Asisten Muda Milikku

Asisten Muda Milikku
waktunya pulang


__ADS_3

"mas bangun ngga atau aku laporin papi!" ucap dinda kesal melepas pelukan reza yang sangat sulit


"hemmm sebentar lagi. tidurlah" reza masih memejamkan matanya


dinda berusaha meraih ponselnya dinakas dekat ranjang tidur, tangannya tak bisa menggapainya karena badanya tak bisa bergerak


"massss!" teriak dinda didekat kuping reza, reza membuka matanya dan tanpa dosa pergi ke kamar mandi dengan santainya. membuat dinda tak habis pikir apa yang ada dalam pikiran reza


"dasar tembok mesum aaaa" dinda kesal dengan dirinya sendiri kenapa semalam membiarkan reza untuk tidur diranjang yang sama


tapi kenapa nyaman sekali ya batin dinda dia melamun membayangkan yang membuatnya tersenyum sendiri dan malu-malu


"kamu ngapain?" tanpa sadar reza sudah berada disampingnya selesai mandi dengan wajah segar


"kalau sudah ngga sabar kita nikah besok saja bagaimana?" tanya reza dengan wajah serius kali ini


"ngga usah becanda! emang dipikir nikah itu gampang apa?" dinda mencicikan bibirnya mengundang reza untuk mengecupnya


"bau jigong, sana mandi dan kita sarapan lalu aku akan mengajakmu jalan-jalan sebelum pulang. atau kau mau tetap disini saja juga boleh" ucap reza mengambil ponselnya untuk memeriksa pekerjaannya


"jangan sembarangan cium-cium aku dong!" dinda beranjak ke kamar mandi dan menyelesaikan ritual mandinya. ia kali ini membawa serta bajunya agar tak disangka menggoda reza

__ADS_1


"sudah ayo sarapan" ucap dinda datar


"oke" jawaban singkat dari reza dan keduanya keluar dari kamar hotel menuju restoran di hotel tersebut untuk sarapan


"mau ajak aku kemana?" tanya dinda setelah selesai makan. reza masih sibuk dengan ponselnya membalas email masuk dan juga beberapa laopran dari hotel cabang miliknya yang lain


"kamu suka pantai atau pegunungan?" tanya reza dengan tatapan matanya mengarah ke ponselnya


"aku mau lihat pegunugan saja yang dingin" jawab dinda sambil menyedot minumannya


ponsel reza berdering "halo pak, iya kami akan pulang nanti sore" ucap reza menjawab panggilan telfon diponselnya


"baik pak, akan saya siapkan kamar terbaik disini. saya harus tetap pulang ada pekerjaan di kota J pak jika dinda masih mau disini. saya akan tunggu hingga bapak sampai baru saya pulang" ucap reza lagi


"baik pak. saya akan sampaikan pada dinda" pak tirta menutup panggilan telfonya


"papi dan mamimu akan datang kesini nanti sore untuk liburan. kamu mau ikut aku pulang atau mau stay disini dengan orang tuanmu?" tanya reza menaikan alisnya menatap dinda, sepertinya dinda bingung harus pulang atau tetap tinggal


"aku pulang sama mas aja deh, disini nanti jadi obat nyamuk mereka" ucap dinda yang tau orang tuanya selalu menghabiskan waktu bersama untuk beberapa waktu sekali yang menjadikan keluarganya harmonis hingga sekarang


"oke ayo kita kepegunungan yang kamu mau, nanti sore kita akan pulang" ajak reza menarik tangan dinda

__ADS_1


keduanya menaiki mobil yang diantarkan oleh supir hotel milik reza. melihat pemandangan indah daerah pegunungan dengan cuaca dingin hamparan tanaman sayuran berbagai macam menyejukan mata. ditempat itu disediakan kuda untuk berjalan-jalan berkeliling, reza mengajak dinda menunggangi kuda berdua


"kamu suka?" tanya reza dengan mengarahkan kudanya


"hmm iya mas" jawab dinda sambil memotret pemandangan disekitarnya


lama berkeliling dengan kuda, reza mengajak dinda untuk melihat persawahan yang tersusun rapih terlihat banyak burung berterbangan yang akan hinggap ditanaman padi. reza mengambil foto dinda tanpa sepengetahuan orangnya yang sedang tersenyu, bahagia menikmati indahnya ciptaan yang kuasa


"ayo pulang ini sudah siang, kita harus bersiap agar tak ketinggalan pesawat sore ini" ajak reza menggandeng tangan dinda dan menggenggamnya erat


"terima kasih" ucap dinda saat keduanya sudah kembali ke hotel


"asal kau bahagia" jawab reza dengan senyum termanisnya membuat dinda makin meleleh


"kau yakin akan ikut pulang? " tanya reza memastikan


"iya mas aku pulang saja. kalau kau dan papi tak ada dikantor siapa yang mengurus pekerjaan" ucap dinda yang memikirkan tanggung jawabnya


"pinter!" ucap reza singkat dan mengecup kening dinda mendadak, dinda diam terpaku tak berani menatap reza


"kita makan siang dan langsung menuju bandara, biarkan ini diurus oleh pegawai saja nanti" ajak reza dan dinda mengikutinya saja

__ADS_1


__ADS_2