
"pak reza aneh deh! lagi putus cinta ya?" tanya dinda pelan takut reza tersinggung
"tidak, bahkan aku akan segera jatuh cinta!" ucap reza mulai merebahkan tubuhnya diranjang tidur miliknya
"peramal kalah kayaknya!" sahut dinda
"apa kamu punya pacar din?" tanya reza yang mulai ingin tau lebih banyak tentang kehidupan dinda
"ada dong, masa cewek cantik begini tidak punya pacar hahahaha" dinda tak mau terbawa suasana dengan perasaanya saat ini
"bohong! jika punya pacar pasti kamu tak mau aku cium kan?" reza mengingat kejadian dibioskop
"ahh ngga asik, bahas yang lain gitu apa kek" dinda mulai kesal
"kamu mau bahas apa? bisnis atau tentang kita?" ucap reza
"emang kita ada hubungan apa yang perlu dibahas!" dinda makin kesal
"kamu maunya punya hubungan apa dengan ku dinda, akan saya terima kalau kamu mau menyatakan perasaanmu" goda reza menahan tawanya
__ADS_1
"heh dasar orang tua gila, sadar udah ngga muda masih aja kayak bocah!" dinda kembali ke mode galak
"jangan teriak dinda, belum jadi suamimu nanti aku sudah tuli" ucap reza lagi
"siapa juga yang mau jadi istrimu! lama-lama aku juga ikut gila. sudahlan ini sudah malam jangan kesiangan jemputnya!" dinda menutup panggilan telfonya dan terlelap tidur
"dinda tempat ternyamanku saat ini"gumam reza dan ikut menyusul dinda kedalam mimpi
"pagi mi, pi"dinda mencium pipi kedua orang taunya dengan ceria pagi ini
"heemmm" jawaban darinoak tirta
"pagi juga sayang, ayo sarapan pagi ini semangat banget!" ucap mami ana memperhatikan anak perempuanya satu satunya itu
"nah gitu dong kalau mau kerja semangat jangan malas-malasan" timpal pak tirta
"papi jangan gitu dong sama anak sendiri" ucap mami ana membela anaknya
"maaf mi, ya sudah papi berangkat dulu. dinda hari ini ada meeting sekalian memperkenalkan kamu pada semua karyawan papi" ucap pak tirta sebelum berangkat ke kantor
__ADS_1
"selamat pagi non dinda, pak tirta" ucap reza yang sudah siap menjemput atasnya namun dinda dengan percaya dirinya masuk kedalam mobil lebih dulu
"papi kok naik mobil ini juga? kan papi punya supir sendiri !" ucap dinda saat papi dan reza masuk ke dalam mobil
"reza bukan supir, apalagi supirmu! hari ini papi ada meeting dadakan diluar kota apa kau mau ikut papi?" ucap pak tirta pada dinda
"siapa takut?" dinda ingin tau pekerjaan lapangan itu seperti apa
"pak reza kok ngga bilang kalau mau keluar kota sama papi" bisik dinda pelan agar tak didengar papinya
namun tak mendapat jawaban dari reza yang fokus kejalanan menuju proyek baru yang akan dijadikan kantor cabang
perjalanan membutuhkan waktu dua jam untuk sampai ditempat yang dituju, dinda keluar mobil dan menggunakan kacamata hitam yang ada dimobil reza.
"pakai helm nya biar safety!" reza mengenakan helmnya dan memberikan satu helm pada dinda
"selamat datang pak" sambutan dari para karyawan yang ada dilokasi tersebut pada pak tirta. pak tirta memeperkenalkan dinda sebagai pewaris tunggal perusahaanya saat ini
semua karyawan menatap kagum dengan kecantika dinda dan juga cara dinda memperkenalkan diri . bukanlah seperti anak orang kaya yang sombong dan angkuh kepada para pekerjanya
__ADS_1
dinda menyapa dengan ramah kepada seluruh karyawan. dan meminta bimbingan jika suatu hari membantu papinya untuk bekerja diperusahaan
reza tersenyum melihat dinda yang sangat mandiri dan juga cantik pastinya. kini harinya selalu berwarna saat dekat dengan wanita yang kadang galak atau pun lucu dalam waktu bersamaan