
"siang dad, mami kemana?" dinda dan reza baru saja tiba dari arah luar rumahnya
keduanya kembali kerumah saatmendengar kabar perusahaan sudah kembali menjadi milik dady farhan seperti yang diharapkan
"ada dibelakang sedang memasak" jawab dady farhan
dinda meletakan tasnya dimeja dan menghampiri sang mertua yang sednag sibuk didapur sementara reza duduk bersebelahan dengan dadynya membahas pertemuan tadi pagi bersama pak alex
"bagaimana dad, semua lancar kan?" tanya reza
"lancar seperti yang kita harapkan, alex merasa berhutang budi pada keluarga dinda yang memperlakukan jenita dengan baik dan juga melindunginya selama ini dari musuh-musuh alex disana" jelas pak farhan
"lalu bagaimana dengan jesika, apa dia bisa menerfima begitu saja saat tahu semua ini?" reza penasaran dengan orang yang bernama jesika pasalnya dia orang yang licik jadi baginya tak bisa percaya begitu saja setelah selama ini sering ditipu olehnya
"dia mengacau sebelum pengacara yang disiapkan oleh mertuamu datang, setelah meilhat semua buktinya dia terdiam dan pergi begitu saja namun dengan sebuah ancaman" ucap pak farhan tak mau terlalu memeikirkan hal lain
"apa yang jesika katakan!" reza geram masih diberi ampun tapi jesika masih belum jera rupanya
__ADS_1
"sudahlah hanya ucapan orang yang sedang emosi, jangan terlalu dipikirkan" dady farhan menepuk pundak anaknya
"terima kasih" ucap pak farhan lagi pada reza dan memeluknya sebentar
"sudah menjadi tugas anak membantu oarng tuanya" reza tersenyum tulus
"makan siang sudah siap!" dinda berteriak saat membawa makanan dan meletakannya dimeja makan
"ayo semua kita makan siang dulu, biar mami panggilkan nino keatas" ucap mami tania beranjak kekamar nino
"iya dong mantu mami yang masak, ayo kita makan jangan ada yang bahas pekerjaan" sindir mami tania pada suami dan anak sulungnya yang tak henti membahas pekerjaan saja
semua makan dengan tenang tanpa suara obrolan
"biar bibik saja non" ucap asisten rumah tangga yang bekerja dirumah orang tua reza setelah makan siangnya selesai dilakukan
"ngga apa-apa bik, dinda bantu biar cepet selesai" dinda menyelesaikan pekerjaanya dan kembali kekamar untuk berganti baju, bau keringat sehabis masak dan juga pulang dari kantor membuatnya gerah
__ADS_1
"mas!" dinda tak melihat suaminya ada dikamar dia bergegas melepas baju yang ia kenakan menyisakan pakaian dalamanya saja saat ini, mengambil handuk dan segera melarikan diri kekamar mandi
tanpa melihat seksama dinda masuk dan mulai mengguyur badannya dibawah shower yang ada dikamar mandi, tak disangka ada penghuni lain yang sedang menatapnya penuh damba
"kenapa ngga bilang kalau mau mandi bareng sayang" ucap reza dari arah samping yang sedang berendam
"astaga!" dinda menyahut handuk dengan rambut yang masih tertutup oleh busa
"mas kenapa diem aja aku panggilin tadi, pintunya juga ngga dikunci!" dinda mode jutek
"kenapa harus dikunci kan yang tinggal dikamar ini hanya kita berdua, ngga mungkin mami masuk-masuk sini" dengan santainya reza terus memandang tubuh sang istri
"ya sudah selesaikan mandimu! aku tunggu diluar" dinda yang mau kabur ditarik tanganya oleh reza hingga tercebur dalam bak mandi bersamanya
"mas!!!!" dinda berteriak saat merasa ada yang aneh dengan tubuh suaminya
"jangan teriak dinda! nanti orang pada masuk kesini kamu mau jadi tontonan hmm?" reza memeluk dinda dari belakang meski dinda memberontak tapi tubuhnya kalah dengan badan besar milik suaminya
__ADS_1