
Malam kini semakin hening.
Mecca segera masuk ke kamarnya dan berdiri di depan jendela yang memperlihatkan indahnya kesunyian malam itu.
Tiba-tiba Arnav datang dari belakang memeluk tubuh wanita ramping itu.
''Diam dulu sebentar'' pinta Arnav yang merasa Mecca mau menghindar.
Arnav membenamkan Wajahnya di rambut panjang wanita itu dengan cukup lama.
''Besok pagi mas mau di bikinin sarapan apa?
''Aku tidak ingin memikirkannya sekarang'' jawab Arnav.
Kerena dia tau waktunya berada di samping istrinya tidak akan sampai besok pagi.
''Besok Mecca akan memasarkan sarapan spesial untuk mas ya''ulas Mecca lagi.
Arnav tidak mampu lagi menjawab ucapan istrinya itu.
'' Mecca ada sesuatu yang menarik untuk mas, pasti mas kaget melihatnya'' Kata Mecca yang segera melepaskan diri dari pelukan Arnav.
''Apa,,,'' jawab Arnav singkat.
''Ini,,,,'' segera Mecca mengeluarkan foto yang di dapatnya tadi pagi.
''Sayang bawa sini. Aku mau melihatnya juga '' kata Arnav sambil mengejar Mecca.
Meraka bercanda dengan riang, berlarian di sekitar kamar yang luas itu.
Arnav terus mengejar Mecca, dia ingin merebut foto itu dari tangan Mecca.
Dengan sigap Arnav menarik Mecca ke atas ranjang dan berhasil merebut foto tersebut.
''Sayang, aku sangat mirip dengan Arav ya,,,,'' ucap Arnav.
''Iya mirip amat, gak ada yang di buang, cuma ininya aja yang beda'' kata Mecca menunjuk bagian sensitif foto anak laki-laki itu.
''Dulu pasti sama, tapi sekarang memang beda, tapi kau suka kan,,,,'' kata Arnav meledek Mecca.
Mendengar itu Mecca tersipu malu sampai mukanya memerah.
''Sayang jawab dulu, kau suka tidak,,,, '' kembali Arnav melontarkan pertanyaan konyol itu.
''Gak tau'' jawab Mecca singkat.
''Kalau kau tidak tau, aku ingin memberi tau mu'' jawaban Arnav.
Segera Arnav membuang foto tersebut dan menindih tubuh istri kecilnya itu. Dari kemarin Arnav selalu merasa tertekan karena masalah pernikahannya dengan Reyna, sehingga dia bed mood untuk berhubungan dengan istrinya.
Sekarang mungkin dia telah melupakannya. Karan nafsunya sudah di ubun-ubun ingin segera menikmati tubuh wanita kesayangannya itu.
Napsu lelaki itu tambah bergelora melihat wajah malu-malu istrinya, karena pertanyaan konyolnya tadi.
Mungkin ini terakhir kalinya Arnav menikmati tubuh wanita cantik itu.
Arnav menjamah gunung kembar itu dengan lama, menikmati setiap permainannya.
Dia hanyut dalam ayunan yang bergelora dan melupakan semua masalahnya.
Di tengah permainannya. Arnav kembali meledek istrinya.
''Sayang kau udah tau jawabannya sekarang? Apakah kau suka?'' bisik Arnav
''Mas,,,m m m'' reaksi Mecca memperlihatkan kalua dia sedang mengeluarkan sesuatu di bawah sana.
Arnav tersenyum melihat reaksi Mecca yang mengemaskan itu.
Arnav yang belum selesai terus mengayunkan pinggulnya sampai dia
merasakan ingin mengeluarkan sesuatu juga.
__ADS_1
Saat Arnav baru tersadar dari kenikmatan, dia tau kalau dia tidak boleh mengeluarkannya di dalam.
