Air Mata Mu Adalah Rekan Hidupku

Air Mata Mu Adalah Rekan Hidupku
Jaga hati yang tertinggal


__ADS_3

Arnav begitu terpukul dengan keputusan yang telah dipilihnya sendiri.


Malam ini dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Dia hanya menatap langit-langit yang kosong. Setelah puas pikirnya berkelana Arnav memutuskan meninggalkan kamarnya dan menuju kamar anak²nya, sesampainya di kamar anak kembar itu, dia segera mendekat dan memandang lekat kedua anak kembar yang memakai baju piyama sama dengan warna yang berbeda.


Arnav berlahan mendekati Ara dan mencium tangan mungil Ara, dia juga meraih tangan Arav dan mencium tangan malaikat kecil itu.


''Sayang jaga mami kalian ya.... Papi sudah tidak bisa lagi menjaganya. Papi tidak tau harus memberikan alasan apa jika kita berjumpa lagi suatu saat nanti.


Pasti kalian akan mempertanyakan kepergian papi.


Nak,,,Pertemuan singkat ini telah mengukir banyak cerita cinta dan kasih sayang antara kita.


Kalian adalah anak kuat, tampa papi kalian akan tetap bahagia, bukankah itu telah kalian rasakan sebelum papi datang di kehidupan kalian.


Saat papi jauh nanti, titip hati yang tertinggal di sini ya sayang.


Papi minta maaf ya nak, mulai besok mungkin kita akan jarang berjumpa sampai sepuluh hari kedepan.


Papi akan menginap di rumah Oma kalian sampai saat perpisahan itu datang, kalian tidak terlalu kehilangan papi.


Setelah sepuluh hari ini, papi tidak akan menyaksikan tumbuh kembang kalian lagi.


''Ara putri cantik papi. Kamu yang kuat ya nak, jangan banyak menangis karena papi udah jauh. Tidak bisa lagi membujuk dan menghapus air matamu. Semoga cepat pulih tumbuh normal seperti anak² seumuran mu, setelah terapi itu selasai papi yakin kamu akan bisa berjalan, karena papi telah memilih dokter terbaik yang menangani mu'' Arnav bicara sambil mengusap pipi Ara dengan senyuman tapi air matanya tidak berhenti mengalir. Setelah itu dia mengambil tangan Arav dan mencium tangan Arav.


''Hei jagoan ku. saingan berat mu akan mundur dengan sendirinya, kau tidak akan merasa cemburu lagi. Apakah kau tau semua orang mengatakan kalau kau dan aku sangat mirip. Itu benar nak.


Makanya aku tidak ragu lagi untuk pergi.


Arav papi titip dua wanita yang cengeng ini ya,,,, papi percaya padamu nak'' air matanya sudah tidak terbendung lagi, pria yang berwatak keras seperti Arnav Sanja akhirnya mengis juga karena keadaan yang tidak memihak kepadanya.


Dalam menangis dia meletakan tangan mungil Ara di dadanya, dia merasa sesak menahan kepahitan hidupnya.


Baru saja dia merasakan bahagia kini perpisahan telah membayangi kehidupanya.


Arnav memandang sepuas puasanya wajah malaikat kecilnya.


Setelah puasa dia memandang wajah Arav dan Ara dia segera mencuci wajahnya.


Dia takut Mecca bangun dan bertanya dan mencurigainya, karena Arnav selama ini tidak pernah menangis seperti ini.


Setelah keluar dari kamar mandi dia segera menuju ranjang tempat tidurnya.


Matanya tetap saja tidak bisa di ajak tidur, dia memandang lekat wajah cantik yang tertidur dihadapannya.


''Sayang walaupun aku menikah lagi dengan seribu wanita, tapi hanya kau istriku yang begitu aku cintai.


Aku sanggup melakukan apapun dami kamu.


Seandainya aku tau kalau kita akan berpisah lagi, harusnya aku tidak kembali, agar kamu tidak merasakan luka lagi.


Sayang sepuluh hari lagi kau akan ku bebaskan dari ikatan sakral ini, tapi kau tidak pernah bebas di hati ku.


Tolong jangan coba-coba cari kebenaran kenapa aku meninggalkanmu, aku tidak ingin kau mengetahui apa-apa. Bagiku tidak masalah jika kau membenci ku, agar kau merasa aku pantas untuk pergi dari hidupmu.


