
"terima kasih atas kehadiran saudara dan juga teman semua, semoga kita selalu diberi kemudahan dan kesehatan. terima kasih atas doa tulus yang kami dapatkan" ucapan terima kasih dari reza sebagai tuan rumah sebagai tanda berakhirnya acara syukuran
para tamu undangan mulai membubarkan diri hanya tinggal anggota keluarga yang masih berkumpul dirumah dinda
"saya pamit pulang dulu kak" ucap dion berpamitan pada reza
"menginap saja nak" ucap mami ana dan disetujui oleh mami tania
dion adalah sepupu reza dari pihak mamanya
"terima kasih bu, saya pulang saja" ucap dion tak enak
"menginaplah besok kan hari libur. biar kakak yang telfon orang rumah" ucap reza
orang tua dion meninggal karena kecelakaan jadi sejak kecil dia tinggal dengan neneknya bersama dengan reza
namun saat dikantor keduanya sepakat jika hubunganya adalah atasan dan bawahan sehingga tak ada yang tahu sampai saat ini jika dion adalah adik dari reza
reza tak mau dion dianggap remeh karena mengandalkan keluarganya untuk bekerja. yang sebenarnya dion sangat berkompeten dan sangat bisa memahami reza
"iya kak" dion meletakan kembali kunci mobil dan juga tasnya. dan bergabung dengan para lelaki yang sedang membahas masalah pekerjaan
__ADS_1
nino,dion dan haikal memiliki perbedaan usia yang tidak terlalu jauh sehingga obrolannya masih sangat nyambung sedang membahas masalah wanita. dari ketiganya baru haikal yang sudah memilki kekasih
sementara reza sibuk menyuapi istrinya yang tak mau makan dari pagi karena sangat ingin makan gudeg. akhirnya malam hari baru bisa makan gudeg langsung dari kotanya melalui pengiriman kilat (orang kaya mah bebas)
"lagi nasinya?" tanya reza
"iya" dinda sangat lahap antara lapar dan enak entah apa yang dirasakan
"makan yang banyak biar nanti malam banyak tenaganya!" bisik reza ditelinga dinda
seketika dinda melotot mendengar bisikan sang suami yang sepertinya akan membuat malamnya tak bisa tidur nyenyak lagi
"libur dulu ya mas satu malem aja" rayu dinda mengedipkan mata
"udah kaya minum obat aja" dinda terus menguyah suapan demi seuapan yang disodorkan oleh suaminya
**
"padahal reza itu tak pernah senyum pada siapapun sejak ibunya meninggal" ucap mami tania yang senang melihat perubahan anak sulungnya
"dinda merubahnya" ucap mami ana
__ADS_1
"tapi aku bahagia an" mami tania terharu
"sudah jangan sedih sedihan, kita kan lagi bahagia ini. aku pulang dulu ya kak kasihan jenita kalau menginap" ucap tante vina berpamitan
"kok ngga nginep saja, candra masih disini kan?" cegah mami ana
"pa mau pulang atau menginap, mama mau pulang sama jenita" ucap tante vina menanyakan pada suaminya
"tunggu bentar ma, kita pulang bersama" jawab om candra
"dasar para pria bucin" ejek dinda
"ehemmm" reza berdehem merasa tersindir dengan ucapan istrinya
"mas kenapa? keselek" ucap dinda tanpa dosa
"engga!" jawab reza datar "ini minumnya makannya sudah ya nanti perutnya sakit" ucap reza melihat dinda tak berhenti makan gudeg tanpa nasi dan lauk lainya
"pelit!" dinda kesal padahal sudah habis satu piring penuh. dirinya beranjak bersama para wanita yang sednag membahas salon kecantikan yang akan dikunjungi besrmasabesok
"sayang bukan gitu. kalau makan yang lain boleh jangan itu aja!" reza mengejar istrinya
__ADS_1
"ngga mau!" dinda sudah terlanjur kesal dan meninggalkan reza sendiri
bukannya menyusul dinda reza malah bergabung dengan para lelaki yang membuat makin kesal