''Aku tidak boleh mengeluarkannya di dalam. Aku tidak ingin meninggalkan beban berat pada istriku nanti '' gumam Arnav
Dia ingin segera menarik miliknya dari milik istrinya.
Mecca merasa binggung karena Arnav tidak biasanya seperti itu.
Apalagi Arnav yang ingin nambah anak lagi. kenapa malah ingin mengeluarkannya di luar.
''Mas jangan,,, Mecca tidak masalah kau hamil lagi'' kata Mecca sambil menahan pinggul suaminya.
''Sayang tolong lepaskan dulu, waktunya tidak tepat saat ini''kata Arnav meminta Mecca melepaskannya.
Mecca merasa aneh dengan alasan Arnav. Bukankah kemaren dia yang ingin nambah momongan lagi, tapi sekarang dia sendiri yang bilang kalau waktunya belum tepat.
...****************...
Di tempat lain ada seorang gadis berteriak dengan girang karena merasa kakinya kembali berfungsi.
''Tan,,, lihat ini!!!
''Reyna kau udah bisa berjalan lagi''
'' Iya tan. Aku udah tidak merasakan sakit lagi''jawab Reyna.
''Syukurlah tante ikut bahagia'' kata tante Reyna sambil memeluk keponakanya itu.
Tapi gimana kalau ketahuan sama kak Arnav. Kalau Reyna tidak lumpuh, pasti dia membatalkan keberangkatan dan pernikahan kami'' kata Reyna dengan ragu.
'' Itu gampang,,,, kamu cukup berpura-pura lumpuh aja dulu.
Sesampainya di sana, tante akan cari cara untuk kau pura-pura terapi, setelah kau dinyatakan sembuh, kau akan bebas dari kursi roda ini'' kata wanita berambut pirang itu.
''Tan bagaimana dengan dokter itu?''
''Semuanya udah beres. Om dan Tante udah mengaturnya''
...****************...
Sedangkan kedua suami istri itu telah menyelesaikan permainan mereka.
Segera Arnav membantu memasangkan kembali pakain istrinya, tidak seperti biasanya.
Biasanya dia betah berlama-lama tidur di bawah selimut tanpa sehelai benangpun dengan istrinya sampai pagi.
''Mas tumben merapikan pakaian Mecca'' kata Mecca.
''Gak apa-apa. Aku tidak ingin kebobolan minta jatah beberapa ronde lagi sampai pagi. Kasihan nanti kamu kecapean'' jawab Arnav.
''Sayang aku sisirkan rambut kamu ya''
''Gak usah mas,,, biarin aja kan mau tidur lagi'' Tolak Mecca.
''Gak apa-apa. Biar gak terlalu sakit saat menyisirnya besok pagi'' Jawab Arnav.
Dia menyisir rambut yang dikaguminya berlama-lama untuk terakhir kalinya.
Tapi Mecca masih belum menyadari kalau dia akan di tinggalkan oleh Arnav malam ini.
''Mas besok pagi mau di bangunin jam berapa ?'' tanya Mecca saat Arnav menyisir rambutnya.
''Kau tidak akan membangunkan aku lagi. Aku akan bangun terlebih dahulu darimu'' jawab Arnav.
Ada kepedihan yang di tahanya saat mengucapkan itu.
Setelah rambut Mecca rapi.
Arnav menawarinya minum dan Meraka minum satu cangkir berdua, baru mereka tidur.
Arnav sebenarnya tidak tidur, matanya hanya memperhatikan jam yang terletak di atas meja, dengan posisi membelakangi Mecca.
__ADS_1
Setelah dia merasa Mecca sudah tertidur, dia kembali duduk mengambil secarik kertas dan pena.
Dear istriku.
Sayang setelah kau terbangun dari tidurmu, mungkin aku sudah tidak lagi di sisimu, aku telah memantapkan pilihanku.
Biarkan aku melindungi wanita yang begitu berharga untukku dan anak-anakku.