Setelah semua ini kau tidak akan mencari dan tidak ingin mendengar tentangku lagi.


Berjanjilah untuk menata kembali hidupmu dengan baik, buat dirimu bahagia.


Jangan sia-siakan perjuangan yang telah aku lakukan ini.


Walaupun sakit bagi kita, tapi waktu akan menyembuhkan semuanya.


Lambat laun aku akan mendengar berita tentangmu dengan lelaki lain. Itu akan menjadi akhir dari hidupku.


Jaga anak-anak kita ya sayang. Hanya itu bukti kalau kita pernah bersama '' gumam Arnav sambil memainkan rambut panjang istrinya.


Mecca yang merasa tidurnya terganggu, dia terbangun dan tersenyum melihat wajah


yang memendam luka itu.

__ADS_1


''Mas belum tidur?'' tanya Mecca dengan suara seraknya.


''Tidur. kebetulan aja aku terbangun '' jawab Arnav berbohong.


''Ayo tidur lagi'' ajak Mecca yang kembali menutup matanya.


Arnav segera menggeser tidurnya mendekat pada wanita cantik itu. Mengangkat kepala Mecca agar tidur di lengannya.


Tidak lama Arnav juga ikut tertidur.


Malam itu mungkin malam terakhir bagi mereka tidur bersama dalam satu ranjang, karena Arnav berencana untuk menetap dengan orang tuanya sampai sepuluh hari kedepan.


...****************...


Pagi ini serasa berat bagi Mecca, dia merasa pusing dan panas dingin. Ada yang aneh dirasakannya, tapi dia tidak menghiraukannya sama sekali.


Sedangkan Arnav pagi-pagi sekali sudah berada di kamar anak²nya hanya sekedar melihat apakah si kembar udah terbangun, kalau sudah terbangun dia berencana untuk membawa si kembar jalan-jalan, tapi si kembar masih tertidur dengan nyenyak.


''Sayang kau kenapa pucat seperti ini. Apakah kau kurang enak badan'' tanya Arnav yang melihat keadaan istrinya.


''Gak mas, hanya agak pusing sedikit''


''Sayang berjanjilah padaku kalau kau akan menjaga kesehatanmu'' kata Arnav yang membawa Mecca ke pelukannya.


''Iya mas,,,, Tenang aja kalau Mecca sakit, kan ada mas yang ngurus Mecca, jadi Mecca tidak khawatir lagi''


Arnav hanya terdiam dengan ucapan istrinya.


''Sayang malam ini aku tidak pulang ya, aku mau menyelesaikan proyek yang di luar kota'' alasan Arnav


''Iya mas'' jawab Mecca singkat.


Pagi ini Arnav melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dia harus memenuhi janjinya kemaren untuk terus menengok Reyna.


Sesampainya di rumah sakit.


Tapi belum sempat Arnav sampai disana, tiba-tiba Reyna memanggil Arnav dari kejauhan.


''Kak Arnav''


Arnav menoleh kesumber suara wanita yang akan di nikahinya itu.


''Rey,,,kenapa kau udah berkeliaran aja, bukankah kau belum terlalu pulih''


'' Kak...aku bosan di rumah sakit ini. Lagian dokter yang menangani aku kemaren tiba-tiba dapat panggilan keluar kota, jadi aku mau pindah aja dari rumah sakit ini, aku mau dirawat di rumah saja'' kata Reyna


''Ya udah.... jadi kamu mau kemana? Sini aku bantuin'' kata Arnav sambil mendorong kursi roda yang di duduki Reyna.


''Kak kita ke taman aja ayo'' ajak Reyna.


Di taman Arnav merasa tidak terlalu nyaman, dia selalu terbayang wajah istrinya.


''Rey kamu tidak apa-apakan kalau aku tinggal sendiri, aku mau mengerjakan proyek yang masih tabang kalai yang harus aku kerjakan''


'' Ya udah, kalau begitu kakak anterin aja aku kedalam lagi ya'' pinta Reyna.


''Baik'' jawab Arnav.


Sesampainya di dalam kamar tempat Reyna di rawat.


Arnav ingin segera keluar dari ruangan tersebut dia ingin menghindar dari Reyna.


''Kak gendong,,,,Reyna tidak bisa naik'' pinta Reyna manja.


''Aku panggil aja seseorang untuk membantumu ya''


''Kakak aja. Kakakkan calon suami ku, jadi ini tanggung jawab kakak dong''


Arnav mengikuti aja kemauan Reyna karena dia ingin segera terbebas dari sana.

