
"saya pamit pak, bu semoga kandunganya sehat dan juga ibunya" ucap dokter sebelum meninggalkan kamar keduanya
ada staf yang mengantar dokter sampai ke parkiran mobil di hotel. sementara reza mengajak dinda masuk ke kamar kembali
"terima kasih sayang!" reza masih tak menyangka dirinya akan menjadi calon ayah
reza terus saja memeluk dinda rasa bahagianya membuatnya tak mampu bicara lagi.
"mas engap!" dinda protes
"maaf sayang, kamu istirahat ya sekarang kita pulang sore ini. mas akan selesaikan semuanya segera" ucap reza bersemangat
"ngga apa apa mas, aku disini lama juga seneng" ucap dinda tak dibuat buat
dinda akan senang menemani suaminya kemana pun pergi
"katanya mau jalan jalan dulu. kenapa buru buru pulang mas!" dinda kesal belum diajak pergi dan juga shoping pastinya
"oke setelah mas rapat sebentar lagi. kita akan kedokter kandungan dulu boleh atau tidak kamu naik pesawat dan juga boleh untuk berpergian atau tidak" ucap reza
"iya sayang" ucap dinda
"kamu mau makan apa? pingin sesuatu yang aneh ngga?" reza pernah melihat temannya yang diminta melakukan hal aneh atau makanan aneh saat istrinya hamil
__ADS_1
"ngga ada mas, dinda kenyang tadi makan soto ayam" ucap dinda
"mas selesaikan dulu pekerjaan mas ya. setelah itu kita kedokter kandungan baru pergi kemana yang kamu mau. jika diizinkan" reza mulai over protektif pada sang istri
dinda mengangguk pasalnya suaminya tidak akan bisa dibantah. dinda yang bosan akhirnya keluar kamar yang tak jauh dari bibir pantai
"maaf bu bapak berpesan ibu tidak boleh keluar kamar" ucap body guard yang diperintahkan untuk menjaga depan kamar dinda
"kalau bapak temani saya. saya pasti boleh keluar hanya kepantai sebentar ya pak" ucap dinda merengek
"saya tidak berani bu" tegas body guard tadi
dinda mengambil ponselnya menghubungi reza. meski saat rapat tapi reza tetap mengangkat panggilan dari sang istri
Dinda memberikan ponselnya pada body guard tadi. agara dapat mendengarkan langsung ucapan bosnya
"silahkan bu"
dinda dengan wajah senang berjalan santai menggunakan topi lebar agar tak membuat wajahnya terbakar paparan sinar matahari
tak seperti kebanyakan wanita hamil.muda pada umumnya dinda tergolong yang tidak mengalami kesulitan. hanya saja ada beberapa makanan yang sepertinya harus dia hindari sementara ini karena penciumannya sedang sangat sensitif
dinda tak mengabarkan pada orang tua dan mertuanya tentang kabar bahagianya. keduanya sepakat untuk memberitahukan langsung saat bertemu nanti
__ADS_1
reza selesai dengan rapatnya segera menghampiri sang istri. karena takut lelah akhirnya reza meminta dion untuk mendatangkan dokter kandungan ke hotel agar dinda tak perlu mengantri dirumah sakit
dinda melakukan tes kembali dan keduanya berkonsultasi pada dokter.
ternyata dind tidak diizinkan untuk menaiki pesawat hingga masa kehamilannya mencapai usia 16 minggu atau sekitar empat bulan usia kandungan
sedangkan saat ini usia kandungan dinda baru berumur tiga minggu
reza memutuskan untuk pulang lebih awal menggunakan perjalanan jalur darat yang memakan waktu kurang lebih tujuh jam
setelah kepergian dokter reza menyerahkan semua rapat lanjutan yang akan dipimpin oleh dion sebagai asistenya. reza telah menyelsaikan rapat inti dari pembangunan hotel baru
para investor pun sudah setuju dengan apa yang direncanakan oleh reza
"kamu kuat sayang kita melakukan perjalanan jauh" reza ragu
"anggap saja pengganti kita jalan jalan. pasti seru karena kita melewati banyak pemandangan indh sepanjang jalan" dinda justru lebih bersemangat
reza pun mau tidak mau harus melakukannya. jika tetap memaksa naik pesawat akan berbahaya bukan hanya pada bayi tapi juga ibunya
perjalanan pulang dimulai sore hari agar esok paginya keduanya sudah sampai dirumah
sedangkan reza juga sudah mendapatkan kabar jika rumahnya sudah siap dari sang mertua
__ADS_1