Sayang mungkin kau sakit hati saat membaca surat dari ku ini, tapi aku lebih sakit karena tidak bisa lagi memilikimu. aku melepaskan pernikahan ini bukan kerena aku tidak mencintaimu.
Bukankah cinta itu harus di perjuangkan? jadi dengan keputusan ini aku merasa, kalau aku telah memperjuangkan kamu untuk anak-anakku.
Sayang lanjutkan perjalanan hidupmu walau tanpa aku lagi.
Aku kini sendiri, tapi kau tidak sendiri.
Aku tinggalkan kamu dengan buah cinta kita.
Bila kau merindukan aku, pandang wajah Arav karena aku berada di dalam dirinya.
Mungkin Sekarang kau merasa aku pria jahat, tapi suatu saat nanti kau akan menyadari kalau kepergianku untuk kebahagian kamu dan buah cinta kita.
Sayang jangan menangis lagi ya... dari sekarang belajarlah menahan air matamu. Karna aku tidak ada lagi memelukmu saat kau bersedih.
Jadilah wanita yang kuat, karena kini kau tidak memiliki sandaran lagi.
Sayang semuanya akan baik-baik saja seiring berjalanya waktu.
Namaku juga akan memudar di dalam hati mu.
Sayang ijinkan aku pergi, jangan tunggu aku aku tidak akan kembali.
Setalah menulis surat itu, Arnav menghela nafas panjang merasakan betapa berat nafas yang dihirupnya saat ini.
Dia tidak putus-putusnya memandang wajah yang sudah kelelahan itu.
Lamunannya buyarkan karena merasakan getaran handphonenya yang berada di atas meja.
''Nav. orang suruhan papa dan Mella sudah menuju kerumah kedua'' isi wa tuan Andi.
Segera Arnav berkemas di tangah malam yang diam itu.
Setelah selesai dia berkemas, dia kembali mendekati dan mencium pucuk rambut istrinya, berlahan-lahan Arnav melepas cincin pernikahannya yang terpasang di jari Mecca.
Dia juga melepaskan cincin yang terpasang di jarinya sendiri.
Setalah kedua cincin itu berada di genggamannya, dia menyatukan cincin itu dalam bentuk buah kalung yang akan selalu di pakainya.
Setelah itu Arnav melangkah pergi meninggalkan istrinya, tapi langkahnya begitu berat. Air matanya tidak henti-hentinya berjatuhan, dia menuntun langkahnya agar kuat meninggalkan Mecca sendiri di rumah itu.
''Aku tidak boleh menoleh lagi'' gumam Arnav. Dia sejenak menghentikan langkahnya sambil memejamkan matanya, tiba-tiba rasa sakit menyerang pangkal hatinya dengan keras.
Dia kembali melangkah dengan hati yang sakit menuju mobilnya yang terparkir.
Dia mengendarai mobilnya dengan pelan. Air matanya terus berjatuhan.
Saat berada di tengah kegelapan Arnav menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil itu. Dia turun meratapi takdir cintanya sambil memangku lututnya seperti dunia ini sudah tidak berarti lagi untuknya.
''Tuhan bukankah aku sudah meninggalkannya, tolong ambil juga hati yang selalu merasakan sakit saat dia tersakiti.
Ambil semua rasa sedih dan biarkan aku kembali seperti dulu, hidup tampa cinta, tampa belas kasih, dan hidup tampa air mata. aku ingin kembali kejam pada setiap wanita'' kata Arnav sambil menekan keras dadanya.
Dia mengingat pertama pertemuannya di bandara dan mengingat semua tentang istri dan anak-anaknya.
*Bersambung*
Kakak ku yang baik hati,,,, kita selesaikan aja alur ceritanya ya.
Walaupun sedih, tapi kita nikmati aja bersama-sama oke.
Author juga sudah tidak kuat menulis kesedihan ini, tapi mau gimana lagi😭😭
__ADS_1