
malam hari tak seperti biasa dinda tak bisa tidur, dinda iseng buat story pada salah satu media sosial miliknya
ditulisnya : ingin menhirup udara segar
suara ponselnya dinda berdering dinda terkejut melihat nomer dari orang yang ingin dinda hindari tapi malah semakin mendekat. dinda mnggeser tombol hijau pada ponselnya
"iya halo, ada apa!" ucap dinda
"galak amat din" ucap reza yang membuat jantung dinda berdetak kencang pasalnya saat reza memanggilnya bu sama sekali tak berpengaruh dalam dirinya. tapi ini saat reza memanggil namanya seperti orangnya ada dihadapanya
"halo dinda, kamu masih hidupkan?" tanya reza lagi
"kamu mau aku tak bernyawa hah!" jawab dinda kesal dinda baru saja terbangun dari lamunanya sendiri
"tentu saja tidak, nanti gajiku akan dipotong oleh papimu" jawab reza
"ohhh jadi hanya karena gaji saja" dinda seolah tak terima dengan jawaban reza
"lalu kau maunya karena apa?" reza menggoda dinda sepertinya saat ini membuat dinda kesal adalah hal yang menyenangkan bagi reza
"terserah sajalah, ada apa telfon malam-malam begini?" tanya dinda mengalihkan pembicaraan yang semakin membuat jantungnya tak aman
"kau mau keluar?" tanya reza pelan
__ADS_1
"hemmm apa masalahnya dengan mu?" dinda balik bertanya
"inikan malam minggu, kamu tak ingin keluar kemana gitu ini masih belum terlalu malam" tanya reza
"memang kamu ada rencana apa? atau kau mau menculiku ya!" dinda bergidik ngeri
"hahahaha, maaf siapa yang berani menyenggol anak tunggal dari tirta atmaja" jawab reza
"ya sudah aku mau, tapi pulangnya jangan terlalu malam ya!" dinda memberi syarat
"kita tak pulang malam tapi pagi, turunlah aku dibawah" reza mematikan ponselnya dan menunggu dinda keluar. dinda segera bersiap dan menggunakan pakaian yang simpel yaitu celana jeans dan sweater lengan panjang
"kita naik motor?" tanya dinda saat meilhat motor sport milik reza yang dibawanya
"boleh juga! ayo" dinda segera mengenakan helm yang diberikan oleh reza dan menaiki motor tinggi dengan memegang bagian pundak reza
"siap" tanya reza dan diiyakan oleh dinda. keduanya menyusuri jalanan ibukota dengan menggunakan motor
"pegangngan jika tak ingin jatuh" reza menarik tangan dinda dipinggangnya dan dinda menurut saja karena iapun baru kali ini menaiki motor
" bisa makanan kaki lima tidak" tanya reza takut dinda tak mau
"aku sudah bilang, aku pemakan segalanya" ucap dinda kesal karena dianggap selalu pemilih makanan
__ADS_1
"jangan cemberut nanti cantinya berkurang" ejek reza mendapatkan pukulan dipunggunya oleh dinda
"ayo turun! reza mengajak dinda ke festival kuliner yang menyediakan berbagai macam makanan daerah menjadi satu.
"ini tempat apa, kenapa ramai sekali?" dinda belum pernah kestempat seperti ini sebelumnya maklum dia adalah anak tunggal dengan segala penjagaan ketat dari orang tuanya
"kamu duduk saja disana, aku akan pesankan makanan untukmu, mau minuman yang hangat atau dingin?"
reza dengan lembut bertanya pada dinda tak seperti biasanya
"aku mau jus saja yang dingin, untuk makananya terserah kamu saja" dinda menunggu di meja yang disediakan oleh panitianya untuk tempat orang makan
"ini jusnya nanti makanannya menyusul, aku pesankan mie aceh untukmu dan aku pesan lumpia semarang " ucap reza yang ikut duduk didepan dinda
"permisi nona cantik, bolehkah saya duduk disini" tunjuk dua orang lelaki pada kursi kosong disamping dinda
"maaf bang, masih ada tempat lain yang kosong disana" ucap reza melihat dinda ketakutan dengan tampang dari lelaki yang baru saja datang
"tapi saya maunya disini kau mau apa!" salah satu lelaki tersebut membentak reza.
"sebentar ya" reza berpamitan pada dinda dan menarik kedua lelaki tersebut kearah jauh dari dinda
dinda ketakutan jika terjadi sesuatu pada reza. ia juga tak tau dimana ia berada sekarang
__ADS_1