
seharian reza mengenakan baju yang kurang nyaman ditubuhnya, baju yang sangat besar untuk istrinya tapi terlihat sangat kecil ditubuh reza
sore ini mami tania dan nino akan terbang keluar negeri untuk pulang setelah acara dirumah dinda selesai dan juga beberapa urusan pribadi. tiket pesawat sudah disiapkan oleh reza dan juga dion yang akan mengantarkan adik serta maminya ke bandara
dinda tak boleh terlalu banyak bepergian karena usia kandunganya yang masih cukup muda dan juga anak pertama yang masih rentan.
"sayang nanti kalau cucu mami sudah lahir bawa kerumah mami ya" ucap mami tania
"pasti mam, dinda akan senang karena bisa jalan jalan tapi tergantung papanya" sindir dinda pada suami super sibuknya
reza hanya tersenyum apa yang dikatakan istrinya memang benar waktunya hanya dua hari yang benar benar bisa bebas bersama sang istri.
"nanti reza usahakan yang penting doakan kami dan juga cucu mami" ucap reza
dinda memeluk mertuanya tentunya tak boleh untuk adik iparnya karena suami posesifnya pasti akan melarang keras.
"mami tadi mami ana berpesan tidak bisa ikut mengantar karena harus ikut papi keluar kota tadi pagi" ucap dinda
"tidak apa apa sayang, sampaikan saja salam kami" jawab mami tania
waktunya tiba keduanya harus berangkat dion sudah menunggu diparkiran mobil
lambaian tangan dari dinda menghantarkan sang mertua meninggalkan pekarangan rumahnya. rasa sedih kini tak dapat ditahan dinda
__ADS_1
"mas rumah jadi sepi huuuuuuu" dinda menangis memeluk reza
"iya sayang nanti kita bikin anak yang banyak biar ramai" bukannya menenangkan reza malah membuat dinda kesal
"itu maunya kamu" dinda berhenti menangis dan masuk kedalam rumah
"mau saya buatkan minum pak, bu?" tanya bik wati
"tolong buatkan minuman hangat buat ibu!" ucap reza
dinda duduk bersandar pada pundak suaminya menonton drama kesukaannya sambil menggumam berkomentar tentang jalan dramanya
"mau jalan jalan?" ajak reza pada istrinya agar tak terus bersedih
"kan naik mobil sayang" tegas reza
"mas dion sudah punya pacar atau belum?" tanya dinda yang tiba tiba teringat dion asisten plus sepupu reza
"kita sedang bahas jalan jalan kenapa jadi dion din!"
"sepertinya cocok dengan sekretaris papi mas, siapa namanya aku lupa?" ucap dinda serius
"jangan menjodohkan orang yang kamu tidak tahu" jawab reza ketus
__ADS_1
"kok mas yang marah! kan siapa tahu aja dion mau" dinda kembali fokus menonton
"ini minumannya bu" bik wati membawakan minuman untuk dinda dan kopi untuk reza
"terima kasih bik" ucap dinda
reza kemudian berfikir kembali benar juga yang dikatakan istrinya mungkin dion terlalu sibuk dengan pekerjaan yang reza berikan hingga tak memikirkan untuk menikah. tapi itu urusan pribadi dion reza tak mau ikut campur
"mas jangan egois dong, dion juga butuh pendamping mungkin saja tidak sempat karena sibuk sama kerjaan dikantor" dinda membahas masalah dion lagi
"dion masih perjaka kan mas atau sudah pernah meikah sebelumnya?" dinda menerka nerka
"sudah jangan mengurusi dion, pikirkan saja bagaimana nanti malam" ucap reza datar sambil fokus pada ponselnya
dinda tak berkomentar lagi rasanya saat ini lebih baik agar diam saja daripada salah bicara
"kenapa diam, pura pura tak dengar atau lupa sama janjinya hemmm?" reza mencolek dagu dinda
"apaan sih mas lagi seru nih filmnya" ucap dinda
"jangan lupa siapkan dirimu nanti malam!" bisik reza lalu beranjak keruang kerjanya
"mas!" dinda berteriak kesal
__ADS_1