
Arnav kembali melanjutkan perjalannya kerumah Senjaya terlebih, untuk menemui buah hatinya dan orang tuanya.
Sesampainya di dalam kamarnya, dia mencium wajah Arav dan Ara yang tidur nyenyak.
Sayang papi pamit ya nak, papi sangat menyayangi kalian.
Kalian harus akur ya,,,'' kata Arnav sambil mengelus rambut kedua buah hatinya.
Setelah itu Arnav meninggalkan si kembar dan mengambil semua barang keperluannya.
Setah semuanya selesai, dia menemui papa dan mamanya untuk berpamitan.
''Pa apakah aku salah mengambil jalan seperti ini?'' tanya Arnav sebelum benar-benar meninggalkan rumah Sanjaya.
''Ini jalan yang betul Nav, ini keputusan yang berat, tapi papa yakin kau akan berhasil melawan semuanya demi istri dan anak-anakmu.
Papa ijinkan kamu pergi, bukan papa tidak menyayangi kamu.
Kau anak laki-laki papa yang bertanggung jawab.
Papa bangga padamu'' kata tuan Andi
sambil memeluk anaknya itu untuk mengatakan Arnav.
''Ma titip Mecca dan anak-anakku ya ma'' kini dia bersimpuh di hadapan wanita paruh baya yang sudah melahirkannya itu.
''Iya sayang,,, mama akan menjaga mereka. Mama bangga padamu.
Kamu sanggup berkorban seberat ini untuk kebahagian anak-anakmu, pergilah. Mama telah merelakan mu.
Ingat janganlah kau lampiaskan semuanya pada Reyna dia sama-sama teraniaya sama seperti kalian'' ucap nyonya Gita.
...****************...
Di rumah kedua.
Matahari sudah mulai terbit.
terlihat wanita yang baru terbangun itu mengucek² matanya, dia tersenyum mengingat perhatian suaminya semalam.
''Mas,,,,''' Mecca segera ingin menghadap ke bekas tempat tidur yang di tidur Arnav semalam, tapi dia tidak melihat lagi sesosok prianya itu.
Dia hanya menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan.
Mecca segera membacanya dengan tubuh yang agak gemetaran, kerena isi surat itu merenggut sebagian dari hidupnya.
''Tidak! tidak,,, tidak,,,,, '' dia berteriak histeris setelah membaca surat tersebut.
''Cincin,,,, mana cincinku'' katanya lagi. Merasakan ada yang kurang pada jari manisnya.
''Mas,,, teganya mas meninggalkan Mecca dan membuka cincin pernikahan kita tanpa ijin'' katanya sambil menangis.
''Ini mungkin hanya mimpi, mas Arnav tidak mungkin meninggalkan aku sendiri disini.
Aku akan kembali tidur'' ucapnya.
Mecca kembali menutup kepalanya dengan selimut. Berharap dia kembali tertidur dan berharap ini hanya mimpi.
Walau matanya terpejam, tapi tidak menghambat jalanya air matanya itu.
Dia benar-benar berharap suaminya akan datang dan membangunkannya.
Tidak berapa lama dia merasakan tangan seseorang membelai kepalanya di balik selimut, alangkah bahagianya wanita itu berharap kalau yang membelainya adalah suaminya.
''Mas,,,,'' dia keluar dari bawah selimut dengan senang, ternya semua tidak seperti yang di harapkanya.
Yang datang adalah Mella bukan Arnav.
Kembali dia menangis di hadapan Mella.
''Kakak apakah Mecca hanya bermimpi?''
''Sssst sudahlah. Ini adalah kenyataannya kita harus pulang sekarang'' jawab Mella
__ADS_1
''Jangan suruh Mecca untuk pulang kakak'' pinta Mecca.
''Kau harus tetap pulang dan melanjutkan hidupmu walaupun tampa kakak.
Anak-anak udah menunggumu di rumah '' ulas Mella sambil memeluk wanita yang sudah di anggapnya adik itu.
Sedangkan Arnav sudah berada di jalan menuju bandara, begitu juga dengan Reyna yang juga sudah tidak sabaran pergi dari negara ini.
Mecca juga sudah berada di jalan menuju kediaman Sanjaya.
''Ting terdengar hanphon Mecca berbunyi pertanda ada wa masuk ke handphonenya.
