
"aku akan membuatmu yakin bahwa yang kita rasakan saat ini adalah benar" reza menatap dinda dengan keyakinan
"maukah kau menikah denganku, menjadi istriku dan kita akan jalani semua perlahan" tanya reza penuh harap. dia tak mau lagi terlambat seperti dulu dan membuatnya kehilangan cinta yang sangat ia banggakan
"tapi mas, papi dan mami akan__" ucapan dinda terhenti reza menyentuh mulut dinda dengan jarinya
"jangan khawatirkan yang lain aku sudah meminta izin pada papimu, dan mereka akan sangat bangga jika aku jadi memantunya" ucap reza dengan penuh percaya diri
"benarkan? kenapa papi ngga bilang padaku. pantas saja aku boleh pergi dengan pria asing" cibir dinda kesal dirinya tak tau apapun
"jadi kau mau atau tidak!" reza mulai kesal dinda terus saja berbicara hal lain
"ihh ngga sabaran amat sih, emang mau ngapain buru-buru" sahut dinda
"kau akan menyesal jika tak segera menjawab, karena aku akan memaksamu. jadi katakan sekarang!
jika tak mau ya sudah biar ku berikan saja cincin ini pada orang lain" ancam reza
"iya aku mau" ucap dinda pelan
"apa aku ngga dengar" reza berpura-pura
"iya mas reza aku mau!" ucap dinda penuh penekanan
"mau apa?" goda reza
__ADS_1
"mas ih" dinda mencubit lengan reza
"yang jelas dong kalau jawab. aku takut kau mau yang lain kan tentu saja aku butuh persiapan" ucap reza
"iya mas aku mau jadi istrimu" dinda mengulurkan tangangnya sebelah dan sebelah lagi menutup wajah malunya
reza dengan sigap memasukan cincin ke jari manis dinda dan membuka wajah dinda dari tanganya
"sudah ku pasangkan! awas saja jika kau macam-macam dengan pria lain
akan ku cincang dan ku jagikan perkedel" ucap reza
dinda tertawa kencang, ini acara lamaran teraneh yang ia tak pernah bayangkan. pasalnya awalnya momentnya sangat romantis dengan tempat yang mendukung tapi keduanya memang sepertinya akan terus seperti kucing dan tikus
"apa papi menelfon mu?" dinda seperti orang linglung saja..mana mungkin suaranya bisa terdengar oleh orang tuanya yang jauh disana
"dasar tukang bohong!" dinda menjulurkan lidahnya dan tepat saat wajah papi dinda muncul dilayar ponsel reza
"papapi, papi tau rencana ini?" tanya dinda
"tentu saja, jangan macam-macam disana ! jangan lupa pastikan mendapatkan pelayanan hotel khusus untuk calon istri pemiliknya" ucap pak tirta ikut berbahagia anaknya menemukan orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya nanti
"maksud papi apa?" dinda makin bingung ia tak tau apapun
"tanya saja dengan pria yang akan menjadi pawangmu!" ucap pak tirta baru kali ini ia bercanda yang biasa sangat tegas dan juga galak pada dinda
__ADS_1
"papi! ya sudah siapkan diri papi untuk segera menjadi opa" ucap dinda
"sudah ku bilang jangn macam-macam dinda, akan ku cincang reza berani menyentuh putriku" tanpa jaim papi tirta membela dinda tak seperti biasanya
lalu dinda memutuskan sambungan telfonya.
"kalian sangat jahat! kenapa harus sembunyikan ini dariku" dinda memukul lengan reza
"apanya yang disembunyikan. bukanya kamu sudah tau sekarang namanya bukan sureprise jika kau tau dari awal bukan?" reza memeluk dinda dengan tenang
"lalu papi bilang masalah hotel itu apa?" tanya dinda lagi
"kau akan tau segalanya setelah menjadi istri pemilik hotel ini" ucap reza ambigu
"maksudnya mas yang punya hotel ini" dinda senang bayanganya tentang liburan tiap minggu tanpa harus membayar hotel.
"apa yang kau pikirkan hmm?" tanya reza
"tidak, kenapa mau jadi asisten papi jika punya hotel mewah begini!" keduanya berjalan meninggalkan tempat lamaran yang berantakan
dan kembali ke kamar karena sudah malam
"ceritany panjang. lain kali akan ku ceritakan sedikit informasi saja ini bukan milikku tapi peninggalan almarhum ibukukita akan menemuinya setelah kembali ke koja J
sebaiknya kamu tidur sekarang dan besok pagi akan ku ajak liburan yang seaungguhnya" reza mengantar dinda kedepan pintu kamarnya dan menyuruh dinda masuk
__ADS_1