Air Mata Mu Adalah Rekan Hidupku

Air Mata Mu Adalah Rekan Hidupku
Menghitung setiap detik yang tersisa.


__ADS_3

''Sayang apakah kau udah datang bulan.


Bulan ini'' kata Arnav sambil terus meraba perut istrinya.


'' Mecca hanya masuk angin, jangan terlalu banyak berharap mas'' kata Mecca


''Seandainya kau benar-benar hamil, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri meninggalkan kamu dalam kondisi hamil, tapi aku juga tidak punya pilihan lain kerena aku tidak mampu melihatmu di penjara. Ini sulit bagiku'' gumam Arnav yang menutup kembali perut istrinya.


''Kalau gitu aku bikini teh anget ya,,, agar anginnya tidak tertahan di dalam'' kata Arnav yang kembali mengendong Mecca ke meja makan.


Malam ini terasa singkat bagi keduanya, apalagi Arnav yang mengetahui kalau sebentar lagi dia akan meninggalkan wanita kesayangannya ini.


Malam ini rasanya dia tidak ingin tertidur ,dia ingin memandang puas wajah cantik yang tertidur lelap di sampingnya itu.


Arnav selalu membelai kepala istrinya dengan kesedihan.


''Cantik,,,,tinggal sehari lagi kita bersama, malam besok akan jadi hari terakhir kita'' gumam Arnav.


Sepanjang malam Arnav hanya memeluk, mencium, dan memandang wajah Mecca. Sekali-kali tangannya bermain pada rambut panjang yang di dikaguminya itu.


Menjelang subuh baru Arnav tertidur dengan sendirinya, dengan tangan yang masih memeluk istrinya itu.


Matahari sudah mulai keluar dari persembunyiannya.


Mecca yang merasa tidurnya nyenyak semalaman, kini terbangun dengan wajah yang segar.


''Mecca langsung di suguhkan dengan wajah tampan suaminya.


Segera dia membebaskan dirinya dengan pelan-pelan dari pelukan Arnav.


Setelah dia terbebas dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah bersih-bersih dia langsung ke dapur membuat sarapan untuk mereka berdua.


Sedangkan bi Inah udah datang pagi-pagi untuk membersihkan bagian luar rumah besar itu.


''Pagi nona....'' sapa bi Inah melihat Mecca membuka pintu.


''Pagi bi,,, apakah bibi dari tadi?''


''Iya bibi gak enak kalau membangunkan nona dan tuan muda, jadi bibi bersih-bersih pekarangan bagian luar aja terlebih dahulu''


''Maaf bi. Tadi Mecca bikin sarapan jadi lupa untuk membuka pintu''


''Nona itu pekerjaan bibi, jadi besok nona tungguin aja bibi datang ya''


''iya...., Oya bi, memang bibi udah lama kerja disini?''


''Lumayan lama non. Semenjak keluarga sanjaya masih tinggal di sini. Saat tuan Arnav, non Melisa dan non Mella masih anak-anak''


''Oh,,,, pantesan rumah ini sangat terjaga, bersih dan rapi. Oya bi Mecca jalan-jalan dulu ya''


''Iya non''jawab bi Inah.


Segera Mecca berkeliling ke taman belakang.


Dia menikmati udara yang sejuk di pinggir kota itu.


Setelah puas dia berkeliling, dia kembali masuk dan mengamati ruangan keluarga rumah kedua yang masih tertata rapi dan bersih itu.


Disana masih tersimpan foto-foto waktu kecil Arnav, Melisa dan Mella.


Tidak sengaja Mecca menjatuhkan foto anak laki-laki yang bertelanjang yang tersimpan dalam buku, yang bertuliskan di belakangnya nama Arnav.


''Mas Arnav,,, dia begitu mirip dengan Arav yang sekarang. Mereka tidak ada bedanya'' gumam Mecca

__ADS_1


Setelah puas Mecca berkeliling di setiap ruangan, dia kembali masuk ke kamarnya untuk membangunkan lelaki tampan yang masih tertidur itu.


''Bangun mas,,, sekarang udah hampir siang'' kata Mecca membangunkan Arnav sekitar jam setengah sepuluh.


''Sayang kenapa kamu tidak membangunkan aku dari pagi.


Tadinya aku berencana untuk mengajakmu jalan-jalan pagi'' kata Arnav dengan suara seraknya.


''Lebih baik kita jalan-jalannya sekarang aja. Sambil membeli pakain ganti untuk Mecca aja, ayo mas'' ajak Mecca.


''Oke aku bersih-bersih dulu ya'' segera Arnav memasuki kamar mandi.


Setelah selesai bersih-bersih Arnav kembali dengan memakai Jeans panjang dan baju warna pink.


''Mas lucu amat pakai baju warna pink.


Baru kali ini Mecca melihat mas pakai baju warna pink seperti ini''


''aku tampan gak''balas Arnav


''he he he lucu'' jawab mecca.


''Kok lucu sih,,, yasudah aku ganti aja lagi'' Arnav langsung kembali lagi ke kamarnya.


Setelah dia menganti bajunya dengan warna putih baru dia muncul lagi kehadapan istrinya.


''Sayang kalau gini gimana?'' kata Arnav.


''Biasa aja. Lucuan yang tadi'' jawab Mecca sambil mengambilkan sarapan untuk Arnav.


Setelah selesai sarapan Arnav langsung keluar dengan istrinya.


''Sayang kita jalan kaki aja ya,,,''Ajak Arnav.


''Kuat lah,,, masa aku kalah dari perempuan'' jawab Arnav.


