
beberapa hari aldo dan dinda berpura-pura untuk menerima perjodohan agar dinda tak dipaksa lagi bertemu dengan pria pilihan dari maminya. aldo menjemput dan mengantarkan dinda pulang dari kantor keduanya mimilih menjadi teman saja agar tak menjadi canggung karena keduanya tak memiliki perasaan apapun.
reza yang semula mengantar jemput dinda menjadi ada yang kurang dalam hidupnya. biasanya ia akan menahan senyumnya karena ucapan atau tingkah dari dinda yang sangat konyol dan membuat harinya ceria
ada sedikit rasa kehilangan dihatinya melihat dinda dengan lelaki lain. ia tetap berkerja dengan baik dan tak mau mencampur adukan perasaanya dengan pekerjaan.
"selamat pagi pak" reza membukakan pintu untuk pak tirta dan mengemudikan mobilnya menuju kantor tempatnya bekerja
"reza apa orang tuamu tidak tinggal dikota ini? tanya pak tirta yang belum pernah melihat reza bersama atau pulang kerumah orang tuanya
"iya pak, orang tua saya tidak dikota ini" jawab reza yang tak mau terbuka dengan orang lain
keduanya sampai di kantor yang dituju. "hari ini saya akan ada rapat dengan siapa saja?" tanya pak tirta pada reza saat menuju ke ruangan kerjanya
"akan saya kirimkan jadwalnya ke ponsel bapak sekarang" reza membuka ponsel dan langsung mengirim jadawal untuk pak tirta
jika reza sebutkan kadang pak tirta lupa karena kesibukanya
__ADS_1
reza masuk kedalam ruanganya dan juga pak tirta mulai sibuk dengan kegiatanya masing-masing
ditempat lain
hari ini adalah hari terakhir untuk dinda kerja di kantor omnya, semalam papinya sudah mengatakan jika tidak boleh meneruskan kontrak di kantor omnya. dinda menurut karena ia menolak perjodohan dengan aldo dan konsekwensinya iya harus siap bekerja di kantor milik orang tuanya
"maya dimana sih, aku kan mau berpamitan" ucap dinda bermonolog yang tak menemukan teman kerjanya dikantor om candra
setelahnya dinda pulang kerumah dan besok baru akan mulai kerja dikantor orang tuanya.
"siang mi" dinda mengahampiri maminya yang sedang duduk dan menonton serial kesukaanya
"maaf mami sudah ada janji dengan yang lain" ucap mami ana tak menjelaskan siapa yang mengajaknya justru menolak ajakan anaknya
"tega banget sih mi, anakmu sedang dipecat apa mami tak ada niatan menghibur" dinda tidur dipangkuan maminya
"cari saja badut, bahkan sudah setua ini kamu masih saja manja. mana ada yang mau denganmu" ucap mami ana memencet hidung mancung dinda
__ADS_1
"mamiiii!" dinda berteriak karena tak bisa bernafas. maminya sangat lembut namun ternyata sifat jahil dinda diwarisi oleh maminya
"dinda!" teriak papinya dari arah pintu masuk yang baru saja pulang dari kantornya
"papi jangan galak-galak dong dengan anaknya" mami ana tak terima anaknya diteriaki oleh suaminya
"maaf ya mi" papi tirta yang tadi mode galak menjadi mode kalem didepan sang istri
dinda dan reza yang masih berada diruang tersebut hendak mengantar tas pak tirta menahan tawanya, keduanya takut dengan pak tirta namun tak menyangka bos yang tegas dan berwibawa bisa berubah saat dirumah
"permisi pak ini tasnya. saya pamit dulu" ucap reza setelah meletakan tas bosnya di sofa dekat dinda
dinda membalas ucapan reza dengan senyuman mautnya yang membuat reza hampir saja tenggelam dalam senyuman dinda
"pak reza kenapa?" tanya dinda yang melihat reza seperti melamun
"ahhh tidak apa!" reza malu dan langsung keluar rumah dinda dengan sedikit bingung
__ADS_1
"ohhh astaga, reza kamu ngga boleh mudah tergoda dengan wanita!" reza mengoceh sendiri saat berada dimobilnya. ia mengemudikannya menuju apartemenya