''Hai,,, wanita malang.
Ini aku Reyna, apakah kamu sekarang meratapi nasibmu karena kak Arnav lebih memilih aku dan meningkatkan kamu.
Apakah kau tidak mau melihat pernikahan ku.
Maksudku kami, aku dan kak Arnav.
Kami akan hidup bahagia bersama anak-anak kami nantinya. Oya ini sebagai hadiah terakhir. Aku kirimkan foto kak Arnav, agar kau bisa berangan-angan lagi''
isi wa Reyna. yang mengirimkan foto Arnav yang sudah duduk menunggu penerbangan.
Melihat foto Arnav yang masih berada di bandara. Mecca berusaha turun dari mobil yang dikendarai pak Ujang.
''pak Mecca mau turun disini'' pinta Mecca
''Gak kakak ipar. Kita harus pulang sekarang'' jawab Reyna.
''Kalau mobil ini tidak berhenti Mecca akan lompat dari sini'' ancam Mecca
''Ya kamu mau kemana?''
''Mecca mau ke bandara, mas Arnav masih di sana kak,,,,'' pinta Mecca.
Baiklah,,, kita akan ke bandara sekarang'' jawab Reyna.
Segera mobil pak Ujang menuju bandara mengantarkan Mecca.
Mecca sudah tidak bisa lagi masuk kedalam ruang tersebut, karena dia dihadang oleh satpam yang menjaga pintu berdinding kaca itu.
Wanita rapuh itu hanya bisa memanggil dari luar, melihat Arnav yang masih duduk di kursi panjang membelakanginya.
''Mas,,,, Mecca mohon. Keluarlah dari sana'' Pinta Mecca menangis sambil memukul kaca yang jadi pembatas antara dua Sumi istri itu.
Arnav tidak mendengar teriakan Mecca, tapi di merasa ulu hatinya kembali terserang benda tajam.
''Mecca,,,,'' kata Arnav sambil menekan dadanya dengan kuat, tidak sengaja Arnav menoleh keluar ruangan yang sudah di jaga ketat oleh satpam itu.
Dia melihat Mecca terduduk di lantai sambil memukul-mukul kaca tebal itu.
Hati Arnav begitu sakit melihat wanita kesayangannya dalam keadaan hancur seperti itu.
Segera Arnav kembali keluar walaupun satpam sudah memperingatinya, agar tidak meninggalkan ruangan tersebut, tapi Arnav tidak menghiraukannya lagi.
Dia terus berlari keluar untuk menemui istri kecilnya yang terus memanggil namanya itu.
''Sayang,,,,'' segera Arnav memeluk tubuh lemas wanita cantik itu.
Mas,,,, udah kembali.
Mas tidak akan meninggalkan Mecca kan,,,,'' kata Mecca sambil meraba wajah tampan Arnav.
''Sayang ayo berdiri dari sini'' pinta Arnav sambil menuntun Mecca untuk berdiri.
Setelah mereka duduk di salah satu bangku panjang, segera Arnav memberikan pengertian lagi untuk Mecca.
''Sayang dengarkan aku, jangan menangis lagi. Apakah kau mau membunuhku?'' kata Arnav sambil membawa wanita rapuh itu ke dadanya.
''Mas ayo kita pulang.
Anak-anak kita sudah menunggu kita di rumah. Bukankah mas suka melihat bintang-bintang, jadi malam ini kita dan anak-anak akan berkemah di luar ya,,, agar mas bisa melihat cahaya bintang kecil itu terurus bersinar '' kata Mecca sambil menatap sedih mata Arnav.
__ADS_1
Serasa sesak hati Arnav mendengarkan ucapan Mecca, dia kembali membawa Mecca dalam pelukannya.
''Sudahlah,,,, terimalah sebuah kenyataan kalau kita harus berpisah demi kebaikanmu sayang'' kata Arnav
''Ayo mas kita harus pulang, Mecca merasa pusing dan mual berada di sini'' kata Mecca lagi, seolah tidak mendengar ucapan Arnav.
''Aku harus pergi sekarang, kau pulanglah dan istirahat. besok keadaan mu akan membaik '' ulas Arnav sambil membariskan air mata di pipi wanita cantik itu.