''Aku ingin menghabiskan waktu sebaik baiknya dengan mu hari ini, kalau bisa aku ingin menghentikan waktu yang terus berjalan itu'' gumam Arnav.


Mereka berjalan kaki hingga pasar.


Meraka bermain dengan puas dan berbelanja makana sepanjang jalan, tapi Arnav tidak mau mencoba makan itu.


Beda dari Mecca yang tidak masalah dengan jajanan jalanan, karen dia udah terbiasa.


''Sayang ayo kita kebutik itu'' kata Arnav menunjuk pada butik di pinggir jalan.


''Mecca gak mau di sana mas, kita beli di dalam pasar aja ya'' pinta Mecca.


''Seumur hidupku. Aku belum pernah mencoba masuk kedalam pasar, aku gak tahan panas dan bau'' jawab Arnav


''Mas coba aja dulu,,, semua tidak seperti yang mas bayangkan''


''Gak sayang. Aku benar-benar gak bisa. Di sana pasti gatal'' sifat sombong Arnav kembali mencuat melihat keramaian pasar.


Segera Mecca menarik tangan suaminya masuk kedalam pasar.


Setelah mereka belanja pakaian, mereka segera pulang kerumah yang lumayan jauh dari pasar itu.


''Sayang aku takut kamu kecapean lagi. Sekarang aku akan mendukung mu sampai pulang ya''


''Gak mas. Malu sama orang'' tolak Mecca.


''Biarin, aku gak peduli. Sini naik ke punggung ku'' titah Arnav.


''Mas kita naik angkot aja ya'' kata Mecca lagi.

__ADS_1


''Gak. Aku gak mau naik angkot'' kata Arnav yang terus jongkok sambil menunggu Mecca menempel di punggung.


Dengan terpaksa gadis cantik itu langsung menaiki punggung Arnav.


''Sayang,,, hari-hari ini besok mungkin tidak akan terulang lagi.


Tuhan karena engkau telah mengambil ingatanku yang dulu, tolong jangan ambil lagi ingatanku yang sekarang.


Hanya ini yang aku punya menghitung setiap detik hari ini'' gumam Arnav.


''Kalau Mecca udah tua nanti. mas jagain juga dan gendong juga Mecca seperti ini ya''' kata Mecca membuyarkan pikiran Arnav.


Mulut Arnav tidak lagi menjawab perkataan Mecca, tapi hatinya yang menjawab semuanya.


''Mungkin besok dan seterusnya bukan aku lagi yang mengurus mu. Tuhan maha baik yang akan memberikan kamu lelaki yang layak yang membuatmu tersenyum Sepenjang waktu, pria itu bukan aku'' jawaban Arnav dalam hatinya.


Mungkin dia sanggup menahan suaranya, tapi dia tidak sanggup menahan air matanya. Walaupun dia lelaki yang sangat keras kepala, tapi dia masih punya hati yang juga bisa menangis.


Dia menitikkan air matanya sepanjang jalan mendukung istrinya itu.


''Mas kok diam aja. Oya mas kita mampir dulu di tukang es itu. Mecca haus'' pinta Mecca


''Segera Arnav membawa Mecca ke pinggir jalan tepat orang jualan es kapucino.


Saat Mecca turun, dia sekilas melihat air mata di mata Arnav.


''Mas kok menangis?''


''Gak,,,, Asal aja. Memang aku kamu yang sedikit-sedikit menangis, mataku hanya berkeringat karena kemasukan debu'' jawab Arnav berkilah.


''Ohhhh''' jawab Mecca singkat.


Setalah membeli es. Kembali Arnav mendukung istrinya sampai pulang.


''Mas kapan kita pulang kerumah. Udah hampir tiga hari kita disini?'' kata Mecca sambil bersantai.


''besok aja ya'' jawab Arnav.


''Pasti Ara dan Arav senang melihat kita udah pulang, karena Ara agak cengeng belakangan ini, mungkin dia kangen sama mas'' kata Mecca.


Kini matahari kembali terbenam, hari kini udah hampir gelap. Suami istri itu sudah selasai bersih-bersih dan makan malam.


''Sayang kalau besok-besok aku sibuk, kamu harus menjaga makanan dan kesehatan kamu ya,,,, Agar kamu kuat untuk menjaga dan merawat anak-anak kita'' kata Arnav sambil menyuapi Mecca.


''Memang mas sesibuk apa sih,,, Biasanya pulang kerja mas selalu kembali mengeceknya lagi, takut Mecca lupa'' jawab Mecca.


Arnav tidak menjawabnya sama sekali, dia berusaha mengalihkan pembicaraan.


Sayang kamu tau gak toko perhiasan yang aku miliki hasil kerja kerasku yang di hendele Boyke.


Sekarang bukan aku lagi yang jadi pemiliknya.


''Mas udah menjual nya ya,,, kok mas diam-diam aja. Mecca rencananya ingin memilihkan kalung yang bagus buat Ara '' ulas Mecca.


''Sayang aku telah mengalihkannya atas nama kamu, jadi kamu bebas memilih apa saja yang kau mau disana''


''Kok jadi milik Mecca mas. Bukankah itu aset berharga yang mas miliki di luar aset papa''


''Sama aja sayang. Milikku milikmu juga'' jawab Arnav sambil mengelus pipi dan merapikan anak rambut Mecca.


''Mungkin apa saja yang aku berikan padamu tidak akan mengobati kesedihanmu setelah kepergian ku'' gumam Arnav.


*Bersambung*


Halo BESTie selamat membaca... Makasih udah memberi dukungannya ya sampai di akhir² novel receh ini🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2