tiba....


Dor.....!!!


Suara tembakan terdengar memekakkan telinga.


"Tidaaakk...." Teriakku, disusul teriakan orang lain yang hadir.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2