''Mas kembalilah. Mecca janji akan jadi istri penurut untuk mas, Mecca juga tidak akan membangunkan mas tiap pagi lagi, Mecca akan membiarkan mas tertidur sampai mas terbangun sendiri. Ayo kita pulang'' kata Mecca mencoba menarik Arnav.
''Maafkan aku'' kata Arnav yang melepaskan tangan Mecca secara paksa dan meninggalkan Mecca di sana sendiri.
Mecca berusaha kembali menarik tangan Arnav, tapi Arnav berusaha untuk melepaskannya kembali, Mecca mencoba duduk dan menahan langkah kaki suaminya agar menuruti keinginannya.
Tetap saja itu tidak mengurungkan keinginan Arnav untuk pergi.
Setelah tangan Mecca terlepas dari kaki Arnav, maka terlepas juga harapan dan ikatan cinta mereka.
''Mas! katakan padaku apa salah anak-anakku sehingga Meraka harus bernasib sama sepertiku, hidup tanpa kasih sayang ayah.
Apa dosa anak-anak itu sehingga dia yang membayar kepedihan ini!!! Jawab mas'' kata Mecca sambil terduduk di lantai.
Mendengar itu Arnav sejenak berhenti dan memejamkan matanya.
Setelah itu Arnav kembali melangkah, setiap kakinya melangkah sebanyak itu juga dia menitikkan air matanya.
''Aku tidak menyangka, di bandara ini pertama kita bertemu. Di sini juga perpisahan kita terjadi'' gumam Arnav
Suara pengeras dari tadi memanggil nama Arnav karena dia tidak kunjung datang ke dalam pesawat yang sebentar lagi akan terbang.
Tidak lama datanglah Arnav Sanjaya yang dari tadi ditunggu-tunggu menaiki pesawat yang akan membawanya terbang keluar negri.
Ada iblis wanita yang tersenyum melihat kedatangan Arnav. Wanita itu si iblis Reyna wanita jahat dan licik.
Di atas pesawat Arnav langsung masuk kedalam ruangan khusus yang kosong. Lelaki itu melampiaskan semua emosinya, dia memukul besi² yang menonjol itu dengan keras.
Tidak puas dengan itu. Arnav juga memukul-mukulkan kepalanya pada besi itu dengan keras.
Sehingga dia merasa kehilangan kesadarannya seketika.
'' Datang seorang wanita pakai seragam pramugari berteriak, melihat lelaki yang pingsan berlumuran darah jatuh dibawah lantai.
Segara pramugari itu memanggil tenaga medis untuk membawa Arnav keruangan rawat.
Reyna juga panik melihat kondisi Arnav. Sehingga dia melupakan kepura-puraanya jadi wanita lumpuh.
Reyna juga ikut berlarian keruangan khusus itu.
Tidak lama Arnav tersadar dengan kepala yang teramat sakit, dia memegang kuat kepalanya karena merasakan serangan hebat di kepalanya itu.
Berlahan-lahan Arnav mengingat semua ingatan yang hilang selama ini.
Dia mengingat kisah tentang pertemuannya di toko buku dan mengingat pernikahannya dengan gadis yang masih duduk di bangku SMA itu.
'' Istriku,,,,'' kata Arnav dalam hati
dia mulai mengingat semuanya tampa terkecuali.
Sedangkan Reyna sudah berdiri di hadapan Arnav yang melupakan kepura-puraanya. Dia begitu panik melihat kondisi Arnav.
Deg!!! Arnav melihat jelas kalau Reyna berdiri dan berjalan, dia memastikan dengan jelas kalau itu benar-benar Reyna.
Saat Reyna mendekat, Arnav juga berpura-pura masih tidak sadarkan diri dan menutup matanya.
''Reyna kau menipu ku '' gumam Arnav.
Sedangkan Reyna merasa ada gerakan dari Arnav, dia segera kembali mengambil kursi rodanya dan duduk dengan tenang seperti wanita lumpuh sebenarnya.
''Wanita licik ini. Dia akan segera membayar semua perbuatanya dan air mata yang aku dan Mecca keluarkan, akibat ulahnya'' gumam Arnav.
Saat tangannya lelaki itu masih tertutup selimut, dia berusaha meraih cincin pernikahan yang dia jadikan kalung dan tersenyum bahagia.
''Sayang jangan menangis lagi aku akan kembali'' gumam Arnav lagi.
__ADS_1
*Bersambung*