Asisten Muda Milikku

Asisten Muda Milikku
Rumah Impian


__ADS_3

" pagi semua" ucap dinda dengan wajah cerianya yang selalu mengisi ruang disetiap kehadiranya


"tidurnya nyaman sayang?" tanya mami ana


"ngga mi kan perbedaan waktu jadi agak susah tidurnya tapi nyamanlah kan itu kamar dinda" ucap dinda


"suamimu mana?" tanya pak tirta


"masih mandi kayaknya pi, dinda sudah lapar" ucap dinda hendak mengambil piring untuk suaminya dan untuknya sendiri


"lain kali tungguin suamimu dinda, apalagi ini rumah mertuanya mungkin dia akan sedikit canggung" pesan mami ana saat mengambilkan makanan untuk sang suami


"iya mi" dind patuh karena ucapan maminya biasa ia lakukan tapi ini justru dinda yang merasa canggung dirumahnya sendiri dan meninggalkan suaminya dikamar


"ayo sarapan" ucap papi tirta mengajak reza makan bersama


"mau sarapan apa mas?" tanya dinda biasa reza hanya sarapan roti atau nasi goreng kali ini dinda pesan pada bik ani untuk membuatkan nasi uduk


"mau nasi aja din" ucap reza ragu


"ini nasi uduk terenak buatan bik ani cobain deh" ucap dinda mengambilkan nasi dan lauknya disendok dan menyuapkan pada reza

__ADS_1


reza melirik sekeliling sebelum menerima suapan dari dinda


"ehemmm" dehem mami ana


"ngga usah malu-malu re, kami juga dulu lebih romantis daripada itu" ucap mami ana dengan senyuman penuh artinya


"mi!" dinda tak mau maminya memulai cerita keromantisan papinya pada masa muda kalau bisa dibilang bucin akut


selesai sarapan reza berpamitan pada kedua mertuanya untuk mengajak dinda melihat rumah barunya dengan alasan membatu pekerjaan reza.


"pi, mi kami pamit dulu ada klient yang menunggu didekat sini" ucap reza


"sedikit pekerjaan pi, nanti sisanya diurus dion" jawab reza


"baiklah kalian hati-hati ya!" ucap mami ana


keduanya sudah dijemput dion didepoan rumah dinda tapi reza malah mengajak dinda mengendarai motor untuk menuju tempat lokasi


"mas itu dion sudah jemput" dinda menunjuk posisi dion yang bersenderan tembok bagaikan cicak


"biarin aja, nanti dia nyuul" jawab reza acuh

__ADS_1


dinda sudah nangking dimotor reza melajukan motornya santai dibuntuti asistenya yang sedang kesal dengan bosnya yang seperti balas dendam atas ucapanya kemarin


tiba ditempat yang dituju hanya butuh waktu lima menit untuk sampai dari rumah orang tua dinda


"rumahnya bagus banget mas!" dinda kagum dengan desain rumah yang sudah menjadi impianya sejak dulu, sebelum menikah dinda sudah berhayal untuk memiliki rumah dekat orang tuanya dengan desain yang saat ini ada hadapanya


"iya mas mau minta bantuan kamu untuk memilihkan warna cat dan juga isi keseluruhan rumah ini" ucap reza belum selesai dinda reflek memeluk suaminya


"makasih mas" dinda kegirangan


"tunggu dulu makasih buat apa din, ini mas mau minta tolong karena klient mas mempercayakan rumah ini sesuai keinginan mas yang juga pengantin baru. ini untuk kejutan istrinya nanti" ucap reza sebenarnya tak tega


"ohh, ngga apa-apa kok! aku senang bisa bantu mas anggap aja kita sedang belajar mendesain untuk rumah kita nanti" dinda menenangkan diri sendiri


"kira-kira pengerjaan bisa ngga ya kurang dari satu minggu?" tanya reza


"akan aku lakukan secepat mungkin pasti suaminya sudah ngga sabar mau kasih kejutan untuk istrinya" jawab dinda dirinya juga ingin rumah ini


"oke mas serahkan samua sama kamu, mas akan temani kamu sampai pekrjaan ini selesai" ucap reza


"oke boss, upps!" dinda keceplosan alhasil lirikan tajam pun melayang padanya

__ADS_1


__ADS_2