__ADS_1


Saat Arnav mengendonya, Reyna sengaja menarik leher Arnav agar lebih mendekat padanya.


Arnav lelaki yang berpengalaman sangat mengerti maksud Reyna.


''Reyna apa yang kau lakukan'' kata Arnav sambil memaksa Reyna untuk melepaskannya


''auuu sakit kak'' kata Reyna terhempas di atas kasur.


''Reyna aku peringatkan padamu. Sebelum menikah aku tidak ingin kau melakukan hal yang tidak seherunya'' tegas Arnav


''Apasalahnya kak. Hitungan hari lagi kita akan jadi suami istri jadi wajar aja menurutku''


''Tapi tidak sekarang. Tunggu sesudah menikah setelah itu akan ku memberikan hak mu untukmu, kalau sekarang Mecca masih berhak atas diriku sepenuhnya'' jawab Arnav yang langsung meninggalkan kamar Reyna.


''Reyna sangat kecewa pada Arnav, Karena dengan profesi seorang model semua lelaki sangat mendambakannya, tapi Arnav tidak tertarik sama sekali.


Kini matahari sudah hampir terbenam.


Arnav membereskan semua berkas di meja kerjanya, dia ingin segera pulang tapi tidak kerumahnya melainkan kerumah orang tuanya.


Sedangkan Mecca juga telah selesai dengan semua aktivitasnya. Malam ini dia berniat nginap di rumah mertuanya, karena tadi pagi Arnav udah pamit tidak pulang.


Arnav berbohong kalau dia keluar kota, jadi Mecca merasa kalau ini kesempatan untuknya dan si kembar nginap disana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari sudah hampir gelap Arnav baru sampai di rumah Sanjaya dengan wajah yang murung.


Tuan Andi heran melihat kedatangan Arnav tampa membawa anak dan istrinya.


''Nav kamu sendirian aja, mana menantu dan cucu papa?'' tanya tuan Andi.


''Mereka di rumah pa, aku sengaja datang dan nginap di sini sampai aku berangkat keluar negri lagi''


''Nav jangan lakukan itu nak, bicaralah sama istrimu agar dia mengerti.


''Pa aku tidak ingin Mecca tau masalah ini, kalau dia tau dia pasti merasa sangat bersalah dan dia akan menentang keputusanku. Sedangkan aku tidak ingin dia terhukum pa'' jawab Arnav


''Tapi Nav''


''Papa Taukan ini semua aku lakukan untuk dia, aku berharap papa tidak menentang keputusanku, mungkin aku akan mengurus surat cerai kami setelah aku disana nanti. aku lebih memilih pergi meninggalkan dia dari pada dia terkurung di penjara. setidaknya anak²ku masih memiliki ibu mereka''


''Baiklah Nav mungkin ini keputusan yang terbaik, papa janji akan menjaga mereka''


''Pa tolong berikan semua hak yang pernah papa berikan untukku kepada mereka, karena Arav yang akan menjadi penerus perusahaan.


Aku berjanji tidak akan muncul lagi di hadapan mereka, anggap saja aku telah tiada''


Arnav berkata dengan mata yang berkaca-kaca Tampa sedikitpun melihat pada wajah putus asa papanya.


Nyonya Gita dari tadi hanya diam mendengar percakapan mereka berdua.


Dia hanya bisa menangais dengan kemalangan yang menimpa keluarga kecil anak laki-lakinya itu.


''Nav,,, Cari cara lain nak. Jangan sakiti istrimu dengan menikahi wanita lain, sudah cukup dia menderita selama ini '' kata nyonya Gita sambil terisak.


''Tidak ada lagi waktu untuk mencari cara mah.


Arnav takut polisi datang duluan Sebelum cara itu kita temukan.


Arnav berjanji ini terakhir kalinya Arnav melukainya, setelah itu tidak ada lagi luka yang akan dia rasakan,tapi mama sama papa berjanjilah untuk menganggap Mecca seperti anak kandung sendiri.


Jaga dia untukku'' pinta Arnav sambil memeluk mamanya.


''Mas,,,,'' tiba-tiba terdengar suara wanita cantik berambut panjang itu dari balik pintu.


*bersambung*


Tinggalkan komentarnya ya kak. Biar author recehan ini masih merasa cerita ini masih ada peminatnya.

__ADS_1


__ADS_2