
"maaf pak! ada janji hari ini dengan kontraktor calon kafe" ucap dion takut sepertinya waktunya sangat tak pas
dion tak mengetahui jika bosnya berniat bermalam dihotel dengan tujuan lain
"apa kamu tak bisa menungguku bangun hah!" reza makin kesal
"ini sudah jam sepuluh pak" dion menunduk merasa bersalah bukan karena takut
reza terkejut sudah sangat siang saat ini, "tunggu satu jam lagi siapakan baju untukku dan dinda bertemu klient" ucap reza memerintah
"satu lagi tentukan tempatnya nanti saya dan dinda menyusul, sekalian jemput lulu" tambah reza
seoalah ingin balas dendam karena dion telah mengganggunya
"baik pak, nanti baju diantarkan oleh staf saya akan menjemput lulu dan mencari tempatnya" ucap dion cepat
"bagus! sana pergi!" ucap reza ketus
dinda yang mendengarkan suaminya uring uringan tertawa sendiri dalam kamar. suaminya bagaikan induk ayam yang anaknya diganggu oleh yang lain
dinda mendekat dan merangkul lengan suaminya yang saat ini sedang emosi jiwa. "mas, mandi bareng yuk?" ajakan dinda seolah tawaran yang tak dapat dihitung berapa harganya
"go!" reza mengangkat tubuh dinda yang tak siap
__ADS_1
mandi keduanya makin lama dibarengi dengan kegiatan yang masih membuat reza tak pernah puas. sebenarnya keduanya sudah bangun pagi namun reza yang seakan tak ada lelahnya mengajak dinda untuk berduet hingga ketiduran dan berakibat kesiangan
setelah selesai dengan aktifitasnya tak lama seorang staf mengantarkan pakaian yang diminta reza, keduanya berganti pakaian lalu dinda merias sedikit wajahnya agar tak pucat karena kurang tidur
reza mengenakan pakaian fromalnya sementara dinda memakai dress dengan luaran blezer yang terlihat anggun namun juga formal
"siap?" tanya reza
"yuk" jawab dinda singkat
******
saat didalam mobil suara dering ponsel dinda berbunyi menandakan seseorang menghubunginya
"kalian kemana? pagi pagi sudah pergi" tanya mami ana penasaran
"kami menginap dihotel mi, habis jalan jalan kemalaman" ucap dinda canggung
reza melirik sekilas wajah istrinya memerah karena malu
"ohh ya sudah, mami pikir kalian kemana lain kali bilang sama orang rumah ya, biar ngga khawatir" nasehat mami ana
"oke mamiku sayang, dinda mau ikut mas reza ketemu klien dulu ya mi" ucap dinda dan mengakhiri panggilan telfonnya
__ADS_1
"kemalaman dimana sayang?" reza tak membuang kesempatannya menggoda dinda
pukulan dinda melayang pada lengan kekarnya
"ahhh, sakit sayang. kenapa bohong sama mami hmm?" lanjut reza
"mas ihhhh, udah dong!" dinda malu ditambah kesal terus diledek suaminya yang semalaman membuatnya mabuk kepayang
"apanya yang udah, orang belum mulai" reza menahan tawanya saat dinda memalingkan wajahnya kejendela mobil
"aku laper!" ucap dinda mengalihkan pembicaraan
"iya nanti makan yang banyak kita lanjut lagi oke!" reza fokus mngemudikan mobilnya mencari alamat yang diberikan dion untuk bertemu klient sekalian makan siang. karena reza dan dinda sudah melewatkan sarapannya
"mas masih lama ngga?" dinda merakan perutnya sudah berdanggutan ingin segera diisi
"sebentar lagi sayang, mas lagi cari alamat restorannya. tapi kalau kamu mau makan dulu kita cari tempat makan terdekat" tawar reza
"engga deh, sekalian aja sama yang lain" jawab dinda
reza menarik tangan dinda dan mengecupnya lembut. dinda menatap wajah tampan suaminya yang tak pernah membuatnya bosan semakin hari rasa cinta dan sayangnya makin bertambah
"jangan dilihat terus ngga akan ilang kok" ucap reza tanpa berpaling dari jalan
__ADS_1